
AUTHOR POV
"Arghh!!! Panas.." Declan meraung-raung gelisah seraya mengibas-ngibaskan kaos polo shirt warna putih yang dikenakannya.
Sekujur tubuhnya benar-benar terasa panas. Keringat dingin membasahi wajahnya hingga putih memucat. Berjalan mondar-mandir mengitari ruangan nyatanya tak membuat efek obat itu bisa hilang secepatnya dari tubuh Declan.
Tokk...tokkk..tokk...
"Tuan? Tuan Declan?!" Benjamin berteriak dengan suara lantang dari luar.
Tangannya menggedor-gedor pintu ruangan Declan yang terkunci rapat dari dalam. Kartu akses masuk yang biasa dikantongi oleh Benjamin tak mempan digunakan.
Terbesit rasa kekhawatiran dalam benak Benjamin. Dia takut Tuan mudanya itu kenapa-kenapa. Sedikit informasi yang dia tahu, Tuannya itu pasti habis cekcok dengan mantan tunangannya Inggrid, yang baru saja diusirnya beberapa menit lalu.
"Paman Ben.." ucap Declan lirih seraya menempelkan dahi serta telapak tangannya pada pintu.
"Saya mendengar Tuan berteriak dari luar, Tuan kenapa didalam? Apa ada masalah?"
"Badanku panas Paman Ben, dadakuu sakit! Rasanya seperti terbakar!" ucap Declan yang terdengar begitu frustasi.
"Boleh saya izin masuk Tuan? Saya akan cek keadaannya.."
"Jj--jangan..Paman jangan masuk! Aku tidak mau dilihat siapapun." pantang bagi Declan membiarkan Benjamin untuk masuk ke ruangannya. "Apakah Inggrid sudah pergi paman?" tanyanya.
"Sudah Tuan, meeting dengan klien Belgia saya batalkan. Nona Inggrid juga sudah tak lagi berada disini," jawab Benjamin.
Untung saja wanita ular itu sudah dihempas jauh, bahkan diusirnya pun juga dengan cara tidak terhormat tadi. Setidaknya Declan bisa bernafas lega karena mantannya yang tidak tahu diri itu tidak lagi menginjakkan kaki di perusahannya.
"Boleh saya minta tolong satu hal Paman?" pinta Declan memohon. "Aku minta Paman selidiki jus jambu yang aku konsumsi tadi. Minumannya masih tertinggal di ruang meeting.."
"Jus jambu?" Benjamin mengernyitkan keningnya keheranan.
"Iya...15 menit setelah aku meminum jus itu, tubuhku bereaksi seperti ini. Aku menduga Inggrid mencampuri minumanku dengan sesuatu. Bisa berupa serbuk atau apalah itu aku tak tahu..tolong cari tahu Paman!"
Declan yakin jika aksi tidak menyenangkan yang dilakukan Inggrid ini pasti ada sangkut paut dengan karyawan di perusahaannya. Awas saja jika pelakunya ketemu, Declan tak akan memberi ampun.
Benjamin menghela nafasnya kasar. Dia baru paham kalau Tuan mudanya ini sedang dikerjai. Pantas saja Declan bersikap aneh. Pria paruh baya itu berjanji akan mengusut tuntas permasalahan ini.
"Hmmm..baik, akan saya ambil sampelnya." Benjamin mengiyakan saja perintah tuannya itu. "Lalu Tuan bagaimana? Perlu saya panggil dokter?"
__ADS_1
"Tidak usah, saya tidak perlu. Mungkin sebentar lagi efeknya akan hilang. Lebih baik Paman langsung selidiki saja apa yang saya pinta tadi."
"Baik Tuan Declan, saya akan cek bagian closed circuit television dan periksa minuman tadi."
"Minta tolong juga untuk tidak membiarkan karyawan yang sedang shift hari ini untuk berkeliaran di lantai ruanganku Paman! Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang mendekat!"
"Siap laksanakan, ini Tuan serius saya tinggal tidak apa-apa?"
"Iya, aku tak apa...Paman bisa segera pergi!!!" sentak Declan.
Dengan berat hati, Benjamin meninggalkan Declan yang enggan keluar dari ruangan. Keras kepalanya itu masih tidak berubah. Tapi biarkan saja, siapa tahu kondisi Declan memang tak terlalu parah.
***
Tampak diluaran Parker Group, sebuah mobil Porschee berwarna merah terang baru saja berhenti di area parkiran depan. Didalam kendaraan tersebut, terdapat sosok wanita cantik yang tidak lain tidak bukan adalah Daphne sendiri.
Sesuai kesepakatan awal, Daphne diizinkan pergi keluar dengan catatan bahwa dia akan diantar oleh supir pribadi kepercayaan ayah Daphne yang bernama Hugo.
"Nona, apakah benar tempatnya disini?" tanya Hugo seraya kepalanya menoleh kanan-kiri.
"Benar kok, ini sudah sesuai. Memang kenapa Hugo, apa ada masalah?" Daphne yang memiliki sikap polos tentunya tidak terlalu curiga dengan keadaan sekitar.
"GPS dari ponsel menunjukkan bahwa mobil milikku berada didalam sana. Kemungkinan sih ada di parkiran basemen," sambung Daphne lagi.
"Tidak Hugo, untuk apa pakai kartu izin segala? Kekasihku bukanlah orang penting disini. Dia hanya bekerja sebagai pelayan catering yang kebetulan ikut bertugas dalam sebuah event raker." Daphne tak malu menjelaskan profesi kekasihnya itu pada Hugo.
Baginya, untuk apa ditutupi lagi? Percuma saja karena ujung-ujungnya semua orang juga akan tahu, pikirnya.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu kalau perusahaan ini memiliki keamanan yang cukup rumit?" tanya Daphne pada Hugo.
"Saya pernah kesini sebelumnya bersama dengan Papi anda, Nona. Waktu itu saya mengantar Tuan Keenan untuk menghadiri rapat."
Benar tebakan Daphne dalam hati. Hugo rupanya pernah datang kemari dengan Papinya. Pasti membahas tentang bisnis dan bisnis.
"Ohh..begitu ya..pantas saja kamu tahu seluk beluknya. Ternyata pernah kesini dengan Papi."
"Nona, apa tak sebaiknya anda menghubungi kekasihnya terlebih dulu untuk memastikan? Perusahaan ini tampak begitu sepi. Tak ada aktivitas pesta rapat besar-besaran seperti yang sudah dikatakan oleh kekasih anda Nona.." Hugo memasang wajah curiga.
Bukannya apa, pria itu sebenarnya tidak hanya sekedar mengantar Daphne saja. Dia juga ikut dipasrahi oleh Keenan untuk menjaga putri kesayangannya. Kalau Daphne kenapa-napa, maka pekerjaan Hugo bisa diujung tanduk.
__ADS_1
"Tapi Hugo, masalahnya ponsel Decs tidak bisa dihubungi sejak tadi. Sedangkan aku harus cepat-cepat kembali ke farmhouse karena Papi sudah wanti-wanti aku tidak boleh lama," keluh Daphne.
Jika dipikir-pikir, perkataan Hugo itu ada benarnya. Ini kan weekends, tidak mungkin juga ada yang pergi ke kantor di hari libur. Tapi bisa saja mungkin ada beberapa orang yang sedang lembur atau menambah shift.
"Kamu tunggu saja disini Hugo, aku akan masuk sendiri menemui resepsionis untuk bertanya."
"Apa mau saya temani Nona?" tawar Hugo.
Daphne menggeleng, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Nona yakin?"
"Iya Hugo, kenapa kamu jadi cerewet sekali! Aku tidak apa-apa kok..tenang saja ya.."
Mau tak mau Daphne memang tetap harus masuk untuk mengambil kunci mobil. Dia juga perlu bertemu Decs untuk mengajaknya kembali pulang bersama. Daphne berharap, semoga ada jalan agar ia bisa menemukan Decs.
***
Memasuki lobi perusahaan dengan percaya dirinya, Daphne buru-buru melangkahkan kaki untuk menuju resepsionis. Dari luar, kantor ini kelihatannya memang sepi. Namun ketika sudah didalam, ternyata masih ada beberapa orang yang berlalu lalang walau jumlahnya tak banyak.
"Selamat siang Nona, selamat datang di Parker Group. Ada yang bisa saya bantu?" seorang karyawan wanita menyapa Daphne dengan senyuman ramahnya.
Daphne balas tersenyum kikuk, "Ahh..selamat siang. Hmm..begini, aku ingin bertemu dengan kekasihku. Kebetulan dia sedang bekerja sebagai anggota EO yang menangani event rapat kerja para petinggi bisnis."
Karyawan dengan nametag bernama Jessica itu menatap Daphne kebingungan, seakan-akan Daphne salah berbicara.
"Mohon maaf Nona, tapi hari ini sedang tidak ada event apapun di kantor. Rapat kerja yang seperti apa yang anda maksud?" tanyanya lagi.
"Ehh..tidak ada event? Apa benar? Kekasihku namanya Decs, dia pekerja catering. Bisa tolong anda bantu mencarikan?" desak Daphne sedikit memaksa. Entah kenapa dia mempunyai firasat kuat kalau Decs ada disini.
Belum sempat resepsionis itu menyahuti, tiba-tiba saja datang seorang pria paruh baya yang baru keluar dari lift. Penampilannya begitu rapi memakai jas lengkap.
"Jessica, tolong informasikan pada seluruh pegawai untuk kosongkan lantai ruangan Tuan Muda. Jangan biarkan karyawan lain masuk area sana. Yang sudah terlanjur suruh turun saja...ini perintah.." tegas Benjamin.
"Kamu juga ikut saya sekarang..saya perlu bantuan, mengingat karyawan yang masuk hari ini terbatas..." lanjutnya lagi.
"Baik, siap laksanakan." Jessica mengangguk dan kemudian kedua orang tersebut beranjak pergi meninggalkan Daphne begitu saja tanpa menoleh.
"Heyy...heyy..bagaimana dengan aku?! Kenapa aku diabaikan?" Daphne berteriak memanggil mereka untuk kembali namun hasilnya nihil. Dirinya tetap ditinggalkan oleh dua orang itu tadi yang sudah menghilang dari peradaban.
__ADS_1
Daphne menghentakkan kakinya kesal. "Menyebalkan sekali aku ditinggal. Ya sudah, terpaksa akan aku cari sendiri keberadaan Decs.." gumamnya dalam hati.
***