
AUTHOR POV
Tidak ada pilihan lain. Setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Daphne memutuskan untuk menyusul Decs yang tengah membawa mobilnya. Jika bertanya mau menyusul kemana, Daphne tidak tahu jawabannya.
Tapi yang jelas, didalam mobil kesayangan Daphne itu sudah terpasang GPS serta CCTV kecil yang dapat dilacak dan diakses dengan mudahnya melalui sambungan smartphone. Dengan begitu, Daphne jadi mengerti dimana lokasi keberadaan Declan.
Keluar dari kamar dengan langkah yang tergesa-gesa. Tingkah aneh Daphne itu dipergoki oleh kedua orang tuanya yang kebetulan sedang ngobrol, membicarakan dekorasi table setting untuk makan malam nanti.
"Daph, kamu mau pergi kemana sayang?" tanya Eva pada putrinya.
"Iya Daph, kenapa terburu-buru sekali?" Keenan ikut menimpali.
Tertangkaplah sudah aksi Daphne yang berniat hendak kabur diam-diam. Posisi tubuhnya yang tengah memunggungi Mami dan Papinya kini berbalik.
"Ehh..ada Mami dan Papi.." lirihnya sambil tersenyum meringis.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Papi, Daph..mengapa kamu terlihat buru-buru?" desak Keenan yang masih penasaran.
Jikalau sudah terpojok begini, mau tidak mau Daphne mengakui saja karena mau mengelak pun percuma. Dirinya tak pandai berbohong. "Hmm..boleh aku minta izin sama Papi dan Mami? Aku harus pergi keluar sebentar."
"Mau pergi kemana? Kita kan sedang ada acara gathering keluarga, sebaiknya kamu tetap stay disini saja." Keenan tak setuju jika putrinya keluyuran diluar sana.
Sebagai anak dari tuan rumah penggelar acara, memang rasanya tidak etis saja kalau Daphne tidak mendampingi keluarganya yang sibuk menjamu.
Mengalihkan pembicaraan sang suami, Eva pub bertanya, "Ngomong-ngomong dimana Decs? Apa dia tidak bersamamu?"
"Hmm...Decs juga sebenarnya sedang pergi keluar Mami. Itu sebabnya aku sekarang mau pergi untuk menyusulnya."
"Decs pergi? Kenapa kami bisa tidak tahu dia pergi? Dan kamu pun juga mau ikut pergi? Sebenarnya kalian berdua ini mau kemana sih?"
"It--itu...Decs sedang pergi mengambil kotak kosmetik milikku yang tertinggal di rumah." dalam hati Daphne merutuki diri sendiri yang sudah berani berbohong pada ibunya.
"Astaga! Untuk apa kamu menyuruhnya mengambil?" Eva menggelengkan kepalanya seraya berdecak keheranan.
"Daphne membutuhkan kotak makeup itu, Mi! Beberapa jam lagi acara makan malam dan pesta barbeque keluarga Harper akan dimulai. Selain untuk berdandan, beberapa aksesoris dan perhiasan Daphne juga ada didalam kotak itu! Makanya Daphne sangat butuh.."
"Daphne sayang..jarak dari farmhouse ke rumah kita itu jauh sekali. Merepotkan Decs saja kamu ini! Padahal jika kamu ingin, Mami bisa memanggil salah satu MUA langganan Mami untuk datang kemari. Perkara perhiasan pun Mami bisa pinjamkan!" tukas Eva yang meninggikan suaranya. Dia terlanjur gemas melihat putrinya ini.
"Itu juga Decs kenapa menurut saja kamu suruh-suruh!" celetuk Keenan. "Apa Decs tahu alamat rumah kita di New York? Kamu kan belum pernah membawanya kesana."
__ADS_1
"Jaman sekarang sudah canggih Pi, Decs bisa melihat dari maps yang tersambung di mobilku!" jawab Daphne.
"Mobil kamu? Jadi Decs pergi membawa mobil kamu begitu?"
Daphne menjawab, "Iya Pi, aku memang sengaja meminjamkannya. Papi kan tahu sendiri kalau di area farmhouse ini tidak ada kendaraan umum yang lewat karena lokasinya yang ekslusif."
Keenan dan Eva saling menatap satu sama lain dengan raut wajah kurang mengenakkan. Menurut mereka Daphne terlalu ceroboh dalam hal ini karena terlalu percaya begitu saja pada kekasihnya.
Keenan curiga jika mobil itu dibawa lari. Bukan masalah takut kerugian materinya. Keenan bisa saja membelikan putrinya mobil yang baru. Tapi konsepnya tidak begitu. Ini tentang kewaspadaan.
"Daphne minta maaf Mi..Pi..bukan keinginan Daphne untuk memaksanya mengambil. Tapi memang Decs sendiri yang tiba-tiba berinisiatif." Daphne kembali beralasan sembari memainkan jari-jemarinya karena gugup.
"Ya sudah, kalau begitu kamu susul saja Decs. Lacak lewat GPS, itu mobil kamu sampai mana. Untung saja jam makan malam masih lama. Papi akan beri kamu waktu kurang lebih 3 jam untuk segera kembali kesini. Nanti kamu perginya diantar sama supir Papi saja!" perintah Keenan.
"Baik Pi..Mi..terima kasih! Aku pasti akan segera kembali. Aku mencintai kalian!" Daphne membubuhkan kecupan-kecupan kecilnya pada masing-masing pipi kedua orangtuanya itu sebelum berpamitan.
Mengantongi izin dari Keenan untuk pergi sejenak, membuat hati Daphne sedikit lega. Detik setelahnya wanita itu buru-buru berjalan ke halaman depan untuk menemui Greg, supir pribadi Papinya. Daphne akan meminta pria itu untuk mengantarkannya menyusul Decs.
***
Sementara itu di Parker Group. Declan nampaknya masih bersitegang dengan mantan tunangannya yang bernama Inggrid.
Sudah hampir satu jam lebih lamanya mereka berdua berbincang-bincang. Ralat, bukan keduanya melainkan hanya Inggrid saja yang mengoceh. Sedangkan Declan memilih untuk tidak berkomentar karena malas.
"Declan..kenapa kamu bersikap abai padaku? Tidak bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Tolong beri aku respon..setidaknya hatiku akan tenang jika kamu mengeluarkan suara meskipun itu hanya satu atau dua patah kata.." pinta Inggrid memelas. Wajahnya sudah terlihat pasrah.
"Sudah aku katakan beribu-ribu kali, Nona Tiffin...sampai kapanpun, saya tidak akan pernah untuk mendengar pembelaan kamu. Bagi saya itu semua sudah basi. Daripada kamu sibuk menjelaskan abcde tentang pembenaran opini kamu, sebaiknya kamu telepon saja atasanmu. Sampai dimana itu Tuan Fitzgerald? Saya tak punya banyak waktu untuk meladeni kamu!" ketus Declan.
Dia jadi kesal sendiri karena klien dari Belgia itu tak kunjung tiba. Padahal Declan sedang diburu waktu. Dia sudah berjanji pada Daphne untuk membereskan urusannya dengan cepat. Namun keterlambatan Tuan Fitzgerald membuat urusannya terhambat.
Untuk mengurangi emosinya yang sedang membuncah, Declan mengalihkannya dengan lanjut menyeruput jus jambunya yang sudah tinggal separuh diatas meja. Lama menunggu tamu kebesaran dari Belgia datang, membuat Declan terus-terusan minum.
"Tunggulah sebentar..memangnya kamu mau ada urusan lagi setelah ini?" tanya Inggrid.
Declan berdehem. "Hmm..saya harus menghadiri jamuan makan malam dari keluarga pacar saya." jawabnya santai.
Dan,
Duarrr!!
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, hati Inggrid rasanya sungguh remuk mendengar pernyataan Declan yang telah memiliki kekasih.
"Kk--kamu ss--sudah punya pacar?" Inggrid terbata-bata ketika bertanya.
"Tentu saja punya. Kamu pikir aku ini pria single yang mengenaskan apa!" ucap Declan tak terima.
Padahal sebenarnya memang semenjak putus dari Inggrid, Declan belum ada tambatan hati sampai ia bertemu dengan Daphne kemarin persis.
Sengaja Declan terus mengompori Inggrid supaya hatinya semakin panas. Dia bukanlah pria bodoh yang tak tahu maksud Inggrid. Bukannya Declan mau sok percaya diri, tapi dari gelagatnya..Declan bisa membaca kalau Inggrid masih menginginkannya kembali.
"Kamu bohong kan? Tak mungkin kamu punya pacar...jika iya, mengapa beritanya tak muncul di media?" debat Inggrid yang masih mengeyel.
"Hihhh..memangnya hubungan percintaanku itu harus selalu jadi konsumsi publik? Rendah sekali pemikiranmu. Aku memang sengaja tak mau showoff untuk melindungi keselamatan kekasihku. Itu sebabnya banyak yang tidak tahu!" Declan balas menyahuti.
Namun beberapa menit setelah keheningan lama menggantung diantara keduanya, Declan tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Mendadak sekujur tubuhnya terasa panas dan bergetar. Muncul keringat dingin pada telapak tangannya. Jantung Declan berdegup kencang seperti gendang yang bertalu. Rasanya begitu menyiksa hingga dada Declan terasa penuh sesak.
"Decs..kk--kamu tidak apa-apa kan?" Inggrid beranjak dari kursinya dan menghampiri Declan. Perempuan itu juga memberi usapan halus pada punggung tangan Declan.
"Lepaskan! Jangan dekat saya!" Declan menepis kasar tangan Inggrid.
Menyadari ada yang tidak beres, sontak Declan menoleh pada gelas minuman didekatnya.
Jus jambu itu.
Declan mendapatkan reaksi aneh pada tubuhnya setelah ia meminum segelas jus jambu itu hingga tandas. Apakah ia sedang diracun?
Tatapan Declan berubah tajam dan nyalang pada Inggrid. "Apa yang kamu lakukan Inggrid!" bentaknya kasar.
"Akk--aku..aku..."
"Kamu pasti mencampuri minumanku dengan sesuatu kan?" Declan menaruh kecurigaan yang besar.
Dirinya begitu kecolongan. Bagaimana bisa? Bukankah sejak tadi mereka bersama-sama. Dari sini Declan dapat menyimpulkan kalau Inggrid pasti bekerja sama dengan pegawai pantry-nya yang tadi mengantar minuman ke ruang meeting.
"Declan, aku bisa jelaskan--"
"Dasar perempuan murahan!" ucap Declan lantang sambil mendorong Inggrid hingga tubuhnya tersungkur di lantai.
__ADS_1
Tanpa disadari, Inggrid telah memantik amarah Declan yang tengah berada di pucuk ubun-ubun.
***