
Yoona terlihat sangat bersemangat di dapur. Ia membantu bibi Han menyiapkan sarapan untuk Donghae. Seumur hidup Yoona, ia belum pernah benar-benar memasak sendiri untuk seseorang, jadi ini merupakan pengalaman baru yang cukup menyenangkan bagi Yoona.
“Bibi, apa lagi yang harus kumasukkan ke dalam sup?” tanya Yoona bersemangat. Wanita muda itu sedang mengaduk supnya dan mencicipi sedikit sup itu sebelum akhirnya merasa jika bumbu-bumbu yang ia masukan telah pas.
“Nyonya sudah memasukkan jamur?”
“Sudah.”
“Itu tandanya sudah selesai. Sup itu sudah matang dan nyonya bisa mematikan apinya.”
“Wahh, benarkah? Ini sungguh luar biasa. Bibi Han, kau harus sering-sering mengajariku memasak.” ucap Yoona antusias. Bibi Han hanya tersenyum, merasa senang dengan kemajuan yang ditunjukan oleh nyonya mudanya. Jika tuannya nanti pulang, mungkin ia akan sangat bangga karena akhirnya sang istri bisa bersikap seperti istri pada umumnya.
Yoona Pov
Ini sudah pukul setengah tujuh, dan Donghae oppa belum pulang juga. Apa dia langsung pergi ke markas? Tapi ia mengatakan padaku akan mencoba masakan pertamaku untuknya. Sambil menunggu Donghae oppa pulang aku meneguk sedikit bir kalengku. Walaupun Donghae oppa sudah melarangku untuk mengonsumsi alkohol, tapi aku rasa meminum sekaleng bir tidak masalah. Kadar alkohol dalam bir sangat rendah, aku tidak akan mabuk hanya dengan sekaleng bir. Ekor mataku tak sengaja menangkap foto besar pernikahanku dan Donghae oppa. Tak terasa usia pernikahan kami sudah menginjak satu tahun, menurutku itu sangat luar biasa. Dulu aku berpikir jika pernikahan ini tidak akan pernah berhasil. Kami berdua memiliki latar belakang yang sangat jauh berbeda. Aku adalah seoarang penjahat dan Donghae oppa adalah pahlawan. Jika bukan karena Tuhan, mungkin kami tidak akan pernah bersatu dan bertahan selama ini.
Flashback
Suara nyaring tembakan bersahut-sahutan memenuhi setiap rongga pendengaranku. Hari ini markas tampak kacau, intel negara berhasil mencium jejak kami, dan hari ini mereka melakukan serangan ke markas kami. Aku melihat banyak darah dan bawahanku mati berserakan disekitar markas. Aku berlindung dibalik tumpukan kardus yang berisi bahan peledak, rencananya hari ini kami akan mengirim bahan peledak itu ke Rusia, tapi rencana itu harus gagal karena intel-intel sialan itu. Aku memegang pistolku dengan was-was. Beberapa anak buahku sudah tumbang, jika aku mati, maka bisnis ayah akan selesai sampai disini. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku harus maju dan menghabisi intel-intel negara itu satu persatu. Aku tidak takut, bahkan dengan pemimpin mereka sekalipun.
Aku melihat seorang sniper berdiri mengintai dibalik tembok. Dengan perlahan aku mengendap dibelakangnya dan menarik pelatukku untuk menembak kepala sniper itu.
DORR
Aku berhasil menjatuhkan satu sniper. Tapi itu belum cukup, masih ada beberapa sniper yang mengintai di balik kardus atau pilar-pilar gedung ini. Aku kembali mengendap-endap mengawasi sekeililingku, saat kurasa sudah aman aku kembali maju. Kusulut satu batang rokok yang kusimpan di saku celanaku. Disaat-saat seperti ini aku butuh ketenangan dari nikotin. Ekor mataku lagi-lagi menangkap seorang sniper yang mengintai dari celah pilar, sniper itu mengincar Minho. Aku bergerak cepat ke arah sniper itu dan berhasil menembaknya dari jarak jauh. Syukurlah aku dapat menyelamatkan nyawa Minho. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika Minho sampai mati. Aku kembali mengawasi sekelilingku, saat aku akan berjalan maju sesuatu menancap di leherku. Sial! aku ditembak jarum bius oleh seseorang. Mataku mulai berkunang-kunang. Samar-samar aku melihat seorang pria yang berjalan tenang ke arahku, dan semuanya menjadi gelap.
-00-
Aku terbangun di sebuah ruangan yang didominasi oleh warna hitam dan putih. Sinar terang yang berasal dari lampu putih di kamar ini seketika membuat mataku silau dan kepalaku sedikit pusing. Aku tertangkap? Setelah cukup lama aku mengingat semua hal yang terjadi padaku sebelum aku berakhir di sini, aku segera mendudukan diriku dan mulai meneliti bagian tubuhku, syukurlah aku tidak dilecehkan oleh orang yang menangkapku. Tunggu, aku juga tidak diikat. Kira-kira apa mau orang yang sudah menagkapku? Mengapa ia tak menyakitiku sama sekali?
Aku berjalan perlahan menuju pintu dan memulai memutar gagangnya. Aku berhasil membuka pintu itu dengan sukses. Ini sungguh aneh, tidak ada penjagaan sama sekali. Ini bukan markas militer Korea.
“Sudah sadar rupanya.” Suara dengan nada dingin dan datar menyambutku saat aku keluar dari pintu. Kuputar kepalaku seratus delapan puluh derajat untuk melihat siapa pria yang berani berurusan denganku.
“Siapa kau?” tanyaku lantang. Aku sama sekali tidak takut dengan pria ini. Jika ia menyakitiku, maka aku akan maju dan melawannya saat ini juga.
“Aku, Jenderal Lee Donghae.” jawab pria itu angkuh dan sinis. Aku tersenyum mengejek dan melipat tanganku di depan dada. “Oh, jadi kau yang bernama Lee Donghae. Senang bertemu denganmu.” kataku tak kalah sinis. Aku mengamati tubuh pria itu dari atas sampai bawah. Ia pria yang cukup jantan dan penuh wibawa. Pasti ia sangat ditakuti oleh anak buahnya.
“Aku perlu berbicara denganmu. Ikut aku.” Dengan langkah lebar, pria itu berbalik dan meninggalkanku di belakang. Aku mengikuti langkahnya menuju ruang bawah tanah yang sepertinya sangat rahasia. Sembari
__ADS_1
berjalan, aku mengamati setiap detail ruang bawah tanah ini. Ternyata pria ini memiliki selera yang tinggi juga, ruang bawah tanah ini terkesan mengerikan namun juga klasik.
“Masuk.” kata pria itu singkat. Aku berjalan memasuki ruangan itu dan mendaratkan diriku di atas sofa hitam yang ada di sudut ruangan.
“Ehem, aku tidak menyuruhmu untuk duduk di sana.” ucap pria itu dingin. Aku memutar bola mataku malas dan beranjak ke kursi di depan meja kerjanya.
“Jadi ada apa? Kenapa kau menangkapku?” tanyaku langsung. Aku adalah orang yang paling tidak suka berbasa-basi. Sejak kecil aku selalu diajarkan oleh ayah untuk bersikap tegas dan tanpa basa basi.
“Maaf, tapi aku merasa tidak menangkapmu.” jawab pria itu sinis. Ia mengamatiku dengan senyum meremehkannya yang sangat menyebalkan. Pria ini jenis pria naif dengan harga diri setinggi langit yang pasti akan sangat sulit untuk ditaklukan.
“Lalu kau sebut ini apa? Penculikan?” tanyaku mulai kesal. Jika aku membawa senjata, mungkin aku akan langsung menembak kepalanya dan mengeluarkan isi otaknya yang menyebalkan itu.
“Terserah apa katamu. Aku hanya ingin memperingatkanmu, jangan dekat-dekat dengan markasmu.”
“Apa? Hal gila macam apa itu? Tentu saja aku akan selalu ada di markasku. Kau pikir aku pemimpin yang tidak bertanggungjawab? Meninggalkan anak buahnya begitu saja dan hanya memantaunya dari jauh.” pekikku marah. Napasku tersenggal-senggal karena terlalu emosi. Pria itu jutru menyandarkan tubuh tegapnya dengan santai.
“Apa aku mengatakan demikian? Aku hanya menyuruhmu untuk tidak terlalu sering berkeliaran di markasmu, karena itu terlalu berbahaya untuk nyawamu.”
“Hah, memangnya apa pedulimu? Aku tidak mengenalmu, dan kau adalah musuhku.” jawabku sinis. Pria ini semakin lama semakin menyebalkan dan angkuh. Aku sangat membenci gayanya yang sok berkuasa itu.
“Kalau kau tetap tidak mau menuruti perintahku, maka...” Apa yang akan dikatakan pria ini? Seenaknya saja ia menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran. “Maka apa? Tidak usah membuatku penarasan seperti itu.” sungutku kesal. Pria itu tersenyum separuh, kemudian melanjutkan kata-katanya. “Maka menikahlah denganku.”
“Jika kau menikah denganku, maka aku bisa melindungimu dan mengawasimu.” jawab pria itu santai.
“Aku tidak mau. Aku sudah memiliki kekasih.” teriakku tak terima. Apa dia pikir mencintai seorang pria itu mudah? Dasar pria gila.
“Aku rasa Choi Minho tidak akan keberatan memberikan satu wanitanya padaku. Dia tidak akan sedih jika kau menikah denganku, karena dia sudah memiliki banyak wanita untuk menggantikan posisimu.”
“Jaga bicaramu! Minho adalah pria yang baik. Ia tidak brengsek sepertimu. Sekarang aku ingin pulang. Kurasa percakapan ini tidak akan merubah apapun.” Aku beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Pria itu sama
sekali tidak mencegahku. Baguslah, aku bisa pulang tanpa hambatan. Karena hal pertama yang harus kupastikan adalah markas dan anak buahku. Semoga masih ada yang tersisa dari bisnis peninggalan ayah.
-00-
Keadaan markasku tampak utuh, tapi banyak barang yang rusak dan berserakan. Beberapa jasad anak buahku masih tergeletak di beberapa tempat. Aku terus melangkahkan kakiku tanpa ragu menuju ke dalam markas. Ya Tuhan, ini benar-benar kacau. Aku harus segera mengumpulkan anak buahku yang tersisa dan segera membangun kekuatan baru.
“Kang Minhyuk, dimana yang lainnya?” Kulihat salah satu anak buahku yang sedang mengobati lukanya di dalam markas. Ia tampak sehat, hanya ada beberapa luka lebam dan lecet di sekitar tubuhnya.
“Nona, syukurlah anda selamat. Apa anda terluka?” tanya Minhyuk padaku. Ia menelitiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku tersenyum kecil dan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan yang lain, apa mereka baik-baik saja?”
“Dari pihak kita ada dua belas anggota yang mati, selebihnya hanya luka-luka. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“Cepat kumpulkan mereka semua. Kita harus memindahkan markas kita secepatnya.” perintahku tegas. Minhyuk mengangguk hormat padaku dan ia segera pergi untuk menjalankan perintahku. Setelah itu aku kembali bergerak lebih dalam ke markasku. Aku ingin bertemu dengan Minho, mungkin ia berada di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, aku membuka kamarnya dengan satu tarikan tangan.
“Minho-ya.” Aku menganga kaget dengan pemandangan yang baru saja kusaksikan. Dia, dia sedang berciuman dengan wanita yang aku sendiri juga tidak tahu siapa dia. Minho yang kaget dengan kedatanganku langsung mendorong wanita itu menjauh dari pangkuannya dan segera berjalan menghampiriku dengan wajah pucatnya yang terlihat panik.
“Kita selesai.” ucapku dingin. Aku pergi meninggalkannya dan tidak mempedulikan teriakannya yang berkali-kali memanggilku. Kurasa aku memang tidak berhak untuk dicintai, selamanya aku akan berada di dunia hitam ini, sendirian dan tanpa orang-orang yang kusayangi. Atau mungkin aku memang telah dikutuk oleh Tuhan untuk tidak menjadi bahagia. Entahlah, semua orang yang kucintai perlahan-lahan pergi meninggalkanku. Mereka pergi dengan meninggalkan sebuah luka di hatiku yang sampai kapanpun tidak akan pernah sembuh. Luka itu justru hanya meninggalkan trauma mendalam yang selalu membuatku merasa hancur saat mengingatnya.
-00-
Satu jam kemudian semua anak buahku sudah berkumpul. Mereka terlihat masih sangat lelah dan juga kesakitan. Tapi jika aku tidak segera mengumpulkan mereka, organisasiku akan hancur saat ini juga. Dan sebelum itu terjadi, aku harus mencegahnya.
“Minhyuk, berapa sisa anak buah kita?”
“Yang tersisa dari penyerangan ini ada lima puluh orang. Dan kita masih memiliki dua puluh orang yang berada di lncheon.” lapor Minhyuk padaku. Aku berpikir sejenak untuk mengambil sebuah keputusan. Bisa dikatakan ini adalah salah satu keputusan terbesarku. Aku harus memindahkan semua operasional bisnisku dan memulai memulihkannya lagi agar kembali stabil seperti semula.
“Baiklah, hari ini kita akan pindah ke Incheon. Aku harap kalian bisa bergerak cepat untuk mengosongkan tempat ini segera. Kalian mengerti?”
“Ya, mengerti.” teriak mereka semua kompak. Aku tersenyum puas dan memutuskan untuk membagi anak buahku menjadi dua tim.
“Minhyuk, kau pimpin sebagian anggota kita untuk mengosongkan tempat ini. Dan kau, Lee Hongki, pimpin sebagian anggota kita untuk memindahkan barang-barang ini menuju Incheon. Kalian paham?”
“Ya, kami paham. Cepat lakukan sesuai perintah dari ketua tim kalian. Aku harap kalian semua bisa melakukan ini dengan bersih, agar pergerakan kita tidak terendus oleh intel-intel sial itu. Move move move!” Aku berteriak lantang sebelum mengakhiri kalimatku. Kini semua anak buahku sedang sibuk memindahkan barang-barang yang harus segera dibawa ke markas cabang kami di Incheon. Aku rasa intel-intel itu belum mengetahui posisi markasku, sehingga bisnisku akan lebih aman.
“Im Yoona.” Minho mencekal lenganku sebelum aku berhasil pergi dari tempatku berdiri. Aku memandang sinis ke arah tangannya yang mencekal lenganku dan menyentaknya dengan kasar.
“Kau marah padaku?” tanya Minho dengan raut wajah sedih. Dalam hati aku menertawakan ekspresi wajahnya yang terlihat ***** ini. Untuk apa aku marah padanya. Dia pikir aku ini wanita lemah yang akan menghabiskan sekotak tisu untuk menangisinya? Hah, jangan harap. Bahkan dalam mimpi pun aku tidak akan sudi melakukannya.
“Untuk apa aku marah padamu? Kuanggap pengkhianatanmu adalah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan. Jadi kau tidak perlu berempati padaku.” kataku sinis. Aku menghujamnya dengan sorot mataku yang tajam, lalu mendorong dadanya keras agar ia menyingkir dari jalanku.
“Maafkan aku. Tolong jangan pergi dariku. Aku benar-benar mencintaimu.”
“Cih, kata-katamu seperti puisi sampah yang tak berguna. Sampai kapanpun aku tidak akan menarik kata-kata yang sudah kuucapkan. Kita berdua telah berakhir.”
“Apa kau akan mengusirku?” tanya Minho lagi menghentikan langkahku. Ouchh, rasanya aku ingin menertawakan wajah keledainya itu. Ia terlihat sangat bodoh dan idiot.
“Mengusir? Tentu saja tidak. Mengingat jasa-jasamu selama ini, tentu saja aku tidak bisa mengusirmu begitu saja. Masalah diantara kita bukan masalah yang serius, jadi kau tetap menjadi asistenku dan wakilku di The Black
__ADS_1
World. Tapi ingat, kau dan aku, kita hanya sebatas rekan kerja. Camkan itu.” Aku melangkah pergi meninggalkannya yang mematung diblakang. Akhh, aku bersyukur sekali memiliki hati baja seperti ini. Bahkan aku tidak perlu merasa sakit saat seorang pria mengkhianatiku. Bagus bukan?