The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Tired


__ADS_3

DAPHNE


Ujung dari permasalahan drama di pesta pernikahan Hadley membuatku berakhir disidang oleh Papi dan Kak Darius di ruang tamu. Ekspresi wajah mereka sama sekali tidak bisa ditebak. Tampak tenang dari casing luarnya, namun bisa berubah sewaktu-waktu.


Mami duduk disampingku, memelukku dari samping seraya mengelus-elus lenganku. Insting seorang ibu pasti ingin melindungi anaknya. Ya, gestur Mami yang seperti ini jelas sekali menunjukkan kalau ia hendak melindungiku dari omelan Papi dan Kak Darius.


Sedangkan Kakak iparku Candice tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum tipis, memberikan simpati dan support penuhnya untukku dari belakang.


"Daphne...bisa tolong jelaskan pada Papi mengapa kamu tidak memberitahu kami jika kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Papi dengan suara pelan tapi bagiku tatapannya tajam.


Perasaanku mendadak gugup. Telapak tanganku keringat dingin. Aku bingung harus menjawab apa. Mereka tak tahu saja, kalau Decs bukan kekasihku sungguhan. Kami hanya berpura-pura. Noted: pura-pura.


"Kenapa diam saja Daph? Jawab pertanyaan Papi!" Papi mulai meninggikan suaranya.


Mami menegur, "Sayang..jangan terlalu membentaknya! Kamu membuat Daphne takut. Bicaralah baik-baik atau aku akan marah!" ancamnya.


Sepersekian detik kemudian, sikap Daddy sedikit melunak. Mami mampu membuat Papi luluh hanya dengan satu kalimatnya.


Papi sekali lagi bertanya, "Apa kamu takut Daph?"


Aku mengangguk pelan. Bohong rasanya kalau aku bilang tidak takut saat perangai Papi terlihat datar dan dingin seperti ini. Dia itu jarang marah. Tapi sekalinya marah, bisa habis sekeluarga kena omel dirinya.


Mommy yang menyadari jika sekujur tubuhku agaknya bergetar, refleks mengeratkan pelukannya.


"Papi hanya ingin tahu Daphne, pria yang tadi bersamamu itu siapa?"


Aku memberanikan diri untuk menjawabnya, "Namanya Decs, Papi."


"Decs siapa? Boleh Papi tahu nama belakangnya?"

__ADS_1


Deghh...


Tak beruntung sekali nasibku hari ini. Kenal dengan Decs saja baru beberapa waktu yang lalu. Bagaimana bisa aku tahu nama lengkap dia? Aku curiga, Papi pasti ingin melakukan background check terhadap Decs, itulah sebabnya Papi bertanya-tanya padaku tentang nama belakangnya.


"Untuk apa Papi ingin tahu tentang nama belakangnya? Apa Papi akan memata-matai dia?" tanyaku to the point.


"Tentu saja Daph, kamu adalah putri Papi satu-satunya. Ketika kamu sudah memiliki kekasih, maka wajib bagi Papi untuk mencari informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan pria itu. Papi sayang padamu, dan Papi tidak mau kamu jatuh ke tangan orang yang salah!" terang Papi panjang lebar.


Aku tak menyalahkan Papi yang begitu protektif. Wajar jika reaksinya begini.


"Maafkan aku Pi, maaf karena aku tidak jujur." sengaja aku beralasan. "Ak--aku hanya takut saja. Kalau aku jujur mengenai asal-usul kekasihku pada kalian, hubungan kami pasti tak direstui."


"Apakah benar jika pekerjaan kekasihmu, siapa namanya tadi?"


"Decs, Papi..namanya Decs." sergahku dengan cepat.


"Siapapun itu lah! Decs...apakah benar jika pekerjaan Decs adalah seorang pelayan di acara wedding?" Papi terlihat serius untuk memastikannya.


Berhubung aku tidak tahu menahu tentang latar belakang kekasih pura-puraku itu, maka aku iyakan saja biar cepat.


"Dimana kamu mengenalnya, Daph? Setahu Kakak kamu jarang bersosialisasi ataupun pergi-pergi keluar. Sudah berapa lama kamu berpacaran dengannya?" giliran Kak Darius yang kini menanyaiku.


Agar terdengar masuk akal, aku mencoba untuk mengarang bebas. "Kami mengenal satu sama lain lewat aplikasii kencan. Dan hanya bertemu lewat daring saja. Perihal berapa lama kami berpacaran, ini sudah 3 bulan berjalan."


Lancar sekali aku membohongi keluargaku. Sudah seperti orang pro saja. Maafkan aku Papi, Mami, Kakak...aku terpaksa.


Kak Darus masih penasaran. "Apa kekasihmu itu tahu bahwa kamu berasal dari keluarga kalangan atas, Daphne? Kamu ini seorang Harper. Apa dia tahu itu?"


Aku menggeleng. "Tidak Kak, dia tak tahu. Selama kami berhubungan, aku tak pernah cerita tentang keluargaku. Dia bahkan tak tahu pekerjaanku apa. Tapi sejak awal aku sudah tahu profesinya apa. Pertemuan kami di pesta pernikahan Hadley benar-benar hal yang tidak terduga."

__ADS_1


Keheningan menggantung disela-sela percakapan kami. Suasana di ruang keluarga berubah 180 derajat jadi menyeramkan. Semua yang hadir disana menatap ke arahku serius.


Papi menghela nafasnya kemudian berucap, "Papi tak tahu harus berkata apa, Daphne. Disatu sisi Papi senang karena kamu telah menemukan pasangan. Tapi disisi lain, Papi juga sedih."


Aku menautkan kedua alisku. "Kenapa Papi sedih? Apa ini karena profesi kekasihku yang hanya seorang pelayan? Pi, Daphne sayang dan cinta padanya..dia orangnya tulus. Dia mampu menerima Daphne apa adanya."


Sumpah demi Tuhan aku tak ingin menikah dan dijodohkan dengan William. Sebisa mungkin aku akan yakinkan Papi kalau Decs adalah orang yang tepat untukku.


"Bukan begitu, Daphne." Papi menyahuti dengan nada tak suka. "Seburuk itukah kamu menilai Papi? Apakah kamu berpikir jika Papi mementingkan latar belakang keluarga orang lain tanpa memikirkan kebahagiaan putri Papi?"


"Kamu salah besar, sayang. Seumur hidup, Papi dan Mami tak pernah menekan atau memaksamu untuk menikah dengan pria dari keluarga kaya. Kami tidak sama dengan Kakek dan Nenek. Bahkan Papi dan Mami masih membiarkanmu hidup bebas!" sambungnya lagi.


"Lalu apa yang membuat Papi sedih?" lirihku pelan.


"Papi sedih karena kamu tidak bersikap jujur pada kami. Papi kecewa karena Papi harus mengetahui hal sepenting ini dari mulut Nenek, didepan publik pula. Hal ini membuat Papi bertanya-tanya apakah ada yang salah dari diri Papi, sehingga kamu tak bisa leluasa bercerita?" katanya panjang lebar.


"Kalau Papi membebaskan aku, mengapa Papi diam saja saat Kakek menjodohkan aku dengan pria seperti William? Untuk Kak Darius, aku yakin Kakak pasti tahu siapa dia! Tapi kenapa kalian semua diam hah!!!" emosiku mulai menggebu-gebu.


Raut wajah Kak Darius dan Papi mendadak tegang. Dari sini aku bisa menilai, kalau sebenarnya mereka tahu tentang perjodohan aku dengan William. Tapi mereka diam saja.


"Kami tak bisa berbuat apapun, Daph. Kamu tahu sendiri bagaimana tabiat Kakek dan Nenek. Power mereka begitu kuat. Kalau sudah A, maka seterusnya akan A. Tak bisa diganggu gugat." Kak Darius melakukan pembelaan.


"Termasuk membiarkan aku menikah dengan pria macam William?"


Tubuh mereka diam terpaku tak bisa menjawab sindiran dariku.


"Hmm..sudahlah Pi, aku sedang tak ingin berdebat. Aku lelah. Besar harapanku agar besok saat acara gathering keluarga, Papi dan Kakak bisa menerima Decs dengan tangan terbuka. Aku permisi naik keatas dulu."


Aku pamit undur diri melepaskan genggaman tanganku dari Mami dan langsung bergegas naik ke kamarku di lantai atas.

__ADS_1


***


__ADS_2