
Tabib yang tengah dibawa oleh Leon dengan kondisi yang sangat amat tidak keren, Bayangkan saja pria tua yang dibawa hanya mengunakan celana pendek dengan baju yang belum terkancing sepenuhnya, hingga membuat kulit tuanya dapat terlihat. Sementara udara diluar sangat dingin hingga membuat kedua pria tua itu terus bersin selama pemeriksaan
"Berhenti bersin jangan sampai ketika putriku bangun ia malah terserang flu akibat kalian yang terus bersin" ujar Duke razel dengan tatapan tajam seakan mampu mengoyak tubuh ringkih sang tabib dan dokter istana
"Baik tuan" ujarnya pelan dapat dilihat bagaimana usahanya untuk menahan bersin ia cukup takut karna kesalahan kecil membuatnya kepala dan badannya terpisah dia hanya karna sebuah bersin
Tidak lama mata seorang gadis kecil terbuka ia menatap kosong kerah orang-orang tengah yang ada di sana
"Nona dapatkah ada mendengar saya" ujar dokter istana, Wilona hanya mengangguk kan kepala hingga sebuah pertanyaan membuat ruangan itu kembali hening
"Pa.man ken.apa ruangan ini gelap" ujar Wilona terbata-bata tenggorokannya terasa sakit
" Nona dapatkah anda menyebutkan angka berapa yang saya tunjukkan" ujar tabib istana dengan perasaan campur aduk antara takut akan keselamatannya dan sedih dengan nasip gadis kecil dihadapannya ini
"Angka berapa paman?. gelap Wilona takut cepat nyalakan lampu" ujar Wilona mulai putus asa,
Semetara orang yang ada diruangan itu sangat sedih melihat kondisi nona mudanya itu semetara kedua makhluk peliharaan Wilona itu tengah memandang takjub kearah tuanya itu, mereka tau betul kondisi nona nya hanya dengan sekali lihat.
"Maaf tuan Duke bisa kita berbicara diluar" ujar tabib dengan sedikit ragu apalagi melihat wajah Duke dan ketiga putranya yang sekarang siap membunuhnya kapan saja
"Baik" ujar Duke razel meninggalkan kamar bersama dengan ketiga putranya
"Nona anda bisa beristirahat semuanya baik baik saja" ujar sang tabib dan memberikan sihir yang membuat Wilona tenaga, kemudian keluar bersama dengan dokter
"Nona berhasil melewati masa kritis nya namun ada kemungkinan nona mengalami kebutaan akibat racun yang telah menyebar" ujar tabib pelan dapat dilihat wajah mereka yang sudah menegang tangan Duke dan ketiga putranya sudah mengepal kuat
"Namun masih ada sedikit harapan nona dapat melihat kembali mengingat kita sempat mengeluarkan racun sebelum menyebar ke organ-organ penting. Jika nona meminum obat ada kemungkinan nona dapat kembali melihat tapi " jelas tabib walaupun kemungkinannya kecil mereka masih punya sedikit harapan untuk Wilona
"Jika Anda yang bisa kami bantu katakan saja asalkan dia dapat sembuh " ujar Leon ketika melihat wajah tabib istana yang sedikit gusar
" tapi obat untuk nona cukup langkah, akar bunga lili hitam yang tumbuh di hutan mati, anggrek hitam yang tumbuh di utara dan bunga salju abadi yang tumbuh di barat, bunga cahaya yang tumbuh di kerajan Astoria, bahan-bahan itu harus diminum secepatnya jika tidak " ujar tabib istana sedikit ragu pasalnya semua tanaman itu cukup langkah dan kalaupun ditemukan bunga tersebut pasti dijaga oleh orang-orang terlatih
"Lanjutkan" ujar Duke razel
"Jika lewat dari satu bulan nona akan buta total, racun yang masuk ke tubuh nona adalah Belladonna. Semua keputusan tergantung pada tuan" ujar tabib dengan perasaan takut
"Kami akan mengusahakan nya secepat mungkin" ujar Duke kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih syok dengan semua ini.
Semetara di kamar Wilona, Chester dan snow tengah mendesak nona nya untuk berkata jujur kepada mereka.
" Nona tolong jujur lah, saya tau nona tidak buta" ujar snow dengan wujud manusianya
"Benar. Anda dapat membohongi siapa saja tapi tidak dengan saya dan snow kami tau pasti seperti apa nona" ujar chaster semakin memojokkan nona nya itu
__ADS_1
"Haaa.. memang susah membohongi kalian, aku memang tidak dapat melihat dengan jelas tapi aku tau ini hanya efek samping dari racun yang ku minum. Aku juga ingin tahu apa mereka akan menerima kondisi ku yang sekarang atau kembali mengasingkan ku seperti sebelumnya, aku juga masih dapat melihat walau tidak sejelas sebelumnya" ujar Wilona santai seakan kondisinya sekarang tidak menghawatirkan
"Nona bukan kah itu sama saja, nona akan kesusahan kedepannya" ujar snow karna nonanya menganggap remeh kondisinya saat ini
"Tenanglah walaupun aku tidak dapat melihat dengan jelas, aku masih bisa mengobati diri ku sendiri dengan ramuan yang aku buat sebelumnya di rumah kaca" ujar Wilona Tampa beban
"Tapi nona..
" Sudah lah snow, aku baik-baik saja. Jangan khawatir oke" ujar Wilona memeluk leher snow penuh kasih sayang
" Bagaimana rencana selanjutnya nona" ujar Chester
"Berpura-pura mendengar semuanya, snow bantu aku mendekat kearah pintu" ujar Wilona berdiri dan berjalan kearah pintu kamarnya dengan bantuan snow dan Chester
" Nona apa mendengarnya, tuan Duke akan berusaha mencari obat untuk nona " ujar snow senang kerena keluarga nonanya itu mulai berubah kearah yang baik
" Iya. Dengan obat itu aku kan lebih cepat pulih dibandingkan hanya meminum ramuan anti racun buatan ku, sekerang waktunya bermain" ujar Wilona dengan senyum yang cukup menyeramkan
***
Edward, Wiliam dan Leon masih mematung mendengar ucapan tabib istana, akan kondisi adik mereka yang mengalami kebutaan. Kondisi ini menjadi pukulan berat untuk mereka terutama Leon yang merasa bahwa semua ini kesalahannya
"Bruk"
"TIDAK AKU TIDAK INGIN BUTA" ujar Wilona histeris ia mendirikan dirinya didepan pintu memeluk lututnya dan terus berteriak "aku tidak ingin buta" mereka yang melihat adiknya terduduk dan berteriak histeris langsung mendekatinya.
Berusaha memeluk adiknya, namun selalu ditepis wilona kasar menjauhkan tubuhnya dari jangkauan mereka yang mendekati nya, sementara snow dan Chester hanya menatap kasihan pada nona mereka
"MENJAUH KALIAN, KALIAN AKAN KEMBALI MEMBUANG KU PERGI" ujar Wilona memukul semua tangan orang yang berusaha menggapai, Wilona menutup telinga dan terus terisak
"Wilo kemari sayang ini kakak jangan begini" ujar Wiliam berusaha memeluk tubuh adiknya, meski sang adik terus meronta-ronta di pelukannya
"Kalian akan membuang ku, aku hanya akan menjadi beban" ujar Wilona dalam dekapan Wiliam
"Tidak akan ada yang membuang mu" ujar Wiliam saat Wilona sedikit tenang, Wiliam membangunkan Wilona dari duduknya namun tindakannya salah. Wilona mendorong Wiliam dan berjalan cepat dengan meraba sekitarnya menuju balkon kamarnya
Edward membantu Wiliam bangun dari lantai sementara mereka kaget dengan tindakan tiba-tiba Wilona. Wilona sudah berada di balkon kamarnya menuju tepi pagar pembatas
"BUNDA BAWA AKU, AKU BENCI HIDUP DISINI BUNDAAAAA " teriak Wilona saat dirinya sudah berada dipinggir balkon siap untuk loncat ke bawah, tubuh Wilona condong ke depan tubuhnya jatuh dari balkon. Teriakan orang-orang yang berada di tempat itu terdengar
"TIDAK"
"WILONA"
__ADS_1
"WILO"
Tepat saat tubuh Wilona terjatuh dari balkon tangan Wilona keburu ditangkap seseorang dari atas, Wilona tidak dapat melihatnya dengan jelas karna terkena sinar matahari. Pandangannya makin sulit ketika terkena sinar matahari tidak seperti sebelum ia meminum racun itu
"Pegang Wilona jangan lepaskan" ujar pemuda itu berusaha menarik Wilona dari atas dengan susah payah
"LEPAS AKU MAU IKUT BUNDA" ujar Wilona berusaha melepaskan pegangan tangan pemuda itu
"TIDAK wilona.. kamu tidak boleh pergi.. hiks hanya kamu yang kami punya setelah bunda pergi.. hanya kamu.. aku mohon pegang tangan ku" ujar pemuda tersebut berusaha menggapai kedua tangan Wilona
"LEPAS LEON AKU INGIN MENGABULKAN PERMINTAAN MU... LEPASSS" ujar Wilona saat ia melihat wajah orang yang memegang tangannya erat
"TIDAK.. APA YANG KALIAN LAKUKAN BANTU AKU BRENGSEK" ujar leon penuh emosi saat Melihat kedua kakak nya masih diam mematung dengan pandangan bodohnya itu.
Edward dan Wiliam bergegas kerah balkon membantu leon untuk menarik Wilona, setelah Wilona berhasil mereka selamatkan mereka memeluk nya erah takut jika ia lengah sedikit saja adiknya akan melakukan tindakan nekat seperti tadi.
"Lepaskan kan aku..hiks. aku ingin ikut bunda..hiks seperti keinginan kalian..hiks lepas..hiks sekarang aku buta..kalian akan membuang ku.. hiks kalian akan mengucilkan ku sebelumnya.. hiks kalian akan lebih membenciku" ujar Wilona berusaha melepaskan pelukan bertiga kakak nya itu
"Tidak akan ada yang membuang mu" ujar Edward seraya mencium pipi Wilona
"Kamu tidak menginginkan nyawamu" ujar Wiliam seraya memeluk adiknya erat
"Tidak akan ada yang mengucilkan mu, tidak akan ada yang membencimu, kau bukan beban, dan aku pastikan tidak akan pernah ada orang yang menghina mu sekarang" ujar Leon memeluk Wilona erat
Hari itu mereka berpelukan di balkon kamar Wilona memeluk gadis kecil yang sekarang menjadi dunia mereka, yang tidak mereka ketahui gadis yang tengah Mereka peluk kini tengah tersenyum. Seakan rencananya untuk membalas perlakuan mereka kepada Wilona asli telah berjalan lancar
.
.
.
.
...Hai aku udah dowbel up untuk kalian sebenarnya bukannya nggak mau up sesuai rencana awal cuma kemarin-kemarin aku kehabisan paket, selain itu aku juga di tugaskan ke pedalaman beberapa hari . Aku nggak mau bikin target kaya kemarin lagi tapi yang pasti aku bakal up...
...Kalo comen dan vote kalian sudah aku rasa cukup banyak...
...Jangan lupa follow...
...Ig @blue_bubbles11...
...kriti dan saran aku tunggu ya see you next chapter bay bay 💞💞...
__ADS_1