The Fake Dating Game

The Fake Dating Game
Ted Talk


__ADS_3

AUTHOR POV


Daphne dan Declan memutuskan untuk janjian bertemu di taman lagi sebelum mereka menghadiri acara gathering keluarga Harper di kediaman orang tua Daphne.


"Ckkk..lama sekali sih tidak sampai-sampai! Dimana pria itu?" Daphne berdecak kesal sambil tak henti-henti mengecek jam lewat ponselnya.


Sudah hampir satu jam lebih ia menunggui Declan, namun pria itu tak kunjung datang. Cerobohnya Daphne, ia lupa menanyakan nomor ponsel pria yang dikenalnya dengan nama Decs itu. Alhasil mau menelpon tak bisa.


Kemarin sebelum berpisah, mereka hanya sepakat untuk bertemu lagi di taman ini pada pukul 6 pagi. Nantinya Daphne dan Declan akan berangkat bersama-sama menggunakan mobil Daphne.


Sekelebat pikiran-pikiran buruk mendadak hinggap di pikiran Daphne.


Bagaimana jika pria itu tak datang?


Bagaimana jika dia mengingkari janjinya?


Jika itu sampai terjadi, maka dipastikan Daphne tidak akan punya muka untuk bertemu dengan keluarga besarnya.


Beruntungnya angan-angan buruk Daphne tidak terjadi. Beberapa menit kemudian Declan akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Membuyarkan lamunan Daphne.


"Hey, pirang!!" teriak Declan dari kejauhan dengan tengilnya.


"Pirang-pirang! Sembarangan sekali kamu memanggilku pirang!" Daphne berkacak pinggang sambil bergeleng.


"Rambutmu kan memang pirang." ucap Declan sembari berjalan mendekat.


"Aku itu sudah menunggumu sejak jam 6 pagi, lalu dengan mudahnya kamu datang dan langsung mengejek warna rambutku! Tidak tahu sopan santun sama sekali!" cibir Daphne.


Declan pun balas tersenyum menyeringai. "Dasar cerewet! Ini juga masih pukul 7 pagi. Acara keluargamu kan jam 8, masih banyak waktu untuk bersantai."


"Bersantai kamu bilang?" Daphne menatap pria didepannya ini tak percaya. "Decs, jarak dari taman ini menuju kediaman orang tuaku sangat jauh! Karena acara keluarga Harper akan dihelat di rumah peternakan milik orang tuaku. Bukan di rumahku yang biasanya."

__ADS_1


Declan memasukkan tangannya ke saku celana dan mendengus sebal. "Ya sudah ayo jalan!"


Daphne memutari mobil dan hendak masuk ke kursi kemudi, namun langkahnya terhenti karena Declan melarang. "Biar aku saja yang menyetir!"


Pantang bagi Declan membiarkan seorang perempuan menyetirinya. Bukan karena ia menganggapnya lemah, melainkan Declan merasa tidak gentleman saja jika itu sampai terjadi. Pengecualian untuk kemarin saat kabur dari pesta, itu Daphne yang menyetir.


"Memangnya bisa?" Daphne sedikit meragukan.


"Kamu meremehkanku. Tentu saja aku bisa. Menyetir mobil itu basic life skill. Terlepas aku seorang pelayan atau tidak, aku tetap harus bisa mengendarai mobil. " Declan masih memainkan sandiwaranya dengan apik.


Akhirnya Daphne mengalah. Diserahkannya kunci mobilnya tersebut pada Declan.


***


Tak banyak yang mereka perbincangkan saat perjalanan. Justru malah lebih banyak diamnya daripada berbicara.


Baik Declan maupun Daphne sama-sama tak ingin memulai obrolan terlebih dahulu. Keduanya masih sama-sama merasa canggung duduk berdua saja di mobil.


Untuk mencairkan suasana, Daphne bertanya, "Decs, apa yang sebenarnya memotivasi kamu untuk meneruskan sandiwara pacaran kita ini? Padahal bisa saja kan, urusan kita selesai sampai di waktu itu." tanyanya penasaran.


"Iya, kamu benar. Dan untuk itu aku berterima kasih. Tapi apa kamu siap bertemu dengan keluargaku? Disana nanti, mereka pasti akan mencecarmu dengan berbagai pertanyaan yang menohok. Aku harap kamu siap mental." ucap Daphne.


"Aku tidak takut. Kamu lupa kalau aku ini seorang pelayan? Sudah biasa mendapat omelan dari orang lain. Aku saja bisa tahan dihina oleh sepupumu itu di pesta kemarin."


Daphne terkekeh. "Baiklah..kamu aturlah saja bagaimana nanti. Oh ya, ngomong-ngomong imbalan apa yang harus aku berikan atas pertolonganmu ini?"


"Memang apa yang bisa kamu tawarkan?" tantang Declan balik.


"Ya apa saja, akan kukabulkan permintaanmu semampuku. Yang penting masuk akal!" sahut Daphne.


"Baiklah, akan kupertimbangkan nanti. Untuk saat ini belum kepikiran ingin apa." jawab Declan yang dibalas dengan sebuah anggukan dari Daphne.

__ADS_1


"Satu lagi Decs..aku ingin bertanya. Kalau boleh tahu, nama lengkap kamu siapa ya?" celetuk Daphne lagi.


"Memangnya kenapa?" Declan melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir.


"Aku hanya penasaran. Karena tidak mungkin kan namamu hanya Decs saja?"


"Aku rasa kamu tidak perlu mengetahui nama belakangku. Kamu hanya cukup mengenalku dengan nama Decs saja," timpal Declan.


Karena tak puas mendengar jawaban pria itu, Daphne semakin mendesaknya. "Ayolah Decs katakan padaku!! Aku ingin tahu!"


Declan masih bungkam, tak mau menyahuti. Bisa gawat jika Daphne sampai tahu kalau Decs yang dikenalnya ini adalah pewaris tunggal dari Parker Group. Bisa ketahuan jati diri aslinya sehingga membuat rencana yang disusunnya buyar.


Berbicara tentang rencana, Declan sendiri memang punya maksud terselubung sejak awal, mengapa ia berani menawarkan diri berpura-pura pacaran dengan Daphne, yang notabene merupakan wanita asing yang baru saja dikenalnya.


Mendapat desakan dari kedua orangtuanya untuk segera menikah, menjadikan Declan harus bergerak cepat mencari pendamping hidup yang sekiranya pas dan cocok. Dia tidak punya pilihan lagi selain menuruti permintaan Daddy Wyatt dan Mommy Irene.


Karena kalau tidak, maka namanya bisa dicoret dari daftar pewaris sah kekayaan Parker Group. Opsi terburuk lainnya, Declan bisa didepak dan tak diakui eksistensinya lagi sebagai anak. Separah itu memang.


Berhubung ada Daphne didepan mata, Declan akan memanfaatkan hal ini sebaik mungkin. Semalaman berpikir, tekad Declan sudah mantap untuk menjalani hubungan yang serius bersama Daphne. Meski wanita itu tahunya mereka hanya bersandiwara saja.


Declan sudah terlanjur malas kalau disuruh lagi mencari wanita-wanita diluaran sana yang tidak jelas. Maka dari itu, ia akan coba mendekati Daphne dan mendapatkan hatinya. Walaupun Declan sendiri belum ada rasa ketertarikan pada wanita yang berada disampingnya ini.


Kendati begitu, Declan tetap tak ingin terburu-buru. Dia masih ingin menikmati proses pendekatannya dengan Daphne. Selain itu Declan ingin mengetes sampai sejauh mana Daphne bisa bertahan memiliki kekasih yang tak punya asal-usul jelas serta penghasilan yang tetap seperti dirinya saat ini.


"Apa sih arti penting dari sebuah nama belakang? Memangnya itu berpengaruh padamu?" tanya Declan.


"Tidak penting bagiku, tapi itu penting untuk reputasi keluarga besarku Decs." Daphne tertunduk lesu. "Mereka selalu berpikiran bahwa penting bagi seorang Harper untuk memiliki pasangan dengan latar belakang yang jelas."


"Hampir 98 persen anggota keluarga Harper, pasti menikahnya dengan orang-orang dari golongan kelas atas. Ada semacam tradisi sendiri, yang mana kami dilarang untuk berhubungan dengan orang biasa," curhat Daphne.


"Kolot sekali pemikiran keluargamu!" sindir Declan. "Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu menargetkan diri untuk menikah dengan seorang konglomerat?"

__ADS_1


Daphne menggeleng cepat. "Tentu saja tidak Decs! Bukan itu yang kucari. Aku selalu menginginkan untuk berjodoh dengan pria yang mencintaiku dengan tulus. Aku sama sekali tak perduli bagaimana keadaan ekonominya. Yang penting dia membuatku bahagia." ucap Daphne sambil tersenyum kecut.


**


__ADS_2