
AUTHOR POV
"Sudahlah Decs, lupakan saja soal tadi. Lebih baik fokus pada acara gathering keluargaku nanti!" Daphne mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang terlampau serius tadi.
"Saat ini status kita adalah sepasang kekasih. Sebisa mungkin kita harus menunjukkan public display affection didepan para saudara-saudaraku. Karena yang aku dengar, William juga datang." sambungnya lagi.
Declan menyipitkan matanya sembari mengetuk-ngetuk pinggiran gagang setir, "William memangnya datang?"
Daphne menghela nafas dan memijat pelan pelipisnya yang sedikit berdenyut. "Dia pasti diundang, Decs. Mustahil jika William tidak datang. Pria itu akan dijodohkan denganku. Otomatis Kakek dan Nenek sudah mengatur strategi supaya dia bisa menempel terus padaku. Makanya, aku minta kamu jangan jauh-jauh dariku di acara nanti!"
"Hmm.." sahut Declan dengan deheman.
"Oh ya satu lagi Decs! Disana nanti, segala tingkah laku kamu akan dicermati dengan seksama oleh seluruh keluarga besarku. Dari mulai cara berjalan, perawakan, table manners, bahkan kamu akan diwawancarai perihal pekerjaan, skill atau hal lainnya yang kamu kuasai." oceh Daphne panjang lebar.
"Astaga Tuhan, ribet sekali sih!" protes Declan.
"Begitulah mereka! Setidaknya aku sudah memperingatkanmu terlebih dahulu. Dan untuk itu, aku juga harus tahu tentang seluk beluk kehidupanmu sekilas."
Declan melirik Daphne lagi, "Maksudnya?"
"Ya seperti contoh, apa makanan dan minuman favorit kamu, apa hobby kamu, tanggal berapa kamu lahir, dimana tempat tinggal kamu, dan lain-lainnya." Daphne semakin berceloteh.
"Memangnya harus Daph?" Declan tampak tak setuju.
"Justru itu Decs! We're in relationship, remember? Kalau aku tidak tahu apa-apa tentang kamu, maka keluargaku bisa curiga. Terutama Papi dan Kakakku Darius. Mereka sangat jeli dan cermat dalam membaca bahasa tubuh kita."
Declan jadi mulai berpikir bahwa sepertinya keputusan dia untuk berpura-pura pacaran dengan Daphne adalah rencana yang buruk.
"Aku mulai ya pertanyaannya. Yang pertama, berapa tanggal lahirmu?" tanya Daphne.
Meskipun malas Declan tetap menjawab karena ucapan Daphne terdengar masuk akal juga. "12 Januari 1990."
Daphne terlihat berpikir sejenak. "Hmm.. berarti usia kamu sudah 30 tahun ya?"
"Iya." jawab Declan singkat.
"Kamu lahirnya bulan Januari, itu tandanya zodiak kamu Capricorn?"
"Zodiak pun ditanya?" Declan menatap Daphne heran.
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?"
Declan hanya bisa menggelengkan kepala saja. Menurutnya Daphne mulai terlihat berlebihan.
"Pertanyaan ketiga. Dimana tempat kamu lahir dan dibesarkan?" tanya Daphne lagi.
"London. Orang tuaku sama-sama berasal dari Inggris, dan sebagian besar hidupku dihabiskan disana."
Faktanya, Daddy Wyatt dan Mommy Irene sama-sama mengantongi kewarganegaraan Inggris. Keduanya baru pindah ke Amerika sekitar 3 tahun yang lalu dengan tujuan untuk mengembangkan usaha bisnis Parker Group di negeri Paman Sam ini.
"Interesting." Daphne menoleh pada Declan sambil tersenyum menyeringai. "Pendidikan terakhirmu apa?"
"Universitas." sahut Declan cepat.
"Wow, impresif! Kamu kuliahnya dimana? Mengambil jurusan apa? Dan gelar apa yang kamu punya?" Daphne tertarik untuk mencecar berbagai pertanyaan lebih lanjut.
"Aku kuliah di Cambridge, jurusan Business Management. Gelarku ada dua, Bachelor of Arts dan Master of Business Administration. Karena aku menyelesaikan pendidikan universitas sampai S2." membahas soal pendidikan, sengaja tidak ada yang ditutupi oleh Declan. Karena menurutnya itu adalah pencapaian yang membanggakan dan juga umum.
Disamping itu, riwayat pendidikan Declan menjadi satu-satunya hal yang bisa ia jual pada keluarga Daphne. Setidaknya, mereka tidak akan terlalu memandang dirinya dengan tatapan rendah.
"Wow..sama sepertiku! Aku mendapat gelar BA, ambil jurusan komunikasi. Tapi hanya sampai S1 saja sih!" timpal Daphne.
"Decs, kamu..."
Seakan mengerti apa yang ingin ditanyakan Daphne, Declan langsung menyela, "Aku full beasiswa, kalau itu yang mau kamu tanya." ini pun juga fakta.
Declan tak memakai embel-embel nama belakang Parker atau memanfaatkan bantuan dari Daddy-nya untuk masuk kesana. Dia murni lulus tes seleksi.
"Ahh I see...berarti kamu pintar sekali ya Decs!" Daphne sampai lupa jika setiap perguruan tinggi menawarkan program beasiswa.
"Oh ya Decs, pekerjaanmu itu apa memang hanya pelayan di acara wedding saja? Tidakkah kamu memiliki pekerjaan sambilan lainnya?" ucap Daphne seraya menyeruput segelas kopi yang sempat dibelinya tadi.
Declan menjelaskan, "Pekerjaanku itu tidak tetap. Aku seorang freelance, pekerja lepas yang bisa bebas bekerja dimanapun dengan kontrak kerja singkat. Sebelumnya aku adalah pegawai kantoran biasa di bagian marketing."
"Dimana kantor kamu?"
"Di London. Setelah 4 bulan bekerja disana, aku memutuskan resign karena tidak cocok dengan ritme kerja perusahaan tersebut. Akhirnya aku merantau kesini, ke New York untuk mencari pekerjaan lain." jawab Declan yang semakin mengarang bebas.
"Bukan aku ingin menganggap remeh profesi kamu yang sekarang Decs, tapi kenapa kamu tidak melamar pekerjaan yang lebih baik lagi? Mengingat riwayat pendidikan yang kamu punya itu cukup bagus."
__ADS_1
Pikir Daphne, seharusnya Declan bisa saja melamar ke perusahaan-perusahaan besar lainnya di New York. Daphne yakin Declan bisa mendapat posisi pekerjaan yang lebih bagus karena curriculum vitae-nya tidaklah buruk.
"Saat aku pertama kali sampai di New York, hanya pekerjaan itu yang available. Mau tak mau aku harus terima saja untuk bertahan hidup disini. Aku kan pendatang Daph, aku baru 3 bulan berada di US." lancar sekali Declan jika disuruh berbohong. Dan hebatnya, perempuan polos seperti Daphne bisa termakan omongannya.
"Ohh begitu rupanya..." Daphne mengangguk paham.
Sejujurnya Daphne mulai merasa kagum dengan segala achievement Declan. Pria itu tak terlalu buruk rupanya. Meskipun keluarga Daphne jelas tak mungkin merestui hubungan mereka, setidaknya ada hal menarik dalam diri Declan yang bisa dibanggakan.
"Pertanyaan kedelapan," Daphne memang menghitung total pertanyaan yang ditanyakan olehnya tadi. "Apa makanan dan minuman favoritmu?"
"Beef Wellington dan kebab. Untuk minumnya aku suka dengan semua yang berbau dengan buah-buahan seperti smoothies dan jus. Terutama jus apel, aku paling suka itu. Aku tak terlalu suka dengan teh dan kopi. Kalau kamu?" Declan balik bertanya.
"Aku tidak punya makanan favorit yang spesifik karena dasarnya aku suka semua makanan, kecuali seafood! Aku sering gatal-gatal jika memakan makanan yang berbahan dasar ikan laut. Apalagi kepiting dan udang! " Daphne terdengar begitu semangat saat bercerita.
"Too bad, padahal seafood itu sangatlah lezat." bagi Declan, orang-orang yang tidak bisa memakan seafood adalah orang yang merugi.
"Mau bagaimana lagi, aku memang tak bisa mengkonsumsinya. Kalau minuman, aku sebenarnya tak suka yang manis-manis. Favoritku itu air mineral." Daphne lalu mengangkat cup kopi-nya, "Ini saja aku beli untuk menghilangkan rasa kantukku. Kalau tidak mendesak, aku tak akan mungkin membelinya. Ini terlalu kemanisan."
Daphne bukanlah tipe morning person. Dia selalu mengalami kesulitan untuk bangun di pagi hari. Berhubung ia ada janji temu dengan Declan, terpaksa ia harus menunggu di taman pagi-pagi buta. Sayangnya yang ditunggu malah datang terlambat, menyebalkan sekali.
"Hobby-mu apa Decs? Kegiatan apa saja yang sering kamu lakukan di waktu senggangmu?"
Pertanyaan yang cukup menjebak. Jika Declan menjawab kalau ia suka berkuda, bermain polo, golf dan tennis, maka Daphne akan curiga. Karena keempatnya termasuk dalam kategori olahraga elite yang identik dilakukan oleh orang-orang dari golongan atas.
"Aku suka berenang dan bermain catur." balas Declan dengan jawaban umum. Dia juga sama sukanya melakukan dua kegiatan itu meski tak terlalu sering. "Kamu sendiri Daph??"
"Aku suka melukis dan menari ballet." binar bahagia terlihat jelas di pupil mata Daphne ketika ia membicarakan tentang hobinya.
"Aku tidak terlalu terkejut jika kamu pandai menari. Tapi untuk melukis? Kamu memang bisa!??" Declan sedikit ragu. Dari perawakan Daphne, orang tak akan mengira jika ia mahir menggambar.
"Tentu saja bisa! Aku sempat mengikuti kursus seni lho, 3 tahun lagi! Tak hanya itu saja sih, aku juga sempat tergabung dalam kelas pengrajin seni." cerita Daphne panjang lebar.
Kemudian suasana berubah menjadi hening. Nampaknya keduanya sudah kehabisan pertanyaan untuk satu sama lain.
"Decs..." Daphne kembali membuka suara. "Terima kasih banyak ya atas bantuanmu. Maaf karena aku merepotkan. Jujur, aku senang sekali bisa mengenalmu lebih dekat seperti ini."
"Kamu senang?!" Declan menolehkan kepalanya untuk menghadap Daphne.
"Tentu saja aku senang! Karena untuk pertama kalinya, baru ini ada pria selain Daddy dan Kak Darius yang mau mendengarkan ceritaku..." ucap Daphne lirih.
__ADS_1
***