The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Doing It (Part 2)


__ADS_3

DECLAN POV


Aku sungguh tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Daphne. Wanita ini sangat gila. Dia benar-benar mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal. Apa semudah itukah memberikan mahkota berharganya pada pria yang baru saja dikenalnya kemarin sore sepertiku? Aneh.


Beruntung aku ini bukanlah pria yang suka bergonta-ganti perempuan. Melakukan cinta satu malam dengan wanita random sama sekali bukan gayaku. Kalau aku seorang player sejati, tanpa pikir panjang lagi Daphne pasti sudah kuterjang sedari tadi. Lucky her, aku belum kehilangan kewarasanku.


Ketika hasratt keinginan bercintaa sudah terasa hingga ke ubun-ubun, maka aku akan melakukannya dengan kekasihku sendiri. Tak pernah sekalipun aku berpikir untuk selingkuh, justru merekalah yang bermain api di belakangku. Pantang bagiku mendial wanita panggilan sekenanya.


Ehh..tunggu sebentar..


Bukankah Daphne kekasihku juga? Seharusnya tidak apa-apa kan jika kami melakukan aktivitas seksuaal?


Ah tidak..tidak..dia hanya kekasih pura-puraku. Ingat itu Declan! Ingatlah hal itu.


"Decs, kenapa kamu diam saja? I'm totally okay with it..." Daphne menatapku dengan puppy-eyes nya yang begitu manis dan polos.


Oh Tuhan, bantu aku menahan gejolak perasaan ini!


Kemudian aku menggelengkan kepalaku, beriringan dengan peluh yang menetes dari dahi. "Kamu belum siap Daph!" lirihku pelan.


"I'm more than ready. Lagipula lihatlah dirimu sendiri, kamu tampak begitu pucat. Aku semakin khawatir saja!" ujar Daphne sembari tangannya mengusap keringatku yang bercucuran pada area pelipis.


Daphne tidak sepenuhnya bersalah. Aku memang sedang mati-matian menahan diri untuk tidak menyergapnya, mencumbunyaa, menggendongnya, dan membaringkan tubuh rampingnya keatas ranjang di ruanganku. Pantas jika aku pucat.


Astaga! Kenapa aku jadi berfantasi yang tidak-tidak tentangnya. Tamatlah riwayatku.


"Daripada kamu tersiksa seperti ini! Lebih baik kita lakukan saja-"


"Kamu yakin sudah siap? Karena sekali kita melakukannya, maka aku tidak akan bisa berhenti ditengah jalan. Aku tidak mau stop sebelum aku merasakan kepuasan itu!" sergahku memotong pembicaraannya.


"Tidak ada salahnya mencoba bukan. Karena sebenarnya aku selalu penasaran. 25 tahun hidup di dunia, aku masih virgin. So, I'm on it!" Daphne terdengar percaya diri.


Jiwaku semakin goyah saja melihat Daphne yang perasannya tidak gentar sedikitpun. Detik berikutnya, tiba-tiba Daphne berdiri. Melangkahkan kakinya untuk mengangkat tubuhku masuk kedalam ruangan.


Tidak bisa dikatakan mengangkat juga sih, melainkan Daphne menyeretku kearah sofa. Setelah aku bisa duduk dengan sempurna diatasnya, secara mengejutkan wanita itu segera mengunci pintu ruangan.


Daphne membalikkan badannya sehingga rambut pirangnya ikut tersibak. "Jangan banyak berpikir Decs, lakukan saja ayo!"


"Kenapa malah kamu yang terlihat begitu bersemangat Daph, seharusnya kan ini terjadi padaku?!"


"Kamu terlalu lama membaca situasi Decs!" Daphne tersenyum menyeringai bagaikan mengejekku.


"Oh God! Maaf, aku sudah tidak tahan lagi Daph!" persetann dengan ini semua.

__ADS_1


Dengan sangat amat terpaksa, aku refleks bangkit dari tempat dudukku dan buru-buru menghampiri Daphne yang masih setia berdiri diambang pintu.


Kudorong dirinya ke belakang, sehingga aku menjepit tubuhnya pada dinding. Kuciumm bibirnya dengan penuh kelembutan dan penuh damba.


Aku senang Daphne tidak bersikap pasif. Dia pun juga ikut membalas aksiku dengan mengalungkan lengan kirinya pada leherku untuk memperdalam ciumann kami. Tangan yang satunya lagi cukup aktif meremass rambutku seolah-olah memberi pijatan.


Begitu intensnya kami berciumann, rasanya bahkan seperti kehabisan nafas sehingga aku berinisiatif untuk memperlambat tempo kami. Dari mulut kemudian turun ke dagu, lalu ke ceruk leher jenjangnya.


"Daph..you're so pretty!" bisikku dengan suara yang kecil.


"Jangan bber--berhenti Decs..." lirih Daphne.


Aku tahu jika wanita yang berada dalam dekapanku ini mulai terbuai. Aku pun juga sama, tak bisa dipungkiri lagi jika aku ingin sekali segera melakukannya dengan Daphne.


Pelan-pelan aku mulai menurunkan dress-nya, menunjukkan bahu terbukanya yang begitu menggoda. Spontan aku memberi ciumann disana.


"Arghhh.." Daphne memekik pelan


Suara lembut nan indah dari tenggorokannya terdengar bagaikan alunan melodi musik opera. Oh God! Sejak kapan aku menjadi sosok yang puitis begini.


"Bolehkah aku membukanya?" tanyaku pada Daphne, menilik ke dress merah yang masih dikenakannya.


Sifat tidak sabaran dalam diriku menuntut untuk segera menanggalkannya. Ingin hati aku merobek paksa dress yang dikenakan Daphne, agar lekuk tubuh mempesonanya serta kakinya yang jenjang nyata terlihat, namun aku menahannya.


"Boleh..bukankah tadi aku bilang, aku bersedia?" jawabnya seraya menyisir rambutku dengan jari-jemari lentiknya yang diwarnai dengan cat kuku pink glitter.


Mendapat lampu hijau dari Daphne, aku tak lagi mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku buka saja resleting dress-nya dari belakang dan menariknya sedikit, membiarkan dress tersebut meluncur ke bawah.


Seketika aku mengangkat tubuhnya yang dilanjut dengan Daphne melingkarkan kakinya pada sekeliling pinggangku. Kedua tangannya bertumpu pada bahu lebar ini. Kugendong Daphne menuju kamar tidur ruanganku, tanpa melepaskan ciumann bibir kami.


Brakk!!


Pintu kamar tidur rahasia milikku, kutendang begitu saja.


Setelah membaringkan Daphne diatas tempat tidur, kini giliranku melepaskan baju polo ku. Menampakkan bentuk roti sobek perutku.


"Woww...abs kamu terlihat sempurna!" puji Daphne dengan mulutnya yang menganga.


"Of course.." sahutku yang memasang raut wajah tersenyum tipis.


Rasanya bangga sekali aku rutin pergi gym, tidak sia-sia juga memiliki bentuk tubuh yang bagus. Jangan pernah berkata malas untuk berolahraga.


Tanpa perlu berlama-lama, aku membungkuk menyusulnya keatas ranjang. Kuciumm lagi bibirnya, dan kugerakkan tanganku pada bagian bawah tubuhnya.

__ADS_1


Shitt! Dia sudah basah!


"Shhtt..aww..." Daphne kembali mendesis membuatku semakin terangsangg.


Kemudian aku melepaskan penutup aset bagian depannya, dan kumasukkan salah satu gunung kembar itu dengan lahapnya pada mulutku. Sedang yang satunya, aku tangkup dengan telapak tanganku.


Daphne melengkungkan punggungnya dan mengerangg keras. Pertanda bahwa ia juga sedang menikmati aktivitas panas kami ini. Tanpa terasa sebuah cairann mengalir deras dari pusat inti bagian bawah miliknya.


Ohh, Daphne sudah merasakan pelepasan pertamanya. Ini semakin menarik.


"Berhenti menyiksaku Decs!" rintihnya memohon.


"Kamu sungguh siap untuk menu utamanya Daph?" tanyaku sekali lagi memastikan.


"I'm more than ready.." ucapnya putus asa karena sudah lemas.


Perkataannya barusan semakin memuluskan rencanaku. Dengan posisi lutut yang masih menekuk, aku membuka sabuk celanaku dan mempersiapkan juniorku yang sudah tegak memanjangg untuk memasuki lembah surgawi Daphne.


1..2..3


Bless...


"Arghhh...." Daphne sedikit berteriak.


Juniorku mendarat masuk, meski belum sepenuhnya. Aku ingin Daphne membiasakan diri terlebih dahulu dengan ukuran milikku yang besar ini.


Tubuh Daphne gemetar di bawahku saat dia datang lagi. Setelah beberapa percobaan dorongan, akhirnya aku bisa merangsak ke dalam dirinya dengan sempurna. Begitu erat.


Sekilas aku menatap Daphne, dia sangat cantik. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku.


"Ya, aku baik saja." dia menjawab, menatapku sambil tersenyum.


Daphne berbohong. Aku tahu dia pasti kesakitan. "Daph, kalau kamu tidak kuat katakanlah saja aku bisa berhenti."


"No, kita sudah separuh jalan..maka lanjutkan saja!" serunya bersemangat.


Meski sedikit lelehan air mata tumpah di sudut matanya, wanita ini masih tak bergeming juga rupanya.


"Aku akan melakukannya dengan lebih pelan lagi..."


Daphne hanya mengangguk mengiyakan.


Dan pada detik itu juga, kami berdua kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terjeda beberapa saat. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, tapi yang jelas aku hanya ingin menikmati waktu berdua ini dengan Daphne melakukan penyatuan.

__ADS_1


Aku akan bertanggung jawab...tentu aku akan bertanggung jawab atas Daphne..


__ADS_2