
“Apa! Dia belum pulang?”
“.......”
“Ok, aku akan menyeretnya pulang. Kerja bagus, tetap awasi dia.”
Suara geraman pria itu menggema di setiap sudut ruangannya. Otot-otot wajahnya tampak tertarik seiring dengan raut wajahnya yang berubah menjadi marah. Ia menyambar jasnya dengan kasar kemudian bergegas untuk keluar dari gedung intelijen negara secepat mungkin.
“Jendral Lee, kau akan pergi ke mana?”
Panggilan dari pria bergusi pink itu menghentikan langkah Donghae. Pria itu berbalik dengan gusar dan menjawab pertanyaan itu dengan dingin dan datar.
“Aku ada urusan.”
“Benarkah? Tapi hari ini kau akan memimpin penyergapan ke markas mafia yang paling berbahaya di Korea, apa kau lupa?” tanya pria itu santai. Ia sama sekali tidak mempedulikan perubahan wajah Donghae ataupun
gemeletuk rahangnya yang kian mengeras. Pria bergusi pink itu jelas-jelas memperlambat langkahnya.
“Kau yang akan menggantikanku. Aku ada urusan.”
Perkataan bernada dingin dan menusuk itu menjadi kata terakhir sebelum Lee Donghae benar-benar pergi. Ia sama sekali tidak mau dan tidak perlu mendengarkan jawaban Hyukjae, bawahannya yang sangat menyebalkan. Ia memiliki hal yang jauh lebih penting daripada memimpin sebuah penyergapan. Urusannya ini menentukan hidup dan matinya seorang jendral Lee Donghae.
-00-
Donghae berjalan dengan angkuh dan arogan ke dalam sebuah club yang terkenal elit di Seoul. Club ini berada di pusat Gangnam dengan letak yang sangat strategis. Club ini memiliki reputasi yang paling baik diantara
club-club yang ada di Korea. Melihat bangunannya saja semua orang sudah dapat menebak jika club ini diperuntukan bagi kalangan jet-zet yang kekayaannya akan sangat sulit untuk digapai oleh orang-orang kelas menengah ke bawah.
“Dimana Im yoona?” tanya Donghae langsung pada bodyguard yang tengah berjaga didalam club tersebut. Mengetahui siapa orang yang tengah bertanya padanya, sang bodyguard menunduk hormat dan menunjukkan ruang VVIP yang biasa menjadi tempat bersenang-senang Yoona. Tanpa bertanya lagi, Donghae segera melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang tampak lebih besar dan lebih bagus dari semua ruang yang ada di club tersebut. Ia membuka pintu ruang itu dengan sekali tarikan dan langsung menemukan sesosok wanita yang sedang tertidur diatas sofa dengan wajah damainya. Donghae menghampiri wanitanya dengan langkah pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar sang wanita tidak terbangun. Donghae membelai lembut pipi Yoona, dan itu berhasil membuat Yoona terjaga dari tidurnya.
__ADS_1
“Do Donghae oppa.” gumam Yoona terbata-bata. Bau rokok seketika tercium sangat menyengat di indera penciuman Donghae. Ia tahu jika Yoona baru saja menghisap sebatang rokok sebelum akhirnya jatuh tertidur dengan damai di atas sofa.
“Sudah berapa kali kukatakan, berhenti menghisap rokok, itu tidak baik untuk tubuhmu. Kenapa kau masih melakukannya?” tanya Donghae marah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sudah sangat dingin. Donghae hampir saja membentak Yoona, tapi sebisa mungkin ia menekan suaranya hingga terdengar seperti desisan ular.
“Maaf, aku hanya stress.” jawab Yoona santai. Wanita itu mulai menunjukkan keangkuhannya setelah ia benar-benar tersadar dari alam mimpinya.
“Ayo pulang, kita bicarakan masalah ini di rumah.”
Donghae menarik tangan Yoona kasar agar wanita itu segera bangkit dari duduknya. Walaupun sebenarnya pria itu masih ingin menghujani Yoona dengan berbagai macam ceramah, tapi sepertinya ia tidak bisa melakukan
itu di sini. Sebentar lagi anak buahnya akan datang dan bisa saja mereka menangkap Yoona saat ini juga. Tapi tentu saja Donghae tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sampai kapanpun Donghae akan melindungi Yoona seperti yang telah ia janjikan pada wanita itu ketika mereka mengucapkan janji suci pernikahan dulu.
“Lepaskan! Aku masih ingin disini.” teriak Yoona meronta-ronta. Donghae sama sekali tidak menggubrisnya dan tetap menarik tangan Yoona menuju parkiran mobil. Tapi tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh salah satu boduguard kepercayaan Yoona yang sedang berlari-lari kearah mereka dengan wajah panik.
“Nona, intel-intel itu sedang mengintai di luar.”
“Apa! Oppa, bagaimana ini?” tanya Yoona panik. Ia sudah menghentikan teriakannya dan justru berbalik mendekap Donghae.
“Kita keluar lewat pintu belakang. Kau dan anak buahmu alihkan perhatian mereka.” perintah Donghae tegas. Setelah itu mereka berdua memutar melewati pintu belakang club dengan Donghae terus menarik tangan Yoona agar wanita itu lebih cepat berjalan.
“Oppa, pelan-pelan! Kakiku sakit.” rengek Yoona berisik. Ia dengan susah payah mengimbangi langkah Donghae yang lebar. Berkali-kali ia hampir tersandung karena heelsnya yang menginjak ujung gaunnya atau ketika
ujung heelsnya terantuk batu-batu kecil yang memenuhi jalan setapak menuju pintu belakang.
“Berisik. Kita harus cepat.” teriak Donghae marah. Disisi lain, pria itu sebenarnya juga panik. Ia kalut dengan kerumitan hidupnya. Dan ia marah pada dirinya sendiri, karena ia jatuh ke lubang yang salah namun terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.
-00-
Tiba di luar club napas Yoona dan Donghae saling memburu. Dada mereka terlihat naik turun dan mereka berusaha menghirup oksigen sekuat-kuatnya untuk mengisi rongga paru-paru mereka yang terasa sesak setelah berlari dalam keadaan panik.
__ADS_1
“Oppa, kenapa anak buahmu kemari? Seharusnya mereka tidak mengusik bisnisku.” racau Yoona sebal. Sesekali Yoona menggerutu sambil bergelayut manja di lengan Donghae dengan alsan jika kakinya sakit setelah berlari menggunakan heels. Wanita angkuh itu kini sedang menunjukkan sisi manjanya, sisi manja yang hanya ia tunjukkan pada Donghae.
“Karena kau memang buronan kami. Hari ini apa yang kau selundupkan ke Ceko?” tanya Donghae galak. Ia menatap mata Yoona dalam, meminta jawaban jujur dari wanita angkuh itu.
“Aku hanya menyelundupkan senjata dan peledak.” jawab Yoona santai. Wanita itu sama sekali tidak menghiraukan geraman Donghae, ia justru sibuk memijat kakinya yang sakit akibat berlari-lari seperti orang gila. Terkadang menyenangkan membuat Donghae terbawa emosi seperti ini disaat mereka seharusnya sedang berbicara serius untuk menghindari kecurigaan anak buah Donghae yang menyebalkan.
“Kau yakin hanya itu? Tidak menyelundupkan narkoba?” tanya Donghae penuh selidik.
“Ya, hanya itu. Dari awal aku memang tidak ingin berurusan dengan narkoba, jadi organisasiku memberikan pengecualian pada barang haram itu. Apa kau sudah puas?”
“Belum, aku belum puas.” jawab Donghae datar dan sinis. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Apa lagi yang ingin kau ketahui? Aku lelah dan ingin pulang.” gerutu Yoona kesal. Ia yakin Donghae akan terus mengintrogasinya dengan tatapan menuduh sebelum pria itu benar-benar puas dengan jawban yang ia berikan.
“Siapa yang memintamu untuk menyelundupkan barang-barang itu?”
“Mmm, menurutmu?” tanya Yoona menggoda. Ia merapatkan tubuhnya pada Donghae dan mulai membelai dada bidang Donghae dengan sensual. Wajah datar Donghae yang terlihat menggemaskan itu terkadang membuat Yoona ingin menggoda pria itu untuk meruntuhkan pertahanannya yang sekuat baja. Bahkan terkadang Yoona berpikir jika mungkin saja Donghae mengalami gangguan orientasi seksual atau sejenisnya karena sikap Donghae yang selama ini tidak menunjukan adanya ketertarikan pada tubuhnya.
“Aku serius dan aku sedang tidak ingin main-main Im Yoona.” geram Donghae disetiap kalimatnya. Yoona akhirnya menyerah dan memilih untuk menyudahi aksi nekatnya yang sengaja menggoda Donghae disaat pria itu sedang sangat dalam mode buas.
“Baiklah, kau itu memang tidak bisa diajak bercanda dan terlalu kaku.” sungut Yoona kesal. Donghae menatapnya dengan intens dan memintanya untuk cepat menjawab pertanyaanya.
“Menteri luar negeri, Cho Hajung.”
“Hmm, sudah kuduga. Ayo kita pulang.”
Pria itu kemudian meninggalkan Yoona sendirian di belakang untuk masuk ke dalam mobil. Ia tampak puas dengan jawaban Yoona dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan wanita angkuh yang sudah menyumpahinya dengan kata-kata serapah.
“Lee Donghae, kau menyebalkan.” teriak Yoona bersungut-sungut. Donghae tersenyum memerhatikan ekspresi marah Yoona yang lucu. Saat Yoona telah mendudukan dirinya di dalam mobil, pria itu kembali memasang wajah datarnya lagi tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun dari Yoona.
__ADS_1
“Jalan.” perintah Donghae pada sang supir. Mobil itu segera melaju meninggalkan pelataran belakang club mewah milik Yoona. Hari ini mereka berhasil lolos dari intel-intel bawahan Donghae. Entah sampai kapan hal ini akan terjadi. Sampai kapan Lee Donghae harus menyembunyikan Im Yoona dari anak buahnya?