
"Bagaimana kondisinya sekarang" tanya pria yang baru saja memasuki ruangan dapat dilihat rambut blonde pria itu tampak berantakan, wajahnya tampak kusut, Bahkan bajunya sudah tidak Serapi sebelumnya.
"Nona cukup terguncang tuan, saya khawatir jika kita sedikit saja lengah kemungkinan nona akan mencoba untuk bunuh diri. Saya sarankan tuan memberikan pengawasan ekstra untuk nona" ujar sang tabib setelah memeriksa kondisi gadis muda yang tengah tertidur di kasurnya itu, wajahnya ketika tidur terlihat damai
"Terima kasih kau boleh pergi" tabib itu langsung pergi meninggalkan empat pria yang menatap kosong ke arah gadis kecil mereka yang tengah tertidur.
Beberapa menit setelah Duke meningkatkan kamar Wilona, ia mendapatkan kabar yang cukup membuatnya syok, putri kecilnya mencoba bunuh diri. Hal itu cukup membuatnya kaget, ia bergegas menuju kamar putrinya hal pertama yang ia lihat saat sampai di sana ke-empat anaknya tengah menangis di balkon, lengkap dengan sang putri yang coba melepaskan dekapan ketiga saudaranya.
Dia dapat mendengar dengan jelas ucapan Wilona bahwa ia ingin menyusul sang bunda. Mendengarnya saja sudah membuat hatinya sakit belum lagi melihat putri itu tampak kacau, mata birunya kini tidak secerah sebelumnya, Pandangannya kosong.
Kondisi ini membuatnya hati kecilnya sakit putri yang selalu tampak kuat dan ceria ketika bersama dengan pelayan dan bintang busanya. Kini tampak sangat rapuh, hingga ia sangat yakin jika sedikit saja lengah putrinya itu dapat hancur dalam sekejap.
" Jelaskan bagaimana Wilona bisa mencoba bunuh diri" tanya Duke razel pada ketiga putranya yang masih menunduk
"Kami tidak tau ayah yang pasti Wilona menguping pembicaraan kita bahwa ia buta dan setelah itu ia histeris dan mencoba untuk bunuh diri" jelas Edward
pemuda itu merasa dia sudah gagal menjadi kakak bagi adik kecilnya itu, Bahkan dirinya lah yang paling merasa bersalah saat melihat Wilona terjun dari balkon. Jika saja saat itu Leon tidak menangkap tangan Wilona mungkin ia telah menyusul adiknya untuk mengakhiri hidup.
"Rudolf tambah pengawal di depan kamar Wilona, juga tambahkan pelayan di kamarnya pastikan dia tidak sendirian. kalian bertiga mulai sekarang akan bergantian menjaga Wilona, Pastikan dia tidak melakukan tindakan bodoh" perintah Duke razel
Pria itu menghampiri ranjang putrinya mencium pucuk kepala nya dengan sayang, dia merasa gagal menjaga peninggalan terakhir istrinya, merasa menjadi ayah dan suami yang buruk bagi istri dan anaknya.
"Eumm" lenguhan Wilona saat merasa tidurnya terganggu
"Tidurlah kembali sayang, ayah disini" ucap Duke razel lembut pria kaku itu mengelus rambut blonde Wilona dan sesekali menepuk ringan punggung Putri itu, Wilona yang diperlukan seperti itu mencari posisi yang nyaman berakhirlah dia memeluk tangan duke razel dengan erat
"Kalian keluar lah malam ini ayah yang akan menjaganya" perintah duke razel tegas bahwa ucapannya tidak ingin dibantah sedikit pun, ketiga putranya yang mendengar ucapan sang ayah hanya bisa mendengus kesal. Mereka juga ingin tidur memeluk sang adik, dengan berat hati ketiganya meningkatkan kamar itu
"Maaf ayah baru bisa memberimu kasih sayang saat kondisi mu seperti ini ayah menyesal, harusnya ayah bisa melindungi mu dan menyayangi mu lebih baik dari ini" lanjut Duke razel, walaupun terlihat tegar tapi ayah empat anak itu rapuh terutama ketika istrinya meninggal.
Dia merasa dunianya hancur dan beranggapan menjauhkan putrinya merupakan tindakan yang tepat untuk melindunginya, tanpa dia pernah menyangka bahwa hal tersebut telah menyakiti putrinya sendiri.
Malam itu ia tidur bersama putrinya memeluk tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang, berharap ia dapat menembus semua kesalahannya dahulu
***
Matahari bersinar, burung-burung berkicau riang terdapat gadis kecil yang tengah tertidur pulas bersama dengan ayahnya. Tidak lama pintu kamar tersebut terbuka menampakkan seorang pelayan yang bertugas membangunkan nona mudanya.
Namun keinginannya itu harus di urungkan, saat melihat nona nya masih tertidur didalam pelukan orang yang paling di nantinya selama ini.
__ADS_1
"Bangunkan dia Anna dan pastikan untuk tidak meningkatnya sedari" ujar Duke razel saat melihat pelayanan sekaligus pengasuh putrinya berniat keluar.
"Baik tuan" ujar Anna masih menunduk, saat dirasa tuan Duke telah meninggalkan kamar. Anna bergegas membangunkan nona mudanya yang tidak lain adalah Wilona
"Nona ayo bangun, hari sudah siang" ujar Anna yang masih sibuk membangunkan Wilona, bukanya bangun gadis itu malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya
"Lima menit lagi Kak Anna" gumam Wilona masih dengan mata terpejam, gadis kecil itu cukup peka dengan suara-suara di sekitarnya terutama orang-orang yang dia kenal sejak lama
" Nona dapat tidur lagi, jika nona sudah mandi dan sarapan ayo nona bangun" ujar Anna menarik selimut yang menutupi wajah Wilona. Anna bahkan menarik Wilona tanpa ragu agar duduk, mengendong tubuh kecil Wilona menuju kamar mandi.
Setelah semua dirasa beres Wilona di tuntun menuju ruang makan, mendudukkan tubuh Wilona di bangku kosong diruangan tersebut. Semua terasa sepi bagi Wilona, walaupun ia dapat melihat walaupun tidak terlalu jelas.
Dia masih dapat melihat bahwa dia tidak sendirian di ruangan itu, tapi ada apa dengan suasana hening ini
"Kak Anna apa ayah dan ketiga kakak ku tidak sarapan"tanya Wilona dengan wajah sedih
"Nona tuan Duke dan tuan muda ad_" belum sempat Anna menjelaskan situasi saat ini Wilona langsung memotongnya
"Sudah lah Kak Anna" Wilona membuang nafas dan berusaha mencari peralatan makannya
" Tidak usaha menghibur ku, aku tahu ayah dan ketiga kakak ku tidak mungkin Sudi untuk makan bersama dengan Putri buta seperti aku" lanjut Wilona ia dapat melihat tubuh yang menegang di depannya saat ini, dia puas melihat bagaimana reaksi Duke razel dan ke-tiga saudaranya.
Wilona mencari perkataan makannya namun hasilnya nihil. Ia dapat melihat peralatan makannya, namun karna penglihatannya yang sedikit memburam membuatnya susah membedakan mana garpu dan mana sendok, hingga ia kadang membuat nya memakan sup dengan garpu dan memakan buah dengan sendok.
Wilona kesal dengan keadaanya saat ini, dia meletakkan peralatan makannya, meraba-raba sekitarnya dan berusaha untuk turun, namun usahanya gagal bukannya ia berhasil turun Wilona malah tersiram sup panas miliknya sendiri.
"Ahggh" seru Wilona saat sup itu mengenai gaun yang dia kenakan, Wilona memang kesal dengan keadaannya saat ini tapi tidak sampai melampiaskannya pada makanan ataupun pelayanan yang ada disekitarnya.
"Astaga nona, mari saya bantu" ujar Anna pelayanan itu langsung membersihkan baju yang tertumpah sup dengan telaten
"Cukup kak Anna, antar aku kekamar aku bisa membersihkan nya sendiri. Aku tidak ingin menjadi beban untuk kak Anna dan para pelayan, sudah cukup aku menjadi beban keluarga Duke Razel jangan kalian juga" ujar Wilona tanpa beban seakan-akan yang dia ucapkan adalah sebuah fakta.
Semetara di telinga Duke razel serta Edward, Wiliam, dan Leon ucapan adiknya itu seperti sebuah pedang yang menusuk jantung mereka, sakit rasanya. saat gadis kecil yang mulai mengisi hati mereka kini terlihat rapuh dan tidak memiliki semangat lagi
Leon berdiri bermaksud untuk membantu Wilona, tanpa memperdulikan pandangan menusuk dari keluarganya yang lain. bahkan secara terang-terangan Wiliam sudah memakan dagingnya dengan sadis. Mengibaratkan yang tengah dimakannya kini Leon
"Mari saya bantu nona" ujar Anna tapi orang yang membantu Wilona bukanlah Anna. Leon yang tengah menggenggam tangan Wilona dan menyuruh Anna untuk berbicara ia takut, takut jika sang adik tau bahwa dia membantunya Wilona akan marah atau bahkan histeris.
"Tangan kak Anna terasa berbeda" ujar Wilona saat mereka berada di koridor, Leon yang mendengarnya mulai panik namun Anna dengan cepat memberikan alasan
__ADS_1
"karna baru-baru ini saya mendapat tugas tambahan nona, salah seorang pelayan tengah jatuh sakit" ujar Anna wanita dua puluh dua tahun dengan senyum manis diwajahnya, Leon yang mendengarnya hanya bisa bernafas lega
"Maaf Karna merepotkan kak Anna. pada hal kak Anna tengah banyak pekerjaan" ujar Wilona dengan wajah sedih
"Tidak apa nona ini sudah tugas saya, kita sudah ada dikamar saya akan menyampaikan pakaian ganti untuk nona" ujat Anna sopan, genggaman tangan Leon terlepas namun pemuda itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri,
Dia masih memandangi wajah adiknya itu, ingin rasanya dia memeluk dan mencium wajah mungil sang adik. Menyalurkan rasa sayang yang tidak pernah ia berikan
"Nona setelah ini nona ingin saya antar kemana" tanya Anna setelah menyiapkan baju ganti Wilona
"Taman aku ingin menikmati udara pagi" ujar Wilona dengan senyum yang terlihat dipaksakan
"Maaf tua muda bisa kah anda keluar sebentar, saya ingin mengganti baju nona" bisik Anna pelan namun masih bisa di dengar oleh Leon, pemuda itu mengangguk dan keluar dari kamar Wilona
"Sedang apa kau disini" tanya Chester yang melihat Leon baru keluar dari kamar Wilona
" Bukan urusan mu" jawab Leon seadanya
"Akan menjadi urusan ku jika menyangkut dengan nona"
"Aku disuruh ayah untuk menjaga wilona" ujar Leon memandang demon beat itu dengan tidak minat
" Baguslah jika Duke mulai memperhatikan putrinya, aku harap itu bukan karna rasa bersalah semata" ujar chaster sebelum memasuki kamar Wilona, sementara Leon yang mendengar ucapan Chester hanya bisa terdiam. Dia pun tidak yakin dengan perasaan nya saat ini, apa rasa sayang untuk sang adik tau kah rasa bersalah.
Dari dalam kamar ia dapat mendengar seruan bahagia Wilona saat Chester datang, dia ingin mencoba apakah ia dapat mendengar seruan yang sama, ketika bertemu dengan Wilona.
Dia ingin tau respon apa yang akan diberikan Wilona ketika bertemu dengannya ataupun anggota keluarga yang lain, ia kelelahan harus diam dan diacuhkan oleh wilona pada hal ini baru beberapa jam, bagaimana dengan Wilona yang telah diacuhkan selama bertahun-tahun.
.
.
.
...Hai kembali lagi dengan bubbles disini, gimana sama cerita kali ini kalian puas? ...
...Sebenarnya aku lebih suka kalo kalian coment entah itu next atau yang lainnya rasanya Heppy banget . Kaya doi yang peka sama kode ku...
...Jangan lupa follow ...
__ADS_1
...Ig : blue_bubbles11...