Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Empat belas


__ADS_3

Acara barbeque untuk merayakan kepindahan Rallin cukup seru, setidaknya itu yang Rallin rasakan. Terlihat Reiner kini tampak keren dengan apron bermotif hello kitty yang melilit pinggangnya. Rambut merahnya yang menyala tampak berkilau diterpa sinar lampu. Kedua tangannya dengan cekatan membalik daging sapi serta beberapa sayuran yang hampir matang dengan Xavier yang sesekali mencomot tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Rallin sempat heran, kenapa Reiner yang sudah seperti lemari es berjalan bisa cepat akrab dengan Xavier yang notabene tipikal pria periang.


Di lain tempat, Naveen sedang duduk santai di bangku usang yang memang sudah tersedia di halaman belakang rumahnya, sepertinya bangku tersebut memang telah ada jauh sebelum Rallin pindah. Jari-jari panjang Naveen tampak lincah memetik senar gitar yang memang sengaja lelaki itu bawa dari rumah.


Satu senyuman terbit di bibir Rallin ketika kaki jenjangnya memutuskan untuk menghampiri lelaki itu dan duduk di sampingnya.


"Kau pandai memainkannya." Rallin menengadah, memandang ribuan bintang yang terlihat samar di atas sana. Polusi cahaya membuat pemandangan langit malam tak terlihat jelas.


"Benarkah?" Naveen melirik Rallin sekilas lalu ikut menengadahkan kepalanya ke atas. "Yah, aku hanya memainkannya ketika bosan atau stres."


"Jadi? Yang mana?"


"Apanya?" tanya Naveen bingung.


"Kau memainkan gitarmu," kata Rallin seraya menunjuk gitar yang ada di pangkuan Naveen dengan dagunya. "Apa sekarang kau sedang merasakan salah satunya?"


Naveen tampak berpikir selama beberapa detik lalu mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi kurasa aku baik-baik saja."


Rallin mengangguk mengerti saat Naveen menyimpan gitarnya di sisi tubuh. Tak ada percakapan yang terjadi setelah itu. Pandangan keduanya kini berfokus pada Xavier dan juga Reiner yang tampak akur di tempat pemanggangan sana. Terlihat Reiner yang kini memukul tangan Xavier dengan pencapit daging karena berani mengambil daging sapi yang telah matang.


Rallin kembali mengulas senyumnya. Ia merasa bersyukur. Setidaknya, Reiner si lemari es berjalan kini sudah seperti manusia pada umumnya. Bisa berbaur bahkan becanda dengan orang lain selain dirinya.


"Hei, Rallin," panggil Naveen memecah keheningan. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Rallin segera mengalihkan fokusnya pada Naveen dan mengangguk setelahnya. "Sejak kapan kau mengenal Regis?"


"Aku mengenalnya sewaktu kuliah," kata Rallin dengan pandangan menerawang. Ia sedikit merapatkan jaket yang dikenakannya saat udara malam terasa menusuk kulit. "Kami satu Universitas ketika di Kanada," lanjutnya dengan kekehan ringan. "Kalau kau? "


Naveen sedikit tak menyukai ketika mengetahui fakta bahwa Regis-lah yang lebih dulu mengenal Rallin. Ia merasa sedikit menyesal karena dulu menolak mentah-mentah ajakan sahabat berisiknya untuk melanjutkan study ke Kanada. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Toh, pada akhirnya ia tetap bertemu dengan Rallin juga, sebagai tetangganya.


"Aku mengenalnya ketika SMA, dia orang paling berisik yang pernah aku kenal."


"Kau benar," sahut Rallin. "Tapi dia pria yang baik."


Mata Naveen sedikit memicing saat mendengar ucapan Rallin. Namun lelaki itu tetap mengangguk dengan setengah rela. Sikap Regis yang kelewat aktif membuatnya mudah berteman dengan siapa saja. Naveen ingat, Regis bahkan pernah berbicara santai dengan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. Salah satu hal yang mustahil untuk Naveen lakukan, meski pun beberapa minggu ke belakang ia baru saja melakukan hal mustahil tersebut. Jadi Naveen tak heran jika Regis bisa berteman dengan siapa saja yang lelaki itu temui, termasuk Rallin.


"Tapi Nav, jika aku lihat, kalian cukup akrab."


"Aku bahkan heran kenapa bisa berteman dengan pria bodoh dan juga berisik seperti si Regis itu." Naveen meringis, membayangkan kembali pertemanannya dengan Regis yang sudah terjalin cukup lama. "Tapi, yah, meski pun menyebalkan, mungkin hanya Regis-lah orang yang paling mengerti aku setelah keluargaku."


Naveen segera mengambil ponsel ketika saku celananya terasa bergetar. Ia mendengus, memperlihatkan nama seseorang yang tertera di layar ponselnya pada Rallin.


"Lihat, baru saja kita membicarakannya, dan si bodoh itu sudah menghubungiku." Rallin tertawa saat raut wajah Naveen berubah masam. "Haruskah aku abaikan?"

__ADS_1


"Kau angkat saja, siapa tahu itu panggilan penting."


Bak mantra yang diucapkan oleh penyihir, Naveen langsung menuruti apa yang Rallin katakan dan segera menggeser lambang berwarna hijau yang terdapat di layar ponselnya.


"Hal—"


"Naaaaav, aku di depan rumah Rallin! Kau cepatlah kemari dan bukakan pintu untukku! "


Naveen segera menjauhkan ponselnya dari telinga sebelum ia berubah jadi tuli. Suara melengking dari Regis membuatnya harus mengeluarkan beberapa umpatan pada lelaki keturunan rubah itu.


"Br*ngs*k! Kau membuat gendang telingaku hampir pecah, si*l*n!" Naveen bisa mendengar tawa menggelegar Regis di sebrang sana seolah sangat berbahagia dengan kekesalan yang tengah dirasakannya.


"Cepat, Naaav. Perutku sudah keroncongan!"


Sebelum gendang telinganya benar-benar rusak, Naveen segera memutuskan panggilannya secara sepihak. Ia menatap Rallin yang kini masih memperhatikannya dengan alis terangkat serta ekspresi geli.


"Si bodoh itu di luar," jelas Naveen sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Aku tak percaya jika dia benar-benar akan kemari."


"Dia memiliki banyak waktu luang, jadi mana mungkin tidak datang." Naveen mengangkat kedua bahunya, segera berjalan menuju rumah untuk membukakan pintu dengan Rallin yang mengekor.


.


.


.


Kedatangan tamu yang tak diundang Reiner namun diundang langsung oleh pemilik rumah membuat suasana malam itu menjadi lebih ramai. Reiner segera melepaskan apron yang membelit pinggannya serta menyerahkan pencapit daging pada Rallin yang kebingungan.


"Aku ingin menemui si bodoh itu dulu," kata Reiner menjelaskan. Meski pun mereka tinggal di kota yang sama, namun Reiner sudah sangat lama tak bertemu dengan manusia keturunan rubah itu. "Kau hanya perlu membaliknya," tambah lelaki bersurai merah itu saat melihat wajah memelas saudara kembarnya.


"Oke," kata Rallin. Tangannya segera mencapit daging yang ada di atas pembakaran dengan gerakan kaku. "Seperti ini?"


Reiner memberi acungan jempol untuk Rallin. "Kau bisa menyuruh Xavier membantumu jika kesulitan, dia pandai memasak."


"Si*l*n! Kau meledekku?"


Sasori mendengus lalu menggeleng. "Yang ku ingat, terakhir kali kau coba memasak makanan, kau hampir membakar habis dapurku."


Ringisan pelan langsung terdengar saat Rallin mengingat kejadian beberapa minggu lalu ketika ia berinisiatif membuat sesuatu untuk sarapan mereka berdua. Niatnya ia ingin sedikit mengurangi beban Reiner, namun malah menyebabkan kekacauan yang luar biasa parah karena seperti apa yang dikatakan saudara kembarnya itu, dapur rumah yang mereka tempati hampir saja terbakar saat ia tak sengaja menaruh lap di dekat kompor yang masih menyala dan berakhir dengan ia yang diomeli Reiner Habis-habisan.


"Oke, jika hanya memanggang ini, aku rasa aku tak akan membakar habis rumahku."

__ADS_1


"Baguslah. Aku tak mau mengeluarkan uangku hanya untuk merenovasi rumahmu."


"Sial*n!" umpat Rallin pelan yang mengundang kekehan Reiner.


Reiner segera meninggalkan Rallin sebelum apa pun yang ada di dalam jangkauan gadis itu terlempar ke arahnya dan berakhir melukai salah satu bagian tubuh indahnya. Sepasang manik berwarna cokelatnya menatap Regis dan juga lelaki yang ia ketahui bernama Naveen kini tengah mengobrol dengan raut wajah serius, entah apa yang mereka bicarakan. Reiner tak tahu dan tak berniat mencari tahu.


"Hei, Kuning." Reiner segera menyamankan dirinya di samping Regis setelah sebelumnya memukul bahu lelaki itu cukup keras. "Aku tak menyangka kalau kau tahu Rallin pindah rumah."


"Tahu apanya?" Regis menyahut dengan mata memicing, mengusap bahunya yang terasa panas akibat pukulan kurang ajar Reiner. "Aku mengetahuinya karena tak sengaja bertemu dengan mereka berdua di tempat perbelanjaan," lanjutnya seraya menunjuk ke arah Naveen yang masih duduk dengan tenang.


"Yah, itu'kan hanya kebetulan," balas Naveen seraya mengangkat bahu.


"Tetap saja, Nav, jika aku tidak bertemu dengan kalian di sana, sekarang aku tak akan berada di sini," kata Regis. " Mungkin sekarang aku tengah berada di rumah Aya—"


Naveen segera memukul keras paha Regis sebelum mulut detergennya mengeluarkan busa. Reiner yang memperhatikan keduanya hanya mengangkat alis lalu menghela napas dan mengangkat bahunya, tak berniat sedikit pun mencari apa yang tengah mereka bicarakan.


"Kalian tahu? Rallin benar-benar menguras uangku jika dia dibiarkan berbelanja sendiri." Kali ini Reiner yang berbicara. Mengeluarkan unek-uneknya akan kelakuan sang adik yang selalu menggila jika menyangkut menghabiskan uang.


"Kau kan, kaya!" Regis lantas tertawa, terlihat sangat puas saat mendapati ekspresi kesal yang ditunjukkan Reiner. "Kau bahkan bisa membeli tempat perbelanjaan itu dengan uang yang kau miliki."


Wajah Reiner merengut ketika kedua lengannya saling menyilang di depan dada. Walau apa yang dikatakan Regis benar adanya, tapi ia tetap tak menyukai perempuan yang memiliki hobi menghambur-hamburkan uang, meski pun itu adalah saudaranya sendiri. Reiner hanya berharap, suatu saat sikap kekanakan serta hobi Rallin yang senang sekali menghabiskan jutaan di rekeningnya berubah. Sukur-sukur jika gadis itu bisa menemukan pendamping hidup yang bisa membimbingnya kembali ke jalan yang benar—berhemat.


"Omong-omong, apa kesibukanmu sekarang?" Reiner kembali bertanya setelah ia mengeluarkan satu kotak rokok dari saku jaketnya lalu menaruhnya di atas meja. Ia jarang merokok, tapi Regis adalah perokok yang cukup aktif. Untuk lelaki keturunan ayam yang duduk di sebelah pria berisik itu, entahlah Reiner tidak tahu.


"Aku? Tentu saja aku pengacara sukses, Brother!"


"Baj*ng*n gila!" desis Reiner mulai menyalakan satu batang rokok dan menyesapnya perlahan. Mengerti benar bahwa kata pengacara yang dikatakan Regis adalah pengangguran banyak acara.


Regis kembali tertawa. Sejak dulu, ia selalu senang membuat Reiner kesal. Ketika mereka di Kanada, ia dan Rallin bahkan pernah merencanakan hal gila. Regis memberitahu pada Reiner bahwa Rallin mengalami kecelakaan dan tengah dioperasi di salah satu rumah sakit yang ada di kota itu. Reiner yang memiliki kepanikan luar biasa segera mendatangi rumah sakit yang Regis sebutkan dengan mengenakan piyama bergambar salah satu karakter anime lengkap dengan sandal rumahan berbentuk kelinci. Astaga.


"Astaga! Sepertinya anak itu mulai berulah lagi." Reiner segera bangkit dari kursi saat melihat Rallin yang kini sibuk dengan panggangannya seraya berteriak panik. Entah apa yang terjadi di sana, tapi Xavier yang tadi bersama dengan Rallin menghilang entah ke mana.


Naveen yang juga merasa panik hendak pergi menyusul Reiner. Namun cekalan tangan Regis pada lengannya membuat ia harus mengurungkan niatnya sembari menarik napas super panjang.


"Nav, bukankah kita harus melanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda?"


Sialan! Benar-benar sialan! Jika Regis sudah berbicara dengan nada yang sangat dingin seperti itu, itu artinya pembicaraan yang mereka tengah lakukan adalah hal yang sangat serius.


.


.


.

__ADS_1


-To be continued-


__ADS_2