The Black World

The Black World
Five


__ADS_3

        Yoona terus berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Sejak satu jam yang lalu ia sudah berusaha


untuk menghubungi Donghae, tapi pria itu tak kunjung mengangkat teleponnya. Hal itu tentu saja membuat Yoona panik sekaligus takut. Sedari tadi pikiran buruk terus berlalu lalang di kepalanya. Sebisa mungkin ia berusaha tenang dan mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu dari kepalanya.


            “Oppa, kumohon angkat telponnya.” racau Yoona pada ponselnya. Ia menggigit-gigit bibirnya panik.


            “Nyonya, ada apa?” Bibi Han datang dari arah dapur sambil membawa secangkir teh hangat untuk Yoona. Wanita paruh baya itu juga ikut mengkhawatirkan keadaan Yoona yang terus mondar-mandir di ruang tamu sejak tadi dengan wajah kalut yang tampak memprihatinkan.


            “Donghae oppa tidak menjawab panggilanku. Aku khawatir padanya.” jawab Yoona kalut. Ia membuang ponselnya asal ke atas sofa kemudian menyeruput teh yang disajikan oleh bibi Han dengan gerakan serampangan.


            “Bibi, sepertinya aku harus pergi.” ucap Yoona tiba-tiba. Sorot mata yang ditunjukan Yoona begitu terlihat sangat sungguh-sungguh, membuat bibi Han hanya bisa menganggukkan kepala pasrah.


            “Nyonya akan menyusul tuan Lee?” tanya bibi Han khawatir. Sebagai pembantu yang sudah cukup lama mengabdi pada Donghae, bibi Han tentu sangat tahu bagaimana risiko dari pekerjaan yang Donghae lakukan. Apalagi sekarang tuannya sedang menjalankan misi negara yang cukup berbahaya.


            “Ya. Bibi, kau jaga rumah baik-baik. Aku akan bersiap-siap.” Yoona menyambar ponselnya dengan cepat dan segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus menyiapkan passport dan juga beberapa debit cardnya. Yoona tidak memerlukan kopor yang penuh dengan baju ataupun make-up, ia hanya butuh passport, visa, dan juga debit cardnya untuk menyusul sang suami yang sedang dalam bahaya saat ini.


-00-


            “Halo, Choi Minho.”


            “.......”


            “Aku akan pergi ke luar negeri untuk mengurus sesuatu. Kau gantikan aku untuk beberapa hari kedepan!” ucap Yoona dengan nada perintah yang sangat kentara. Sembari menelpon Minho, Yoona berjalan menuju area keberangkatan dan segera menuju pesawat milik temannya yang berhasil ia sewa untuk mengantarnya menuju Iran. Sebenarnya Yoona tidak diperbolehkan menuju ke negara itu karena sedang terjadi perang. Namun dengan segala jurus rayuannya Yoona berhasil meyakinkan temannya untuk menyewakan pesawat itu padanya.Lagipula ia  tetap akan pergi dengan atau tanpa pesawat itu demi Donghae yang sedang dalam bahaya di luar sana.


            “......”


            “Aku ada urusan mendadak, kau tidak perlu tahu. Aku harap kau bisa menjaga bisnisku dengan baik.”


            “......”


            “Jangan melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan! Aku mempercayakan The Black World kepadamu.”


Klik.


        Sambungan terputus, Yoona segera memposisikan diri duduk di bangku VVIP pesawat dan langsung


memerintahkan pada sang pilot agar segera terbang menuju Iran. Pikirannya sejak tadi merasa tak tenang saat mengingat Donghae yang saat ini seperti sedang menjemput maut di negara musuh. Kemarin Minho telah memberitahunya mengenai beberapa detail senjata yang diselundupkan Cho Hajung ke Iran, dan semuanya memiliki potensi yang sangat mengerikan apabila digunakan untuk menyerang tentara Korea yang tidak mempersiapkan senjata secanggih Iran.


-00-


            Lee Donghae sedang mengecek persediaan bahan makanan selama perang di gudang penyimpanan. Jenderal muda itu dengan langkah tegapnya mengecek sendiri satu persatu bahan makanan yang akan menjadi sumber amunisi bagi tentaranya. Sebagai jenderal yang bertanggung jawab, ia harus mengecek sendiri semua keperluan selama perang, karena pemimpin yang baik tidak pernah membiarkan tentaranya menderita.


            “Jenderal, semua bahan makanan sudah sesuai dengan daftar.” lapor salah satu bawahannya. Sambil mengecek tulisan-tulisan yang ada di daftar bahan makanan, Donghae mengangguk samar pada anak buahnya sebagai jawaban. “Bagus. Sekarang kita harus mengecek senjata dan amunisi kita.”


            Donghae berjalan mendahului anak buahnya menuju gudang senjata. Di depan pintu gerbang gudang senjata, Donghae disambut oleh beberapa tentara yang sedang berjaga disana. Mereka semua berbaris dan melakukan hormat pada Jenderal mereka yang akan memimpin mereka secara langsung selama berada di Iran.


            “Selamat malam jenderal.” teriak mereka serempak. Donghae berhenti di depan tentaranya dan membalas sapaan mereka. “Malam. Aku ingin mengecek jumlah senjata dan amunisi kita. Tolong buka pintunya.” perintah Donghae tegas. Salah satu dari tentara itu maju ke depan dan membuka gerbang besi itu dengan sekali tarikan.


            “Silahkah jenderal.” ucap tentara yang bernama Sunhwa dengan tegas. Tanpa berkata apa-apa Donghae segera memasuki ruang senjata itu dan memulai mengeceknya satu persatu.


-00-


            Yoona tiba di Iran pukul sembilan malam. Karena pesawat yang ia gunakan tergolong kecil, maka Yoona bisa langsung mendarat di markas militer Korea tanpa harus melakukan transit di bandara setempat.


            “Selamat malam. Selain tentara, anda tidak diperbolehkan untuk masuk.” Seorang tentara  menghalangi jalan Yoona dengan wajah garang yang terlihat cukup dramatasi karena hanya disinari oleh cahaya bulan dari langit yang gelap. Dengan senyum miring Yoona menatap tentara itu sekilas dan segera berjalan ke sisi kanan untuk menghindari sang tentara yang telah mengusik kegiatannya. “Minggir!”


            “Anda tidak diijinkan masuk nona. Sebaiknya anda segera pergi dari sini sebelum kami menyeret anda ke dalam penjara karena telah membuat kegaduhan di markas kami.”


            Yoona tersenyum meremehkan di depan seorang tentara yang kini telah berubah menjadi tiga setelah dua orang temannya ikut menyusul untuk mengusirnya. “Apa aku bisa bertemu dengan Jenderal Lee Donghae?” tanya Yoona angkuh. Tak ada satupun yang bisa menghentikan Yoona jika ia telah berkehendak, sekalipun para tentara rendahan itu terus memberikan ancaman atau bahkan hendak menyeretnya sekalipun.


            “Jenderal kami sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.” ucap tentara itu kasar. Yoona menatap tentara itu dengan tatapan merendahkan dan mencemooh. Ekor matanya sejak tadi telah berkilat-kilat marah dan kesabarannya mulai menipis karena ulah ketiga tentara itu.


            “Benarkah? Katakan padanya jika Im Yoona ingin bertemu.” ucap Yoona lagi masih dengan gaya angkuh dan sinis. Salah satu tangannya yang terasa gatal karena ingin memukul tentara-tentara itu sengaja ia gunakan untuk memutar-mutar ponselnya agar ia tidak membuat kegaduhan di sini.

__ADS_1


            “Lebih baik anda pergi. Anda tidak diijinkan masuk ke


dalam.” Tentara itu mendorng Yoona menjauh dari gerbang dan melemparkan Yoona


ke tanah, membuat ponsel yang digenggamnya jatuh berguling-guling di atas


pasir.


            “Berani-beraninya kalian melakukan ini padaku. Kalian


semua akan mati.” umpat Yoona marah. Ia segera bangkit dari posisi jatuhnya dan


menerjang tentara itu dengan membabi buta. Seketika keributan itu terjadi tanpa


bisa dihindarkan. Beberapa tentara yang lain datang berbondong-bondong untuk


menyaksikan kekacauan yang dilakukan oleh Yoona.


            “Hentikan!” Suara bass dengan nada tinggi dan tegas


memnghentikan perkelahian antara Yoona dan salah satu tentara Donghae. Yoona


menoleh ke arah sumber suara dan menemukan suaminya sedang berdiri angkuh di depan


sana sambil menatapnya tajam.


            “Yoona. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Donghae terkejut.


Pria itu maju selangkah menghampiri Yoona dan membantu Yoona melepaskan diri


dari anak buahnya. Dengan manja, Yoona langsung menghambur ke dalam pelukan Donghae


dan memberikan tatapan tajam pada tentara-tentara yang tadi menghalanginya.


manja. Ia masih memeluk leher Donghae tanpa peduli pada semua tatapan mata yang


mengarah pada mereka berdua.


            “Kalian semua bubar. Kembali ke pos kalian


masing-masing.” teriak Donghae tegas.


            Donghae membawa Yoona ke dalam ruangannya. Setelah Yoona duduk diatas ranjangnya, Donghae langsung menghujamnya dengan tatapan sinisnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke Korea sekarang juga.” usir Donghae kejam. Yoona segera membalas tatapan Donghae dengan mata elangnya yang tak kalah tajam dari milik Donghae. “Apa? Kau mengusirku?” teriak Yoona tak terima. Wanita angkuh itu berjalan menghampiri Donghae dan mencengkram kerah seragam tentara pria itu dengan penuh emosi. “Aku tak terima dengan pengusiranmu.” lanjut Yoona mendesis. Donghae memberikan tatapan membunuhnya pada Yoona dan mengunci pandangannya pada Yoona.


            “Terserah apa katamu. Aku minta kau pulang sekarang juga ke Korea.” desis Donghae marah. Ia sangat marah dengan tindakan gegabah Yoona yang dengan nekat menyusulnya ke negara berkonflik ini.


            “Aku tidak mau.” tolak Yoona keras. Wanita itu menjinjitkan kakinya kemudian menarik kerah seragam Donghae agar pria itu mendekat kepadanya. Tak berselang lama, bibir merah Yoona sudah menempel di kedua bibir tipis milik Donghae. Dengan lembut Donghae membalas ciuman yang diberikan Yoona dan semakin merapatkan tubuh mereka hingga kaki Yoona tanpa sadar telah membentur kaki ranjang.


        “Aku tidak akan berubah pikiran hanya dengan sebuah ciuman.” desis Lee Donghae di sela-sela ciuman mereka. Yoona dengan perasaan kesalnya segera mendorong Donghae menjauh. Kemudian wanita angkuh itu segera mendaratkan tubuhnya diatas ranjang empuk milik Donghae dan berguling-guling di sana seperti anak kecil yang sedang merajuk.


            “Oppa, aku ke sini bukan untuk berlibur atau apapun itu. Aku ke sini untuk menyelamatkan kalian semua.” rengek Yoona kesal. Dari kursi kebesarannya Donghae terus mengawasi pergerakan Yoona dengan awas. “Apa


maksudmu dengan menyelamatkan kami? Kau telah melakukan banyak kesalahan, jadi tidak usah berdalih atau mencari pembelaan diri.” kata Donghae dingin dan datar. Yoona menatap Donghae sinis, kemudian menghampiri Donghae yang masih bergeming di tempatnya tanpa bergerak seincipun sejak tadi.


            “Kalian dalam masalah besar oppa. Tadi siang menteri Cho Hajung menyelundupkan senjata keluaran terbaru ke Iran. Apa kau mengetahui itu?” tanya Yoona serius. Mendengar itu rahang Donghae langsung mengeras dan ia mengepalkan tangannya kuat-kuat meninju meja yang ada di depannya.


            “Sial. Seharusnya pengkhianat itu yang harus kubasmi terlebih dahulu.” geram Donghae marah. Melihat itu Yoona hanya mampu menatap Donghae sendu dan merasa sangat prihatin pada suaminya.


            “Oppa, sebaiknya kau harus cepat bertindak. Keputusan ada di tanganmu.” Yoona berucap lembut di sebelah Donghae. Sebisa mungkin ia tidak memperkeruh suasana dengan sikapnya yang kekanakan. Wanita itu lantas menggenggam tangan Donghae dan mencium tangan itu dengan penuh perasaan.


            “Apa saja yang Cho Hajung kirim?”


            “Aku tidak melihat semua isinya, karena jika aku

__ADS_1


melakukannya Choi Minho akan curiga padaku. Tapi setahuku Cho Hajung


mengirimkan rudal jarak jauh yang terbaru, pistol dengan amunisi yang belum


pernah kulihat sebelumnya, lalu ada basoka dengan bentuk yang aneh. Aku hanya


takut jika itu bukan senjata biasa. Bisa saja itu adalah sebuah virus yang baru-baru


ini sedang di kembangkan di laboratorium pusat.” trang Yoona dengan dahi


berkerut-kerut. Mndengar jawaban Yoona, amarah Donghae semakin tersulut. Hampir


saja ia melemparkan semua barang-barangnya sebelum Yoona menahan tangan Lee


Donghae.


            “Darimana kau tahu semua itu?”


            “Aku memiliki teman seorang ilmuwan. Namanya Cho Kyuhyun. Saat aku meminjam pesawatnya dia mengakatakan jika ia baru saja mengirim penemuannya pada menteri Cho Hajung. Kyuhyun menambahkan jika menteri Cho Hajung sedang melakukan riset dengan penemuannya. Tapi menurutku itu tidak mungkin. Untuk apa seorang menteri melakukan riset dengan virus baru temuan Cho Kyuhyun. Menurutmu bagaimana, oppa?”


            “Entahlah, aku tidak tahu. Jika itu memang demikian, maka nyawa tentara Korea dalam bahaya. Aku harus melakukan sesuatu.” geram Donghae sambil berpikir. Donghae harus membuat keputusan dengan cepat, sebelum tentara Korea habis di tangan tentara Iran.


Duarr


            “Oppa, apa itu?” Seketika listrik di ruangan Donghae padam. Yoona dengan was-was berdiri dari duduknya dan berusaha mencengkram lengan baju Donghae yang sedang berjalan mengendap-endap di sebelahnya.


            “Kau tunggu di sini. Aku akan melihatnya.”


            “Tidak. Aku ikut denganmu.” tolak Yoona keras kepala. Akhirnya mereka berdua berjalan dengan keadaan gelap menyusuri setiap lorong menuju ruang utama. Selama perjalanan, tidak ada satupun penjaga yang berjaga, dan itu membuat Donghae berspekulasi mengenai berbagai hal.


            “Oppa, kau membawa senjata?”


            “Hanya pistol biasa dan pisau lipat.” jawab Donghae masih dengan meraba-raba jalan. Rasanya lorong antara ruangan Lee Donghae dan ruangan utama menjadi sangat panjang dan mengerikan.


            “Oppa, aku rasa ini bukan sesuatu yang baik. Berikan pisau lipatmu padaku.” pinta Yoona memaksa.


            “Untuk apa?”


            “Berikan saja padaku.” perintah Yoona setengah memaksa. Donghae merogoh saku celananya dan memberika pisau lipat itu pada Yoona tanpa perlawanan.


            “Oppa, sebaiknya kita ke gudang penyimpanan senjata. Kurasa tentara Iran sedang menyerang camp militer kita.”


            Kedua manusia itu mengendap-endap ke arah gudang senjata dan menemukan beberapa tentara yang tergletak tak sadarkan diri di sana.


            “Ada sesuatu yang tidak beres di sini.” gumam Donghae pada dirinya sendiri. Namun, hal itu masih dapat didengar oleh Yoona.


            “Oppa, ada sesuatu yang bergerak-gerak di sana.” tunjuk Yoona pada sebuah bayangan hitam. Dengan mengendap-endap Donghae mendekati bayangam hitam itu dan menyergapnya dari belakang.


            “Whoa, tahan tahan. Ini aku, Lee Hyukjae.” pekik hyukjae tertahan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Donghae segera melepaskan cengkramannya pada seragam tentara milik Hyukjae dan membiarkan pria itu berdiri dengan benar menggunakan kaki pincangnya.


            “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Donghae tak sabaran.


Yoona yang berada di dekatnya memberikan usapan lembut pada lengan kekar milik Donghae untuk membuat pria itu lebih tenang.


            “Aku juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi setelah terdengar bunyi ledakan, beberapa tentara kita jatuh pingsan dan tentara yang lain langsung memposisikan diri untuk melakukan serangan.” jelas Hyukjae. Pria bergusi pink itu sesekali mencuri-curi pandang ke arah Yoona.


            “Siapa gadis ini? Apa dia istrimu?” tanya Hyukjae heboh. Disuasana genting seperti ini pun pria itu masih saja berteriak norak pada Yoona.


            “Ya, aku Yoona.” Yoona memperkenalkan dirinya dengan lembut di depan Hyukjae. Wanita itu kemudian membalas uluran tangan Hyukjae dan menjabat tangan Hyukjae dengan senang hati.


            “Wah, senang bertemu denganmu, walau dalam keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini.” balas Hyukjae ramah. Yoona tersenyum simpul kemudian melepaskan cengkraman tangan Hyukjae pada tangannya.


            “Hyukjae, kau lihat tentara kita yang ada di depan! Aku akan ke gudang senjata.” perintah Donghae. Mereka akhirnya berpisah di tempat tersebut dan melakukan tugas masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2