Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Tiga


__ADS_3

"Kau terlambat."


Kalimat tersebut seolah menjadi ucapan selamat datang untuk Naveen yang kini tengah menarik kursi dan duduk di sana setelahnya. Sepasang jelaga hitamnya mengamati wajah cemberut seorang gadis yang berada tepat di depannya— di sebrang meja. Terlihat sangat jelas jika gadis itu tengah merajuk padanya.


"Maafkan aku," kata Naveen dengan nada lembut. Pun dengan pandangannya yang juga memancarkan kelembutan saat menatap wajah ayu dari gadis di hadapannya.


Gadis itu membuang muka, memilih untuk menatap keluar jendela di mana kerlap-kerlip lampu jalan terlihat lebih indah dari pada sosok menawan yang ada di hadapannya.


"Kau terlambat," ulang gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya. Kedua tangannya kini terlipat di depan dada. Naveen yang melihatnya hanya tersenyum, terlihat sangat terhibur. Bagi Naveen, wajah cantik dengan kedua alis yang menyatu serta garis bibir yang melengkung ke bawah adalah hal paling menggemaskan. Ia selalu menyukai apapun ekspresi yang ditampilkan gadis di hadapannya.


"Aku tahu." Naveen kembali mengeluarkan suara setelah puas menatap wajah ayu si gadis. Ia harus segera membujuknya atau berakhir dengan kepalanya yang pusing jika gadis itu terlalu lama merajuk. "Aku minta maaf," tambahnya masih dengan nada lembut.


"Kau pasti ketiduran lagi."


"Tidak." Naveen menjawab sembari menggelengkan kepala dengan cepat. Hal itu berhasil membuat si gadis menatap ke arahnya detik itu juga.


"Lalu?"


"Aku membantu tetangga baruku membersihkan rumah." Si gadis memberikan tatapan menyelidik dan Naveen segera menambahkan, "Kau tahu rumah bekas paman Arya? Putri pemilik rumah itu datang, dan aku mem—"


"Putri?" tanya si gadis tak suka.

__ADS_1


Naveen mengangguk ragu.


"Dia perempuan?" Anggukkan kedua kali yang Naveen lakukan membuat gadis itu mendengus keras. "Kau membantunya karena dia perempuan?"


Untuk beberapa saat, kedua alis Naveen menyatu pertanda jika lelaki itu tengah membaca keadaan. Sampai di detik ke dua puluh wajah tampannya berubah panik dengan kedua mata yang terbelalak. Tidak mungkin, kan?


"Sayang, jangan bilang kalau kau—"


"Aku tidak cemburu!" Gadis itu menyela ucapan Naveen seraya membuang muka, lagi.


"Astaga, Ayana." Naveen menutupi wajah tampannya dengan sebelah tangan—menutupi senyum bodoh yang tiba-tiba terbit di bibir tipisnya. "Kenapa kau harus cemburu? Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, kan? "


Mendengar penuturan lelaki yang berstatus kekasihnya sejak dua bulan lalu, diam-diam perempuan bernama Ayana itu tersenyum. Benar, Naveen sangat mencintainya. Jadi tak ada alasan baginya untuk merasa cemburu jika mengingat perjuangan keras lelaki itu saat mengejarnya dulu. Ia yakin jika Naveen tak akan mudah tergoda dengan wanita lain selain dirinya.


Naveen menghela napas dan kembali tersenyum. "Kau tidak marah?"


"Aku hanya kesal," balas Ayana yang kembali menampilkan wajah cemberutnya.


"Aku minta maaf. Lain kali, aku tidak akan terlambat lagi." Tangan besar Naveen menggengam tangan Ayana hingga jemari mereka saling bertaut. Menyalurkan seluruh perasaan cinta yang ia punya untuk wanita di hadapannya lewat sentuhan lembut. Memandang paras ayu yang selalu mampu membuat Naveen jatuh cinta lagi dan lagi untuk waktu yang lama.


Ya, perjuangannya untuk mendapatkan hati seorang Ayana tidaklah mudah. Segala cara telah Sasuke lakukan dari yang terlihat normal seperti mengirimkan bunga ke tempat kerja perempuan bersurai indah itu, sampai cara yang bisa dibilang gila seperti mengikutinya kemana-mana seperti seorang penguntit. Gila, kan? Jika ada yang tidak percaya dengan apa yang Naveen katakan, Regis — sahabat berisiknya dapat bersaksi di hadapan Jaksa dan memastikan kebenarannya. Regis bahkan pernah mengatakan jika Naveen si Jenius berubah menjadi seorang pria bodoh hanya gara-gara seorang wanita. Pria kelewat ceria itu tidak tahu saja bagaimana rasanya jatuh cinta.

__ADS_1


"Naveen, tunggu." Tiba-tiba saja Ayana melepaskan tautan jari mereka, tatapan matanya terlihat menyelidik. "Kau mengatakan jika orang yang menempati rumahmu adalah perempuan, kan?" Naveen mengangguk hati-hati dan Ayana kembali berbicara, "Apa dia cantik?"


Dia sangat cantik. Naveen ingin mengatakan hal tersebut, tapi ia segera mengerem mulutnya yang kadang bertindak sialan hingga menimbulkan pertengkaran bagi siapa saja yang mendengarnya, termasuk kekasihnya sendiri.


Naveen mengakui hal tersebut, Rallin adalah wanita yang amat sangat cantik. Terutama kedua bola mata berwarna hijau teduh meneduhkan yang mampu membuatnya sempat terpesona selama beberapa detik.


"Dia terlihat aneh," kata Naveen pada akhirnya. Dalam hati ia berkali-kali meminta maaf pada Rallin yang telah menyebutnya aneh karena ia harus menyelamatkan dirinya dan juga hubungannya dengan Ayana. Untuk sekarang, Naveen tidak ingin bertengkar dengan sang kekasih.


Mereka ada di sebuah kafe, dan para pengunjung cukup ramai malam ini. Tidak lucu 'kan kalau mereka berdua bertengkar hingga menjadi tontonan orang-orang?


"Aneh?" tanya Ayana kemudian. Tatapan matanya masih terlihat menyelidik.


Naveen mengangguk. "Ya, aneh. Rambutnya berwarna merah muda."


Kedua alis Ayana tampak menyatu, terlihat seperti tengah membayangkan seorang wanita berambut merah muda. Hingga akhirnya perempuan itu mengangguk dan berkata, "Kurasa kau benar, hanya orang gila yang akan mewarnai rambutnya dengan warna merah muda."


Naveen diam-diam meringis namun juga menghela napas di saat bersamaan. Sepertinya, sesi interogasi yang dilakukan Ayana sebentar lagi akan usai.


"Sayang, kita pesan makan sekarang?" tanya Naveen, mencoba mengalihkan topik tentang wanita aneh berambut merah muda yang berstatus sebagai tetangga barunya sejak beberapa jam lalu.


Ayana kembali mengangguk, rambut panjangnya terayun indah mengikuti gerakan kepala. Sebuah senyuman terlukis sempurna di wajah ayunya hingga membuat Naveen kembali terpesona untuk kesekian kali.

__ADS_1


"Tentu. Kita pesan makanan sekarang. Perutku sudah bergemuruh sejak tadi."


To be continued


__ADS_2