
AUTHOR POV
Declan akhirnya telah tiba di Parker Group setelah hampir satu setengah jam lamanya ia menempuh perjalanan dari farmhouse Daphne ke kantor Daddy-nya. Beruntung jalanan sedang tidak macet meskipun hari ini adalah weekends.
Buru-buru Declan naik ke lantai atas menuju ruangan pribadi Daddy-nya untuk sejenak mempelajari berkas materi rapat hari ini. Tujuannya satu, yaitu supaya Declan tidak terlihat bodoh saat presentasi nanti.
"Selamat datang kembali di Parker Group Tuan Declan." sapa Benedict, yang tidak lain tidak bukan adalah asisten pribadi ayah Declan.
"Salam kembali, Paman Ben! Tidak perlu kaku begitu padaku.." Declan membuka penutup maskernya, kemudian ia menarik Benedict dalam pelukannya.
Jangan heran jika pria paruh baya yang usianya sepantaran dengan Daddy Wyatt itu sangat akrab dengan Declan. Benedict sudah lama mengabdi pada keluarga Parker selama hampir 20 tahun lamanya.
"Ngomong-ngomong, rupanya Paman masih mengenalku dengan baik meskipun aku memakai masker.." kata Declan.
"Bagaimana saya bisa lupa! Tuan muda ini tidak banyak berubah setelah 4 tahun tidak terlihat. Justru anda semakin tampan dan terlihat gagah!" puji Benedict yang tersenyum puas.
"Paman bisa saja menyanjungku!" Declan terkekeh.
Sejak kecil, Declan banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dan liburan bersama keluarga Benedict saat orang tuanya sedang menjalani perjalanan bisnis ke berbagai negara.
Sebagai anak tunggal yang selalu merasa kesepian, Declan selalu senang ketika diajak pergi ke rumah Benedict yang begitu ramai mengingat ia memiliki 5 orang anak.
Benedict merenggangkan pelukan mereka lalu bertanya, "Tuan pergi kesini mengendarai apa? Kenapa saya tidak melihat mobil anda di depan ya?!" pria itu celingukan kanan kiri mencari keberadaan mobil Porsche kesayangan tuan mudanya itu.
"Aku kesini tidak naik mobilku, Paman. Melainkan itu!" Declan menunjuk pada BMW series 7 milik Daphne yang sengaja dipinjamnya.
Bukan ia yang meminjam. Karena secara teknis, Daphne sendiri lah yang menawarkan. Benar katanya jika di area farmhouse jarang sekali ditemui kendaraan umum.
Benedict tampak berpikir sejenak, "Itu mobil siapa Tuan? Yang jelas saya yakin itu bukan milik anda, karena setahu saya Tuan tidak suka mobil dengan tipe semacam itu."
Teori Benedict benar. "Memang bukan kepunyaan aku, Paman. Aku meminjamnya dari seorang teman agar aku bisa lekas tiba disini." Declan sengaja menyembunyikan identitas Daphne dari lingkungan sekitarnya terkecuali ayah dan ibunya.
"Oh ya bagaimana paman, apakah klien Daddy sudah datang? Aku hampir saja melupakannya.." tanya Declan.
Seketika raut muka Benedict berubah pias. Senyuman masam ikut menghiasi wajahnya.
"Klien dari Belgia belum datang, Tuan."
"Ahh..syukurlah kalau begitu. Aku pikir tadi aku akan datang terlambat. Berarti aku masih punya waktu untuk mempelajari berkas kontraknya." Declan mendengus lega.
"Hmm..tapi Tuan, sebenarnya salah satu perwakilan klien dari Belgia telah hadir.." ujar Benedict hati-hati yang membuat Declan kebingungan.
"Loh Paman bagaimana sih? Yang benar sudah datang atau belum?"
"Sudah, **--tapi hanya asistennya saja." ucap Benedict terbata-bata.
Declan mengernyitkan dahinya, "Asistennya sudah datang terlebih dahulu?"
"Benar Tuan," Benedict sedikit menunduk. "Tuan Fitzgerald masih dalam perjalanan. Pesawat yang ditumpanginya ada kendala delay sehingga beliau mengirim asistennya untuk datang terlebih dahulu."
__ADS_1
"Ya sudah Paman, kalau begitu biar aku temui saja dulu orangnya. Rasanya tidak etis kalau membuat tamu menunggu." mau tak mau Declan harus bertemu menyambut tamu penting ayahnya.
"Tapi Tuan..anda harus tahu jika asisten dari Tuan Fitzgerald itu adalah Nona Inggrid Tiffin."
Deghhh...
Declan cukup terkejut. Setelah sekian tahun lamanya tak pernah mendengar kabar dari wanita yang dengan teganya mengkhianati dirinya dulu, sekarang nama yang tidak diinginkan itu justru muncul lagi.
"Inggrid??" tanya Declan sekali lagi untuk memastikan.
"Benar Tuan, dia adalah Nona Inggrid. Mantan tunangan anda dulunya."
Hati Declan mencelos. Tadinya ia sempat berharap bahwa Inggrid yang dimaksud oleh Benedict adalah Inggrid yang lainnya. Bisa saja kan ada orang yang memiliki nama kembar? Tapi ternyata dugaannya salah. Inggrid itu memanglah wanita masa lalunya.
"Aku akan tetap menemuinya Paman." tegas Declan.
"Apa Tuan serius?" Benedict menatap tuan mudanya tak yakin.
"Bagaimanapun juga dia adalah klien. Aku akan bersikap profesional dan sewajarnya. Jadi tentu saja aku serius, Paman Ben." ucap Declan tanpa keraguan.
"Baik Tuan, mari saya antar ke ruang rapat. Nona Inggrid sudah menanti disana."
Declan mengangguk dan berjalan mengekor dibelakang Benedict untuk menuju ruang rapat.
***
Ceklek..
"Declan.." wanita itu menoleh dan segera bangkit dari kursinya.
Wajahnya tampak sumringah luar biasa, memancarkan cahaya kebahagiaan kala sosok pria yang sedari tadi telah ia tunggu akhirnya muncul juga ke permukaan.
"Siang Nona Tiffin, selamat datang di Clerk Kingdom." ujar Declan dengan formalnya. Sikapnya begitu dingin dan datar. Sulit untuk ditebak.
"Tak perlu repot-repot berbicara kaku seperti itu padaku Declan. Bukankah kita sudah saling mengenal?" ucap wanita yang bernama Inggrid itu dengan hati-hati.
Jujur saja, tersirat sebuah rasa kekecewaan dalam hati Inggrid karena hubungannya dengan Declan sudah tak sama lagi. Apalagi ketika Declan bersikap formal padanya. Itu menyakitkan.
"Kapan perkiraan Tuan Fitzgerald akan tiba kemari?" tanya Declan to the point.
"Sekitar satu jam lagi," jawab Inggrid seraya tersenyum tipis.
"Baiklah. Kalau begitu anda dapat duduk kembali. Mungkin saya akan mulai membaca dan mempelajari dokumen berkas pengajuan proposal dari perusahaan anda. Setidaknya kita bisa mencicil pembahasan untuk rapat nanti." Declan mempersilahkan Inggrid kembali duduk pada kursi rapat.
Sayangnya Inggrid memiliki rencana lain. Sebelum Declan melangkah menuju kursi kebesarannya, Inggrid menahan tangan pria itu.
"Declan..mumpung Tuan Fitzgerald dan yang lainnya belum hadir. Bisakah kita berdua berbicara sebentar?"
Tatapan keduanya saling bertemu. Begitu lekat, begitu dalam. Hingga keduanya larut dalam keheningan.
__ADS_1
"Tolong jaga batasan anda Nona Tiffin, lepaskan tangan saya!!" Declan menghempaskan genggaman tangan Inggrid dengan menyentak, membuat Inggrid sontak terkejut.
"Mm--maaf karena aku lancang.." lirih Inggrid terbata-bata. "Tapi sungguh Declan, beri aku kesempatan untuk menjelaskan--"
"Menjelaskan apa? Menjelaskan bagaimana bisa kamu selingkuh didepan mata saya? Atau mungkin kamu ingin menjelaskan bagaimana bisa kamu mengkhianati saya dengan membocorkan rahasia perusahaan Clerk Kingdom pada rival beberapa tahun lalu?" Declan langsung mencerca Inggrid dengan berbagai pernyataan yang menohok.
Inggrid memejamkan matanya, menahan genangan air yang sudah menumpuk pada pelupuk mata.
Declan tersenyum mengejek. "Kenapa diam? Tidak bisa menjawab?"
"Declan..ak--aku..saat itu aku terpak--"
"Dengar baik-baik Nona Tiffin yang terhormat. Apapun yang terjadi diantara kita di masa lalu..saya sudah mengubur semua kenangan itu dalam-dalam. Pengkhianatan yang kamu pernah lakukan, sampai matipun tidak akan pernah saya lupakan." ucap Declan dengan penuh penekanan dalam setiap katanya.
***
Sementara itu di farmhouse,
Daphne tengah kebingungan mencari-cari tas kosmetik miliknya. Seluruh sudut rumah telah ia telusuri, tapi nyatanya tas kotak berwarna glitter pink purple tersebut itu belum ketemu.
Bosan Daphne berjalan kesana kemari untuk mencari. Dia bahkan mengerahkan pekerja di rumahnya untuk ikut membantunya.
Bukannya apa, didalam tas tersebut tanpa sengaja Daphne meninggalkan sekotak perhiasan mungil yang berisikan kalung berlian miliknya.
Dalam beberapa jam kedepan, seluruh anggota keluarga Harper akan berkumpul bersama untuk makan malam dan Daphne sangat membutuhkan kalung itu.
Kalung itu dianggap penting bagi Daphne karena dipercaya sebagai kalung pembawa keberuntungan. Daphne selalu merasa tak percaya diri jika tak memakainya. Wanita itu saja baru sadar kalau sejak tadi pagi, kalung pemberian dari Papi dan Maminya itu tidak menempel di leher.
"Bagaimana Bibi? Apa sudah ketemu kotak kosmetik milikku?" Daphne menggigiti jari-jarinya karena panik.
"Kami minta maaf Nona, tapi kotaknya belum ditemukan. Saya dan Jilly telah mencarinya ke seluruh ruangan dan hasilnya nihil." kata Lisbet, yang merupakan asisten pribadi kesayangannya bersama dengan Jilly.
"Aduh..bagaimana ini kalau tidak ketemu? Aku bisa pingsan Bibi..." keluh Daphne.
"Saya ada solusi Nona, bagaimana jika saya dan Jilly pergi untuk membeli beberapa perlengkapan make-up yang baru? Waktunya masih banyak Nona."
"Tidak bisa Bibi..bukan make-up nya yang menjadi masalah. Tapi didalam kotak itu ada kalung keberuntunganku!" Daphne mendudukkan dirinya pada tepi ranjang sambil memijat pelipisnya.
"Coba Nona ingat-ingat lagi dimana terakhir kali meletakkannya, bisa saja Nona tidak membawanya kemari." cetus Jilly.
Daphne tampak berpikir sejenak. Yang diucapkan Jilly ada benarnya. Mungkin Daphne lupa membawa. Tapi itu tidak mungkin karena di mobil tadi Daphne sempat memakai lip gloss.
Deghhh...
Seketika ingatan Daphne kembali segar. Dia ingat dimana kotak kosmetik tersebut diletakkan. Jawabannya adalah di mobilnya. Ya, di mobil.
Sayangnya, mobilnya itu sekarang sedang dipinjam oleh Declan untuk pergi ke tempat kerjanya.
"Astaga Tuhan..aku harus bagaimana ini!!" Daphne menepuk dahinya pelan, merutuki kecerobohannya yang sembarangan meninggalkan kalung berlian berharganya di mobil.
__ADS_1
***