
DAPHNE
Decs menang.
Kekasih pura-puraku itu telah secara resmi memenangkan kompetisi menunggang kuda melawan kakakku dan sepupu-sepupuku. Urutan pertama pula.
Wow. Ini mengejutkan.
Bagaimana bisa dia melakukannya? Aku bahkan sampai melongo tidak percaya melihat aksinya di lintasan yang begitu keren. Tanganku bertepuk tangan namun pandanganku kosong.
Ada yang berteriak bersorak-sorai, ada pula bisikan-bisikan tidak enak yang berasal dari arah bangku belakang mulai terdengar. Para anggota keluarga Harper lainnya yang ikut menonton kini sedang membicarakan Decs.
Sekilas aku melirik kearah Nenek dan Kakek yang duduk berdampingan dengan William. Aku penasaran dengan reaksi mereka bagaimana setelah tahu Decs menang.
Dan seperti dugaanku. Ketika aku menoleh, raut wajah ketiganya tampak begitu sinis. Terpampang jelas sekali rasa tak suka tergambar pada masing-masing wajah mereka. Terutama William.
Puas sekali rasanya kala melihat mereka kalah. Ingin hati aku berselebrasi merayakan kemenangan Decs dengan suara lantang hingga membuat Kakek, Nenek, serta William jadi panas hati. Namun niat itu aku urungkan karena aku harus bermain cantik.
Papi menyenggol lenganku, otomatis lamunan angan-anganku tadi terbuyarkan, "Daph...kamu tidak bilang pada Papi kalau ternyata Decs jago dalam berkuda. Bisa mengalahkan Darius itu pencapaian yang luar biasa. Tahu begitu kamu tidak perlu repot-repot melarangnya ikut bertanding tadi!"
Aku tersenyum canggung. "Ehh...iy--iya Papi, Decs memang tidak ingin terlalu menyombongkan diri. Biar kemampuannya sendiri yang bicara." ucapku beralasan.
Jangankan Papi, aku sendiri saja tidak tahu jika Decs sehebat itu. Belajar dari mana dia? Semakin curiga saja aku tentang asal-usul dirinya.
"Kalau diperhatikan baik-baik, Decs itu sepertinya sangat gagah dan berwibawa." Mami tiba-tiba menimpali. "Orangnya juga tampan, Daph. Kamu pintar memilih kekasih!"
"Papi setuju dengan Mami. Decs tak terlalu buruk juga jika dilihat-lihat." Papi membenarkan ucapan istrinya.
Aku refleks bergantian memandangi kedua orangtuaku dengan kebingungan, menoleh kanan kiri karena posisiku yang ter-apit diantara mereka.
"Aku tidak salah dengar kan? Apa Papi dan Mami baru saja memuji Decs?" aku sedikit ragu.
Kemarin Mami dan Papi terdengar begitu antipati dengan fakta bahwa Decs adalah kekasihku. Apalagi setelah mereka tahu profesi Decs yang sesungguhnya. Semakin drop saja mereka. Mengapa sekarang berubah?
"Tak penting soal itu, sebaiknya kamu hampiri saja pacarmu! Lihatlah, dia sudah memasukkan Amber ke kandangnya." kata Papi.
__ADS_1
"Iya Pi..kalau begitu aku turun dulu." aku kemudian menoleh kearah Mami. "Mami, aku permisi dulu ya!"
"Iya sayang.." Mami menangkup sisi kanan wajahku dan mengusap lembut pipiku.
***
Berjalan memasuki arah rumah kandang, tempat dimana para jajaran kuda diparkir, aku langsung mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Decs. Disana tampaknya sepi, aku bahkan tak melihat siapa-siapa.
Kakakku Darius dan sepupu-sepupuku yang lainnya menghilang entah kemana setelah pertandingan. Yang ada hanyalah kuda-kuda mereka yang ditinggalkan begitu saja untuk diurus oleh para pekerja.
Sampai suatu ketika, aku melihat Declan ada di pojokan. Dia tampak begitu gagah duduk diatas kuda dengan atribut berkuda yang masih menempel lengkap.
"Decs!!" aku berteriak memanggil namanya dari jauh sambil melambai-lambaikan tanganku yang membuat Decs sontak menoleh.
Walaupun jarak kami tidak terlalu dekat, dari sini aku bisa tahu jika dia sedang menyunggingkan senyumnya.
Pria itu segera turun dari kudanya dan menghampiriku, membiarkan para pekerja disana untuk lanjut mengurusi Amber.
Saking tak sabarannya karena Decs jalannya lambat, aku inisiatif berlari kecil mengejarnya dan menubrukkan diri pada tubuhnya yang kokoh itu. "Congratulations Decs, kamu menang!" ucapku saat kami berpelukan.
"Hey..easy..jangan lari-lari!" tidak aku sangka Decs justru menyambut pelukanku dengan tangan terbuka.
Tadinya aku pikir suasana diantara kami akan terasa canggung. Tapi dugaan itu semua sudah ditepis.
"I'm so happy! Kamu hebat sekali bisa mengalahkan mereka..."
Decs terkekeh sejenak. "Sudah aku bilang kan, jangan terlalu pesimis! Aku bisa menang, bahkan hanya dengan mengendarai Amber, si kuda underdogs itu."
Aku memutar bola mataku jengah sembari melipat tanganku diatas dadaa. "Bagaimana tidak pesimis, aku kan belum tahu betul kemampuan kamu di lapangan seperti apa."
"Tentunya tidak salah kan jika aku ragu? Apalagi kamu itu sedang bertanding melawan Kakakku Darius!" sambungku lagi.
"Kenapa memangnya Kak Darius? Apa dia tergolong orang yang jago?" Decs balik bertanya. Usia Decs dengan kakakku beda tiga tahun, lebih tua Kak Darius. Itulah kenapa dia memanggilnya dengan sebutan Kakak.
"Aku sih bisa maklum jika kamu mengalahkan Harry, Clinton, dan Kellan. Tapi kalau Kak Darius..rasanya mustahil. Kak Darius sering ikut kompetisi berkuda dan selalu mendapat medali," ujarku santai.
__ADS_1
Aku jadi mulai curiga kalau Decs ini pemain profesional. Aksinya tadi terlihat sungguh berbeda. Bukan seperti orang amatiran.
"Katakan padaku dengan jujur Decs, kamu bukan hanya pernah naik kuda biasa kan? Aku yakin kamu pasti sudah pro sehingga dapat bermain apik seperti tadi!" tatapanku begitu menyelidik.
Decs menggeleng. "Semuanya kebetulan. Mungkin hari ini bukan hari keberuntungan Kak Darius saja."
Jelas sekali dia tak mau mengaku. Biarkan sajalah, aku tak mau terlalu memaksa.
"Oh ya ngomong-ngomong, Papi dan Mamiku tadi ikut berdecak kagum melihatmu di arena lho! Mereka berdua bilang kamu keren!" ungkapku jujur.
"Really? Secepat itukah hati mereka bisa luluh?" Decs mengernyitkan keningnya tak percaya.
"Hey..Mami dan Papiku itu orangnya baik! Sifat mereka jauh berbeda dari saudaraku yang lain. Bisa dibilang sangat bertolak belakang." kataku membela.
Papi dan Mami memang kerap kali bersebrangan dengan visi misi dari Keluarga Harper. Banyak ideologi dan gagasan yang diterapkan Nenek dan Kakek tidak bisa diterima oleh mereka.
Belum lama kami berbicara, tiba-tiba dari arah belakang Kak Darius datang mendekat dan langsung menepuk-nepuk pelan pundak Decs. Pelukan kami akhirnya terlepas.
"Selamat atas kemenanganmu tadi. Harus kuakui, kamu memang luar biasa," celetuk Kak Darius tersenyum ramah.
Decs menunduk sebentar karena tersanjung mendapat pujian. "Terima kasih. Anda juga tak kalah hebatnya. Jarak kita sangatlah tipis saat di garis finish. I'm just lucky today..."
Kak Darius kembali berkata, "Jangan terlalu merendah! Kamu memang hebat dan kamu harus bangga dengan itu. Bertahun-tahun aku belajar berkuda, baru kali ini aku bertemu dengan saingan yang sepadan."
Declan menanggapinya dengan senyuman tipis. Dia lalu mensejajarkan tubuhnya berdiri disampingku. Diraihnya bahuku pelan-pelan dan diusap-usapnya lenganku secara lembut.
Dan entah kenapa, mendadak aku jadi terbawa suasana dengan physical touch yang dilakukannya ini.
"Decs, menginap lah malam ini di farmhouse kami! Acara gathering keluarga Harper baru berakhir besok. Nanti malam akan ada acara pertunjukan lampion di danau belakang dan juga barbeque bersama. Kamu harus ikut biar acara semakin seru..." ajak Kak Darius untuk memecahkan keheningan diantara kami.
"Baik, Kak..atur saja. Aku bersedia," jawab Decs secepat kilat hingga membuat mataku terbelalak kaget.
Pria disampingku ini dengan entengnya mau ikut-ikut saja tanpa berdiskusi terlebih dahulu denganku. Awas saja nanti dia!
"Bagus kalau begitu..senang mendengarnya. Mari, sekarang sudah waktunya jam makan siang. Ayo kita menuju pelataran taman!" tukas Kak Darius.
__ADS_1
Aku dan Decs sama-sama mengangguk menuruti perkataannya.
***