The Black World

The Black World
Four


__ADS_3

        Setelah aku berhasil memulihkan bisnisku, kini aku bisa sedikit bersantai sambil bersenang-senang di


club. Hari ini aku akan mabuk dan membuang semua beban pikiran yang telah bersarang di otakku selama seminggu ini. Betapa hidup itu memang sangat sulit.


            “Aku pesan satu tequilla dan cheese burger.” kataku pada bartender. Hari ini suasana club sangat ramai. Banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu mereka disini, entah itu menari, berciuman, atau melakukan foreplay di sudut-sudut ruangan. Entahlah, aku tidak peduli.


            Lima belas menit kemudian seorang bartender meletakkan tequillaku dan sepiring burger keju yang menggiurkan. Hmm, its look so yummy. I really really hungry. Aku menyambar garpu dan pisau dengan tidak sabar dan segera memasukkan potongan besar burger keju itu ke dalam mulutku. “Hmm, yummy.” racauku tidak jelas. Aku menikmati setiap gigitan burger yang ada di mulutku dengan nikmat. Rasa keju yang gurih terasa meleleh begitu saja di lidahku. Lalu potongan beef yang tebal ini membuat semua rasanya terasa sangat sempurna untuk perutku yang sedang kelaparan ini. Sudah lama sekali aku tidak memakan burger. Setelah penyerangan itu aku terus bekerja dan bekerja untuk memulihkan lagi bisnisku yang hampir hancur. Tidak ada waktu untuk menikmati makanan. Biasanya aku hanya meminta Minhyuk untuk membelikanaku kari dari kedai yang ada di dekat pelabuhan.


            “Kau terlihat sangat bahagia.” Sebuah suara dari seorang pria datang mengusik kesenanganku. Dengan malas aku memutar kepalaku ke arah sumber suara. Ternyata jenderal sok berkuasa itu, mau apa ia datang ke sini?


            “Ada apa? Aku sedang sibuk.” ketusku padanya. Kulirik pegerakannya sekilas, dan ia dengan sialannya justru mengambil tempat di sebelahku. Tapi aku tak peduli! kuteguk tequillaku dengan santai dan aku kembali melanjutkan kegiatan makanku yang tertunda akibat kedatangannya yang tiba-tiba di sini.


            “Tequilla? Ternyata kau cukup tangguh juga.” kata pria itu meremehkan.


            “Hah, jika kau ke sini hanya untuk mengomentariku, lebih baik kau pulang. Aku sedang tidak berminat mengobrol denganmu.” usirku kasar.


            “Aku ke sini karena ingin bertemu denganmu.” ucap pria itu datar. Aku sama sekali tidak meresponnya dan memilih untuk meneguk tequillaku.


            “Bawakan aku martini.” pintaku pada bartender yang menghampiriku. Setelah memakan seporsi burger, aku ingin mencicipi sedikit lemon dalam minumanku.


            “Kau tidak boleh minum terlalu banyak alkohol.” geram pria disampingku. Ia terlihat sedang mengeratkan rahangnya marah.


            “Sudah kubilang berhenti untuk mencampuri hidupku. Lebih baik kau kembali ke markasmu dan lindungi negara ini dari kekacauan.” Teriakku kesal.


            “Kau adalah salah satu kekacauan yang harus kutangani.” jawab jenderal itu datar. Baiklah, aku sadar jika aku memang sampah masyarakat, seorang pemimpin mafia yang keberadaannya selalu disangkut pautkan dengan berbagai jenis kejahatann yang terjadi di negara ini. Lalu kenapa dari kemarin-kemarin ia tidak menangkapku?


            “Kalau begitu tangkap aku. Kau ingin memasukanku ke penjara bukan? Lakukan saja, aku tidak takut!” ucapku acuh tak acuh. Jika dilihat dari gerak-geriknya, ia sepertinya tidak membawa anak buahnya sama sekali ke sini. Pria ini datang dengan tangan kosong, tanpa senjata, dan tanpa seragam dengan ribuan lencana yang terlihat memuakan di lengan kanan dan kirinya seperti biasa.


            “Aku memang akan menangkapmu dan membawamu ke altar.”


            “Ya Tuhan, kenapa kau membahas omong kosong itu lagi. Aku tidak mau menikah denganmu. Kita ini bagaikan air dan api, selamanya tidak akan pernah bersatu.” ucapku kesal. Harus berapa kali aku mengatakannya pada jenderal muda ini? Dia tipe pria yang sangat keras kepala kurasa.


            “Tapi aku harus melakukannya untuk melindungimu. Seseorang telah menitipkanmu padaku.”


            “Siapa orang yang mengatakan hal itu padamu? Aku ini yatim piatu. Aku tidak memiliki keluarga sama sekali.”


            “Sekarang kau memang sebatang kara. Tapi bagaimana dengan lima tahun yang lalu? Kau masih memiliki ayah bukan?” tanya pria itu dengan seringaian. Seketika hatiku kembali merasa sakit jika mengingat ayah. Beliau meninggal karena dibunuh oleh seseorang. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu siapa pembunuh ayah. Walau begitu, aku juga tidak mencoba mencari tahu karena itu akan menyakitiku.


            “Jangan coba-coba mengungkit masa laluku. Aku sedang tidak berminat untuk membahasnya.”


            “Ayahmu berpesan padaku untuk menjagamu. Beliau adalah mantan pelatihku di camp militer.”


            Berita mengejutkan apa lagi ini? Aku tidak pernah tahu jika ayah dulunya seorang anggota militer. “Benarkah? Apa kau sedang menipuku?” tanyaku menyelidik. Kuamati setiap ekspresi wajah yang ia tunjukan, tapi ia sama sekali tidak menyiratkan kebohongan.


            “Jika kau berpikir aku sedang berbohong, maka kau salah. Sebelum ayahmu meninggal, beliau menemuiku dan memberiku sebuah surat, ia memintaku untuk menjagamu. Bertahun-tahun aku mencarimu, dan tanpa sengaja aku menemukanmu sedang menembaki sniperku.”


            “Apa buktinya jika kau tidak berbohong?” tanyaku sangsi. Aku masih meragukan kejujuran pria ini padaku. Omong kosongnya terdengar seperti lelucon di hari april mop yang dulu sering kurayakan dengan berbohong sepuasnya bersama teman temanku


            “Aku membawa tulisan tangan ayahmu, kau bisa melihatnya.” Jenderal itu mengeluarkan secarik kertas lusuh dari saku jasnya dan memberikannya padaku. Kubuka kertas itu dengan perlahan. Disana terdapat


goresan tinta yang sangat mirip dengan tulisan ayah. Diakhir surat itu juga ada tanda tangan ayah yang terlihat asli. Kupikir akan sangat sulit untuk memalsukan tanda tangan ayah yang menurutku memang cukup rumit.


            “Mengapa ayah tidak pernah membicarakan hal ini padaku?”


            “Karena kau terlalu sibuk bersenang-senang.” jawab pria itu dingin dan datar. Aku memincingkan mata bingung ke arahnya. Masih ada beberapa hal yang mengganjal di pikiranku mengenai ayah.


            “Kenapa ayah menjadi mafia jika ia adalah pembela negara?”


            “Lucu sekali. Kau sama sekali tidak tahu mengenai ayahmu? Bagaimana kalian bisa hidup bersama selama ini?”

__ADS_1


           “Ayah adalah orang yang tertutup. Aku jarang mengajak ayah mengobrol, begitupun sebaliknya. Tapi aku benar-benar menyesali hal itu. Disaat ada banyak waktu untuk bercakap-cakap, aku tidak mengambil kesempatan


itu. Lalu tiba-tiba ayah pergi meninggalkanku. Kepergian ayah yang tiba-tiba itu sempat membuatku depresi selama satu bulan. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena tidak pernah peduli pada ayah, maka dari itu aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan bisnis ayah, karena itu satu-satunya hal yang ditinggalkan ayah untukku.” Mataku sudah mengabur karena banyaknya air mata yang menggenang di kantung mataku. Aku ingin meneteskan air mata, tapi aku terlalu malu pada pria yang ada dihadapanku ini. Seumur hidupku aku belum


pernah menangis di depan seorang pria. Selama ini aku selalu berhasil menyembunyikan perasaanku, perasaan rapuh yang selalu kupendam.


            “Jika kau menyayangi ayahmu, maka menikahlah denganku. Jika kau menikah denganku, aku bisa menjalankan wasiat ayahmu dan mengawasi bisnismu. Aku janji tidak akan merusak bisnismu. Aku akan menyembunyikan identitasmu.” ucap pria itu lembut. Entah itu hanya pendengaranku saja atau karena yang lain, tapi pri itu benar-benar mengatakannya dengan lembut.


            “Kenapa ayahku bekerja sebagai mafia? Kau belum menjawab pertanyaanku.”


            “Dulu tuan Im adalah anggota militer yang handal, beliau selalu menjadi idola di campnya. Aku sebagai anggota baru selalu kagum pada sosoknya. Beruntungnya aku saat itu karena mendapat kehormatan untuk menjadi


muridnya. Setiap hari kami selalu berlatih bersama, bahkan setelah aku diangkat menjadi Jenderal pun, ayahmu masih selalu ada di sampingku. Ia bagaikan ayah untukku. Suatu hari beliau mengatakan padaku, jika ia memiliki usaha lain, usaha itu adalah menyelundupkan barang ke negara lain. Tentu saja aku sangat kaget dibuatnya, seorang anggota militer memiliki usaha yang ilegal dan menjadi bosnya. Aku marah padanya, tapi beliau menjelaskan padaku, usaha itu dibuat bukan untuk melakukan tindak kejahatan, ia melakukannya untuk menjebak


menteri-menteri yang menggunakan jasa dari bisnisnya. Karena ayahmu tidak menggunakan namanya sebagai nama pemimpin mafia, ayahmu selalu menjadikan tangan kanannya sebagai nama pemimpin mafia. Jadi ayahmu selalu aman.”


            “Apa tangan kanan ayah adalah Choi Daegu?”


            “Ya, Choi Daegu, ayah Choi Minho. Tapi aku saat itu aku tetap tidak setuju dengan segala alasan yang dilontarkan oleh ayahmu, bagaimanapun itu tetap sebuah kejahatan. Setahun berikutnya, salah satu menteri sepertinya mengetahui rahasia besar ayahmu, lalu menteri itu menyusun rencana untuk membunuh ayahmu dengan keji.”


            “Apa kau tahu siapa menteri itu?” tanyaku datar. Kedua tanganku sudah mengepal marah sambil meremas kedua ujung dress yang melekat di tubuhku.


            “Itu masih dalam penyelidikanku. Aku kesulitan untuk melacaknya, karena dia adalah orang yang berpengaruh. Lagipula kejadian itu sudah lebih dari lima tahun yang lalu, jadi aku tidak tahu, apakah menteri itu menjabat lagi sebagai menteri atau tidak. Tapi aku berjanji tetap akan mencari siapa pembunuh ayahmu yang sebenarnya.”


            “Kenapa ayah tidak pernah menceritakan hal ini padaku?” gumamku


pelan. Entah jenderal itu bisa mendengarnya atau tidak.


            “Karena ayahmu ingin melindungimu. Sepertinya orang-orang di kemiliteran tidak mengetauhi jika tuan Im memiliki seorang putri. Ayahmu sangat menyayangimu dan negaranya.”


            “Lalu apa yang harus kulakukan? Sepertinya bisnis ayah semakin berkembang ke arah yang negatif dan tidak sesuai degan keinginan ayah.”


            “Ya memang. Tapi proyek itu bukan atas persetujuanku, Minho yang melakukannya. Aku hanya menerima jasa penyelundupan barang.”


            “Kau harus meluruskan hal itu. Jangan sampai bisnis ini


keluar dari jalur yang diinginkan ayahmu. Apa kau mengerti?” tanya pria itu


tegas. Sisi arogan dan berkuasanya kembali muncul.


            “Ya, aku mengerti. Terimakasih, sekarang aku paham.” jawabku sedikit lesu. Dengan terbongkarnya rahasia ayah, aku justru semakin bingung dan pusing. Tidak tahu lagi apa yang kulakukan saat ini karena semua informasi ini datang secara tiba-tiba dari seseorang yang tak terduga.


            “Jadi apa kau mau menikah denganku? Aku akan melindungimu dan bisnismu. Aku tidak akan merusak bisnismu, kecuali jika kau sudah benar-benar keluar batas. Bagaimana?” Tawaran itu terasa sangat sulit untukku. Apa mungkin kami bisa bersatu dan hidup bersama? Walaupun sekarang aku tahu tujuan bisnisku yang sebenarnya, tapi aku merasa tetap sebagai mafia yang jahat. Selama ini hidupku dikelilingi oleh hal-hal hitam, dan aku masih meragukan pria ini.


            “Menikah itu hal gampang, tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa kita bisa hidup hanya bermodalkan wasiat ayah?” tanyaku sangsi. Aku membalas tatapan pria itu dengan lebih tajam. Aku berusaha mencari


kebohongan atau keraguan di matanya. Tapi nihil, pria ia memiliki sorot mata yang penuh kesungguhan.


            “Perasaan ini akan muncul dengan sendirinya. Kau hanya perlu berada disampingku dan melakukan semuanya sesuai perintahku.” Huh, apa yang harus kukatakan padanya? Tuhan, bantu aku. Ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku. “Baiklah, aku bersedia.”


Flashback End


            “Hey, kau melamun?”


            Suara dingin dan datar itu mengusik lamunan panjangku. Aku mengerjapkan mataku dua kali dan menemukan Donghae oppa sedang duduk dengan manis di sebelahku.


            “Oppa, kapan kau pulang?” tanyaku kaget. Pria itu dengan santai menyeruput kopinya kemudian membaca koran paginya. Ia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaanku.


            “Aku baru saja sampai dan mendapatimu melamun, ada apa?”

__ADS_1


            “Tidak, aku hanya memikirkan penyergapan kemarin. Kenapa kau mengirim anak buahmu ke clubku? Susah payah aku membangun club itu, dan kau akan menghancurkannya?” tanyaku kesal. Masih kuingat dengan jelas beberapa anak buahnya yang mengendap-endap menodongkan pistol ke arah clubku yang berada di Gangnam. Untung saja kemarin aku sengaja menutup clubku, karena kugunakan untuk memimpin rapat tahunan organisasi The Black World.


            “Aku sengaja mengarahkan mereka ke Gangnam karena mereka sudah mengendus markasmu yang ada di Incheon. Jika aku tidak mengarahkan mereka ke Gangnam, mereka akan menghancurkan markasmu yang ada di Incheon dan menggagalkan transaksi yang dilakukan oleh Cho Hajung. Apa kau sudah mencetak bukti pembayarannya?”


            “Sudah. Apa kau akan mengusut kasus itu sekarang?”


            “Sepertinya aku tidak bisa, lusa aku harus memimpin penyerangan ke Iran.” jawab pria itu santai. Tunggu, ia akan ke Iran? Sepertinya Cho Hajung juga menyelundupkan sesuatu ke Iran. Tapi aku akan memstikannya terlebih dahulu.


            “Berapa lama?”


            “Entahlah, jika pemberontak itu berhasil ditaklukan, maka tugasku akan cepat selesai. Kau jangan melakukan hal-hal aneh saat aku tidak ada, apa kau mengerti?”


            “Ya, aku mengerti. Ngomong-ngomong Minho sudah sedikit curiga padaku. Ia selalu mengajakku untuk bersenang-senang di club, tapi aku tidak mau. Bagaimana jika ia tahu aku sudah menikah?” tanyaku panik. Ini bisa sangat berbahaya. Jika sampai anak buahku tahu, mereka bisa saja memberontak padaku.


            “Kau tenang saja, aku sudah menempatkan beberapa orang untuk mengawasi Minho. Saat ini kau aman. Mungkin sesekali kau bisa menerima tawarannya untuk hanya sekedar berkumpul. Ingat hanya berkumpul, tidak mabuk-mabukan atau melakukan hal-hal tidak penting lainnya.” kata Donghae oppa penuh peringatan. Aku menganggukkan kepalaku patuh dan selanjutnya aku menyiapkan piring dan juga nasi untuk sarapannya.


           “Semoga kau suka. Ini masakan pertamaku untukmu. Jadi jika tidak enak, kau tidak perlu takut untuk mengatakannya.” Aku memandangi Donghae oppa dengan raut cemas. Selama ini hanya bibi Han yang selalu menyiapkan masakan untuk kami. Dulu aku sama sekali tidak mau pergi ke dapur atau hanya sekedar membuatkannya teh. Apalagi saat awal-awal pernikahan kami. Rumah tanggaku setiap harinya hanya diisi oleh keributan. Hal-hal manis antara aku dan Donghae oppa baru saja terjadi setelah aku menyadari perasaanku yang sesungguhnya.


            “Enak. Tidak buruk untuk seorang pemula.” komentar Donghae oppa datar. Aku menarik sudut-sudut bibirku dan berlari memeluknya.


            “Oppa, terimakasih. Aku akan lebih sering memasakan makanan untukmu. Aku harap kau bisa secepatnya kembali dari Iran dengan selamat.” kataku di pundaknya. Donghae oppa berbalik mendekapku dan mengelus


punggungku dengan lembut. Tangannya yang besar memberikan kehangatan tersendiri untukku.


            “Teruslah berusaha, dan jangan keluar dari batasmu.” Aku mengangguk pelan di dekapannya. Huh, aku akan sangat merindukan pelukan ini untuk beberapa hari ke depan.


Author pov


            Dua hari kemudian Donghae benar-benar pergi meninggalkan Yoona. Pria itu harus memimpin serangan terhadap pasukan Iran yang akan melakukan penyerangan ke Korea. Untung saja Donghae bertindak cepat dengan menyiapkan beberapa pasukan dan memimpin penyerangan langsung ke Iran. Donghae tidak mau negaranya menjadi tempat pertumpahan darah. Ia tidak mau jika ada warga sipil yang menjadi korban. Lebih baik bagi Donghae untuk mati di negara lain demi menyelamatkan warga negaranya daripada ia harus mati di negaranya sendiri.


            “Jenderal Lee, kau hari ini tampak tak bersemangat. Apa kau berat melakukan perpisahan dengan istrimu?” Hyukjae dengan tampang menyebalkan datang mendekati Donghae untuk menggoda pria itu. Alis Hyukjae yang naik turun, membuat Donghae ingin memukul wajah menjijikan Hyukjae dengan senapan.


            “Diam kau! Aku sedang memikirkan sebuah strategi.” jawab Donghae ketus. Donghae kembali menekuni peta lokasi penyerangan di Iran. Tak ia hiraukan Hyukjae yang terus berkeliaran di sekitarnya.


            “Hae, kenapa kau tidak pernah membawa Yoona ke markas?”


            “Untuk apa? Dia memiliki kesibukan sendiri.” jawab Donghae acuh.


            “Tapi banyak yang belum tahu jika kau sudah menikah. Apa kau tidak berniat untuk mengumumkannya?” tanya Hyukjae terdengar antusias.


            “Tidak. Kau tidak usah menggunakan mulut lebarmu untuk menyebarkan gosip. Jika sampai kau melakukannya, aku akan menembakmu saat itu juga.” ancam Donghae mengerikan. Hyukjae hanya tergelak di tempatnya. Menjadi teman sekaligus sahabat Donghae selama bertahun-tahun membuat Hyukjae tidak takut dengan ancaman yang dilontarkan Donghae. Pria itu justru berjalan mendekati Donghae dan menepuk bahu pria itu ringan. “Aku tidak akan melakukannya. Kau tenang saja, aku menghormati keputusanmu.”


        Apapun yang telah ditawarkan Hyukjae, Donghae terlihat tak peduli. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Hyukjae yang masih menunjukan senyum menyebalkan di belakangnya. Dari jauh Donghae tersenyum simpul dan kembali melanjutkan pejalanannya menuju kokpit. Sepertinya mereka sudah memasuki kawasan Iran.


-00-


            Yoona sedang sibuk mengecek barang kiriman yang akan mereka kirim hari ini. Ditemani Choi Minho dan beberapa petugas gudang, Yoona mengecek satu persatu isi kardus yang ada di gudang tersebut.


            “Siapa yang meminta jasa kita hari ini?” tanya Yoona pada Minho. Sesekali ia membuka-buka isi kardus itu berniat mencari tahu apa isi didalamnya.


            “Menteri Cho Hajung.” jawab Minho singkat. Ia menunjukan beberapa peledak dan senapan keluaran terbaru. Yoona mengerutkan alisnya curiga. Semua senjata ini belum dimiliki oleh tentara Korea Selatan. Yoona tahu semua itu karena Donghae pernah memberikan daftar senjata yang dimiliki militer Korea Selatan padanya.


            “Bukankah ini akan dikirim ke Iran?”


            “Ya. Rencananya siang ini kapal kita akan membawanya bersama dengan barang ekspor yang akan dikirim ke Iran. Kita akan menyembunyikan senjata ini diantara tumpukan makanan-makanan itu.”


            Seketika wajah Yoona menjadi pucat. Ini jebakan. Sejak awal Iran sudah memperkirakan serangan ini dan mereka telah membeli senjata ilegal dari Cho Hajung untuk menghancurkan tentara Korea Selatan yang


saat ini sedang dalam perjalanan menuju markas Iran. “Menteri itu pengkhianat.” gumam Yoona marah sambil mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi di dalam saku celananya kuat-kuat. Secepatnya Yoona harus bergerak untuk menyelamatkan Donghae dan pasukannya, atau mereka akan mati sia-sia karena pengkhianatan dari menteri mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2