The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Accepting The Dare


__ADS_3

AUTHOR POV


"Kita sudah hampir sampai Decs, berhenti saja disana. Rumah dengan gerbang kayu mahogani yang menjulang tinggi itu tempatnya!" tunjuk Daphne.


Declan hanya membalasnya dengan sebuah anggukan tanpa suara. Tanpa basa-basi, ia langsung saja melajukan mobil untuk masuk ke rumah yang dimaksud oleh Daphne. Dan sebelum berhasil diizinkan masuk, keduanya harus melewati security checks terlebih dahulu.


Daphne menyuruh Declan membunyikan klakson mobil, sebagai isyarat agar pintu pagar besar tersebut segera dibuka.


Tinn..Tinn...


Dengan sigapnya para bodyguards itu langsung mengenali mobil Nona mudanya, dugaan itu juga diperkuat dengan wajah Daphne yang muncul dari balik kaca mobil sambil menyapa para pengawal yang sedang berjaga-jaga didepan sebentar. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tak membukakan pintu.


"Mobilnya taruh dimana?" Declan mengedarkan pandangannya, mencari spot yang pas untuk memarkir BMW series 7 yang tengah dikendarainya ini.


Halaman depan dari farmhouse orang tua Daphne, sebagian besarnya sudah hampir terisi penuh dengan beberapa deretan Supercar yang sudah bisa dipastikan milik anggota keluarga Harper yang hadir. Kanan-kiri semuanya full.


"Tinggalkan disini saja Decs, biar aku yang suruh pengawalku untuk memarkirnya. Kita langsung masuk, karena ini sudah terlambat!" kata Daphne.


Lagi-lagi Declan hanya bisa mengangguk.


Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Mereka telat seperempat jam dari waktu janjian yang telah ditetapkan. Awal yang cukup buruk. Seluruh keluarga Daphne sangat membenci keterlambatan.


Turun dari mobil, Daphne mengulurkan telapak tangannya pada Declan, yang dibalas dengan tatapan aneh oleh pria itu.


"Kamu mau melakukan apa?" tanya Declan.


Daphne berdecih, "Masa tidak tahu?"


"Apa?" diangkatnya kedua tangan Declan seolah-olah tidak mengerti akan maksud Daphne.


Daphne menerka-nerka, "Kamu ini tidak pernah berpacaran ya?"


"Enak saja, tentulah aku pernah!" tuduhan Daphne langsung dibantah oleh Declan.


"Kalau pernah, mengapa saat disuruh menggandeng tangan begini saja kamu tidak mengerti?!"

__ADS_1


Ternyata itu maksud Daphne. Wanita rambut pirang dengan bola mata green-greyish ini meminta tangannya untuk digandeng.


"Jika memang ingin bergandengan tangan, maka katakanlah! Aku bukanlah pria yang bisa menebak keinginanmu tanpa diberitahu dulu!" setidaknya Declan menginginkan sebuah kode.


"Bergandengan tangan adalah pelajaran dasar dalam berkencan yang seharusnya mudah dipahami bagi sebuah pasangan. Memang kamu tidak pernah melakukannya dengan pacarmu dulu?" tanya Daphne.


Tentunya tidak. Declan tidak terbiasa dengan yang namanya physical touch. Tak heran jika dia dan pacarnya sedang pergi jalan bersama, orang tak akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih.


Antara Declan yang tidak peka atau memang dia yang terlalu polos. Sama dengan Daphne, sebenarnya pria itu juga sudah lama sekali tidak berhubungan dengan wanita. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali menjalin kasih dengan seseorang.


Declan sendiri juga bukanlah tipe pria yang romantis. Tak tahu bagaimana cara men-treat wanita dalam sebuah hubungan. Saat masih berpacaran dulu, yang Declan tahu hanyalah memanjakan kekasihnya dengan memberikan barang-barang mewah dan branded.


Hanya dengan Daphne seorang lah, pria itu sedikit luluh. Sejak Daphne mendeklarasikan dirinya sebagai kekasih didepan khalayak, Declan membiarkan kekasih pura-puranya ini untuk menggiring tubuhnya kesana-kemari lalu menggandengnya bebas dengan sekenanya.


"Sudahlah lupakan saja, ayo masuk! Papi akan semakin marah jika kita terlambat.." Daphne buru-buru melingkarkan tangannya pada lengan kekar Declan.


Dalam hati Daphne berpikir, apakah Declan suka berolahraga ya? Sehingga tubuhnya tampak gagah dan prima. Jika dilihat-lihat lebih dekat, Declan lebih mirip seperti olahragawan dibanding pekerja biasa.


Saat pertama kali masuk, baru saja Daphne menapakkan kakinya di area foyer, kedatangannya langsung disambut hangat oleh Papinya.


"Daph...kamu kemana saja sayang?" Keenan segera menghampiri putrinya itu kemudian memeluknya erat.


Keenan mencubit kedua pipi Daphne, "Tadi Papi panik sekali mencarimu keseluruh sudut rumah. Pelayan bilang, pagi-pagi kamu sudah pergi dari mansion. Kamu kemana saja sayang?" raut wajah kekhawatiran nampak jelas di wajahnya.


"Aku pergi ke taman bersama Decs, Papi."


"Oh ya? Kalau begitu mengapa ia tak datang menjemputmu? Seharusnya dia meminta izin pada Papi baik-baik, bukan tiba-tiba kamu hilang dari rumah."


"Kami berdua memang sebelumnya sudah sepakat janjian untuk bertemu langsung di lokasi," Daphne beralasan. "Lagipula Papi berlebihan sekali sih, aku kan sudah mengirimi pesan pada nomor Papi."


"Bagaimana kabar kamu Decs?" Keenan mengalihkan perhatiannya pada Declan.


Declan menunduk hormat. "Kabar saya baik, Om."


"Senang mendengarnya." Keenan tersenyum tipis. "Ya sudah...ayo kita masuk. Semua keluarga sedang berkumpul di belakang." ajak Keenan pada keduanya.

__ADS_1


***


Memasuki area pelataran halaman belakang, Daphne dan Declan langsung dimanjakan oleh pemandangan alam yang begitu sejuk. Hamparan perkebunan buah yang luas dan juga terdapat arena pacuan kuda yang melingkar.


Dari seberang kebun, tampak tenda-tenda putih ala glamping yang sengaja dibangun sebagai tempat peristirahatan para tamu yang hadir. Bahkan tenda untuk Daphne dan Declan pun juga sudah dipersiapkan.


"Hey Decs, apakah kamu bisa berkuda?" tanya Keenan.


Declan tertegun sejenak. Mau menjawab bisa, takut ketahuan penyamarannya. Menjawab tidak bisa, itu tidak mungkin. Karena Declan sangat mahir berkuda.


Dulunya memang Declan tak begitu suka dan bahkan tidak jago. Tapi semenjak sahabatnya yang bernama Adrian mengenalkannya pada aktivitas berkuda ini, Declan jadi tertarik.


"Jika kamu bisa, marilah kita tanding beberapa putaran!" tantang Keenan.


"Papi apa-apaan sih, Decs baru saja datang tapi malah langsung disuruh ini itu! Setidaknya biarkan kami mencicipi hidangan makanan yang tersedia dulu!" oceh Daphne beralasan.


Dalam hati sebenarnya ia ketar-ketir karena sangat mustahil bagi pacar pura-puranya ini bisa berkuda. Jangankan balap kuda, menaiki kuda saja Daphne ragu jika Declan bisa melakukannya.


"Papi hanya bertanya Daph, kalau dia tidak bisa itu tak mengapa...Papi tak memaksa, hanya murni bertanya." kata Keenan.


Daphne memutar bola matanya malas dan mendengus sebal. Dia sudah tahu kalau Papinya hanya ingin bermain-main saja sekaligus mengetes Declan.


Sesaat kemudian, Darius beserta sepupu laki-laki Daphne yang lainnya datang mendekat dan ikut menimbrung.


"Uncle Keenan, pria pelayan itu tak mungkin bisa berkuda! Olahraga ini hanya cocok untuk para kaum elite seperti kita!" sahut Harry dengan angkuhnya.


Pria yang beda 3 tahun diatas Daphne itu memang terkenal paling menyebalkan dalam lingkup keluarga Harper.


"Jaga bicaramu Harry, jangan meremehkan orang. Lagipula kau juga tidak begitu jago dalam berkuda!" tegur Darius pada sepupunya itu.


Meski dia belum sepenuhnya pro dengan Declan, tapi dia paling pantang untuk merendahkan seseorang. Itu bukan contoh yang baik. Maminya tidak pernah mengajari Darius bersikap sombong.


"Aku berbicara kenyataan Darius, lihatlah dia! Apa kau melihat wajah-wajah sepertinya ini mampu berkuda? Mustahil..." ejek Harry kembali.


Declan mengepalkan telapak tangannya erat. Sejak tadi ia menahan emosinya sebisa mungkin demi tak membuat Daphne malu. Namun kali ini, perkataan Harry yang seolah-olah menghinanya tak bisa dibiarkan.

__ADS_1


"Siapkan saja kudanya..aku sanggup bertanding..." jawab Declan secara tegas dan lantang.


***


__ADS_2