
“Sial. Gudang senjata sudah dikuasi tentara Iran.” geram Donghae marah.
Mereka berdua sedang mengintai dibalik kendaraan perang milik Korea. Mereka ingin berjalan mendekat ke arah gudang senjata, namun pergerakan Yoona dan Donghae terhambat oleh beberapa pasukan Iran yang sedang
berjaga di depan gudang. Pasukan Iran terlihat sangat siap dengan senapan laras panjang dan beberapa granat disetiap saku mereka.
“Oppa, kita tidak bisa hanya berdiam diri di sini.” gerutu Yoona. Sedari tadi wanita itu sudah terlalu bersabar menunggu keputusan dari Lee Donghae. Tapi, pria yang ditunggunya tak segera melakukan pergerakan dan hanya terus-terusan mengintai dari balik tank.
“Kita harus keluar dan menyerang mereka.” putus Yoona. Tanpa diduga-duga, wanita itu berjalan cepat diantara tembok-tembok dan menyerang salah satu penjaga dengan pisau lipat milik suaminya. Melihat Yoona yang berhasil melumpuhkan satu tentara Iran, Donghae juga ikut melangkah maju. Ia menyikut beberapa tentara itu hingga pingsan, dan berhasil membereskan mereka tanpa keributan.
“Kau terlalu gegabah.” marah Donghae. Yoona hanya meringis ringan dan berjalan mendahului Donghae tanpa mempedulikan raut kesal yang tercetak di wajah suaminya.
-00-
Yoona dan Donghae sedang memasukan beberapa senjata dan peledak ke dalam ransel, saat tiba-tiba sebuah suara langkah kaki mendekat ke arah mereka berdua.
“Ssstt.” Donghae membungkam bibir Yoona dan menggeser Yoona hingga berbaring diatas tanah. Seorang pria dan beberapa tentara Iran berjalan melewati mereka. Jika saja mereka sedikit menunduk, maka mereka akan menemukan Donghae dan Yoona yang saling berpelukan di bawah rak besar tempat penyimpanan senjata. Sekilas mereka terlihat sedang berpelukan, dengan Yoona yang berada di bawah Donghae, dan Yoona yang menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Donghae yang sedang bergemuruh ribut.
“Oppa, mereka sudah pergi.” bisik Yoona. Donghae segera bangkit dari atas tubuh Yoona dan berdiri mengambil ransel yang sudah mereka isi dengan beberapa senjata.
“Ayo kita ikuti mereka. Kurasa pria yang memakai jas itu bukan orang Iran.”
“Oppa, itu Cho Hajung. Aku sangat mengenal cara berjalannya. Beberapa kali ia datang ke markas untuk memastikan pengiriman barang ilegalnya.” bisik Yoona dengan yakin.
“Kalau begitu, aku harus meledakkan isi kepalanya dan menginjak-injak tubuhnya. Berani-beraninya ia mengkhianati negara dan berkerjasama dengan musuh.” geram Donghae marah. Pria itu menggenggam erat
senjatanya dan mulai berjalan mengendap-endap kearah ruangan yang dituju Cho Hajung. Di belakangnya Yoona mengekori dalam diam dan sesekali menengok kearah belakang untuk memastikan jika mereka aman. Hawa dingin yang terasa menjalar di tengkuknya membuat Yoona seketika merasa dadanya berdegup kencang. Mungkinkah ini akhir dari kisahku bersama Donghae oppa?
-00-
Semakin dalam mereka memasuki gudang itu, pencahayaan yang mereka dapat semakin berkurang. Berkali-kali Yoona hampir menabrak rak senjata karena ia sama sekali tidak hafal dengan setiap sudut bangunan gudang. Berbeda dengan Donghae, pria itu tampak sangat hafal dengan setiap sudut dan jalan yang mereka lewati hingga ia dapat berjalan dengan mulus tanpa pernah menabrak apapun yang berdiri di sekitarnya.
Klontang
Suara nyaring dari sebuah kaleng yang ditendang Yoona berhasil memicu kedatangan tentara Iran. “Oppa, aku menendang kaleng.” bisik Yoona panik. Donghae segera mendorong Yoona diantara rak senjata dan menyerahkan tas yang berisi senjata pada Yoona.
“Siapa di sana?” teriak pemimpin pasukan Iran. Tanpa ragu Donghae segera keluar dari kegelapan dan menghadapi tentara-tentara itu dengan keberanian penuh.
“Aku, jenderal Lee Donghae.” ucap Donghae tegas dan nyaring. Suara tepuk tangan menjadi sambutan setelah Donghae memperkenalkan diri. Seorang pria dengan jas keluar dari ruangan dengan tawa mengerikannya. Tawa itu melolong disepanjang lorong tempat mereka berdiri disertai dengan suara berisik sol sepatu yang beradu seirama dengan lantai hitam yang dipijaki pria itu.
“Rupanya kita sedang kedatangan tamu kehormatan. Apa kabar jenderal?” tanya pria itu seolah mengejek. Donghae mengepalkan tangan kuat-kuat hendak menerjang pria itu, tapi ia urungkan niatnya untuk sesaat karena ia melihat sedikit wajah Yoona yang memberinya kode untuk tidak melakukan tindakan gegabah.
“Senang bisa bertemu dengan anda, tuan Cho Hajung.” lanjut Donghae dengan gigi bergemeletuk. Ia memandang sengit ke arah Cho Hajung yang sedang di kelilingi oleh tentara Iran.
“Apa kau senang dengan kedatanganku? Aku jauh-jauh datang ke sini khusus untuk menyusulmu. Apa kau senang?” Menteri Cho kembali bersuara dengan kata-kata mencemoohnya. Membuat kemarahan Donghae semakin tersulut. Dari tempat persembunyiannya Yoona menatap was-was kearah Donghae karena lima orang tentara Iran sedang mengacunkan moncong pistolnya kearah suaminya. Sekali saja Donghae maju ke arah Cho Hajung, maka isi kepala Donghae bisa saja langsung berhamburan di depannya. Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan kembali mengawasi pergerakan Donghae untuk mengalihkan kepanikan yang saat ini sedang menyelimutinya.
“Pengkhianat! Apa yang kau rencanakan?” teriak Donghae marah. Menteri Cho Hajung menyeringai licik ke arah Donghae dan menjawab pertanyaan Donghae dengan santai.
“Ohh, aku sedikit tersinggung dengan kata-katamu. Tapi, kuakui itu memang benar. Aku adalah pengkhianat.” jawab Cho Hajung dengan tawa iblisnya.
“Brengsek. Kau harus mati.” umpat Donghae marah. Ia sudah mengarahkan pistol yang ada ditangannya ke kepala menteri luar negeri itu dengan sengit.
“Jenderal, sebaiknya kau jangan bermain-main dengan pistol itu. Pistol itu sangat berbahaya.”
“Sebenarnya apa maumu, hah?” pekik Lee Donghae tidak sabar. Sedari tadi menteri itu terus berbicara omong kosong, membuat kesabaran Donghae semakin habis.
“Mauku adalah menyingkirkan pengganggu sepertimu.” jawab Cho Hajung dingin. Dengan gerakan matanya, Cho Hajung memerintahkan tentara-tentara Iran untuk mencekal lengan Donghae.
“Jangan harap kau bisa membunuhku, dasar pengkhianat. Selamanya kau adalah kotoran yang harus di buang ke dalam saluran air. Aku tidak akan membiarkan kotoran sepertimu mengotori negaraku.” desis Donghae
penuh ancaman. Cho Hajung kembali tergelak dan berjalan mendekat pada Donghae.
“Jadi kau menganggapku sebagai sebuah kotoran. Sayangnya, kotoran sepertiku sudah terlanjur mengerak dan tidak bisa disingkirkan dengan mudah. Kau itu sama saja dengan pendahulumu, sama-sama bodoh tapi berambisi menghabisiku. Jangan harap kau bisa menghabisiku, karena aku yang akan mengirimmu ke neraka.” bisik Cho Hajung lambat-lambat dengan senyum menyeringai. Cho Hajung mencengkram rambut Donghae kuat-kuat dan menghempaskannya ke tembok, membuat Yoona berteriak tertahan ditempatnya. Sebisa mungkin Yoona tidak berteriak atau membuat keributan agar nyawa mereka tetap aman. Ia lalu menyiapkan beberapa senjata yang tersimpan di ranselnya untuk menyelamatkan Donghae dan mulai mempersiapkan diri untuk meringsek maju.
“Bagaimana rasanya? Apa sakit. Sebentar lagi kau akan merasakan penyikasaan yang sesungguhnya. Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Aku akan bermain-main terlebih dahulu dengan tubuhmu, dan setelah kau tak berdaya, aku akan membunuhmu dengan keji.”
“Lakukan saja jika kau bisa. Cuih, aku tidak akan kalah semudah itu.” Donghae meludahi wajah Cho Hajung hingga menteri itu menggeram marah. Dengan dahi yang berdarah, Donghae tetap memandang sengit pada Cho Hajung. Jika saja tangannya tidak ditahan oleh tentara Iran, maka Donghae bisa membunuh pria tua yang ada di depannya dengan sekali pukulan.
“Habisi dia.” perintah Cho Hajung geram. Tentara-tentara itu mulai maju satu persatu dan memberikan pukulan pada Donghae. Melihat itu Yoona segera keluar dari persembunyiannya dan mengarahkan tembakan pada tentara-tentara itu dengan membabi buta.
“Oppa, senjatamu.” Yoona melemparkan sebuah pistol pada Donghae. Wanita itu berlari menjauh menghindari kejaran tentara Iran. Sesekali Yoona mengarahkan pukulannya pada tentara itu yang berusaha untuk menggapai bahunya.
“Ahh.” Yoona memekik keras saat sebuah tangan menarik rambutnya. Dengan sekali tarikan, tentara itu langsung membawa Yoona ke pelukannya.
__ADS_1
“Wah wah wah, ternyata kau cantik juga.” ucap pria itu dengan licik. Yoona menatap tentara itu tanpa gentar, kemudian menginjak kaki tentara itu saat sedang lengah.
“Hah, bagaimana? Terasa sakit bukan?” tanya Yoona mengejek. Tentara itu memandang Yoona tidak terima dan menyuruh temannya untuk menangkap Yoona.
“Cepat habisi ******* itu!” Yoona menangkis setiap pukulan yang diarahkan padanya. Sesekali Yoona menendang perut prajurit itu jika ia memiliki kesempatan untuk menyerang.
“Rasakan ini.” Yoona mengambil sejumput bubuk merica yang sudah ia siapkan di saku celananya. Sebenarnya Yoona selalu membawa bubuk merica itu kemanapun. Hal itu dilakukannya untuk berjaga-jaga dari pria-pria hidung belang yang sering mengganggunya. Dan sekarang terbukti, bubuk merica itu sangat berguna untuk melawan tentara Iran yang tadi menghinanya.
Bugh
Tanpa ia sadari, seorang tentara Iran mencekal lengannya dan membenturkan kepala Yoona ke tembok. Seketika Yoona merasakan aliran darah yang mengalir dari pelipisnya dan menuruni pipinya. Rasanya kepalanya sangat sakit dan berdenyut-denyut. Untuk sesaat pandangan Yoona menjadi berkunang-kunang dan
buram. Yoona terlempar begitu saja ke tanah dengan tas senjata yang masih menggantung di pundaknya.
“Itulah akibat jika kau berani melawan kami. Sekarang rasakan pembalasan kami.”
Dor dor dor
Donghae berlari ke arah Yoona setelah pria itu berhasil menembak tentara-tentara itu. Dengan cepat ia menarik tangan Yoona untuk berdiri. “Ayo, kita harus pergi dari sini.” Dengan langkah terseok-seok, Yoona mengikuti langkah Donghae yang lebar-lebar. Di belakang Yoona dan Donghae terdapat beberapa tentara yang mengejar mereka. Jika Yoona dan Donghae tidak segera berlari, maka mereka akan mati di tempat ini.
“Oppa, ambil ini.” Yoona melemparkan granat pada Donghae.
Duar
Granat itu berhasil Donghae lemparkan pada tentara Iran yang mengejar mereka. Untuk sementara mereka aman dan memutuskan untuk berhenti sejenak.
“Hosh, hosh. Apa yang akan kita lakukan?” tanya Yoona dengan napas tersenggal-senggal. Ia menyerahkan ransel senjata itu pada Donghae dan mengalungkan senapannya di pundak.
“Kita harus keluar dari sini dan mencari bantuan. Kita harus mencari cara untuk menghubungi pemerintah Korea.”
“Oppa, itu gerbangnya. Kita sudah dekat.”
Sepasang suami isteri itu terus berlari dan berlari untuk mencapai gerbang depan markas tentara Korea. Tapi lagi-lagi itu tidak mudah bagi Donghae dan Yoona. Mereka sudah dihadang beberapa tentara Iran.
“Kita bertemu di depan gerbang.” Yoona berteriak pada Donghae sebelum memisahkan diri dari Donghae. Wanita itu berlari ke sisi kanan dan mencoba menghindari tentara itu, ia juga mengarahkan beberapa tembakan pada tentara itu. Sebenarnya Donghae merasa geram dengan perbuatan nekat Yoona, tapi ia idak bisa berbuat apapun. Saat ini mereka harus berusaha keras agar dapat keluar dari markas itu dengan selamat.
“Mau lari kemana kau?”
Lima orang tentara berdiri di hadapan Donghae dan menghadang jalannya. Donghae menggeram marah dan menarik salah satu tentara yang ada di hadapannya. Tentara itu ia lemparkan pada tentara yang lain, hingga dua diantara tentara itu langsung tumbang. Donghae menarik pelatuk senjatanya dan berhasil membunuh salah satu tentara itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Donghae memacu laju larinya dan menyisakan dua tentara yang ada di belakangnya. Donghae merogoh saku ranselnya dan mengeluarkan granat. Dengan sakali lempar, granat itu berhasil mengenail tentara-tentara itu. Donghae jatuh tersungkur terkena sedikit ledakan dari granat yang ia lempar. Tapi syukurlah, Donghae masih selamat dan bisa kembali berdiri tegap dan berjalan keluar dari gerbang.
“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae sambil meneliti tubuh Yoona dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terdapat bekas darah yang mengering di pelipis Yoona. Celana yang dikenakan Yoona sedikit sobek di bagian lutut dan betis. Wajah Yoona juga sudah penuh degan debu dan sedikit bubuk mesiu dari granat, Yoona benar-benar terlihat menyedihkan di mata Donghae.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu seperti janjiku dulu.” bisik Donghae menyesal. Tatapan matanya yang selalu setajam mata elang, kini berubah sayu dan sendu. Sungguh Donghae sangat menyesal dan merasa bersalah pada Yoona.
“Tidak masalah. Apa kau lupa, aku ini adalah bos mafia. Aku adalah wanita yang kuat.” kata Yoona dengan gelak tawa. Ia mengusap wajah Donghae yang berlumuran peluh dan darah dengan telapak tangannya. Pandangan Donghae seketika hanya terkunci pada Yoona.
“Kita harus segera pergi dari sini.” ucap Donghae sambil menghentikan pergerakan telapak Yoona yang menari-nari di wajahnya. Yoona tersenyum manis ke arah Donghae dan menurunkan tangannya dari wajah Donghae. “Ayo. Kita harus segera meminta bantuan.”
-00-
Yoona dan Donghae terus berjalan tanpa tujuan dan arah. Kaki mereka yang sudah letih rasanya ingin segera beristirahat, tapi tentu saja mereka harus mencari tempat yang layak. Sepanjang mata memandang hanya ada gurun yang tandus dan gersang. Tidak ada tanda-tanda akan adanya rumah di daerah gurun seperti ini.
“Oppa, aku lapar.” rengek Yoona. Wanita itu menghentikan langkahnya dan mulai meluruskan kakinya diatas pasir. Rasanya Yoona ingin mengistirahatkan kaki itu untuk sejenak, tapi melihat tatapan mata Donghae yang tidak bersahabat membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk beristirahat.
“Baiklah, aku akan jalan lagi.” sungut Yoona kesal. Yoona kembali berjalan di belakang Donghae sambil terus mengoceh tidak jelas. Sebenarnya Donghae ingin menertawakan Yoona, tapi dengan segala harga dirinya yang tinggi, ia batalkan niat untuk tertawa di hadapan Yoona.
“Ah, oppa! Tunggu sebentar.” Lagi-lagi Yoona menghentikan langkah kakinya di belakang Donghae, membuat pria itu berdecak kesal tidak sabar.
“Ada apa lagi?”
“Aha, ketemu.” pekik Yoona tanpa menghiraukan pertanyaan Donghae. Wanita itu dengan mata berbinar binar sedang berdiri sambil mengacungkan sebatang coklat yang baru saja ia temukan dari dalam saku celananya.
“Kau membawa coklat?” tanya Donghae heran.
“Tidak juga. Tadi aku mendapatkannya dari petugas pesawat. Akhh, sekarang aku sangat bersyukur dengan adanya coklat ini. Padahal tadinya coklat ini akan kutinggalkan begitu saja di pesawat. Aku berjanji setelah ini aku akan bersyukur dengan makanan apapun yang telah diberikan oleh Tuhan.” janji Yoona penuh tekad. Wanita itu dengan semangat membagi colat itu menjadi dua bagian dan memberikan salah satunya pada Donghae.
“Tidak usah, untukmu saja.” tolak Lee Donghae halus.
“Tidak! Kau juga harus memakannya. Ini untuk menggantikan tenaga yang sudah kau keluarkan. Ayolah, walaupun hanya sedikit, tapi kalorinya dapat memberimu kekuatan.” bujuk Yoona.
“Baiklah. Aku akan memakannya.” ucap Donghae akhirnya. Saat ini ia sedang tak berminat untuk mendebat Yoona. Ia harus mengehemat tenaganya untuk melanjutkan perjalanan mereka yang panjang.
“Oppa, apa aku baru saja melihat gubuk?” tanya Yoona tidak yakin. Pasalnya mereka sedang berada di gurun. Tidak menutup kemungkinan jika apa yang Yoona lihat hanya fatamorgana.
__ADS_1
“Sepertinya itu nyata, karena aku juga melihatnya.”
“Oppa, kita harus ke sana.” Dengan antusias Yoona menarik-narik tangan Donghae, agar pria itu segera berjalan menuju gubuk itu.
Setelah memasuki gubuk Yoona langsung meluruskan kakinya di atas tanah dan menyandarkan punggung lelahnya pada dinding gubug yang reyot. “Ya Tuhan, kenapa duduk di lantai seperti ini lebih nikmat daripada duduk di atas sofa.” keluh Yoona sambil memijat kakinya yang pegal. Donghae mendudukan diri disebelah Yoona, setelah ia mengecek keseluruhan isi gubuk. Gubuk yang mereka tempati adalah gubuk kosong. Kemungkinan besar gubuk itu memang digunakan untuk singgah sebentar bagi pelancong yang mungkin saja melewati
gurun ini.
“Kau kedinginan?” tanya Donghae pada Yoona. Sedari tadi ia melihat Yoona sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya sambil memeluk tubuhnya rapat-rapat.
“Sedikit.” Ringis Yoona.
“Pakai ini.” ucap Donghae sambil melilitkan sebuah kain pada tubuh Yoona.
“Kau menemukannya dimana?” tanya Yoona heran.
“Aku menemukannya di belakang gubuk. Pakai saja, daripada kau kedinginan.” ucap Donghae acuh. Pria itu kemudian memejamkan matanya sambil bersandar pada dinding. Yoona terus memerhatikan Donghae yang sepertinya tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Lalu wanita itu menggelar kain itu di atas tanah dan menyuruh Donghae untuk tidur diatasnya.
“Tidak usah, kau pakai saja.” tolak Donghae keras kepala. Donghae adalah pria dengan harga diri yang sangat tinggi, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Yoona barang sedetikpun.
“Ayolah oppa. Aku tahu, kau tidak nyaman dengan posisi tidur seperti itu.” bujuk Yoona dengan sabar.
“Tidak usah. Lagipula saat pelatihan, aku sudah sering tidur diatas tanah tanpa alas dan selimut.” tolak Donghae keras kepala. Yoona mulai memutar bola matanya jengah dengan kelakuakn Donghae yang sangat keras kepala itu.
“Terserah oppa.” Yoona menarik kerah seragam Donghae, membuat lelaki itu tidak bisa berkutik dan akhirnya berbaring di sebelah Yoona.
“Kau licik. Kau menarik kerah seragamku hingga aku tidak bisa bernafas.” runtuk Donghae kesal.
“Kau terlalu keras kepala.” balas Yoona.
“Diamlah. Aku sedang berusaha tidur.” Yoona tersenyum memperhatikan Donghae yang mulai memejamkan matanya. Wanita itu kemudian ikut memejamkan matanya di sebelah Donghae meskipun sebenarnya ia juga tidak nyaman tidur di tempat asing dengan kondisi yang tidak layak seperti itu.
Ketika malam semakin beranjak larut, Yoona terus bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Udara semakin dingin dan Yoona tidak tahan dengan dinginnya malam yang menusuk hingga tulang. Berkali-kali ia memiringkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk menghalau rasa dingin yang menembus tulangnya. Tapi hawa dingin itu tak kunjung pergi dan justru semakin mengusik tidur Yoona.
“Kau kedinginan?” tanya Donghae masih dengan memejamkan mata. Sepertinya pria itu juga tidak bisa tidur. Melihat Yoona yang terus bergerak-gerak ribut membuat pria itu merasa terusik.
“Aku kedinginan.” rengek Yoona dan mulai bangkit dari posisi tidurnya.
“Kau ingin kuhangatkan?” tanya Donghae lagi.
“Caranya?”
Donghae menarik tangan Yoona, hingga wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Kemudian Donghae ******* bibir Yoona dengan lembut dan penuh perasaan. Pria itu berusaha mengalirkan kehangatan dari dalam tubuhnya ke tubuh Yoona yang membeku.
“Apa sudah hangat?” tanya Donghae di sela-sela ciumannya. Yoona memandang Donghae dengan iris madunya, kemudian Yoona mulai ******* bibir Donghae lagi.
“Aku butuh kehangatan lebih.” racau Yoona di atas tubuh Donghae. Napas mereka sudah terengah-engah, tapi mereka masih enggan untuk melepas tautan bibir mereka.
“Aku butuh sesuatu yang panas.” gumam Yoona.
“Kau ingin aku melakukannya?"
“Kenapa tidak?” tantang Yoona santai. Wanita itu kini justru menggoda Donghae dengan membelai dada bidang pria itu seduktif.
“Aku tidak bisa menahannya jika kau menggodaku seperti ini.” geram Donghae.
“Lakukan saja. Kita belum pernah melakukannya di tengah gurun.” jawab Yoona tergelak.
“Bagaimana jika kau hamil?”
“Tidak masalah. Aku memang ingin memiliki seorang bayi yang lucu, atau mungin dua, tiga, atau sepuluh.” jawab Yoona santai. Tanpa kata Donghae langsung membalik tubuh Yoona hingga kini Yoona berada tepat di bawah tubuhnya yang telah mengurung tubuh mungil Yoona dengan pas.
“Aku mencintaimu.” ucap Donghae cepat.
“Apa?” Donghae membungkam bibir Yoona dengan ciumannya dan tidak membiarkan Yoona untuk membuka suara.
“Oppa.” Donghae menghentikan ciumannya dan menatap Yoona dalam. “Jangan mati.” lanjut Yoona
dengan lirih. Donghae hanya berdeham kecil sebagai jawaban dan mencium kening Yoona lembut penuh perasaan.
“Kau juga. Apapun yang akan terjadi pada kita, jangan mati.”
“Tentu saja. Aku ingin hidup denganmu hingga tua dan kita memiliki banyak cucu. Kau tahu, aku bahagia dengan pernikahan ini.” ucap Yoona dengan mata berkaca-kaca. Donghae menghapus setetes air mata yang mengalir dari mata cantik Yoona.
__ADS_1
“Kita akan selalu bersama. Sampai kapanpun.” janji Donghae bersungguh-sungguh.
Malam itu mereka berbagi kehangatan bersama di tengah dinginnya malam yang menusuk tulang. Walaupun nyawa mereka dalam bahaya, mereka tidak peduli. Yang terpenting adalah mereka saling memiliki satu sama lain dan akan saling melindungi hingga akhir dari takdir mereka nanti.