The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Challenge


__ADS_3

DECLAN


"Gawat..gawat..gawat! Matilah aku!" perempuan dihadapanku yang bernama Daphne ini tak henti-hentinya berjalan kesana kemari seraya menggigiti jari jemarinya.


Setelah insiden keributan di acara pesta pernikahan tadi, Daphne menggiringku keluar dari sana. Mengajakku pergi menuju taman kota dengan menaiki mobilnya, yang juga disetiri sendiri olehnya.


Tak tahan melihatnya yang mondar-mandir tidak jelas, aku pun menegurnya. "Bisakah kamu diam dan duduk tenang? Aku pusing melihatmu yang berputar-putar seperti itu!"


Perempuan itu berbalik badan, menoleh padaku dan menajamkan tatapannya. "Ini semua gara-gara kamu!" sentaknya dengan lantang. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku.


"Kenapa kamu tadi malah menyanggupi undangan Papiku yang memintamu datang ke rumah? Harusnya kamu tolak saja!" ujarnya merengek.


Aku yang tak terima disalahkan, sontak bangkit dari bangku taman tempatku duduk dan balik mengomelinya. "Bagaimana bisa kamu bilang ini salahku? Kamu sendiri yang memulainya! Mengaku-ngaku punya pacar, lalu dengan seenaknya menyeretku dalam jurang permasalahanmu!"


"Itu karena terpaksa! Keadaannya sangat mendesak dan aku tak punya pilihan lain," dia malah balas mendebat. "Anggap saja itu balasan karena aku telah menolongmu dari cemoohan sepupuku!"


Manipulatif sekali perempuan ini. Disini aku adalah korbannya. Tapi dia justru membuat diriku terpojok, seolah-olah hanya aku yang bersalah. Padahal dia sendiri ikut andil dalam dalang permasalahan ini.


"Ohh..jadi kamu mulai perhitungan? Dengar ya, aku sama sekali tidak mengharapkan bantuanmu tadi! Aku tidak butuh dikasihani. Mau aku dipermalukan oleh sepupumu atau tidak, itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku."


Sepupu Daphne memang menyebalkan. Tapi siapa suruh dia menjadi pahlawan kesiangan dengan menolongku? Aku bahkan diam saja ketika sekujur tubuhku disiram oleh minuman jus jeruk dan juga sepiring pasta.


"Sudah bagus aku mengiyakan pernyataan konyolmu itu. Andai aku bilang aku bukan kekasihmu, aku jamin 100 persen kamu pasti akan menanggung malu berkali-kali lipat!" ocehku lagi sambil kembali duduk.


Daphne memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya secara perlahan. Dua tangannya terangkat untuk memijat-mijat pelipisnya.


"Okayy..." sahutnya kali ini dengan nada suara yang tenang. Daphne berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya disebelahku. "Aku minta maaf atas kekacauan yang telah aku perbuat."


Suasana berubah hening. Aku melirik kesamping dan melihat kedua bola mata Daphne yang berkaca-kaca. Perempuan ini seperti ingin menangis tapi tertahan.


"Aku minta maaf karena sudah bersikap marah-marah yang tidak jelas padamu. Maaf karena dengan lancangnya aku mengklaim dirimu sebagai kekasihku."


Sebuah permintaan maaf yang penuh ketulusan bisa kurasakan dari dirinya.


"Aku...aku hanya frustasi.." ucapnya lirih.


Kumiringkan tubuhku agar kami bisa berhadap-hadapan. "Frustasi kenapa?" aku mulai tertarik mendengar ceritanya.


"Keluargaku. Lebih tepatnya Kakek dan Nenek yang membuatku frustasi. Mereka selalu saja menekanku untuk cepat-cepat menikah. Di usiaku yang 25 tahun sekarang, hanya aku satu-satunya yang belum punya pasangan dalam silsilah anggota keluarga kami."


"Antara kamu yang tidak mau menikah atau memang belum dapat jodohnya?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Kamu pasti mau mengejekku juga kan? Mengataiku tidak laku dan perawan tua sama seperti saudara-saudaraku lainnya?" responnya begitu ketus.


Aku menghela nafasku kasar. "Sensitif sekali kamu! Siapa juga yang ingin mengolok-olok dirimu? Aku tidak berkata seperti itu, kamu yang berasumsi sendiri!"


"Hmm..iya maaf." Daphne memanyunkan bibirnya. "Sebetulnya aku sendiri pun juga ingin menikah. Bukan lewat perjodohan, melainkan murni pilihan sendiri. Aku ingin mengikat janji suci dengan pria tulus yang mencintaiku apa adanya." tukasnya lirih.


"Tadi saat acara berlangsung, ada seorang pria bernama William Anthony yang datang padaku. Kakek bilang, si William itu akan dijodohkan denganku. Terang-terangan Kakek menyuruh aku dan William untuk menikah."


Wow..perempuan ini akan menikah dengan William? Apa keluarganya tidak salah menjodohkannya dengan pria tak bermoral seperti William?


Aku bisa berkata seperti itu karena aku tahu bagaimana circle William diluaran sana. Bukan rahasia umum jika dia hobby pergi ke club lalu berpesta dengan gadis-gadis liar. Bisa dikatakan dia adalah playboy ulung.


Belum lagi dia suka berfoya-foya dan menghamburkan uang untuk hal yang tak penting sehingga perusahaan keluarga Anthony hampir diambang kebangkrutan.


"Lalu..apa jawabanmu? Kau mau menerimanya?"


"Tentu saja aku tidak mau. William itu pria yang arogan dan narsistik. Meskipun baru bertemu sekali dan berbicara sebentar, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa aku tak cocok dengannya," tegas Daphne.


Untunglah. Aku tak perlu repot-repot memberitahunya. Dengan sendirinya dia sudah sadar kalau William Anthony itu adalah pria red flag.


Sejatinya, baik aku dan Daphne memiliki visi yang sama. Sama-sama ingin menikah dengan orang yang benar-benar setia, tulus, dan tidak memandang materi.


"Hey, pernahkah kamu menemukan pria idaman yang sesuai kriteriamu ?" tanyaku lagi.


Mataku terbelalak kaget dan jiwaku tercengang. Apakah ini serius? Perempuan yang bermodelkan tampang seperti Daphne hanya pernah sekali berpacaran? Harus kuakui, Daphne sebenarnya adalah wanita yang cantik.


Tubuh Daphne begitu bagus dan ramping, tingginya proposional, gaya berpakaiannya fashionable, dia juga memiliki sifat ramah dan baik terlepas dari drama yang baru saja terjadi. Untuk itu aku sedikit kaget ketika tahu fakta, bahwa pria-pria diluaran sana jarang mendekatinya.


Karena penasaran, aku kemudian bertanya padanya lagi dengan hati-hati. "Jangan tersinggung, tapi mengapa pria jarang mendekatimu? Apa karena kamu introvert?"


"Bukan aku yang introvert. Mereka saja yang memang tidak mau denganku." Daphne tersenyum kecut.


"Benar seperti kata sepupuku Ashlyn, kalau aku ini tidak laku. Setiap dekat dengan pria, ujung-ujungnya aku selalu tersakiti. Ada yang selingkuh, ada pula yang tiba-tiba menghilang. Mungkin aku tak semenarik itu dimata mereka," balasnya lesu.


Tiba-tiba muncul perasaan tidak enak yang tersirat dalam benakku. Mengapa aku jadi kasihan dengannya. Hidupnya pasti berat sekali.


Sama sepertiku yang selalu saja dipaksa menikah oleh Mommy dan Daddy. Tapi bedanya aku tidak pernah merasa tertekan seperti apa yang Daphne rasakan. Aku masih bisa enjoy dan menikmati hidupku dengan bebas.


"Hey, jangan merasa rendah diri. Bukan kamu yang tidak menarik. Mereka saja yang buta tidak bisa melihat betapa istimewanya dirimu!" ucapku sengaja demi menyemangati Daphne.


Dan berhasil, dia tertawa.

__ADS_1


"Haha...kamu lucu sekali. Kita kan juga baru mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa kamu tahu aku istimewa?"


"Instingku yang berbicara." balasku singkat.


Daphne memalingkan wajahnya sebentar dan kembali menatapku. "Anyways, tentang undangan orang tuaku. Jangan memaksakan diri untuk datang. Aku tak masalah jika kamu tidak hadir disana."


"Aku sudah berjanji pada Papimu bahwa aku akan datang. Aku tak bisa mengingkarinya." pantang bagiku untuk tidak menepati suatu perjanjian. Laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya.


"Tapi Decs...jika kamu datang, maka itu sama saja seperti bunuh diri. Keluargaku bisa saja membabatmu habis!" Daphne memegang pergelangan tanganku erat seraya memohon agar aku tak hadir disana.


"Apa keluargamu semengerikan itu?"


"Iya..tentu saja. Besok ada acara gathering keluarga. Temanya seperti outbond. Mereka pasti akan mengetes dirimu disana."


"Mengetes bagaimana?" aku jadi penasaran.


"Sulit untuk dijelaskan, yang pasti itu berat. Aku tidak bermaksud untuk memandang rendah dirimu, tapi aku yakin kamu tak bisa melewatinya. Apalagi dengan pekerjaanmu yang sebagai pelayan wedding."


"Kamu malu memiliki pacar seorang waitress sepertiku?"


Raut wajah Daphne berubah merah seketika. Terlihat sekali kalau dia gugup. "Kk-kita kan tidak benar-benar berpacar--!"


Aku menyela, "Hey..kamu sendiri yang memulainya..ingat?!"


"Itu tidak sengaja!" balasnya menyentak.


"Sebelum aku melanjutkan, jawablah saja! Kamu malu atau tidak andai kata kita berpacaran?"


Daphne menggaruk-garuk pucuk kepalanya yang tidak gatal. "Yy-yaa..tidak sih. Aku tak masalah dengan status. Aku dan keluarga besarku memiliki dua kepribadian yang berbeda. Kami tak sama."


"Kalau begitu, kita resmikan saja hubungan ini. Kita akan berpura-pura pacaran didepan keluargamu!" sergahku.


"Apa untungnya berpura-pura?" tanyanya kebingungan.


"Kamu bilang kamu tak suka dijodohkan. Dengan adanya aku, keluargamu pasti akan berhenti memaksamu menikah dengan pria yang tak kamu cintai."


"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa untungnya buat kamu?"


"Tidak ada. Aku hanya suka tantangan. Aku tertarik untuk menaklukkan hati keluargamu." ungkapku jujur dari hati.


Daphne terlihat berpikir sejenak kemudian berkata, "Baiklah, aku setuju."

__ADS_1


***


__ADS_2