
"Siapkan saja kudanya..aku sanggup bertanding." jawab Declan secara tegas dan lantang.
Berawal dari keisengan Keenan yang mencetuskan pertandingan berkuda ini, ia tak menyangka jika sosok pria yang ditengarai sebagai kekasih dari putrinya ini langsung menerima tantangannya. Entah anak itu bisa atau tidak, Keenan tak tahu.
Dalam hati, Keenan merasa senang melihat Declan memiliki nyali yang besar. Tidak gentar sedikitpun. Bahkan meski pria itu diremehkan oleh para keponakannya, mentalnya masih sekuat baja.
Lain dengan Keenan, lain lagi para sepupu laki-laki Daphne. Harry, Clinton, dan Kellan justru menunjukkan sikap yang tak bersahabat.
Mendengar Declan menyanggupi tantangan berkuda, mereka meresponnya dengan senyuman mengejek. Ketiganya sama-sama percaya diri untuk menang.
"Darius, Harry, Clinton, dan Kellan..kalian berempat segeralah bersiap sana!" perintah Keenan.
"Baik Om, kami akan ganti terlebih dahulu." ucap Harry mewakili.
Ketiga sepupu Daphne dengan usia rata-rata 25-30 tahun itu akhirnya beranjak dari tempat mereka berdiri, membalikkan badannya untuk masuk menuju ruang ganti.
"Pi..sebaiknya Papi tak usah ikut bertanding ya? Menonton dari jauh sudah cukup kok!" celetuk Darius yang masih tetap tinggal.
"Memangnya kenapa? kamu takut kalah saing dengan Papi?" Keenan berdecih memandangi putranya tak suka.
"Bukan begitu Pi! Darius hanya takut jika Mami tahu, Papi pasti kena amukannya. Kemarin Papi baru saja mengalami sakit pinggang bukan? Maka dari itu, biarkan kami yang muda-muda saja yang bertanding." ucap Darius yang mengusulkan Keenan untuk cukup duduk manis menonton.
"Lagipula kuda yang tersedia juga jumlahnya hanya 5. Tidak cukup untuk enam orang!" tambahnya lagi.
Meski Keenan sedikit sanksi akan pernyataan Darius, tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga dia. 3 hari yang lalu Keenan sempat mengalami insiden saat sedang nge-gym yang mengakibatkan pinggang pria paruh baya itu terasa nyeri dan sakit.
Selagi Papi dan Kakaknya berdebat, Daphne berbisik pada Declan seraya mencubit lengan Declan pelan.
"Decs, kamu jangan main-main!" ucapnya lirih.
"Aww..." Declan mengusap-usap lengannya lalu melirik Daphne. "Main-main bagaimana maksudmu, aku ini serius!"
__ADS_1
"Decs..." Daphne sedikit merengek. "Kamu tak akan bisa melawan saudara-saudaraku dalam arena pacuan kuda!"
"Aku sanggup melawan mereka." ucap Declan tanpa beban yang membuat Daphne melongo.
Selesainya Keenan dan Darius berdebat yang berakhir dengan ketidakikutsertaan Keenan dalam balap kuda kali ini, keduanya langsung menolehkan pandangannya pada Daphne dan Declan.
"Ekhhmm...ekhhmmm..." Keenan berdehem untuk mencairkan suasana.
Meskipun Daphne dan Declan bicaranya berbisik-bisik, Keenan dan Darius bisa merasakan jika ada aura ketegangan diantara mereka.
"Daphne, tolong kamu antar Decs ke ruang gantinya untuk mengambil peralatan berkuda." titah Keenan.
"Baik, Pi.." Daphne pun mengangguk pasrah dan menggiring Declan ke ruang ganti.
***
"Memangnya kamu itu bisa apa? Bagaimana kalau jatuh? Apa kamu pernah menaiki kuda sebelumnya?" seperti biasa, Daphne dengan tingkah cerewetnya kembali mencecar Declan dengan berbagai pertanyaan.
"Jika kamu bukan seorang profesional, sebaiknya jangan. Kak Darius serta sepupuku Harry, Clinton dan Kellan itu cukup handal dalam berkuda. Sudah bisa dipastikan kamu akan kalah!" ucap wanita itu pesimis.
"Memang kenapa kalau aku kalah? Kan tidak masalah juga. Setidaknya aku sudah mencoba!" Declan balik mendebat.
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kamu dipermalukan dan berujung sakit hati Decs!" sahut Daphne tulus. Kepalanya tertunduk. Jari jemarinya tanpa sadar dimain-mainkan tidak jelas.
"Tamu yang hadir di acara gathering keluarga ini jumlahnya agak sedikit banyak, sehingga pertandingan ini nanti akan menjadi tontonan yang ramai. Dalam tradisi keluarga Harper, balap kuda adalah salah satu olahraga nomor satu yang selalu menarik minat."
"Hanya satu yang aku takutkan. Mereka pasti akan mengejek dirimu habis-habisan saat kamu kalah dan aku tak suka. Hampir semua sepupuku memiliki sifat yang angkuh. Cukup kemarin saja Ashlyn mempermalukan kamu, tidak hari ini Decs..." jelas Daphne panjang lebar.
Declan tertawa kecil, "Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku selalu bersikap acuh mengenai hal itu? Ucapan mereka hanyalah angin lalu bagiku, Daph."
"Iya aku tahu..tapi tetap saja.." Daphne berdecak kesal dan memalingkan wajahnya kesamping untuk menghindari tatapan Declan.
__ADS_1
Melihat raut kekhawatiran dari wajah ayu wanita itu membuat hati Declan menghangat. Awalnya ia kira Daphne ikut meremehkannya. Namun usut punya usut, ia bisa menangkap jika secara tidak langsung Daphne hanya ingin melindunginya.
Untuk menjawab semua kegelisahan Daphne, Declan segera berdiri menghampiri kekasih pura-puranya itu, karena ia sudah selesai juga memakai sepatu.
Diraihnya kedua bahu Daphne, lalu dengan jari telunjuknya Declan mengangkat dagu Daphne agar tidak menunduk. Kedua netra mereka saling bertatapan dengan intens.
"Tak perlu ragu, aku cukup awam dengan permainan ini Daph! Sebelumnya aku pernah menaiki kuda. Sepupu kamu mungkin saja jago, tapi aku juga tak mau kalah dan mampu bersaing." jiwa kompetitif Declan mulai muncul.
"Baiklah..." Daphne akhirnya menyerah karena Declan begitu keras kepala. "Kamu sungguh yakin tidak apa-apa? Pelan-pelan saja saat mengendarainya. Tidak jadi masalah untukku kalau kamu kalah, yang penting selamat."
Meski sedang mengomel, Daphne masih tetap setia membantu Declan untuk memakai rompi pelindungnya beserta sarung tangan dan juga gum shield sebagai pelindung gigi supaya saat jatuh tidak sakit.
Safety comes first, itulah prinsipnya.
"Terima kasih." jawab Declan tersenyum tipis. Hatinya merasa senang karena diperhatikan.
Kemudian secara tiba-tiba tak ada angin ataupun hujan, Declan refleks membubuhkan sebuah kecupan manis pada kening Daphne dengan durasi yang cukup lama.
Cupp...
Sekujur tubuh Daphne terdiam membeku. Detak jantungnya berdentum kencang tak karuan. Kedua lututnya melemas. Dunianya terasa kabur dan bumi tempatnya berpijak seakan-akan berhenti berotasi.
Setelahnya, Declan menangkup wajah Daphne dan mengelus pipi wanita itu dengan penuh kelembutan. "Aku pasti akan baik-baik saja. Kita lihat di arena nanti bagaimana!"
Daphne meraba-raba dahinya yang agak sedikit basah setelah terkena bekas kecupan. "Decs..kk--kkamu baru saja..."
"Aku tahu. Maaf karena telah bersikap lancang. Tapi di belakang, ada Nenek dan Kakekmu yang memantau pergerakan kita dari jauh. Mereka datang membawa William," Declan memajukan wajahnya saat berbicara.
Degh...
Jantung Daphne kembali berpacu dengan cepat.
__ADS_1
***