The Secret Wedding

The Secret Wedding
S A T U


__ADS_3

Mitha berlari tergesa disepanjang koridor sekolah setelah mendapat telfon dari mama nya bahwa barusaja sang ayah masuk rumah sakit akibat serangan jantung.


Ia juga tak tau kenapa tiba tiba ayahnya bisa terkena serangan jantung. Padahal pagi tadi masih terlihat sehat sehat saja.


"Maaf, maaf" karena tergesa ia menabrak beberapa siswa. Pukul 09.30 menunjukkan waktu istirahat, banyak siswa/siswi berlalu lalang dikoridor sekolah.


Dukkk


Tak sengaja ia menambrak dada bidang seseorang. Setelah mendongakkan kepala barulah tau siapa yang barusan ditabraknya.


"Aduh, maaf kak. Mitha ga sengaja. Lagi buru buru soalnya, sekali lagi maaf"


Bintang Dirgantara, ketua osis sekaligus kapten basket SMA GEMILANG. Seorang lelaki tampan, baik hati, dan dikagumi hampir seluruh siswi SMA GEMILANG salah satu nya Mitha sendiri.


"Kenapa buru buru? Bawa tas juga, kan masih jam istirahat?" Tanya Bintang beruntun.


"Barusan mama telfon katanya ayah masuk rumah sakit. Permisi kak, sekali lagi Mitha minta maaf" jelas Mitha singkat seraya berlalu.


"Mau dianterin ga?" Tawar Bintang membuat Mitha berhenti.


"Engga usah kak, terimakasih." Balas Mitha sopan. Ia meneruskan langkah lebarnya keluar sekolah.


*******


"Mamaa!"


Terlihat wanita paruh baya sedang menunggu dengan gelisah didepan sebuah ruangan.


"Mitha" balas wanita itu sambil memeluk putrinya air mata tak henti menetes.


"Gimana ceritanya ma, ayah bisa kena serangan jantung mendadak?!"


"Ayah ditipu ratusan juta sama temannya, terus ayah syok dan terkena serangan jantung." Jelas Dina, mamanya.


"Astaghfirullah.. terus sekarang keadaan ayah gimana ma?"


"Masih ditangani dokter."


Tak lama setelah itu seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut.


"Saya istrinya dok, gimana keadaan suami saya?"


"Keadaan pasien kritis bu, kemungkinan umurnya tidak akan lama" ucap dokter dengan raut muka sedih. "Saya permisi dulu" pamitnya.


Tak kuasa membendung air mata kala mereka memasuki ruangan dimana ayah dirawat. Terlihat seorang pria sedang terbaring lemas diranjang dengan beberapa peralatan medis yang menempel ditubuhnya.


Ibu dan anak itu berjalan dengan berlinang air mata.

__ADS_1


"Air..." Ucap Dhani lirih (ayah Mitha). Dengan segera Mitha mengabil segelas air putih yang ada dinakas. Dina membatu suaminya sedikit duduk kemudian meneguk air.


"Mitha, ayah mau kamu menagih janji om Dimas" Dhani mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet.


Dimas? entahlah Mitha tidak mengenal orang dengan nama tersebut.


"Datanglah, temui Om Dimas dan tagih janjinya." Pinta Dhani kemudian perlahan ia menutup mata. Membuat istri dan anaknya panik. Mitha memencet tombol diatas ranjang ayahnya. Dan berlari keluar berteriak memanggil dokter.


Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan ayahnya. Ia dan mamanya menunggu diluar. Ada rasa penasaran yang begitu besar menyelimuti hati, perjanjian apa yang dimaksud sang ayah, dan kenapa harus ia yang menangih janji.


Ceklek


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Dina begitu mendengar suara pintu dibuka.


"Tidak apa apa bu, pasien hanya tertidur karena efek dari obat tidur yang diberikan masih bekerja. Beberapa jam lagi pasien akan kembali siuman." Jelas dokter kemudian berlalu pergi.


'syukurlah' batin Mitha berucap.


"Lebih baik kamu pulang dulu, ganti pakaian, makan siang dan istirahatlah. Biar mama yang jaga ayah."


*****


Esoknya setelah pulang sekolah, Mitha langsung menuju alamat yang diberikan Ayahnya. Dan sampailah ia didepan semuah gedung yang menjulang tinggi.


'ADIJAYA CORP' entah sudah berapa menit ia berdiri didepan gedung tersebut hingga seorang security menghampirinya.


"Maaf, ada yang bisa dibantu?" Tanya security dengan ramah.


"Benar kak, ada yang bisa dibantu?"


"Mau cari om Dimas."


"Ohh Pak Dimas, masuk saja bilang ke resepsionis ingin menemui pak Dimas" ucap security sambil menyerahkan kembali kartu nama kepada Mitha.


Setelah melakukan sesuai dari arahan security diluar tadi, disinilah ia sekarang. Duduk berhadapan dengan seorang laki laki seumuran dengan ayahnya yang ia yakini laki laki inilah yang bernama Dimas, kemudian ia menjelaskan maksud dan tujuannya datang kesini.


"Apa kamu sudah yakin?" Dimas bertanya memastikan.


Tidak mau berpikir panjang, ia datang kesini hanya ingin menagih janji sesuai yang diperintahkan sang ayah. Bahkan dirinya tak tau janji apa yang dimaksud.


"Yakin om!" Balas Mitha tanpa ada rasa ragu.


"Baiklah, bilang ke ayahmu satu minggu lagi saya akan datang menemui."


"Iya om, terimakasih. Saya pamit dulu." Setelah tujuannya sudah tercapai, ia bangkit dan berpamitan pulang.


"Tunggu! Kamu naik apa kesini?"


"Ojol om."

__ADS_1


"Baiklah, biar supir saya antar kamu pulang. Titip salam buat ayahmu."


******


Selama 3 hari Dhani dirawat di rumah sakit. Dan selama 3 hari juga Mitha dan mamanya bergantian jaga dirumah sakit.


Satu minggu kemudian, Dimas menepati janjinya datang ke kediaman Dhani sahabat karibnya semasa SMA dulu. Ia datang tak sendiri, melainkan dengan Dewi, istrinya.


"Assalamualaikum, Mitha pulang.."


Suara Mitha memecah obrolan antara dua sahabat yang telah lama tak jumpa, entah apa yang mereka bicarakan. Semua mata tertuju kearahnya sekarang.


"Wa'alaikumsalam, Sudah pulang nak, sini dulu ayah sama mama mau ngomong" panggil Dhani dan Mitha pun berjalan kearahnya.


"Ahh, kenalkan dulu ini tante Dewi istri Om Dimas." Dhani menunjuk perempuan yang duduk disamping Dimas.


"Mitha, tante" dengan sopan ia mencium punggung tangan Dewi.


"Kamu masih ingat dengan Om Dimas kan? Hari ini kita akan membicarakan tentang janji yang telah kami buat semasa SMA dulu." Mitha hanya mengangguk menanggapi.


"Assalamualaikum.." terdengar suara seorang laki laki dari pintu utama.


"Nah, itu pasti anakku. Sebentar ya?" Kemudian Dewi bangkit dan berjalan kearah pintu.


Dewi berjalan kembali menuju ruang tamu dan dibelakangnya menyusul seorang pria tampan. Dilihat dari wajahnya, sepertinya umurnya 25 tahun.


"Kenalkan namanya Azzar" Dewi memperkenalkan anaknya.


"Sudah berkumpul semua. Mari langsung ke intinya. Disini saya akan menepati janji saya kepada ayah kamu, janji yang sudah kami buat waktu SMA dulu." Ucap Dimas langsung to the point.


"Apakah kamu sudah yakin Mitha? Apakah kamu sudah siap?" Dimas menambahkan.


Bingung harus menjawab apa, ia melihat kedua orang tuanya yang duduk disebelah, mereka mengangguk serempak. Kemudian beralih menatap Dimas dan istrinya bergantian. Serta melirik pria yang duduk disebelah Dimas.


Ada sedikit rasa ragu, tapi ia mengangguk kan kepala setelah melihat sorot mata kedua orang tuanya penuh harap.


"Baiklah, kapan perjodohan ini bisa dilangsungkan?"


Deg!


"p-perjodohan?"


Bagai petir disiang bolong. Ucapan Dimas sangat mengejutkannya. Jadi? Janji yang dimaksud ayahnya adalah perjodohan. Ia akan dijodohkan dengan anak dari Om Dimas? Tidak! Bagaimana bisa ia menikah bahkan umurnya baru 17 tahun. Dan bagaimana dengan sekolahnya? Masa depannya? Ini tidak boleh terjadi!


"Nggak! Mitha gamau. Lagia Mitha masih sekolah." Tolak Mitha terang terangan.


"Tapi bukankah kamu sudah yakin sejak kamu datang ke kantor saya?" Tanya Dimas halus.


"Itu karena Mitha gatau janji yang dimaksud ayah itu seperti apa."

__ADS_1


"Sayang, maaf-in mama sama ayah. Ini semua demi kebaikan kamu" Dina mencoba menenangkan putrinya dengan cara mengusap lembut punggung Mitha.


Bersambung ...


__ADS_2