The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Almost Got Caught


__ADS_3

AUTHOR POV


Setelah acara kompetisi berkuda selesai, Daphne memutuskan membawa Declan ke kamarnya untuk bebersih diri. Aktivitas tadi membuat sekujur tubuh Declan penuh dengan peluh keringat.


"Apa kamu mau mandi Decs? Kalau iya kamu bisa pakai saja kamar mandi milikku!" tawar Daphne.


Declan mendudukkan diri pada sofa bench di kamar Daphne seraya merentangkan tangannya dengan leluasa. "Hmm..boleh. Badanku memang rasanya gerah sekali. Cuaca hari ini agaknya sedikit panas."


"Kalau begitu aku akan pinjamkan baju Kak Darius untuk pakaian gantimu," kata Daphne yang sedang membuka lemarinya untuk mengambil handuk bersih.


"Hmm..tapi aku tak yakin jika baju kakakmu muat untuk badanku," Declan menyipitkan matanya ragu.


Dari segi postur tubuh, Declan sedikit lebih tinggi dan lebih kekar berisi dibandingkan dengan Darius. Setelah menikah, ayah beranak satu itu tidak lagi memiliki badan proposional. Lengannya mengecil, namun semua lemak berkumpul jadi satu dalam perutnya yang sekarang mulai buncit.


"Pasti ada yang cukup. Baju Kak Darius banyak juga yang size-nya besar. Biar aku carikan, kamu tunggu dulu disini sebentar!"


"Baiklah, terima kasih Daphne." balas Declan dengan sebuah anggukan ramah.


Daphne kemudian menyerahkan handuk yang diambilnya tadi pada Declan, lalu ia bergegas keluar untuk menuju kamar kakaknya.


***


Sambil menunggui Daphne kembali, Declan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Hampir setengah harian ini, Declan belum membuka gawainya sama sekali.


Niatnya hendak mengecek barangkali saja ada email masuk yang berkaitan mengenai pekerjaan atau ada telepon penting dari seseorang.


Dan benar saja, belum lama Declan memegang smartphone canggih miliknya,


Drtt..drrtt...


Tiba-tiba ada notifikasi panggilan masuk dari Daddy Wyatt yang kemudian langsung diangkat oleh Declan.


📱


"Halo, Dad!" sapa Declan lebih dahulu.


"Halo juga, kamu sekarang dimana Decs? Apa masih di rumah Daphne?" tanya Daddy Wyatt.


Kemarin, secara blak-blakan Declan mengakui bahwa dia akan pergi ke farmhouse keluarga Daphne hari ini. Dia juga sudah mengantongi izin pada orang tuanya. Itulah sebabnya kenapa Daddy Wyatt menebak seperti itu.

__ADS_1


"Iya, aku masih di rumah Daphne. Mungkin aku juga akan menginap semalam disini. Kakak laki-lakinya Daphne mengajakku,"


"Ahh...kamu sedang repot berarti? Padahal Daddy ingin minta tolong sesuatu."


"Ada apa memangnya Dad?" tanya Declan.


"Ada sesuatu yang penting kah? Jika iya maka katakan saja, sebisa mungkin aku bantu."


"Hmm..begini Decs, sekarang Daddy ingin kamu mendatangi perusahaan sebentar saja untuk mewakili kehadiran Daddy dalam acara rapat pengajuan proposal kontrak kerja dengan klien penting dari Belgia."


"Di momen weekends begini ada rapat?" tanya Declan dengan suara pelan. Takutnya ada yang menguping dari luar atau Daphne tiba-tiba masuk.


"Keadaannya mendesak Decs, pihak dari mereka bisanya hari ini. Tadinya Daddy mengiyakan karena Daddy berpikir sanggup menghadiri rapat tersebut, namun ternyata ada perubahan rencana."


"Perubahan rencana apa?"


"Adiknya Mommy-mu baru saja terkena musibah kecelakaan lalu lintas. Alhasil Daddy dan Mommy harus terbang siang ini juga ke London."


"Ahh..turut sedih mendengarnya. Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah kondisi Tante Natasha sudah membaik atau belum?"


"Terakhir info yang Daddy dengar, beliau mengalami cedera pada bagian pergelangan kaki dan lengan saja. Selebihnya sudah tidak apa-apa," jelas Daddy Wyatt. "Jadi bagaimana, apa kamu bisa pergi ke perusahaan? Tolong bantu Daddy kali ini. Kliennya sangat penting untuk perusahaan Daddy, nak."


"Syukurlah! Tak apa Decs, rapatnya masih dua jam lagi dari sekarang. Semoga waktunya cukup. Terima kasih banyak ya, putra kesayangan Daddy. Semoga calon menantu Daddy bisa mengerti akan kesibukan kamu ya!" celetuk Wyatt asal-asalan.


"Ckkk..Daddy jangan ngomong sembarangan. Calon menantu apa? Aku dan Daphne bahkan baru bertemu kemarin sore."


"Iya tapi kan--"


"Sudah ya Dad, aku tutup dulu. Nanti aku kabari lagi." Declan sengaja mematikannya sambungan teleponnya cepat-cepat sebelum Daddy-nya berbicara melantur.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka, bertepatan dengan terputusnya hubungan komunikasi antara ayah dan anak itu. Daphne sudah kembali dengan menenteng peralatan mandi lengkap beserta pakaian ganti yang baru buat Declan.


"Hai Decs..ini sudah aku sediakan pakaian ganti untukmu. Ukuran polo shirt milik Kak Darius yang ini lumayan besar dibandingkan dengan baju-baju dia yang lain. Semoga pas dipakai kamu."


"Ahh...terima kasih Daph. Tapi nampaknya aku harus mengurungkan niatku untuk mandi. Langsung ganti baju saja karena aku harus buru-buru pergi sekarang."


"Pergi? Pergi kemana?" Daphne terlihat kebingungan karena dengan frontal-nya Declan membuka atasannya kemudian langsung buru-buru menyambar kaos polo shirt dari tangannya.

__ADS_1


"Kondisinya sedang urgent, aku harus pergi ke kantor sekarang," sahut Declan.


"Kantor? Untuk apa datang ke kantor di hari libur begini?"


"Ada rapat penting dengan klien dan aku diwajibkan untuk hadir disana!" selesai baju dipakai, Declan berjalan menuju meja rias Daphne untuk berkaca sambil merapikan rambutnya tipis-tipis.


Mata Daphne terbelalak, "Rapat penting? Apa kaitannya pekerjaan kamu sebagai pelayan dengan rapat penting?"


Deghhh...


Declan keceplosan. Sontak pria itu merutuki kebodohannya sendiri yang secara tidak langsung dengan gamblangnya membuka jati diri. Tubuhnya berbalik menghadap Daphne.


"Hmm...begini Daph," Declan tampak berpikir sejenak sebelum berbicara. "Salah satu perusahaan ternama di New York sedang mengadakan event akbar yang sangat-sangat penting. Temanya rapat kerja yang dihadiri banyak tamu-tamu mancanegara."


"Perusahaan tersebut menyewa jasa catering dan pelayan dari kantor tempat aku bekerja untuk menyambut tamu-tamu terkait. Harusnya ini tugas temanku, tapi karena dia tak masuk..jadilah aku yang menggantikan shift-nya." Declan beralasan dan mulai mengarang bebas, berharap Daphne percaya.


"Lalu bagaimana dengan aku? Kamu sudah janji akan mendampingi aku sampai malam nanti di acara pesta barbeque?!" cecar Daphne dengan berbagai pertanyaan.


"Sebentar saja. Acaranya mungkin selesai sore. Setelah itu aku akan kembali secepatnya. Aku butuh uang Daph, itulah sebabnya aku mengambil job ini. Bolehkah aku pergi, kumohon untuk sebentar saja?!" pinta Declan yang mengeluarkan kartu AS-nya dengan pura-pura memelas.


Daphne yang tadinya bimbang, seketika langsung mengizinkannya, "Ya sudah kamu boleh pergi. Ini kunci mobilku, kamu bisa pakai kendaraan itu untuk pergi ke kantormu." tukas Daphne. Wanita itu tak mungkin jahat dengan menghalangi Declan bekerja mencari uang karena tak semua orang dilimpahi kekayaan yang mewah seperti dirinya.


"Ss--serius?" tanya Declan yang penuh keraguan.


"Iya serius. Di area farmhouse ku jarang ada kendaraan umum. Maka dari itu pakailah mobilku saja!" pikir Daphne supaya Declan cepat sampai di kota sebab farmhouse-nya ini kan terletak di pedesaan yang agak jauh dari keramaian.


"Semudah itu kamu percaya begitu saja denganku? Padahal aku ini orang asing, Daph." Declan tak mengira jika Daphne menanggapi semuanya dengan enteng.


"Kita sudah lumayan saling kenal Decs, tak perlu canggung lagi. Aku percaya kamu laki-laki yang baik dan tidak berbohong. Selain aku berniat meminjamkan, dengan kamu menggunakan mobilku untuk bepergian aku bisa memastikan kalau kamu akan cepat kembali ketika urusanmu sudah selesai!" kata Daphne.


"Terima kasih." Declan menyunggingkan sudut bibirnya, tersenyum kagum akan ketulusan Daphne.


Daphne balas tersenyum tipis, "Sama-sama, senang membantu kamu."


Declan lalu berjalan mendekat pada Daphne dan menangkup kedua sisi wajah wanita itu dengan jari-jemarinya yang lentik serta panjang. "Aku janji untuk segera kembali," ucapnya tegas.


Detik setelahnya, Declan membubuhkan sebuah kecupan sekilas nan manis pada bibir Daphne.


Cupp...

__ADS_1


"See you laters..baby..." lirih Declan dengan suara baritonnya.


__ADS_2