
AUTHOR POV
"Bersandiwaralah sedikit Daph, coba untuk bersikap santai. Tubuhmu harus rileks dan jangan terlalu kaku. Bisa ketahuan nanti..." tegur Declan yang melihat tubuh Daphne menegang.
"Memangnya mereka masih melihat gerak-gerik kita dari belakang?" tanya Daphne polos.
"Tentu saja, all eyes are on us!" jawab Declan dengan senyuman menyeringainya.
Daphne mengangguk paham. Kemudian wanita itu berinisiatif untuk melingkarkan lengannya memeluk pinggang Declan. Ini merupakan bagian dari skenario. Supaya Nenek dan Kakek Daphne yang mengintip dari balik punggung bisa melihat keromantisan ini.
Tanpa ada aba-aba, tangan Declan yang sudah dilapisi gloves tadi kembali terangkat untuk menangkup wajah Daphne. Sebuah kecupan lagi-lagi dibubuhkan.
Kali ini bukan kening, melainkan di bibir. Tidak bisa dikatakan sebagai kecupan pula karena Declan ******* bibir Daphne dengan penuh gairahh.
Awalnya Daphne cukup tersentak mendapat serangan dadakan, namun dirinya juga tidak menolak. Daphne justru semakin terbuai dengan pagutan lembut yang diberikan oleh Declan.
Cuppp..cupp...
Cuppp..cupp...
"Hmm...Decs, kita harus hentikan ini..." Daphne sedikit melenguh seraya mendorong pelan dada Declan agar ciuman keduanya bisa terlepas.
Sayangnya Declan belum ingin ini berakhir. Bibirnya kini justru merambat untuk menciumm telinga Daphne.
Cuppp..cupp...
"Decs, enough!" tukas Daphne dengan nada penuh penekanan.
Declan seketika menghentikan kegiatannya. Jika Daphne berkata stop, maka itu artinya stop. Sifat pemaksa bukanlah karakter yang dimiliknya. Disamping itu dia juga tak mau membuat Daphne merasa tidak nyaman dalam masa persandiwaraan mereka ini.
"Baiklah, aku rasa itu juga cukup untuk membuat ketiga orang itu kepanasan." Declan merujuk pada William, Nenek, serta Kakeknya Daphne yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya melihat kegiatan romantis mereka.
Daphne tak berani menengok dan memilih untuk abai. Dia lebih tertarik menceramahi kekasih pura-puranya. "Ingat ya Decs, that kiss means nothing!" sekalian lagi Daphne memperingatkan.
"Don't worry...we're mutuals. Jangan terlalu percaya diri, ciumann tadi juga tak berarti apa-apa untukku. Aku hanya menjalani peran yang kamu atur." balas Declan tak mau kalah.
Hal itu memanglah fakta. Dirinya dengan Daphne baru saja kenal kemarin sore. Tentunya benih-benih rasa suka belum lah timbul diantara keduanya. Itulah kenapa baik Declan dan Daphne merasa santai.
Bukan sekali dua kali Declan kedapatan bermain lidah dengan para wanita. Saat melakukannya, Declan punya prinsip untuk tak menaruh hati pada lawan jenisnya tersebut.
__ADS_1
Kebanyakan dari momen itu, semuanya terasa hambar. No hard feelings. Dengan Daphne pun juga sama, belum ada rasa. Keduanya masih berproses.
Daphne memutar bola matanya jengah dan langsung menggandeng tangan Declan untuk mengajaknya ke arena. "Ayo pergi dari sini, Papi dan yang lainnya pasti sudah menunggu!""
"Fine..." sahut Declan santai.
***
Setibanya di lintasan balap kuda, ternyata kakak Daphne serta deretan sepupu prianya itu telah menentukan kuda mana yang akan mereka kendarai masing-masing. Beberapa bahkan sudah siap naik diatas kudanya.
Declan tak punya banyak pilihan. Tinggal tersisa satu kuda putih memakai atribut pelana berwarna coklat dengan motif tribal serta ada hiasan penutup warna hitam untuk telinga kudanya.
"Oh God...Decs, kamu pasti akan kalah!" Daphne memijat pelan kedua pelipisnya.
"Merasa pesimis?" Declan menaikkan alis sebelah kanannya.
Daphne menarik nafasnya dalam-dalam lalu berkata, "Bagaimana aku tidak pesimis, keluargaku memberimu Amber!"
"Amber? Siapa itu?" Declan sedikit kebingungan.
"Kuda putih itu, namanya Amber." tunjuk Daphne ke arah kandang.
"Ohh..Amber itu nama kuda? Apa dia betina?" tanya Declan.
"Kamu juga bisa naik kuda rupanya?" Declan tersenyum miring.
"Tentu saja bisa! Sudah aku bilang kan, keluarga Harper ini punya agenda rutin untuk berkuda bersama. Dan kebetulan tuan rumahnya untuk bulan ini di farmhouse Daddy," balas Daphne lugas.
Meskipun sebenarnya Daphne tak terlalu jago, tapi setidaknya dia sedikit-sedikit bisa.
"Kembali pada Amber si kuda putih itu, apakah dia termasuk kuda yang underdogs?" tebak Declan.
"Kurang lebih begitu. Amber tidak pernah diikutkan kompetisi apapun dalam kejuaraan berkuda karena memang kondisinya tak memungkinkan."
Declan menyunggingkan senyuman nakalnya. "Ini menarik. Aku jadi semakin tertantang untuk memenangkan tantangan ini dengan Amber."
Tak butuh waktu lama, Declan kemudian melangkahkan kakinya menghampiri kandang Amber, diikuti oleh Daphne yang mengekor di belakang.
Langkah pertama, pria itu akan melakukan pendekatan sekaligus pengenalan terhadap kuda putih itu terlebih dahulu dengan mengelus-elus tubuhnya sembari membisikkan sesuatu di telinganya seolah-olah mereka adalah sahabat.
__ADS_1
Declan menaiki kuda itu dan bertanya, "Kau mau ikut naik juga Daph? Daripada berjalan lagi ke lintasan, aku akan memberi tumpangan," tawarnya.
"Hmm baiklah..." Daphne memutuskan ikut naik pada akhirnya. Dia sedang malas berjalan juga.
Declan lalu mengulurkan tangan Daphne untuk membantunya naik. Dan setelah dirasa sudah siap, Daphne melingkarkan tangannya di perut Declan untuk berpegangan. Secara pelan-pelan dan hati-hati, Declan melajukan kudanya menuju lintasan.
***
Daphne baru saja turun diturunkan dari kuda oleh Declan. Dia berjalan ke tepian lintasan untuk duduk di tribun kecil penonton yang memiliki kanopi diatasnya. Sedang Declan harus bersiap di arena.
"Wahhh...wahhh pelayan ini ternyata bisa juga ya berkuda!" ejek Ashlyn.
"Kamu ini apa-apaan sih Ashlyn? Jaga bicaramu, tolong bersikaplah sopan dia itu kekasihku!" Daphne sontak murka. Belum sempat duduk sudah disindir-sindir oleh Ashlyn.
"Apa yang salah dengan ucapan Ashlyn, Daph? Memang benar dia hanyalah seorang pelayan rendahan. Seleramu tak berkelas sama sekali! Lebih bagus William kemana-mana!" Nenek yang juga sedang berada di tribun ikut menimpali.
Nenek Carol duduk diapit oleh William di sebelah kirinya serta suaminya, Kakek Jose di sebelah kanannya.
"Aku tak mengerti Daph kenapa kamu memilih pria itu dibandingkan aku? Apa kurangnya aku dari dia?" William menyipitkan matanya heran.
Jujur saja dia tak terima kalau harus kalah dari Declan dalam hal perebutan hati Daphne. William sudah cukup lama mendamba untuk memperistri Daphne. Bisa dikatakan pria itu tergolong sebagai penguntit.
Hanya baru-baru ini saja dia berani go public dan secara terang-terangan mengutarakan keinginannya menikahi Daphne.
Daphne yang tak terima karena kekasihnya diolok-olok lalu angkat bicara, "Setidaknya Decs itu seorang gentleman. Dia berani menerima tantangan Papi dan mau ikut balap kuda. Dibandingkan dengan William, dia malah duduk-duduk manis bersama Nenek-nenek." sindirnya telak. Biarlah Neneknya marah sekalian. Daphne terlanjur kesal.
"Cih...percuma pelayan itu ikut kompetisi kalau endingnya pun dia juga kalah!" balas Neneknya ketus.
"Jangan suka meremehkan Nek, mari kita lihat saja nanti siapa pemenangnya!" Daphne mulai tersulut emosi. Ada perasaan tak suka kala Declan direndahkan.
Tak lama setelahnya, orang tua Daphne datang dari arah samping dan mencoba melerai percekcokan keluarga ini agar tidak semakin runyam. Kakak Ipar Daphne tidak tampak karena ia lebih memilih untuk beristirahat di tenda.
"Sudah sayang..ucapan Nenek jangan dimasukkan hati. Sebaiknya kita duduk saja ya, jangan mencari keributan," bisik Evangeline pada Daphne, sambil ia merangkul bahu putrinya itu.
"Tapi Mi--" perkataan Daphne disela oleh Keenan yang menimbrung.
"Mamimu benar Daph, biarkan saja! Nenek dan Kakek itu bebal sekali kalau diberitahu. Mari kita duduk dan menonton balap kuda ini dengan tenang. Fokus dukung kakakmu dan kekasihmu di arena!" ucap Keenan.
__ADS_1
"Baiklah Pi..." Daphne mengalah.
***