Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Dua


__ADS_3

Tidak ada yang bisa Rallin lakukan selain membeli makanan cepat saji sebagai ucapan terimakasih kepada lelaki tampan yang dengan suka rela membantunya membereskan rumah yang akan ia tempati. Mereka berdua kini tengah duduk berselonjor kaki di ruang tamu— di atas karpet seraya melepas lelah. Ini rumah baru, jadi Rallin belum memiliki perabotan yang lengkap, termasuk sofa. Sesekali, pria itu meregangkan tangannya, mungkin merasakan pegal luar biasa akibat apa yang baru saja mereka lakukan selama tiga jam ke belakang.


"Aku tak bisa memberikan apapun sebagai ucapan terimakasih selain ini." Rallin menatap lelaki yang kini tengah menegak minuman dingin dengan pandangan bersalah. Ia meringis ketika mengingat kembali mulut manisnya sempat mengeluarkan umpatan untuk lelaki baik hati itu. "Dan ... maafkan aku karena sempat mengumpatimu tadi."


Lelaki itu justru tertawa. Sebuah tawa yang terdengar renyah di telinga Rallin. "Tak apa. Ini sudah lebih dari cukup," katanya. "Dan mengenai umpatan itu, aku sama sekali tak merasa keberatan." Jelaga hitamnya mengerling ke arah Rallin, terlihat genit namun juga menggemaskan. "Sebenarnya, aku juga sering melakukan hal yang sama ketika kaget. Aku bahkan lebih parah darimu. Kau tahu? Aku sempat hampir mencekik kakakku karena berani mengagetkanku."


Entah sebuah lelucon atau bukan, tapi Rallin dibuat terbahak ketika mendengar penuturan lelaki di hadapannya. Itu sama sekali tidak lucu, tapi entah kenapa ia merasa sangat terhibur. Mungkinkah ia berubah menjadi perempuan gila setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam lamanya membersihkan seluruh bagian rumah?


"Omong-omong, kita belum berkenalan. Aku Rallin, terserah kau mau memanggilku dengan sebutan apa. Kalau kau, siapa namamu?"  Rallin mengulurkan sebelah tangan setelah ia mengelapnya dengan tisu untuk menghilangkan minyak dari kentang goreng yang menempel.


Lelaki itu membalas uluran tangan Rallin. Sebuah sebuah senyuman tipis kembali terbit hingga menghadirkan lesung pipit di kedua pipinya. "Aku Naveen. Senang berkenalan denganmu, Rallin."


Sakura mengangguk, membalas senyuman Naveen. "Senang juga berkenalan denganmu, Naveen."

__ADS_1


Naveen melihat jam di pergelangan tangannya lalu buru-buru berdiri dari posisinya ketika mengingat satu hal. Tubuhnya terlihat menjulang tinggi di pandangan Rallin yang masih duduk nyaman di atas lantai.


"Aku harus pergi sekarang," ujar Naveen. Wajahnya menampilkan raut bersalah ketika menatap Rallin. "Kita akan bertemu lagi ... besok?"


Rallin ikut berdiri, kedua alisnya terangkat tinggi saat mendengar perkataan Naveen. "Ya, kurasa kita akan bertemu setiap hari setelah ini. Rumah kita bersebelahan." Ada nada mengejek dalam suaranya, namun Naveen sama sekali tak merasa keberatan akan hal itu. Meski baru bertemu sekitar tiga jam lalu, tapi menurutnya Rallin adalah sosok perempuan yang menyenangkan dan bisa dijadikan teman.


"Baiklah, kurasa aku benar-benar harus pulang dan bersiap-siap sekarang. Kau lihat..." Naveen menunjukkan ponselnya yang berbunyi nyaring pertanda satu panggilan masuk ke arah Rallin. "Dia akan merajuk jika aku terlambat menemuinya."


Rallin mengangguk mengerti, memilih untuk berjalan beriringan dengan Naveen sampai teras depan. "Baiklah, sampai jumpa, Naveen."


"Sampai jumpa, Rallin." Sasuke melambaikan sebelah tangannya sedangkan tangan yang lain bersiap menjawab panggilan dari ponsel yang terus berdering nyaring. Kaki panjangnya melangkah dengan terburu menuju rumah dua lantai yang persis bersebelahan dengan rumah Rallin.


Di tempatnya, Rallin membalas lambaian tangan Naveen. Sebuah senyuman masih menghiasi bibirnya bahkan ketika tubuh jangkung pria itu sudah menghilang ditelan pagar rumah yang menjulang tinggi. Rallin merasa sedikit penasaran dengan sosok yang menghubungi Naveen.

__ADS_1


Namun tak lama kemudian, Rallin tersadar bahwa itu bukan urusannya. Seumur hidupnya, ia tak pernah mau repot-repot mengurusi kehidupan orang lain. Ia mengangkat bahu bersamaan dengan kaki jenjangnya yang kini kembali berjalan memasuki rumah.


"Astaga... Kurasa aku sudah gila karena penasaran dengan kehidupan orang lain."


.


.


.


.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2