The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Parker's Family Talk


__ADS_3

DECLAN


Memasuki rumah, aku langsung mendapati Mommy dan Daddy yang tengah berdiri tegap seraya melipat kedua tangannya diatas dada.


"Mom..Dad..ini sudah malam, kenapa kalian masih disini?" ucapku santai sembari melepaskan coat milikku.


"Harusnya Daddy yang bertanya padamu, dari mana saja? Mengapa baru pulang di jam yang sekarang?"


"Aku mengunjungi rumah temanku setelah keluar dari acara pesta tadi," jawabku santai.


Aku mendudukkan diri pada sofa empuk ruang tamu dan menyampirkan coat-ku diatasnya.


"Decs, kami ingin serius berbicara padamu!" tukas Mommy.


Aku sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan kedua orangtuaku ini. Mereka pasti penasaran dengan kejadian di pesta tadi. Aku akan bersiap diri untuk membuka kedua telingaku lebar-lebar mendengar omelan mereka sepanjang malam.


"Bicaralah Mom, aku mendengarkan." kurentangkan kedua tanganku secara lebar dan merebahkannya pada badan sofa.


Mommy menghela nafasnya sejenak dan berkata, "Ceritakan pada kami tentang apa yang terjadi di pesta tadi! Mengapa kamu tiba-tiba memakai seragam pelayan?"


"Aku iseng saja, Mom. Saat tiba di venue aku langsung berpencar dengan kalian sesuai dengan kesepakatan awal. Aku jalan lewat pintu belakang, masuk melalui bagian kitchen." ungkapku jujur.


"Lalu?" Daddy memandangiku dengan tatapan menyelidik.


"Ya begitulah, tak sengaja aku bertemu dengan salah satu waitress disana. Aku meminta untuk bertukar posisi dengannya untuk beberapa jam saja."


"Dan orang itu mengiyakan permintaanmu begitu saja?"


Aku tertawa kecil. "Tentu saja, Dad. Siapa yang tidak suka dengan sogokan uang?"


"Aneh-aneh saja kau ini Decs! Bagaimana bisa terbesit di pikiranmu untuk menyamar sebagai waitress?! Padahal Daddy berharap kamu bisa bertemu dengan jodohmu lewat acara itu. Tapi kamu malah berpakaian sebagai pelayan!"


Here we go..Daddy mulai mengeluarkan taringnya. Mukanya memerah menahan emosi.


Aku mendengus sebal. "Memang apa yang salah dengan pakaian seorang pelayan, Dad? Semua orang sama tak ada bedanya. Belajarlah untuk memanusiakan manusia."


"Bukan itu point-nya! Hanya saja, Daddy tadi ingin mengenalkanmu pada para rekan bisnis Daddy yang turut hadir dalam pesta tersebut. Rata-rata, mereka punya anak perempuan yang siap untuk menikah. Andai kamu tidak bertingkah konyol, Daddy pasti sudah mendapat menantu sekarang!" oceh Daddy panjang lebar.


"Percuma saja Daddy mengenalkanku pada mereka. Aku tak akan suka. Mereka hanya deretan perempuan yang matrealistis. Aku itu punya alasan tersendiri mengapa aku datang ke pesta dengan pakaian pelayan."


"Dan apa alasan dibalik itu semua?" tanya Daddy serius.


"Aku ingin menguji perempuan-perempuan yang hadir disana. Andai aku berpakaian formal dan rapi, lalu berjalan di belakang Daddy, sudah bisa dipastikan mereka akan otomatis datang mendekat. Lihat saja tadi, saat aku memakai seragam pelayan..tak ada satupun wanita yang menggubrisku. Mereka begitu acuh dan memandangku dengan sebelah mata."


"Tentu saja mereka tak memandangmu, itu karena mereka berpikir kamu sedang fokus bekerja menjadi pelayan yang bertugas mengantar makanan Declan!"


"You just proved my point, Dad..." aku mengambil permen dari toples di meja ruang tamu dan memasukkannya kedalam mulutku.


Aku sadar dengan sikapku yang seperti ini pasti membuat Daddy dan Mommy semakin kesal. Tapi tak masalah, aku suka ekspresi mereka yang sedang jengkel.


"Lupakan tentang kamu yang menyamar menjadi pelayan. Satu pertanyaan Mommy, kenapa tadi kamu basah kuyup dan bajumu berubah kotor? Apa kamu terjatuh atau bagaimana?"


"Aku tidak terjatuh, tapi ada seorang wanita yang secara sengaja menyiram jus jeruk dan menumpahkan sepiring pasta bolognese padaku!" ucapku blak-blakan.

__ADS_1


"APAAA?!!!" Mommy dan Daddy berteriak kencang berbarengan.


"SIAPA YANG SUDAH BERANI BERBUAT SEPERTI ITU PADAMU? KATAKAN, BIAR DADDY YANG MEMBALASNYA!" suara Daddy yang sedang mengomel begitu memekakkan telinga.


"Tenanglah Dad, aku baik-baik saja."


"Tidak bisa, Daddy harus buat perhitungan pada wanita itu. Berani-beraninya kamu dipermalukan didepan umum. Wanita itu harus dibalas!" ujar Daddy tak terima.


Mommy mencoba menenangkan Daddy dengan mengajaknya duduk pada sofa seberang. Dielusnya punggung Daddy secara perlahan oleh Mommy dengan harapan emosinya dapat terkontrol.


Mommy membuka mulutnya dan bertanya, "Terus, perempuan yang berdiri tepat disebelahmu tadi siapa Decs?"


"Ohh...dia." aku menjeda perkataanku sejenak sebelum mengeluarkan bom yang dapat mengagetkan mereka. "Perempuan itu kekasihku."


Duar...


Kedua bola mata orangtuaku sama-sama terbelalak. Mulut mereka menganga lebar. Tubuh mereka terasa kaku dan gerakan tangannya refleks berhenti sesaat. Mommy dan Daddy sampai saling menatap satu sama lain saking terkejutnya.


"Kamu jangan main-main, Decs! Kamu suka sekali sih membuat kami jantungan!" nada suara Mommy terdengar sinis.


Aku berjalan mendekat pada orangtuaku dan berjongkok dengan menekuk satu lututku dihadapan mereka. "Aku tak bercanda Mom, aku serius. Dia memang pacarku. Namanya Daphne."


"Gg--gadis berambut pirang dengan dress berwarna hijau mint tadi kk--kekasihmu?" tanya Mommy terbata-bata.


Aku meraih punggung tangan Mommy dan mengecupnya sekilas. "Yes, Mom. She's my girlfriend."


"Sejak kapan Decs? Kamu tidak pernah memberitahukan ini pada Mommy?"


Mommy menatapku dengan keraguan, "Maksud kamu apa, Decs?"


"Kami baru saja jadian waktu di pesta tadi."


"Baru jadian bagaimana? Kamu baru menyatakan cinta padanya begitu?" tanya Mommy sekali lagi untuk memastikan.


"Hmm..tidak bisa dibilang pacaran juga sebenarnya. Kami hanya berpura-pura saja pacarannya."


Brukkk...


Mommy dan Daddy sontak memundurkan tubuhnya ke belakang untuk bersandar pada sofa seraya menatap langit-langit ruangan.


"Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat di masa lalu sehingga punya anak badung seperti ini!" keluh Daddy.


"Atas dasar apa kamu mau berpura-pura pacaran dengannya, Declan?" dengan tubuh lemasnya Mommy masih mengajakku berbicara.


Aku menjawab, "Hanya dia satu-satunya wanita disana yang melihatku sebagai seorang pria meskipun aku hanya seorang pelayan, Mom."


Mommy dan Daddy tertegun sebentar sebelum kembali duduk tegap.


"Orang yang tadi menyiramkan jus jeruk padaku adalah sepupunya Daphne. Dan ketika aku dipermalukan didepan umum, Daphne yang menolongku. Membawaku keluar dari kerumunan dan memberikan sapu tangannya supaya aku bisa membersihkan wajahku."


Kedua orangtuaku semakin larut dalam cerita sehingga mereka terdiam sambil menyimak pernyataanku baik-baik.


"Sampai suatu ketika, Neneknya Daphne menghampiri kami yang sedang berbincang di sudut ruangan. Nenek dan sepupunya sama-sama memojokkan Daphne."

__ADS_1


"Mengapa begitu?"


"Mereka mengatai Daphne dengan sebutan perempuan tidak laku, atau istilah lainnya perawan tua. Dan itu mereka lakukan didepan umum."


Mommy refleks menutup mulutnya. "Tega sekali keluarganya!"


"Bukankah Mommy dan Daddy sama saja, sering mengejekku dengan kata-kata perjaka tua?!" sindirku pada mereka.


"Jangan kamu samakan ya! Meskipun Mommy dan Daddy sering memaksamu menikah, tapi kami masih tahu batasannya! Sudahlah..lanjutkan cerita tentang Daphne itu!" kata Daddy tak sabaran membuatku terkekeh.


Akhirnya aku melanjutkannya pembahasan kami tadi. "Daphne sudah dijodohkan dengan William Anthony, Daddy pasti tahu kan?"


"William Anthony? Tentu saja Daddy tahu, ayahnya itu sangat sombong. Itulah sebabnya Daddy batal menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan mereka."


Aku mengangguk paham. "Daphne juga menolak dijodohkan dengan William. Itulah sebabnya dia mengatakan pada semua orang yang hadir disana kalau aku ini kekasihnya."


"Wow..jadi dia mengakuimu sebagai kekasih saat kamu masih menggunakan seragam waitress? Bagaimana bisa?" Daddy sedikit tercengang dengan fakta itu.


"Entahlah, Dad?! Mungkin karena kebetulan aku ada disampingnya. Jadi spontanitas saja."


"Selanjutnya bagaimana, Decs? Kalian memutuskan untuk melanjutkan sandiwara pacaran ini?"


"Iya, Mom...Dad..bahkan orang tua Daphne mengundangku datang ke rumahnya besok."


Daddy terlihat berpikir keras. "Tunggu-tunggu sebentar, dari tadi kamu berbicara tentang Daphne..Daphne. Daddy sepertinya tidak asing dengan nama itu."


Mommy lanjut menimpali, "Mommy juga merasakan hal yang sama, Dad. Saat tadi melihat wajahnya sekilas dibalik kerumunan, Mommy seperti pernah mengenalnya."


"Daphne itu masih ada hubungan keluarga dengan mempelai wanita. Yang menikah kan sepupunya," aku menerangkan.


"Kalau begitu, dia pasti merupakan bagian dari anggota keluarga Harper?!"


Aku membalas pertanyaan Daddy dengan sebuah anggukan santai.


Daddy berdiri dari sofa dan terlihat girang. "Astaga!!! Mom...Decs..Daddy baru ingat!"


"Ingat apa Dad?" tanyaku penasaran.


"Dia anak perempuannya Keenan!" ucap Daddy semangat.


Aku mengernyitkan keningku kebingungan. "Daddy mengenal mereka?"


"Tentu saja kenal, ayahnya Daphne itu namanya Keenan. Dia teman masa kuliah Daddy dulunya. Kami pernah bertemu di acara reuni angkatan. Saat itu istri Keenan sedang pergi keluar kota, jadi Daphne yang menemaninya."


Daddy memeluk Mommy dengan erat sambil mengecupi seluruh wajahnya bertubi-tubi. "Mom, sebentar lagi impian kita memiliki menantu akan terwujud."


Pandangan Daddy beralih padaku. "Declan putraku, Daddy merestui hubungan kamu dengan Daphne!"


Singkat. Padat. Dan jelas.


Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Daddy sebelum ia pergi meninggalkanku dan menuju kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2