Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Tujuh belas


__ADS_3

Rallin keluar dari kamar dengan setelan kerja. Wajahnya tampak cerah dengan sedikit polesan make-up natural. Kaki jenjang berbalut stocking serta sepatu pantofel membawa langkah Rallin menuju dapur. Reiner sudah ada di sana dengan gaya khasnya, terlihat rapi dan bercahaya seperti biasa. Duduk tenang di atas kursi dengan koran harian yang entah ia dapat darimana berada di tangannya. Kopi hitam tanpa gula favorit lelaki itu sudah tersaji di atas meja. Asap yang mengepul dari cangkir menandakan jika minuman bercitarasa pahit itu masih panas.


Rallin meringis, membayangkan mulutnya yang akan terbakar jika ia nekat meminum minuman berwarna pekat tersebut. Baginya, hanya orang gila yang menyukai kopi tanpa gula. Cukup hidupnya saja yang pahit, tidak dengan minumannya.


Setelah mengambil satu lembar roti yang sudah dipanggang, Rallin ikut duduk di kursi bersebrangan dengan Reiner. Mengambil selai kacang dalam toples dengan pisau lalu mengoleskannya pada roti.


Ia menghela napas, memakan roti panggang berlapis selai kacang tersebut dalam diam. Sesekali, matanya melirik Reiner yang masih duduk tenang seolah keberadaan dirinya tak terlihat. Ayolah! Rallin bukan mahluk astral!


Jam yang menggantung di dinding menujukkan pukul setengah tujuh pagi, mengharuskan Rallin untuk menghabiskan sarapannya dengan cepat. Ia membereskan piring kotor lalu menyimpannya ke bak cuci piring, mengambil tas kerja yang sebelumnya ia letakkan di kursi kosong, bersiap untuk pergi. Namun, kata-kata yang keluar dari celah bibir Reiner berhasil menahannya. Membuat Rallin harus kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, membalas tatapan dari sepasang manik hazel yang kini menatap ke arahnya, bak dewa kematian yang tak memiliki belas kasih.


"Naveen ... Kau menyukainya, kan?" todong Reiner. Melipat koran pagi yang telah selesai ia baca lalu meletakkannya di atas meja untuk selanjutnya menghela napas.


Mendengar nama Naveen disebut, pipi Rallin tiba-tiba memanas. Bayangan tadi malam kembali melintas di kepalanya. Ia menggeleng, mencoba mengenyahkan bayang-bayang sial*n yang membuat ia ingin mengubur dirinya sendiri di halaman belakang rumah.


"Kenapa kau menyimpulkan hal seperti itu?" tanya Rallin balik. Berdeham dengan canggung. "Ini tak seperti kau yang biasanya."


Karena Reiner yang ia lihat sekarang  bukanlah seorang saudara yang sudah bersama sejak mereka dalam kandungan. Dia seperti seorang kakak yang memiliki usia terpaut cukup jauh darinya—yang mengkhawatirkan adik perempuan satu-satunya, meskipun kenyataannya memang seperti itu. Tapi Rallin tak menyukainya, tak menyukai sikap Reiner yang seperti itu. Rallin hanya menyukai Reiner yang dingin. Rallin hanya menyukai Reiner yang menyebalkan hingga ia ingin memukul bagian belakang kepalanya jika sudah membuat ulah. Rallin hanya menyukai Reiner yang tak peduli dengan urusan orang lain, bukan Reiner yang penuh intimidasi hingga membuat ia kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. "Aku hanya berteman dengan Naveen, tidak lebih," lanjut Rallin dengan nada pelan.


"Aku peringatkan, jangan terlalu dekat dengannya." Reiner mengambil kopi hitam yang sempat ia abaikan lalu meminumnya. Sedikit mendingin hingga terasa hambar di indra pengecapnya.


"Kau tak berhak melarangku berteman dengan siapapun," bela Rallin tak terima. Berusaha sekuat tenaga agar suara yang keluar dari tenggorokkannya tidak meninggi.


"Aku tak melarangmu," balas Reiner masih dengan nada datar. "Aku hanya menyuruhmu menjaga jarak darinya."


"Siapa kau berani memerintahku?"


"Aku kakakmu jika kau lupa."


Br*ngs*k!


Sakura meremas roknya dengan kuat. Matanya memicing, menatap nyalang Sasori saat emosi hampir meledak.


"Oke, terserah kau." Rallin berdiri, menghela napas panjang lalu menepuk pakaian yang sedikit kusut korban dari keganasan tangannya. Bagaimana pun caranya, ia harus bisa mengontrol emosinya. "Tapi kali ini aku tak akan mendengarkanmu."


Kali ini, Rallin benar-benar pergi dengan langkah lebar—hanya beberapa langkah saja. Karena perkataan Reiner selanjutnya kembali berhasil menghetikannya detik itu juga.


"Naveen ... Dia memiliki kekasih."


Untuk sejenak, Rallin hanya bisa memejamkan mata. Tangan yang berada di sisi tubuh terkepal erat. Menghitung mundur dari angka sepuluh lalu berbalik saat hitungan selesai.


" Lantas?" tanya Rallin dengan ekspresi datar. "Aku sudah memberitahumu bahwa kami hanya berteman."

__ADS_1


Sasori tersenyum. "Itu terserahmu. Tapi, aku hanya mengkhawatirkan adikku."


Selanjutnya, Rallin benar-benar pergi. Tak ingin mendengar lagi apa pun yang keluar dari mulut Reiner.


Seperti dugaannya, pagi harinya akan benar-benar buruk saat Reiner memutuskan untuk menginap di rumahnya.


Memang kenapa kalau Naveen memiliki kekasih? Toh, tidak ada urusan dengannya juga, kan?


Menyebalkan!


.


.


Berjalan dengan cara mengendap-endap adalah hal yang Naveen lakukan ketika ia keluar rumah. Secara perlahan, ia membuka pintu gerbang rumahnya lalu melongokkan sedikit kepalanya ke arah luar. Memastikan bahwa ia tidak akan berpapasan dengan perempuan berambut merah muda yang membuatnya sulit tidur hampir semalaman.


Jika saja ibunya yang cantik jelita juga murah hati tidak membangunkannya secara paksa, menyuruhnya untuk membelikan dua liter minyak di minimarket sebrang jalan, Naveen tak akan bersikap seperti seorang pencuri sekarang. Mengendap-endap sembari memantau sekitar layaknya seorang detektif profesional. Tapi, ya sudahlah. Dia kan anak baik, tak suka menentang perintah orang yang telah berusia senja. Toh, hanya pergi ke minimarket sebrang jalan tak akan membuat waktunya terbuang percuma, kan?


Tapi bukan itu masalahnya! Bagaimana jika ia tak sengaja berpapasan dengan Rallin? Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mengatakan 'hai' sembari melambaikan sebelah tangan dengan senyum bodoh menghiasi wajah? Tidak, tidak. Naveen bergidik ngeri dibuatnya. Ia lebih baik hilang di segitiga bermuda ketimbang melakukan hal itu semua.


Pemuda itu menghela napas, memastikan sekali lagi jika ia tak akan berpapasan dengan wanita bersurai merah muda yang memiliki sepasang bola mata hijau cerah. Ia segera membuka lebar pagar rumahnya lalu keluar dari sana. Berjalan dengan ringan sembari mengerling genit saat tak sengaja berpapasan dengan perempuan komplek sebelah yang jelas sekali tengah memperhatikannya. Oh, itu hal yang biasa. Naveen sudah menerima hal seperti itu sedari remaja. Jadi, ia sama sekali tak terganggu. Namun, ada hal lain yang mengganggunya, tepatnya, saat ia melihat pintu rumah tetangga barunya tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok yang paling ia hindari tengah berjalan dengan kaki yang di hentakkan serta kedua alis yang saling bertaut.


Sontak, Naveen memiringkan kepala. Menelan kembali umpatan yang sudah berada di ujung lidah. Melupakan niatan untuk melarikan diri secepat kecepatan cahaya dan malah melambaikan tangan sembari tersenyum. Senyuman yang amat sangat bodoh.


****! Ia benar-benar ingin mengumpati dirinya sendiri karena telah melakukan hal yang sempat ia katakan beberapa detik lalu. Hal yang seharusnya amat sangat terlarang untuk ia lakukan.


Naveen hanya berharap akan ada orang yang mau dengan suka rela menguburkannya hidup-hidup atau membuangnya ke laut lepas saat ini juga.


.


.


.


"Rallin, hai."


Langkah kakinya sontak terhenti kala indera pendengaran Rallin menangkap sebuah suara yang sudah sangat ia kenal. Perempuan itu meringis pelan, ingin segera melarikan diri namun itu hal yang mustahil untuk dilakukan saat ini.


Setelah menguasai dirinya sendiri, Rallin mengusap tengkuk dengan gerakan tangannya yang kaku kemudian membalas lambaian tangan seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya dengan sebelah tangannya yang lain. "Oh, Naveen. Hai," balasnya. "Kau ingin ke mana?" Matanya menilai penampilan Naveen dari atas hingga ke bawah.


Pria itu hanya mengenakan sandal jepit di kedua kakinya, celana selutut serta baju kaos tanpa lengan. Rambutnya acak-acakan, jelas sekali jika lelaki itu baru bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Aku harus pergi ke minimarket."


"Sepagi ini?" tanya Rallin


"Ibu menyuruhku membeli minyak goreng." Naveen sedikit meringis ketika mengatakannya. Rallin mengangguk mengerti. "Kau?"


"Aku?" tunjuk Rallin pada dirinya sendiri. " Tentu saja aku akan pergi bekerja."


Benar, dilihat dari pakaian yang dikenakan Rallin memang terlihat jika perempuan itu seperti akan pergi bekerja. Tapi, sebenarnya apa pekerjaan Rallin? Naveen jadi sedikit penasaran.


"Mobilmu?"


"Aku akan naik bus," ujar Rallin yang langsung dianggukki oleh Naveen detik itu juga.


Mereka melanjutkan langkah dalam diam. Seperti yang sudah diperkirakan keduanya, suasana canggung tercipta begitu saja. Bagaikan tembok kokoh yang tak mudah untuk dihancurkan. Mereka terlalu bingung harus memulai percakapan dari mana dan seperti apa. Sesekali, helaan napas yang berasal dari kedua orang itu terdengar, saling bergantian.


jarak antara rumah Naveen dengan minimarket mau pun halte bus tidak terlalu jauh. Namun, cukup melelahkan jika harus berjalan kaki.


Ah, si*l! Seharusnya ia pergi menggunakan mobil saja tadi. Naveen sedikit menyesali kebodohannya.


Lima belas menit—yang terasa seperti dua hari dua malam akhirnya berhasil mereka lewati meski pun dalam keheningan. Oke, sebenarnya tidak benar-benar hening karena masih ada suara dari kendaraan yang melaju serta langkah kaki dari orang yang berlalu lalang. Rallin memutuskan untuk duduk di bangku halte begitu sampai. Sedang Naveen, pemuda itu telah menyebrang jalan menuju minimarket setelah mengatakan hati-hati padanya.


Helaan napas kembali keluar dari celah bibir Rallin. Ia mengurut pangkal hidungnya dengan sebelah tangan. Perdebatannya dengan Reiner, juga pertemuannya dengan Naveen secara tidak sengaja pagi ini berhasil membuat kepalanya hampir akan meledak. Suasana hatinya juga sangat buruk sekarang.


Andai saja. Oke, biarkan Rallin sedikit berandai-andai sekarang. Andai saja tadi malam ia tak melakukan hal memalukan itu, andai saja suasana yang tercipta tadi malam tak mendukung, andai saja ia tak terbawa suasana, andai saja ia tak melakukan hal bodoh itu, andai saja ia tidak menci—"


"Nona, kau ingin naik tidak?"


Pertanyaan dari supir bus berusia setengah abad berhasil membuat Rallin tersadar dari acara berandai-andai yang hampir membuat pipinya kembali terasa panas. Sepertinya Rallin harus berterimakasih pada supir baik hati yang telah menyadarkannya.


"Aku naik."


Rallin mengangkat tubuhnya dari bangku halte kemudian mulai berjalan memasuki bus yang akan membawanya ke tempat kerja.


Persetan dengan kebodohan yang telah di lakukannya akhir-akhir ini! Toh, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya kecuali ia dan Naveen. Benar, kan?


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2