Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Delapan


__ADS_3

Naveen menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal sama sekali. Entah apa yang terjadi, tapi ketika ia terbangun di pagi hari yang sangat cerah, hendak menuju dapur untuk mengambil air minum sang ibu tiba-tiba saja menyeretnya ke ruang tengah seperti seorang narapidana yang akan di hukum mati dan menyuruhnya untuk duduk di sofa. Seolah bersiap di eksekusi oleh sang jagal yang tak lain adalah sang ibu di rumahnya sendiri. Naveen bisa merasakan aura mencekam, seolah sesuatu yang sangat buruk akan terjadi sebentar lagi.


Ia mendapati sang kakak juga berada di sana, duduk di sofa panjang seraya memakan cemilan dengan tenang, sama sekali tak terpengaruh dengan ketegangan yang ia rasakan. Lalu, sang ibu yang juga menatapnya dengan sorot tak terbaca. Namun, Naveen bisa melihat dengan jelas ada binar di sepasang mata hitam milik sang ibu, dan juga ekspresi geli—sangat geli yang di tampilkan Xavier. Dari sana Naveen tahu apa alasannya.


Mulut detergen Xavier pasti telah mengatakan hal yang tidak-tidak pada ibunya.


Si*lan! Setelah ini ia benar-benar akan menendang Xavier ke Galaksi Andromeda sana.


"Nav, benarkah kau mengenal tetangga baru kita?" Sang ibu bertanya dengan antusias. "Kenapa kau tak pernah menceritakannya pada ibu."


Di sebrang meja sana, terlihat Xavier berusaha mati-matian menahan tawanya. Jika bisa. Oke, ia pasti bisa —Tak ada yang tak bisa dilakukan oleh seorang Naveen, ia ingin sekali mengumpati bahkan mengubur Xavier hidup-hidup di halaman belakang rumah mereka saat ini juga, atau nanti setelah urusannya dengan sang ibu telah selesai.


"Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu." Naveen menjawab pertanyaan sang ibu tanpa minat dilengkapi dengan raut wajah datar. "Itu pun secara tidak sengaja," lanjutnya. Berharap sang ibu tak menanyakan hal yang aneh-aneh padanya.


Namun harapan hanyalah sebuah harapan yang akan berakhir sia-sia. Karena Naveen tahu, ibunya tak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Sama seperti kebanyakan keluarganya yang lain. Ambisius dan tak kenal takut. Bahkan untuk ukuran seorang wanita dengan usia yang bisa dikatakan tak lagi muda, ibunya adalah seorang sosok yang pemberani. Jika mereka tinggal di daerah rawan konflik, mungkin ibunya akan berada di garda terdepan untuk membela negara. Lupakan.


"Tidak sengaja?" tanya sang ibu malas.


Naveen mengangguk malas. " Ya. Beberapa hari lalu ketika aku pulang bekerja, aku melihatnya memandangi rumah paman Arya seolah ingin membakar habis rumah itu," jelasnya dengan pandangan menerawang. Mengingat kembali bagaimana pertemuan pertamanya dengan Rallin. "Dan sebagai calon tetangga yang baik, aku memutuskan untuk membantu membersihkannya."


Xavier yang mendengar penuturan Naveen harus kembali menahan tawanya yang sudah di ujung lidah. Kata bekerja yang adiknya gunakan sangatlah tidak cocok. Naveen memang bekerja, tapi tidak benar-benar bekerja. Ia lebih pantas disebut pengacara yang memiliki banyak waktu luang.

__ADS_1


"Lalu?"


"Lalu?" ulang Naveen dengan perasaan dongkol. Keingintahuan ibunya akan suatu hal yang terlampau tinggi membuat kepalanya sering berdenyut nyeri tanpa alasan yang jelas. "Aku pulang setelah selesai membersihkan rumah itu." Ia mengangkat tubuh jangkungnya dari sofa, hendak berjalan ke kamarnya serta berkencan dengan kasur empuk serta guling kesayangannya. Namun tatapan mata sang ibu yang setajam silet membuat lelaki itu harus mengurungkan niatnya dan kembali duduk manis. Menghela napas pelan, Naveen kembali berbicara dengan raut wajah kesal. "Kali ini apa lagi?"


"Tidak terjadi apa pun di sana, kan?"


Astaga. Jika ibunya ia tendang ke Galaksi Andromeda bersama dengan Xavier, apa ia tidak akan menjadi anak durhaka? Rasanya, Naveen lebih baik tinggal seorang diri daripada harus hidup satu atap dengan sekumpulan orang-orang aneh yang sayangnya adalah keluarganya sendiri.


Naveen mengabaikan Xavier yang kini terbahak entah karena apa. Ia akan membereskan kakak kurang ajarnya nanti.


"Memangnya apa yang ibu harapkan?" tanya Naveen dengan perasaan dongkol. Jelaga hitamnya memperingatkan sang kakak seolah mengisyaratkan kau akan mati setelah ini.


Benar, 'kan?


"Dia gadis yang menarik. Aku menyukainya." Kali ini Xavier-lah yang menjawab. Tersenyum mengejek ke arah Naveen yang sudah tampak sangat kesal. "Itu yang Naveen katakan dua hari lalu," tambahnya kemudian.


"Kau mengetahuinya?"


Xavier menggeleng pelan. "Aku hanya melihatnya sekilas. Tapi seperti apa yang adik manisku ini katakan, dia memang gadis yang menarik," jelasnya. Mengingat kembali gadis dengan surai merah muda sebahu dengan bentuk tubuh aduhai-nya tengah memasuki mobil berwarna merah. "Apalagi rambut merah mudanya. Ah, benar! Dia memang gadis yang menarik!"


Naveen langsung melemparkan bantal yang ia rebut paksa dari pangkuan sang ibu ke arah Xavier hingga ringisan pria itu terdengar memenuhi ruang tamu. Ia yakin jika sekarang kakaknya tengah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Rallin.

__ADS_1


Jika yang ada di pikiran mesum Xavier adalah gadis lain, ia tidak akan sekesal ini. Tapi demi Tuhan! Gadis itu adalah Rallin. Ral-lin! Seseorang yang akan menjadi tetangga barunya.


Tunggu.


Sepasang alis Naveen terlihat menekuk ke dalam dengan kening mengernyit pertanda jika ia tengah berpikir dengan keras. Ia yakin ada yang salah di sini. Memangnya kenapa kalau Rallin yang ada dalam pikiran liar Kakaknya? Apa urusannya dengan dia?


Tiba-tiba saja Naveen menjambak rambutnya seraya mengerang frustasi saat tak menemukan satu pun jawaban dari pertanyaannya. Kali ini ia benar-benar mengangkat tubuhnya dari sofa lalu menatap sang kakak serta ibunya secara bergantian. Setelah itu, Naveen berjalan cepat menaiki undakkan tangga dengan beberapa kata-kata manis yang keluar dari mulutnya.


Melihat tingkah putra bungsunya yang tiba-tiba menjadi aneh, sang ibu dan Xavier saling melempar pandang. Bertanya lewat tatapan mata tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Xavier, adikmu kenapa?"


Xavier hanya mengangkat bahu tak peduli. "Entahlah, aku rasa dia sudah gila."


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2