
Author POV
"Siapa yang mengijinkan mu pergi" Wiliam sudah ada dibelakangnya, sejak kapan pria berbadan jangkung itu sudah ada dibelakangnya. Wilona hanya memandang Wiliam dengan tatapan kosong ada sedikit rasa takut dalam dirinya ketika melihat pemuda dihadapannya ini
Hanya beberapa menit ketika ia akhirnya sadar akan kesalahannya, ia langsung mengubah ekspresi nya kembali datar dan tidak tersentuh, lebih baik tidak terlalu dekat dengan saudaranya akan repot baginya pergi jika sudah terikat secara emosional pada putra-putra sang Duke, belum lagi takdir Kematian yang menunggunya di masa depan
" Siapa yang mau pergi tuan muda kedua"
"Bukankah kamu sendiri bilang ingin pergi dari kediaman" ujar Wiliam memastikan
"Saya.. mau pergi, anda pasti salah dengar saya tidak pernah berkata ingin pergi" ujar Wilona dengan percaya diri
"Benarkah" ujar Wilona dengan tatapan menyelidiki, kemudian menganggukkan kepalanya dan duduk disebelah Wilona
"Te.. tentu saja, Lagi pula untuk apa saya pergi ketika hidup saya terjamin di sini" gumam Wilona sedikit gugup. sejak pemuda itu duduk disampingnya dia terus merasa sedikit terintimidasi terutama dengan tatapannya yang terus-menerus menatap kearahnya.
"Kenapa gugup aku tidak akan menghukum mu hanya karna ucapan mu diruang makan" Wiliam mengusap pucuk kepala Wilona dengan lembut.
"Aku tau kamu tadi hanya makan sedikit jadi aku membawakan Cookies ini untuk mu, makanlah ini aman aku tidak mungkin meracuni adikku" Wiliam dapat melihat keraguan dimata sang adik akhirnya ia memakan cookies dan memberikan sepotong lainnya kepada sang adik
"Lihat ini amankan" ujar Wiliam yang menggoyang-goyangkan cookies di tangannya, Wilona langsung memakan cookies yang diberikan Wiliam, Pipinya mengembung layaknya tupai membuatnya tidak tahan untuk mencium pipi gembul tersebut
Cup
Cup
Tubuh Wilona langsung menegang mentap wiliam yang baru saja mengecup kilat pipinya mengedipkan mata dengan lucu "Makanlah setelah itu datang keruangan Edward ia menunggumu di sana" ujar Wiliam sebelum meninggalkan Wilona yang masih mematung atas aksinya itu
Cup
Kecupan kilat kembali dilayangkan Wiliam saat melihat tingkah adiknya yang menurutnya lucu sebelum ia meninggalkan taman dan Wilona yang masih memproses apa yang baru saja terjadi.
"WILIAM MENYEBALKAN" teriak Wilona yang masih bisa didengar oleh Wiliam senyum tipis terukir diwajahnya yang dinginnya. Sudah dua jam sejak kepergian Wiliam dari taman dan Wilona masih terus mengomel melupakan ke marahannya
" WILIAM BRENGSEK"
"DASAR IBLIS KECIL"
__ADS_1
"MATI SAJA SANA"
"KAKAK YANG TIDAK ADA AKHLAKNYA"
"Aaaaa WILIAM MENYEBALKAN" maki Wilona dengan sepenuh tenaga
"Nona. Apa tidak masalah mengumpat tuan muda kedua seperti ini" tanya snow
"Tidak masalah selama tidak ada yang tau. Lumayan menyenangkan juga aku bisa mengumpat dia dengan bebas tanpa perlu dihukum hehe" seru Wilona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Kepada siapa kamu mengumpat hingga lupa punya janji dengan ku" saat Wilona berbalik ia melihat Edward dan seorang pria yang ia kenal sebagai tangan kanannya, Valen namanya.
"Eh.. Bukan siapa -siapa jadi.. ada keperluan apa tuan muda pertama dengan saya" tanya Wilona yang kini telah duduk sambil memakan cookies
"Hanya ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan, segera keruangan ku SE.KA.RANG" ujar Edward penuh penekanan pada kalimat terakhir. Kemudian pria itu pergi tanpa menunggu respon Wilona selanjutnya
***
Dengan gontai Wilona memaksakan kakinya melangkah ke ruang kerja Edward, entah apa yang ingin pria jangkung dengan mata secantik kristal itu menggilanya seperti bukan dirinya saja.
"Pertama bisa kah kamu merubah panggilan mu itu, cobalah untuk memanggil diriku dengan sebutan kakak" pinta Edward dengan nada datar, permintaan Edward terdengar lucu untuk Wilona seseorang yang dikemudian hari akan membunuhnya tanpa rasa bersalah. Kini memintanya untuk menggiling dirinya kakak bukankah lucu
" Apa hak orang rendahan ini untuk memanggil putra tertua Duke Razel dengan sebutan kakak. Bukankah ada tidak berniat memiliki adik yang telah membunuh ibunya sendiri" ujar Wilona santai masih meminum teh dihadapannya secara anggun.
Namun tidak dengan Edward, teh yang diminumnya kini ditaruhnya dengan kasar hingga menyebabkan sedikit retakan pada cangkir yang sekiranya harganya cukup untuk membeli sebuah rumah mewah di dunianya dulu.
"Aku hanya ingin mencoba memperbaiki keadaan apa sesulit itu untuk memberiku kesempatan" tanya Edward dengan putus asa
Kesempatan yang sia-sia saat adikmu yang sebenarnya telah mati, aku tidak ingin sakit ketika Kalian tau yang sebenarnya batin Wilona
"Aku hanya tidak ingin berharap terlalu banyak cukup rasa sakit yang kalian berikan dulu, aku tidak ingin memberikan harapan untuk sesuatu yang tidak pasti kalo tidak ada yang oelru dibicarakan lagi saya permisi" Wilona bangun melangkah menunju pintu besar dengan ukiran-ukiran yang cukup cantik untuk disebut pintu. Ucapan Edward mampu membuatnya berhenti untuk keluar dari ruangan kerja Edward, dirinya hanya bisa diam mematung saat Edward mengatakannya.
"maaf..maaf.. hiks.. maafkan aku karna tidak mencari tau yang sebenarnya.. hiks..hiks ... Maafkan aku karna tidak mempercayai mu dan malah meminta penghakiman untuk mu..hiks... hiks ..aku salah... Aku menyesal" jujar Edward air matanya bagaikan air terjun pipinya yang putih kini telah memerah
Wilona memutar tubuhnya meliat seorang pemuda yang kini tampak hancur dihadapannya hatinya sakit meliat keadaan Edward yang seperti ini, entah ini perasaanya atau perasaan Wilona asli ia pun tidak tau. Edward melangkah kearahnya setiap langkah yang pria itu ambil Wilona terus mundur
Ada rasa takut, sedih, marah dalam dirinya ia hanya bisa mundur hingga tubuhnya menabrak pintu, saat pemuda itu tepat dihadapannya memegang pundaknya dengan tatapan penuh duka membuat perasaanya semakin kalut kini kakinya bagaikan jelly dirinya terduduk di lantai menatap kerah pemuda dihadapannya.
__ADS_1
"Kamu mengingatnya?.. itulah sebabnya sikapmu berubah iya kan... Jawab" tanya Edward air matanya masih meluncur bebas
"Tidak ada gunanya aku menjawab, pada akhirnya kakak akan tetap mengusulkan untuk membunuh ku tanpa mencari tau yang sebenarnya.." ujar wilona kini kedua tangannya sudah ada di pipi Edward menghapus air mata yang terus mengalir tanpa henti di kedua pipinya
"pada akhirnya kakak dan ayah tetap akan menjadikan Viona dunia kalian, tidak ada gunanya aku merubah masa depan. Tetaplah menjadi Edward yang dingin, tidak tersentuh, tetaplah tidak memperdulikan ku dan saat dia datang biarkan aku per_"
"Tidak.. hiks.. aku tidak akan membiarkan mu pergi.. aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.. aku tidak perduli dengan anak itu hanya kau....hanya kau...prioritas ku sekarang aku mohon berikan kesempatan untuk menebus dosa ku" potong Edward dirinya memeluk Wilona seperti gadis kecil yang ada dipeluknya itu akan menghilang jika ia melepas pelukannya saat ini
"Maaf.. aku perlu waktu" ujar Wilona mendorong Edward menjauhinya berlari keluar ruangan pria yang kini telah meraung-raung menangisi semua perbuatannya dimasa lalu, tanpa memperdulikan raungan Edward Wilona berlari tak tentu arah hingga dirinya kini sudah berada di taman yang entah berda di bagian mana di istana utama
Wilona menunjukan dirinya di semak-semak yang cukup tinggi perlahan tapi pasti air matanya meluncur tanpa bisa ia tahan sudah hampir dua tahun ia berada di dunia ini, ia mulai menyayangi orang-orang yang ada disekitarnya ia bahkan mulai merasa bahwa dirinya adalah Wilona yang asli.
Dia bahkan sulit membedakan mana peranannya dan mana perasaan wilona, contohnya seperti sekarang dirinya menangis tanpa tau perasaan siapa yang ia rasakan saat ini.
Sedih dan bersalah karna merebut posisi Wilona asli atau perasaan Wilona yang mengetahui Edward adalah orang yang kembali kemasa lalu untuk menebus dosanya kepada Wilona asli, dia hanya mampu menangis meluapkan semua emosi yang ia simpan selama ini.
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekat kearahnya Wilona menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar
"Bagaimana rencana selanjutnya, kapan kau menyingkir putra Razel semakin kesini putra Razel itu semakin menjengkelkan terutama Leon.
Iblis kecil itu terus membuat ku ingin membunuhnya secepat mungkin" ujar pria dengan tudung yang menutupi wajahnya
"Secepatnya, aku akan meletakkan racun di minuman tepat di acara ulang tahun putranya, setelah itu tinggal menghasut orang-orang bahwa putrinya lah yang berniat membunuh kakaknya karna dendam setelah itu boom si putri yang menyedihkan itu akan mati bersama kakaknya hahah" ujar seseorang yang Wilona kenal sebagai tangan kanan Edward.
" Apa tujuan mu membunuh keturunan Razel bukankah kau orang kepercayaan Edward apa jaminan kau tidak akan berhianat" tanya pria bertudung
"Razel dan keturunannya harus hancur setalah apa yang telah ia lakukan pada keluarga ku. Pria busuk itu membantai keluarga ku hanya karna istrinya kecelakan dalam pengawalan ayahku, ayah hanya sedikit merusak perjalanan duchess tapi Duke Razel membasmi keluarga ku karna sebuah kesalahan kecil " ujar tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Edward
Hay bubbles balik lagi nih, kalian udah pada puas belum sama cerita ini. Kalo belum tunggu chapter selanjutnya ya, terima kasih untuk kritik dan sarannya. Aku janji chapter selanjutnya akan lebih baik dari sebelumnya dan Aku bakal up kalo chapter ini vote nya lebih dari part sebelumnya, nggak lebih nggak papa sih.
...Jangan lupa Follow ...
...WP @blue_bubbles 11 ...
...Ig @blue_bubbles11...
...aku tinggu kritik dan saran Kalian see you next chapter bay bay 💞 💞💞...
__ADS_1