
"berhenti. Percuma memaksanya untuk berbicara" ujar sebuah suara dari arah belakang Edward tampak seorang pria yang tengah tersenyum manis kearah Edward, namun bagi Edward senyum itu sangat lah menyeramkan
"Harusnya kau sedikit bermain-main dengannya percuma hampir dua bulan ini aku membuatnya hidup, sementara kau hanya menusuk tidak jelas" lanjut pemuda itu. Ditangan terdapat pisau kecil yang sejak tadi ia mainkan
"Apa rencana mu? Menyiksanya. Itu cara murahan" ujar Edward menatap pemuda itu datar
"Aku akan membuatnya memohon kematian" ujar pemuda itu mengiris tipis kulit wajah Valen, senyum masih terlihat diwajahnya yang tampan. Pemuda itu mulai mengikuti Valen tidak ada sejengkal tubuhnya yang luput dari pisau kecil ditangannya itu
"Ahg" teriakan demi teriakan Valen menggema di ruangan tersebut, dalam hitungan detik tubuhnya sudah bersih tanpa sedikitpun kulit Bahkan kuku tangannya tidak luput dari goresan pisau dingin.
"Suaramu mengganggu pendengar saja" ujar Pemuda itu menutup mulut Valen dengan kain, kasar memaksakan kain itu masuk hingga pangkal tenggorokan nya.
"Begini lebih baik" lanjut pemuda itu, sementara Edward hanya memandangi tanpa minat
"Aku tidak pernah menyangka adik ku yang manis bisa bersikap keji seperti ini, aku penasaran apa yang akan Wilona katakan jika melihat karya mu itu" ujar Edward tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah penuh peringatan dari pemuda itu, pemuda itu maju dan melepaskan baju yang ia kenakan dan bergegas membersihkan tubuhnya yang terkena darah Valen
" Jangan pernah sekalipun kau bilang hal ini pada Wilona atau aku akan mengadukan hal yang sama"
"Kita lihat siapa yang lebih Wilona percaya aku atau kamu" ujar Edward meremehkan, Wiliam merasa dirinya diremehkan melemparkan yang ia kenakan tadi kemudian mengusapkan baju itu ke tubuh Edward
"Willy awas kamu ya" teriak Edward ketika sang adik berlari meningkatkan Edward bersama beberapa pengawal seta Valen diruangan itu
"Urus dia jangan buat dia mati"
"Baik tuan" ujar penjaga sebelum tuan tubuh tegap Edward menghilang dibalik tembok
***
Saat ini Wilona tengah berada di taman, menikmati udara pagi yang segar. Bersama Leon serta para pelayan setianya
"Nona saya sudah menyiapkan cemilan seperti biasa" Anna meletakkan cemilan di hadapan Wilona
" Terima kasih kak Anna" ujar Anna sopan
" Kenapa kau harus bersikap ramah kepada pelayanan Wilona" tegur Leon ketika melihat sikap Wilona yang menurut nya sangat aneh, terutama ketika status sosial mereka lebih tinggi dari pada pelayanan.
__ADS_1
" Bukan kah kita harus bersikap sopan kepada yang lebih tua" tanya Wilona saat melihat wajah Leon yang tidak enak dipandang seperti sekarang ini, sedangkan Leon hanya menanggapi dengan senyum mengejek
"Tapi mereka hanya pelayan Wilona status sosial mereka itu rendah, tidak sepantasnya kita bersikap seperti itu" bantah Leon lebih tepatnya ia tidak suka saat sang adik memanggil pelayan dengan sebutan kakak, ia tidak rela perhatian Wilona terbagi
"Ayo lah kak, menghormati orang yang lebih tua bukankah sebuah keharusan. Bahkan bagi kita yang seorang bangsawan, bukankah kita tidak boleh memandang rendah orang lain" jelas Wilona
" Kau tau dari mana bahwa kita harus menghormati orang yang lebih tua, kau kan tidak diajarkan tata Krama" kata Leon yang terdengar sedikit mengejek
" Aku.. tentu saja belajar dari buku dan pengalaman" ujar Wilona lirih
" Pengalaman?" Ulang Leon
"Ia pengalaman yang aku lihat dari kakak dan para pelayan, kakak menghormati ayah dan kakak yang lain" terang Wilona
" Ohh, lihat wilo ada kelinci putih di sana" ujar Leon tanpa sadar bahwa perkataan nya melukainya adiknya
" kak Leon pasti lupa, aku buta sampai kapan pun aku tidak akan bisa melihat" kata Wilona lirih wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam
" Maaf. Aku akan menjadi mata untukmu dan menjelaskan keadaan saat ini" Leon merasa bersalah saat ia melihat wajah Wilona yang sedih dan murung.
"Ia pasti cantik ya kak" kata Wilona di iringi dengan senyum manisnya, meskipun di penglihatan Leon senyum Wilona palsu. Senyum yang menutupi kesedihannya
"Bunganya memang cantik tapi adik kakak ini jauh lebih cantik. sudah cantik ,baik hati, tidak Sombong kurang apa lagi coba" rayu Leon, senyum tipis terukir di wajah Wilona meski tipis senyum itu tidak luput dari pengamatan Leon
"Ihh kakak, masa orang buta di bilang cantik sih"
"Adik kakak ini, selalu cantik siapa bilang kamu jelek dan Wilona nggak buta hanya sementara. Sabar ya sebentar lagi pasti Wilona bisa melihat" jelas Leon mengusap lembut rambut Wilona penuh sayang
"Wilo bisa melihat lagi kak..sungguh kakak nggak bohong kan" kata wilona penuh harap
"Tentu, sebentar lagi Wilona pasti bisa melihat, jadi sabar ya sayang"
Wilona tersenyum manis dan menikmati setiap cemilan yang dia inginkan dengan semangat, Leon yang melihat tingkah adiknya itu hanya tersenyum. Pipinya mengembung ketika menikmati makanan manis yang tersaji di hadapannya saat ini
"Seperti tupai, imut nya" batin Leon
__ADS_1
Pipi Wilona yang bergerak-gerak belum lagi tangannya yang masih menegang cookies, membuat Leon seakan-akan melihat telinga dan ekor yang keluar dari tubuh Wilona. Menambah kesan imut pada adiknya juga membuat Leon seakan tidak rela, jika tingkah imut wilona juga dilihat oleh keluarganya yang lain
"Wilona sayang kakak datang" Wiliam berlari ke arah wilona merentangkan tangan berniat memeluk adik kecilnya itu, semetara Leon yang melihat Wiliam menganggu waktunya bersama Wilona sedikit geram
"Siapa yang kau sebut adik, Wilona adik ku" kata Leon memeluk leher Wilona dan menjauhkannya dari jangkauan Wiliam
"Hey Wilona juga adik ku. kau yang sejak tadi memonopoli dirinya" kata Wiliam seraya memegang tangan Wilona
Sementara Wilona yang menjadi korban diantara kedua saudaranya hanya bisa membuang nafas, tidak bisa kah dia menikmati waktu santainya dengan tenang.
"Lepas lepas kalian ini kalo mau bunuh sekalian aja penggal kepalaku, nggak usah main tarik-tarikan. Mati enggak sakit iya" kesal Wilona, bahkan gadis itu dengan berani memukul Wiliam dan Leon menggunakan tongkat yang ia bawa
"Aku nggak ada maksud kaya gitu" ujar Leon dengan nada memelas bahkan sampai mengeluarkan puppy eyes
"Ayolah aku tidak sepenuhnya salah, dia juga salah Wil" kata Wiliam sambil mencium tangan sang adik, berharap adiknya itu akan memaafkannya. Sementara Wilona hanya memutar matanya tanda bahwa ia jengah dengan tingkah kedua kakaknya itu.
"Terus?" Tanya Wilona saat kedua kakaknya itu menatapnya penuh harap
"Terus dimaafin, secara kita udah minta maaf" jawab Wiliam dengan percaya diri
"Mungkin nanti" ujar Wilona sebelum meninggalkan kedua saudaranya yang masih diam mencerna Setiap perkataannya, menghilang dibalik tumpukan taman bunga.
"Kamu sih Wil, sekarang Wilona jadi marah tuh" ujar Leon dengan wajah masam meninggalkan Leon sendirian
"Tinggal, tinggal aja terus aku yang salah huh" Wiliam meninggalkan taman dengan wajah yang masam bibir yang dimajukan, bahkan Sepenjang jalan Wiliam terus memarahi pelayan yang tidak sengaja melihatnya
.
.
.
...Gimana cerita kali ini seru atau b aja nih, aku harap kalian enjoy baca cerita ku yang nggak seberapa ini,Oh iya aku dapat ide baru untuk buku selajutnya. Enaknya aku up pas cerita ini sudah tamat atau barengan sama cerita ini...
...Dan target aku tahun baru cerita ini harus udh tamat mudahan kesampaian ya ...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk vote dan komen ya kawan-kawan vote gratis kok jumpa di part selanjutnya bay bay 💞💞...