The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Doing It (Part 1)


__ADS_3

AUTHOR POV


"Aduh bagaimana ini? Dari mana aku bisa tahu keberadaan Decs?" Daphne menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.


Ditinggal oleh resepsionis dan seorang pria tua misterius membuatnya kebingungan. Tal ada orang yang bisa ditanyai pula.


Bermodalkan nekat sambil menjinjing Kelly Bags favoritnya, Daphne memberanikan diri berjalan memasuki lift. Dengan asalnya, dia menekan sebuah tombol dengan angka 10.


Convention Hall adalah tempat yang biasanya digunakan perusahaan keluarga Harper untuk menghelat rapat akbar para jajaran direksi. Yang mana, normalnya itu terletak di lantai 10. Dari situ Daphne punya pemikiran, mungkin saja perusahaan ini menerapkan hal yang sama.


Tringg..


Pintu lift terbuka, menampakkan lorong lantai yang tampak sunyi dan hening. Tidak nampak aktivitas manusia berseliweran disini, membuat Daphne bergidik ngeri. Pikirannya mulai melayang kabur.


Karena sudah terlanjur menapaki lantai ini, mau tidak mau Daphne harus menyusuri sekitar untuk mencari Decs.


Belum sampai Daphne melangkahkan kakinya jauh, tiba-tiba saja ada sebuah pintu salah satu ruangan yang sengaja dibuka lebar.


Brakk...


Saking kerasnya, Daphne merasa jika pintu itu seperti dibanting. "Astaga..kasar sekali sih, siapa itu?!" gumamnya pelan.


Sosok seorang pria bertubuh tegap, tinggi, dan besar terlihat dalam pandangannya. Pria tersebut terlihat lemas dan menunduk merosot pada lantai.


Anehnya, entah kenapa tiba-tiba Daphne merasa familiar dengan perawakan tubuh orang itu. Baju yang dikenakannya pun terlihat tak asing.


Dan benar saja, ketika Daphne mendekat untuk menghampiri sosok itu, nafasnya tercekat kaget. Kedua iris matanya membola hingga membentuk bulatan besar.


"Decs, apakah itu kamu?" tanya Daphne hati-hati karena wanita itu takut salah orang.


Declan yang merasa namanya dipanggil pun ikut sama terkejutnya. "Daphne, kk--kamu..bagaimana bisa disini?" ucapnya dengan nada panik.


"Astaga Tuhan, akhirnya aku menemukan kamu. Aku mencarimu kemana-mana sejak tadi. Sengaja aku lacak keberadaanmu lewat GPS mobil karena aku sedang ada perlu denganmu!" Daphne ikut berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Declan.


Melihat Daphne muncul didepan mata membuat Declan menyesali keputusannya untuk keluar dari ruangannya. Tadinya Declan berniat untuk mengurung diri didalam saja, namun tiba-tiba gejolak dalam benaknya mengatakan hal lain. Declan sulit mengontrol diri bagaikan orang yang ingin lepas dari sangkar.


Terlalu lama larut dalam keheningan, Daphne berkata, "Ngomong-ngomong Decs, ini mengapa tubuhmu menjadi keringat dingin? Dan kenapa juga kamu duduk di lantai."

__ADS_1


"Daphne jangan mendekat, aku..aku.." Declan terbata-bata.


"Kamu sakit?" raut kekhawatiran jelas nampak pada wajah wanita itu.


Tidak bisa dipungkiri jika Daphne adalah wanita yang memiliki tingkat kepekaan tinggi. Perhatian yang diberikannya terhadap orang-orang sekitar tidak pernah tanggung-tanggung.


"Bb--bukan.." sahut Declan dengan memejamkan matanya. Saat ini dia pun masih berusaha keras untuk menahan segala hasratt yang timbul dari tubuhnya.


"Terus kenapa?" Daphne belum mau menyerah untuk mencecar Declan dengan berbagai pertanyaan hingga dia mau berkata jujur.


"Ada yang sengaja memasukkan obat perangsangg ke dalam minumanku," Declan akhirnya mengakui. Percuma berbohong, Daphne pasti akan tahu ujung-ujungnya.


"Hah!!? Bagaimana bisa?" Daphne tersentak kaget. Dia bukanlah gadis polos yang tak tahu apa itu. "Lalu apa yang kamu rasakan sekarang, Decs?" lanjutnya bertanya.


"Badan aku panas, sesak rasanya.." Declan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kepalanya mundur ke belakang untuk bersandar pada dinding.


"Kita ke rumah sakit saja kalau begitu," ajak Daphne sambil membantu Declan berdiri.


"TIDAK MAU!!" Declan refleks menepis tangan Daphne begitu saja.


Daphne menyipitkan matanya keheranan. Tidak mau katanya? Sudah tahu kondisinya begini, mengapa keras kepala?


"Tidak..jangan..!!" lirih Declan pelan.


"Tapi ini kamu terlihat pucat sekali, jangan duduk di lantai! Ayo bangun.." desak Daphne.


Declan kemudian mengatupkan kedua tangannya, memohon pada Daphne untuk segera pergi menjauh. "Tolong jangan mendekat, please Daph! Aku sengaja berdiam diri disini supaya tidak kelepasan. Justru kalau kamu dekat-dekat denganku, aku bisa tidak tahan."


Dalam konteks ini, tidak bisa ditahan yang dimaksud adalah Declan tak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak menerjang Daphne dan mengangkat wanita itu keatas ranjangnya yang berada didalam ruangan.


Beberapa menit sudah berlalu. Declan berkali-kali mengingatkan Daphne untuk menghindar. Namun wanita ini keras kepala juga rupanya. Jika hal ini diteruskan, Declan tidak bisa janji kedepannya seperti apa.


Apalagi hari ini Daphne terlihat menggoda dengan dress selutut tanpa lengan yang menempel pas dengan tubuhnya. Terakhir bertemu, Daphne tak berpakaian seperti ini. Mungkin dia sudah berganti di farmhouse tadi, pikir Declan.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Aku telepon dokter saja!" kilah Daphne.


Tidak perduli mau mendengarkan atau tidak, baginya yang penting Declan harus cepat-cepat diobati dulu. Daphne hendak merogoh tas nya untuk mengambil ponsel namun dicegah.

__ADS_1


"Tidak, Daph! Sungguh aku tidak mau. Kalau orang diluaran sana tahu aku kena efek obat perangsangg mau ditaruh dimana harga diriku..malu!" ucap Declan dengan nada yang sedikit meninggi.


"Malu sama siapa sih? Bukan maksud aku menghina Decs, tapi memangnya kamu artis atau orang terkenal? Tidak kan? Jadi untuk apa maul, tidak akan ada yang tahu tentang ini."


Ucapan Daphne masuk akal juga. Declan bahkan hampir keceplosan mengatakan identitasnya pada kekasih pura-puranya ini.


"Jangan berisik Daph, kamu tunggu saja di sofa ruanganku. Masuk dan duduk ke dalam sana! Mungkin sebentar lagi efeknya akan hilang."


Seketika Daphne mendongak pada pintu ruangan yang diatasnya bertuliskan Chief Executive Officer.


"Tapi Decs, ini ruangan CEO.. memangnya boleh masuk kesana?" tanya Daphne polos.


Dan,


Degh...


Declan terhenyak. Lagi-lagi dia ceroboh. Berdekatan dengan Daphne membuat dirinya hilang akal.


"Astaga Daph, bisakah kamu tak banyak berbicara dulu. Aku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Lebih baik tutup mulutmu dulu..mengomelnya nanti saja!" cerocos Declan.


Keduanya pun bungkam setelah berbagai perdebatan berkecamuk. Tak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.


"Hmm Decs, bagaimana kalau nafsuu kamu disalurkan?" kata Daphne mendadak.


"Maksud kamu?" sebenarnya Declan tahu kemana arah pembicaraan Daphne tapi ia berpura-pura seakan-akan tak tahu.


"Jangan bersikap seolah-olah dirimu ini polos Decs, kamu pasti mengerti maksudku!" Daphne berdecak dan memutar bola matanya jengah.


"Apa kamu mengajakku untuk bercinta?" ucap Declan yang nafasnya masih terengah-engah.


"Technically yes..bukankah gejala yang kamu alami ini akan tuntas jika kamu mencapai pelepasan?"


Declan tak habis pikir. Entah apa yang merasuki otak Daphne hingga tiba-tiba saja wanita ini memberikan penawaran yang aneh.


Declan menggelengkan kepalanya, "Tidak..tidak..! Meski aku menginginkannya sekalipun, aku tidak akan melakukan itu. Kamu akan membenciku setelahnya!"


"Aku tidak akan membenci kamu. Anggap saja ini balas budiku karena kamu sudah mau menjadi pacar pura-puraku didepan keluargaku."

__ADS_1


Declan menatap Daphne tak percaya. "Semudah itu kamu menyerahkan aset berhargamu dengan dalih membalas budi padaku?"


***


__ADS_2