
Ayana menutup panggilan secara sepihak saat lawan bicaranya masih terus mengoceh panjang lebar. Pembicaraan yang terjadi sekitar lima belas menit lalu berhasil membuat mood-nya anjlok hingga ke dasar.
Tak ada ekspresi apa pun yang tergambar di wajahnya sekarang selain datar. Namun ada sebuah amarah besar yang siap meledak kapan saja yang tersembunyi di sana. Terbukti dari buku-buku jarinya yang memutih akibat remasan kuat pada ponsel yang ada di genggamannya.
"Naveen br*ngs*k!" Satu umpatan berhasil lolos dari celah bibir tipis berpoles liptint merah muda milik Ayana. Seumur hidupnya, ia sangat jarang mengumpati siapa pun. Bahkan ia terkenal oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai gadis lemah lembut dengan tatakrama bagus. Tapi karena rasa kesalnya sudah melewati batas, ia memilih untuk bersikap tak peduli. Toh, ini di rumahnya sendiri, tak akan ada orang yang akan mendengar umpatannya itu.
Pembicaraannya dengan Naveen beberapa menit lalu membuat Ayana menyadari satu hal; perubahan sikap Naveen. Dan perubahan itu terjadi semenjak lelaki itu menceritakan tentang tetangga baru yang menempati bekas rumah paman Naveen.
Naveen yang dulu pehatian, selalu mengiriminya pesan setiap waktu kini berubah menjadi seorang lelaki yang seolah kehilangan ingatannya bahwa dia telah memiliki kekasih. Jika Ayana bertanya alasan dibalik perubahan sikap kekasihnya tersebut, maka Naveen akan menjawab bahwa dia sedang benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.
Ayana jadi penasaran, seperti apa rupa gadis aneh yang kata Naveen memiliki rambut berwarna merah muda itu.
"Aku pasti lebih cantik darinya." Ayana memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin. "Selama ini tak pernah ada yang meragukan kecantikanku."
Perempuan itu menyeringai, mengambil kembali ponsel yang sempat ia lemparkan ke sembarang arah serta menekan satu nomor yang ada di sana.
"Baiklah, Nav. Jika kau ingin bermain-main denganku, aku akan meladenimu," ujar Ayana sembari menunggu panggilan telepon tersambung. Perempuan itu segera berdeham setelah mendengar kata halo yang terucap di sebrang sana.
"Regis, bisakah kau menemaniku keluar?"
.
.
.
__ADS_1
Naveen segera mengganti pakaiannya dengan cepat lalu bergegas ke rumah Rallin untuk membantu berbenah. Ia melemparkan ponselnya begitu saja tanpa berniat memungutnya kembali. Jika rusak, ia bisa membelinya lagi.
Jujur, Naveen merasa sangat kesal pada sang kekasih karena memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak ketika ia masih belum selesai berbicara. Ayana seolah tak mau mendengar penjelasannya.
"Dasar wanita," gerutu Naveen. Menutup pagar rumahnya dengan kasar seraya berjalan menuju rumah Rallin dengan kaki yang dihentakkan. "Terserahlah, aku tak peduli."
Xavier dan Rallin yang kini berada di ruang tamu mengangkat alisnya secara bersamaan ketika melihat wajah Naveen yang ditekuk. Ekspresi wajahnya seolah menyiratkan bahwa seluruh masalah yang ada di dunia ini ditanggung oleh Naveen seorang.
"Kau kenapa?" tanya Xavier. Kedua tangannya terlihat sibuk memotong kabel yang akan lelaki itu sambungkan pada colokan. "Kenapa wajah ditekuk seperti itu?"
Rallin mengangguk menyetujui ucapan Xavier. "Jika urusanmu benar-benar penting, kau bisa menyelesaikannya dulu."
"Aku bisa menyelesaikannya nanti," ucap Naveen. Punggung lebarnya ia sandarkan pada sandaran sofa yang benar-benar terasa empuk dengan kedua mata terpejam erat. Di sebrang meja, Rallin hanya diam memperhatikan sambil sesekali melirik ke arah Xavier. Bertanya lewat tatapan mata apa yang telah terjadi pada Naveen sebenarnya.
Namun yang Rallin dapati adalah Xavier yang mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli.
Rallin segera berjalan meninggalkan kakak beradik itu menuju kamarnya untuk mengambil ponsel.
"Apa yang terjadi?" Xavier kembali membuka percakapan setelah sosok Rallin benar-benar tak terlihat. "Hari ini kau ada kencan dengan kekasihmu, kan? Kenapa tiba-tiba membatalkannya?"
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari sang kakak, akhirnya Naveen membuka mata. Menatap Xavier dengan sorot tak terbaca lalu mengangguk lesu setelahnya.
"Aku pasti sudah gila karena membatalkan acara kencan yang sudah kurencanakan jauh-jauh hari."
Bukan merasa iba dengan masalah yang menimpa adik bungsunya, Xavier malahvtertawa mengejek. "Biar kutebak, kekasihmu marah, kan?"
__ADS_1
Naveen menatap Xavier dengan mata memicing, merasa sangat kesal dengan sikap kakaknya yang kelewat santai "Ayana pasti lebih gila dariku jika dia tidak marah."
Xavier menyetujui ucapan Naveen. Memang perempuan mana yang tak marah jika acara kencannya dibatalkan secara mendadak? Jika ada, berarti perempuan itu benar-benar gila seperti apa yang Naveen katakan.
"Lalu kenapa kau membatalkannya?" tanya Xavier lagi. "Apa karena Rallin? Kau menyukai Rallin, kan?"
Naveen mengusap wajahnya secara kasar. Merasa sangat frustasi ketika lagi-lagi sang kakak memberikan beberapa pertanyaan yang tak bisa ia jawab sama sekali. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, bermaksud mengelak dari tuduhan tak berdasar Xavier. Namun ia menguringkan niatnya saat Rallin sudah lebih dulu datang dan duduk tepat di sampingnya. Benar-benar di samping tubuhnya—bukan di sebrang meja seperti yang perempuan itu lakukan sebelumnya.
"Lima belas menit lagi makanan akan tiba," jelas Rallin sembari tersenyum ke arah Xavier.
Xavier yang melihat Rallin telah kembali, memutuskan untuk berdiri. Meninggalkan mereka berdua mungkin akan menyenangkan. Diam-diam Xavier menyeringai, ingin bertepuk tangan dengan ide dadakannya yang sangat briliant.
"Rallin, maafkan aku. Tapi kurasa aku harus pulang sekarang." Xavier mengabaikan pelototan Naveen. "Badanku terasa lengket dan sepertinya aku perlu mandi." Ia memperlihatkan wajah bersalahnya pada Rallin, kembali mengabaikan Naveen yang pasti sudah merapalkan sumpah serapah serta mengacungkan jari tengah untuknya di dalam hati. Itu terlihat sangat jelas di wajah adik kesayangannya. "Jadi, kalian nikmati saja makan siangnya, oke?"
Rallin hanya bisa menghela napas seraya mengangguk.
"Baiklah."
.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.