
“APA!!” teriak Donghae dan Yoona bersamaan. Dini hari pukul empat, Yoona dan Donghae sama-sama terbangun karena sebuah panggilan mendadak dari anak buah mereka. Kedua manusia itu terlihat sibuk berbicara dengan lawan bicaranya dengan dahi berkerut yang tampak serius sambil berjalan kesana kemari dengan tergesa-gesa untuk mengambil apapun yang perlu mereka bawa menuju markas.
“Choi Minho, apa semuanya baik-baik saja? Jangan sampai intel-intel mengendus jejak kita. Cepat bereskan masalah ini, aku akan tiba dalam tiga puluh menit.” Yoona berjalan tergesa mengambil coat biru tuanya yang ia gantungkan di dalam walk in closet. Ia berjalan melewati Donghae dan menatap suaminya sekilas. Pria itu sedang sibuk dengan urusannya sehingga tidak memerhatikan kepergian Yoona yang sempat menatap wajah suaminya sekilas sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamar mereka yang tertutup.
Dilain pihak, Donghae juga tengah kalut dengan masalah barunya. Eunhyuk tertembak saat sedang bertugas. Pria bergusi pink itu memang sangat ceroboh sampai-sampai mendapatkan satu tembakan yang bersarang di lengannya. Sebagai pemimpin sementara, seharusnya dia lebih berhati-hati dan tidak bertindak gegabah. Tapi berdasarkan laporan, Eunhyuk melakukan kesalahan dengan memulai melakukan baku tembak dengan bawahan-bawahan Yoona, dan hasilnya, ia tertembak di bagian lengan kiri dan mengalami cedera otot kaki.
“Kenapa kalian baru melaporkan padaku? Kalian kemana saja, hah?” marah Donghae. Ia mengamuk pada bawahannya yang bernama Kang Jino. “Bagaimana keadaannya?”
“.....”
“Aku akan ke sana.”
Sambungan telepon terputus. Donghae mengambil coatnya dengan cepat dan berjalan dengan langkah lebar menuju garasi. Di ruang tamu, tak sengaja Donghae melihat sosok bibi Han yang tengah menyapu lantai, dengan sopan Donghae menyapa wanita baya itu. “Pagi bibi Han, Yoona?” tanya Donghae terdengar datar. Walaupun begitu, sebenarnya ia sudah berusaha untuk terlihat ramah di hadapan bibi Han yang sedang tersenyum lembut di depannya.
“Nyonya Yoona sudah pergi, sepetinya ia sangat tergesa-gesa.” jawab bibi Han apa adanya. Donghae menganggukkan kepalanya sekilas, lalu segera melangkahkan kakinya menuju garasi. Ia harus melihat bagaimana keadaan anak buahnya dan mendengar semua kronologinya dari bibir Lee Hyukjae sendiri.
-00-
Yoona tiba di pelabuhan Incheon tiga puluh menit kemudian. Dengan anggun, Im Yoona berjalan cukup tenang menghampiri Minho yang sudah menunggunya di belakang kontainer milik perusahaan swasta. Di balik
kontainer itu mereka bisa dengan aman berbicara tanpa ada yang melihat atau mencuri dengar pembicaraan pribadi mereka.
“Bagaimana, apa semuanya sudah beres?” tanya Yoona langsung ke intinya. Wanita itu memang tidak suka terlalu berbasa-basi, apalagi pada anak buahnya. Im Yoona akan berubah menjadi wanita garang saat sedang bersama anak buahnya untuk menunjukan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin.
“Sudah. Aku berhasil menembak intel sombong itu.” jawab Minho bangga. Pria yang menjabat sebagai asisten Yoona itu maju selangkah dan menarik tangan Yoona untuk mendekat. “Yoona, mari kita rayakan kemenangan ini. Hari ini kita mendapat bayaran yang cukup banyak dari menteri luar negeri, Cho Hajung. Huh, pria itu benar-benar tidak patut dijadikan sebagai menteri.”
“Ya, kau benar. Kita harus merayakan keberhasilan kita. Undang semua anggota The Black World ke club di Gangnam, hari ini kalian semua bisa bersenang-senang sesuka kalian. Tapi ingat, hanya hari ini.” ucap Yoona dengan penuh penekanan. Wanita muda itu menarik diri dari genggaman Minho dan bergegas melangkah pergi meninggalkan pria muda itu sendirian. Tanpa Yoona ketahui, Minho terus memandang Yoona dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Im Yoona.” Teriakan Minho berhasil menghentikan langkah Yoona yang sudah cukup jauh. Wanita angkuh itu hanya bergeming di tempatnya tanpa mau repot-repot memutar kepalanya kearah Minho yang telah berharap jika Yoona akan kembali untuk mendengarkannya berbicara.
“Kau tidak ikut bersenang-senang?” Minho berlari menyusul Yoona dan berdiri tepat dihadapan Yoona.
“Aku tidak berminat.” jawab Yoona datar.
“Kenapa? Bukankah ini sesuatu yang harus dirayakan dengan bersenang-senang? Ayolah, kau harus ikut.” bujuk Minho sambil menarik tangan Yoona menuju markas The Black World. Yoona menyentak tangan Minho kasar dan memandang sengit ke arah asistennya itu.
“Aku bilang, aku tidak berminat. Aku memiliki urusan pribadi. Jadi tolong jangan paksa aku.” jawab Yoona tegas. Wanita itu hendak melangkahkan kakinya sebelum Choi Minho kembali mengatakan sesuatu pada Yoona.
__ADS_1
“Kau berubah. Ada apa denganmu? Semenjak abeoji meninggal, kau jadi semakin tertutup dan jarang pergi bersenang-senang bersama anggota The Black World. Apa aku menyakitimu?”
“Tutup mulutmu! Kau tidak perlu mencampuri urusanku, urusi saja semua wanitamu yang memuakkan itu. Aku bukan kekasihmu, kau tidak berhak mengaturku.” desis Yoona tajam. Ada nada marah disetiap kalimat yang
Yoona lontarkan. Meskipun Minho adalah salah satu orang kepercayaannya, tapi ia tidak suka ketika orang itu semakin lancang untuk masuk ke dalam hidupnya, bahkan berusaha untuk mengaturnya seperti ini.
“Aku mencintaimu. Kembalilah padaku.” ucap Minho lantang. Pria itu sepertinya sudah tidak memiliki syaraf malu didalam otaknya. Berani-beraninya ia menyatakan perasaannya setelah apa yang ia lakukan pada Yoona dulu. Cih, jika saja Yoona tidak ingat dengan jasa-jasa Minho, maka sudah sejak dulu ia menghabisi Minho dan membuang jasadnya ke laut. Im Yoona sudah jengah dengan semua kelakuan pria licik itu.
“Simpan saja kata-kata cintamu, karena aku tidak membutuhkannya.” Dengan lanhkah anggun Yoona meninggalkan Minho sendirian di pinggir pelabuhan. Yoona segera memerintahkan sopirnya untuk kembali ke rumah. Dan tak ia hiraukan tatapan Minho yang seakan-akan sedang mengemis cinta padanya. Pria itu terlihat menyedihkan di mata Yoona.
-00-
Lee Donghae berjalan dengan langkah lebar di sepanjang lorong rumah sakit Seoul. Dibelakangnya ada beberapa anak buah yang mengikutinya. Suasana lorong rumah sakit yang sepi membuat bunyi sepatu mereka bergema di setiap sudut rumah sakit.
“Dimana kamar Hyukjae berada?” tanya Donghae datar. Ia masih terus melangkahkan kakinya tanpa mau menolehkan kepalanya.
“Di ruang 303, kamar ke tiga dari sini.” jawab sang bawahan takut-takut. Dilihat dari wajahnya, sepertinya bawahan itu masih baru. Ia terlihat masih ingusan dan juga belum berpengalaman.
“Siapa namamu?” tanya Donghae lagi, masih dengan langkah lebar yang hampir mendekati pintu kamar rawat Hyukjae.
“Kim Taepung.”
“Ya. Satu bulan yang lalu saya baru keluar dari camp pelatihan.”
“Jadi, tugas pertamamu adalah menjaga kapten Hyukjae. Apa kau mengerti?”
“Siap, mengerti.”
“Bagus. Lakukan tugasmu dengan baik.” kata Donghae tegas sebelum ia memasuki pintu kamar rawat Hyukjae.
-00-
Hyukjae terlihat terkapar tak berdaya dengan selang infus dan kaki sebelah kiri yang diperban. Hyukjae langsung membuka matanya saat salah satu rekannya mengatakan jika jendral Lee Donghae sudah datang.
“Jendral.” panggil Hyukjae dengan suara bergetar karena menahan sakit di kaki dan lengannya. Pria bergusi pink itu hanya tersenyum kecut pada Donghae ketika jendralnya mulai berjalan perlahan menuju ranjangnya
sambil menunjukan tatapan dingin yang selalu berhasil membuatnya gentar.
__ADS_1
“Kalian bisa keluar. Aku ingin berbicara dengan Hyukjae.” kata Donghae datar dan tegas. Semua rekan-rekan Hyukjae yang semula berada di dalam ruang rawat Hyukjae satu-persatu keluar meninggalkan sang jendral dan sang kapten untuk berbicara empat mata.
“Jadi, apa yang kau lakukan?” Donghae membuka suara setelah semua rekan-rekan Hyukjae pergi.
“Aku mencoba menembak pemimpin mereka.”
“Bodoh! Sudah berapa kali kukatakan, jangan melakukan tindakan gegabah. Apa kau tidak menganalisis kondisi mafia itu?”
“Sudah kulakukan. Tapi mungkin aku terburu-buru menyerang.” jawab Hyukjae menyesal. Ia menatap nanar pada kaki dan lengannya yang sekarang telah dibebat dengan perban coklat.
“Lalu apa yang terjadi pada kelompok mafia itu?”
“Mereka berhasil kabur.” jawab Hyukjae lesu. Donghae menghembuskan napas jengah dengan pengakuan Hyukjae. Rasanya penyerangan malam ini sia-sia. Bawahannya tidak bisa diandalkan dan Hyukjae justru membuat kesalahan fatal seperti ini. Ohh, Hyukjae yang malang.
“Apa kau tahu, siapa nama pemimpin mafia itu?” tanya Donghae datar. Semoga kali ini Hyukjae tidak mengecewakan dirinya.
“Choi Minho. Ya, namanya Choi Minho.” jawab Hyukjae
semangat. Ia merasa mendapat angin segar, karena kali ini ia bisa menjawab
dengan baik.
“Choi Minho? Hmm, bagus. Sekarang kau sudah tahu siapa target kita?”
“Ya, Choi Minho. Setelah aku pulih aku akan melanjutkan penyelidikan ini.”
“Baiklah. Kau yang tangani masalah mafia itu. Lusa aku akan memimpin penyerangan ke Iran. Jangan lupa untuk memberitahu hasil laporanmu padaku jika ada perkembangan. Jangan mengecewakanku.”
“Baiklah, aku tidak akan mengecewakanmu. Kau adalah sahabatku yang paling baik. Terimakasih.”
“Cepatlah pulih. Aku harus kembali.”
Donghae melangkah keluar menjauhi ruang rawat Hyukjae. Para bawahannya saling menunduk hormat saat atasan mereka berjalan melewati mereka.
“Jaga Hyukjae baik-baik.”
“Siap Jendral.” teriak mereka kompak.
__ADS_1
Donghe kembali melangkahkan kakinya menjauh menuju parkiran. Sebelum ia berangkat menuju markas, ia harus pulang dan melihat keadaan Yoona. Entah kenapa ia sangat peduli pada Yoona dan mengkhawatirkan gadis yatim piatu itu.