The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Party Disaster


__ADS_3

AUTHOR POV


Ditengah-tengah kemelut drama keluarga Harper. Dari balik kerumunan, Wyatt dan Irene sontak terkejut melihat putra tunggal kesayangannya, yaitu Declan sedang berada dalam lingkaran keributan itu.


"Sayang, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Declan? Kenapa dia bisa ada disitu?" bisik Irene pada sang suami.


"Aku juga tidak tahu sayang, kita kan baru saja tiba disini," balas Wyatt.


Irene menepuk bahu suaminya lalu jarinya menunjuk kearah Declan. "Coba perhatikan putra kita baik-baik! Bagaimana bisa secara tiba-tiba dia memakai seragam pelayan? Rambutnya yang biasa klimis terlihat acak-acakan dan basah. Di pakaiannya pun terdapat noda merah kotor. Apa yang sebenarnya terjadi pada Declan?"


"Awas saja anak nakal itu, saat di rumah nanti kita harus menginterogasinya!" Wyatt menggeram kesal.


***


Sementara itu, Daphne kini mulai berjalan mendekati sang ayah dan berkata, "Papi, sudahlah..jangan membuatnya tertekan seperti itu."


"Siapa yang membuatnya tertekan Daph, Papi hanya mengundangnya untuk datang ke rumah. Itu saja kok!" timpal Keenan.


"Terus kalau dia sudah datang ke rumah, Papi mau apakan dia? Mau diwawancara? Mau diinterogasi? Sudah Papi, lupakan saja..." ucap Daphne yang sedikit berbisik tepat di telinga sang ayah.


Keenan melirik putrinya sekilas, "Jangan berlebihan Daph! Papi hanya ingin kenal lebih dekat dengan kekasihmu ini. Lagipula, kenapa kamu tak pernah bilang kalau sudah punya kekasih?" Keenan balik bertanya.


"Ak--aku hhh--hanya belum siap saja.." ucap Daphne terbata-bata.


Declan yang berdiri dari kejauhan sedikit menguping pembicaraan anak dan ayah tersebut. "Tak apa Daph, aku akan datang ke rumahmu." ucapnya lantang.

__ADS_1


Dengan santainya Declan menyanggupi permintaan dari Keenan untuk berkunjung ke rumahnya. Pikir Declan, tak ada salahnya menerima ajakan tersebut. Gejolak dalam hatinya seakan-akan tertantang.


Glekkk....


Daphne terkejut bukan kepalang. Pria ini kenapa justru semakin memperumit keadaan? Sudah bagus tadi Daphne mengalihkan perhatian Papinya.


"Anda tentukan saja hari dan tanggalnya, Tuan. Saya pastikan untuk hadir." jawab Declan dengan tegas tanpa keraguan.


"Bagus. Saya senang mendengarnya. Kalau besok saja bagaimana? Lebih cepat lebih baik bukan?" Keenan ingin mengetes seberapa besar keseriusan Declan dalam menjalin kasih dengan Daphne.


Keenan sendiri bukanlah tipe orang tua kolot yang suka memandang orang dari segi status dan fisiknya. Bagi Keenan, yang penting Daphne bahagia.


Meskipun begitu, ia juga tentunya punya standar tersendiri terhadap pria-pria yang ingin memacari atau bahkan menikahi putrinya. Pria itu harus bertanggung jawab, setia, dan juga tulus mencintai Daphne hingga maut memisahkan.


Daphne ingin segera menghentikan omong kosong ini. Sayangnya, yang dimintai tolong juga ikutan diam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Daphne. Ketika Papi Keenan sudah bersabda, maka tidak ada yang berani membantah.


Keenan memilih abai akan perkataan Daphne. Ia justru lebih tertarik untuk bertatap mata langsung dengan Declan. Pria yang ditengarai sebagai kekasih dari princess kesayangannya.


"Besok Minggu pukul 8 pagi, datanglah ke kediaman Daphne. Kebetulan kami sekeluarga sedang mengadakan acara ramah tamah keluarga besar. Akan ada banyak kegiatan dan games yang menarik disana."


Declan mengangguk siap. "Baiklah Tuan, dengan senang hati saya akan memenuhi undangan anda."


Tubuh Daphne lemas seketika. Ini murni salahnya. Berawal dari kecerobohannya yang begitu gegabah mengklaim seorang pria asing sebagai pacarnya. Dan kini ia harus terjebak dengan permainan yang dibuatnya sendiri.


Daphne kemudian buru-buru menarik tangan Declan untuk menghindar dari kerumunan. Mengacuhkan segerombol keluarga besarnya yang tengah berkumpul jadi satu.

__ADS_1


Keenan dan Darius ingin sekali mengejar Daphne yang mulai menjauh dari radar, namun Mami Eva mengentikan langkah mereka.


"Biarkan Daphne tenang dulu, dia butuh ruang untuk berbicara dengan kekasihnya." ucap Eva dengan bijaknya sambil menggandeng lengan suami dan putranya untuk kembali ke tempat semula.


Ketiganya pun saling mendekat, mengikis jarak untuk berbisik merundingkan sesuatu.


"Papi..Mami..entah mengapa aku tidak begitu yakin jika laki-laki itu kekasih Daphne." Darius masih meragukan tindak-tanduk adiknya yang terlihat mencurigakan tadi.


Pergerakan Daphne yang terlihat tak seperti biasanya dapat dibaca dengan mudahnya oleh Darius. Satu rahasia yang tidak banyak diketahui oleh khalayak, diam-diam Darius itu menyewa bodyguard bayangan untuk mengawasi adiknya dari kejauhan.


Dalam laporan kegiatan adiknya yang rutin didapat hampir setiap seminggu sekali, tak sekalipun disebutkan disana kalau Daphne memiliki kekasih ataupun sedang dekat dengan seseorang.


Keenan menyentuh bahu putranya sambil berkata, "Itulah sebabnya mengapa Papi mengundang pria itu ke rumah. Karena Papi juga sama sepertimu yang tidak yakin, Dar!"


"Ahh..jadi Papi punya rencana terselubung?"


Keenan tertawa kecil. "Kurang lebih seperti itulah.."


Darius mengangguk patuh. Selanjutnya ia akan serahkan urusan ini pada Papinya.


"Kamu tolong bawa Mami dan istrimu kembali ke table, biar Papi urus Nenek dan Kakekmu dulu. Sekalian juga Papi mau minta maaf pada Hadley dan orangtuanya atas kekacauan pesta mereka hari ini," perintah Keenan.


"Baik, Pi..." Darius langsung mengiyakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2