The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Daphne's Boyfriend?


__ADS_3

AUTHOR POV


"Daphne, sedang apa kamu disana?"


"Nn--nenek?" Daphne yang namanya dipanggil langsung menoleh pada sang nenek dengan ekspresi gugup.


"Sedang berbicara dengan siapa kamu? Dengan pelayan ini?" nada Nenek terdengar begitu sinis.


Daphne menegurnya, "Nenek kenapa kasar sekali bicaranya."


"Nenek pikir kamu sedang bersama William? Kakek tadi bilangnya seperti itu, tapi kenapa kamu justru berduaan dengan pria tak jelas seperti ini?" Nenek Daphne memindai Declan dari atas hingga ke bawah.


Wanita berusia setengah abad lebih itu memandangnya tak suka. Ditambah lagi dengan penampilan Declan yang sedang berantakan, membuat dia semakin ilfeel.


"Aku tak suka dengan pria arogan dan narcissistic seperti William, jadi untuk apa aku bersamanya? Aku lebih suka disini." bantah Daphne.


"William itu calon suamimu, Daph. Hormatilah dia!"


"Calon suami Nenek bilang? Tidak, aku tak mau. Aku tak sudi menikah dengannya!" Daphne meninggikan suaranya.


Declan hanya bisa menyimak perdebatan mereka tanpa membuka suara. Perasaan tidak nyaman menjalar di tubuhnya. Ikut campur dalam urusan pribadi keluarga orang lain adalah hal yang paling tidak diinginkan olehnya. Itu tidak sopan.


Berhubung Declan berdiri terjebak diantara orang-orang random yang baru dikenalnya ini, dengan terpaksa ia harus mendengar ocehan mereka yang sedang berkonflik.


"Mengapa? Apa yang membuatmu tak suka padanya?" tanya Nenek Daphne yang bernama Didem itu.


Otak Daphne kini harus berputar dan bekerja keras, memikirkan sesuatu yang sekiranya membuat sang nenek berhenti memikirkan perjodohannya.


"Kk--kkarena ak--aku sudah punya kekasih!" jawab Daphne cepat namun nada suaranya sedikit bergetar. Menunjukkan kalau ia benar-benar gugup menghadapi neneknya yang tengah menekannya.


"Ahh...sial sekali! Kenapa aku malah bilang punya pacar. Keadaannya akan semakin rumit," Daphne bergumam dalam hatinya.


"Sudah punya kekasih? Siapa orangnya, kenalkan pada kami?!" cecar sang Nenek.


Daphne kemudian menoleh kesamping. Kesempatan sudah didepan mata. Tak kehabisan akal, ia akan memanfaatkan kehadiran Declan untuk menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.


Langsung saja, Daphne refleks menarik lengan Declan dan menyelipkan satu tangannya disela-sela himpitan itu. Kini tangan Daphne telah melingkar sempurna pada lengan kekar Declan.


"Ini kekasihku." Daphne mantap menjawabnya.


Sontak hal itu membuat Declan tercengang. Matanya terbelalak lebar sambil melirik tajam kearah Daphne. Dalam hati ia ingin sekali mengumpat, namun tidak bisa. Lidahnya seakan tertahan kelu agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar.


Tidak hanya Declan, Nenek Daphne juga tak kalah terkejutnya kala mengetahui fakta jika cucunya memiliki seorang kekasih. Bukan seorang pengusaha muda, bukan seorang pebisnis, CEO, atau pekerjaan elite lainnya, melainkan hanya seorang pelayan di acara wedding? Yang benar saja!

__ADS_1


Ashlyn tiba-tiba muncul dari belakang dan ikut menimbrung. "Ohhh..jadi pelayan ini kekasihmu? Pantas saja kamu membelanya mati-matian, Daph! Ternyata seperti itu."


"Ash...kamu mengenalnya?" tanya Nenek.


Ashlyn mengadu, "Tentu saja, Nek. Aku tidak akan pernah lupa pada pria pelayan ini yang tadi menginjak gaunku hingga robek!"


"Sungguh?"


"Aku tidak bohong, Nenek bisa lihat sendiri ekor gaunku. Lagipula, apa Nenek tak sadar mengapa rambutnya bisa basah kuyup dan pakaiannya kotor seperti itu!"


"Memangnya ada apa?"


"Aku yang memberikan dia pelajaran agar tak macam-macam pada keluarga Harper. Dia telah merobek gaunku, sebagai balasannya aku siram dia dengan jus jeruk dan juga sepiring pasta!" Ashlyn tertawa puas yang disambut oleh anggukan Nenek.


Tanpa perlu mengecek, dapat dipastikan Nenek Didem lebih percaya pada sang cucu ketimbang orang lain. Padahal yang orang orang tidak ketahui, sesungguhnya Declan tidak pernah menginjak gaun Ashlyn, justru perempuan itu sendirilah yang menyebabkan gaunnya robek.


Mengingat begitu panjangnya ekor gaun Ashlyn dan juga high heels-nya yang cukup tinggi dan lancip, ia sempat terjerembab untuk sesaat ketika sedang berjalan. Dan kebetulan saja, Declan yang menyamar sebagai waitress sedang lewat dibelakangnya sambil membawa nampan minuman.


Tubuh keduanya saling bertabrakan dan,


Krekkkk...


Alhasil terjadilah kesalahpahaman tersebut, dimana gaun Ashlyn robek namun Declan menjadi kambing hitamnya.


"Seleramu memang cukup rendahan, Daph! Dari sekian banyaknya pria, kamu malah memilih seorang waitress untuk jadi kekasih. Apakah karena kamu tidak laku-laku akhirnya terpaksa banting setir? Dasar perawan tua!" ejek Ashlyn sambil tersenyum menyeringai.


"Hey, jaga bicaramu Nona!" timpal Declan yang mulai emosi.


Diam bukan berarti tidak mau melawan. Susah payah Declan menahan dirinya agar tak tersulut emosi, namun konsentrasi itu pecah seketika saat dia melihat kelakuan dua wanita didepannya ini yang diluar batas.


Daphne yang sedari tadi menundukkan kepala karena diceramahi oleh sang nenek dan sepupunya, kini berubah mendongak. Tatapannya fokus pada pria pemilik rahang tegas disampingnya ini.


"Kata-katamu sudah cukup keterlaluan, Nona! Bagaimana bisa kamu menghina sepupumu sendiri. Dia masih saudaramu, keluargamu. Apakah seperti ini kelakuan seorang wanita terpelajar?" ucap Declan.


Ashlyn tak mau kalah, "Berani sekali kamu berbicara padaku! Kamu ini hanya dibayar sebagai pelayan disini, tak sepantasnya kamu berani menentang!"


"Katakan padaku mengapa aku harus takut. Aku berada di pihak yang benar. Sejak tadi aku sengaja diam karena aku sadar akan posisi!" sahut Declan balik.


"Saat anda menuduhku dan mempermalukan aku didepan khalayak umum, aku diam. Dan barusan anda menghinaku lagi dihadapan nenekmu, aku masih diam."


"Tapi, yang membuat aku tidak terima, itu saat kamu menghina kekasihku Daphne."


Deghhh...

__ADS_1


Jantung Daphne seketika berdebar dengan kencangnya. Detak jantungnya serasa naik turun tak menentu. Telapak tangannya mulai keringat dingin. Apakah pria ini sedang membelanya?


Declan mulai larut dalam sandiwara dan permainan yang dibuat oleh Daphne secara tidak sengaja. Ia tak mempermasalahkan itu. Daphne sudah menolongnya tadi, kini giliran ia menyelamatkan muka Daphne agar tidak menanggung malu.


Atensi dari para undangan tamu sekitar terfokus pada mereka yang sedang berselisih paham. Declan tak akan membiarkan Daphne jadi bulan-bulanan oleh sepupu dan nenek jahanamnya ini.


Tak lama kemudian, orang tua Daphne beserta kakak dan iparnya muncul ke peradaban. Mereka berempat berjalan mendekat menghampiri Daphne.


Hadley dan Ajax, selaku raja dan ratu di acara pernikahan megah ini juga turut menyaksikan keributan yang sedang terjadi. Suasana jadi semakin tegang ditambah dengan hadirnya keluarga besar Harper lainnya yang ikut berkumpul.


"Daph, ada masalah apa ini? Apa kamu baru saja membuat keributan?"


"Tti--tidak, Papi." Daphne menggeleng cepat seraya mengeratkan pelukan tangannya pada lengan Declan.


Papi dan Mami Daphne agaknya sedikit kebingungan melihat putrinya sedang menempel pada seorang pria. "Dia siapa, Daph?" tanya Maminya.


"Pria itu adalah kekasihnya Daphne!" Nenek Didem berdecih kesal dengan nada meledek.


BOOM


Seisi ruangan dibuat heboh seketika dengan fakta yang baru saja mereka dengar, tak terkecuali orang tua dari Daphne ada sendiri.


"Lihatlah kelakuan putrimu, Keenan! Bisa-bisanya dia memacari seorang pelayan rendahan!" sindir Nenek Didem.


Keenan melepaskan genggaman tangannya pada sang istri kemudian berjalan kearah Daphne, putrinya.


"Daphne..apa benar dia kekasihmu?" tanya Keenan dengan lembut.


Daphne mengangguk pelan. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Jika sekali saja ia berkedip maka air matanya akan tumpah.


Tidak tahu apa yang membuatnya nangis. Bisa saja ia takut, bingung, atau panik karena ditekan oleh keluarganya. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Dipermalukan didepan publik seperti ini membuatnya ingin menangis sekencang mungkin.


Keenan membuka suara, "Siapa namamu?"


"Namaku Decs." Declan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Papi Daphne.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan putriku?" tanya Keenan serius.


Declan terdiam sejenak. Ia tak tahu harus menjawab apa. Daphne dan dirinya baru bertemu beberapa waktu yang lalu dan sekarang ia harus dihadapkan pada hal konyol seperti ini?


"Jika kamu memang memiliki hubungan dengan putriku, datanglah ke rumah. Temui keluarga Daphne secara baik-baik dan kita bisa bicarakan semuanya disana." Keenan tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk pelan bahu Declan.


***

__ADS_1


__ADS_2