The Secret Wedding

The Secret Wedding
L I M A B E L A S


__ADS_3

"halo? Bagaimana pak, sudah ada bukti atau belum?" Azzar bertanya pada seseorang dibalik telepon.


"..."


"Brengsek! Cepat temukan bukti itu! Akan ku buat siapa saja yang berani bermain dengan keluargaku membusuk dipenjara!"


"..."


"Aku beri waktu dua hari!"


Tut


Sambungan telepon terputus, Azzar mengacak-acak rambutnya frustasi. Ketika ia siang tadi datang ke kantor cabang dan memeriksa semua laporan, ternyata ada seseorang yang berani menggelapkan dana perusahaan.


Azzar mengetahui hal tersebut setelah mengecek ulang laporan keuangan. Ia pikir hari Minggu besok akan bisa bersantai di villa, namun nyatanya ia salah.


Azzar mengambil ponselnya yang tadi ia lemparkan ke kasur. Kemudian menelfon ayahnya.


"Assalamualaikum Az, ada apa? Apa semua baik baik saja?" Tanya Dimas diseberang sana.


"Azzar kemungkinan akan sedikit lama disini yah, besok sore apa bisa ayah menyuruh supir untuk menjemput Mitha dan Clara?"


"Memangnya kenapa? Apa ada masalah dikantor? Atau di villa?"


"Ada masalah dikantor, ada orang yang berani menggelapkan dana perusahaan, Azzar tidak yakin kalau hanya satu orang. Makanya, Az akan menyelidiki dulu."


"Baiklah, besok ayah akan minta Pak Asep untuk menjemput mereka."


Azzar mematikan sambungan telepon, sebenarnya ia merasa sangat frustasi masalah kantor cabang cukup menguras emosinya pun dengan Clara dan Mitha yang selalu saja bertengkar.


Dengan perasaan kacau Azzar membaringkan tubuhnya diranjang, tepat sebelah Mitha. Rasa kantuk mulai melanda, perlahan mata elangnya terpejam.


****


Meskipun ini adalah Hari Minggu, tak membuat Azzar bersantai. Semalam ia tidur terlalu nyenyak karena kelelahan akibatnya ia bangun kesiangan.


Mitha sudah tidak ada ditempatnya, entah kemana perginya gadis kecilnya itu. Azzar berjalan lunglai menuju kamar mandi, tidak mandi hanya sekedar cuci muka dan gosok gigi.


"Bi, buatkan Az kopi!" Azzar setengah berteriak saat lewat dapur. Ia menenteng laptopnya ke teras depan.


"Iya den!" Balas Bi Eha juga setengah teriak.


Udara sejuk ditambah pemandangan kebun teh yang indah membuat pikiran menjadi tenang.


Ia menyalakan laptop dan mulai mengerjakan laporan keuangan yang kacau.

__ADS_1


"Kopi spesial untuk orang spesial." Suara lembut menyapa ditelinga Azzar. Clara sudah berdiri dibelakangnya membawa secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.


"Terimakasih." Azzar mengulas senyum manis.


Clara duduk kursi sebrang, ia juga menikmati pemandangan.


"Dasar istrimu ya Az, pagi pagi bukannya melayani suami malah keluyuran." Clara memulai percakapan.


Azzar diam tak menanggapi, baginya saat ini laporan yang ia kerjakan lebih penting daripada ocehan Clara.


"Az, kamu denger gak sih?!" Clara kesal karena ucapannya tidak mendapatkan respon.


"Tolong Ra, jangan menggangguku. Laporan ini cukup membuatku pusing jadi janga ditambah lagi dengan ocehanmu!" balas Azzar sedikit kasar.


"Jadi kamu anggap aku penganggu?!" Pekik Clara.


"Bukan begitu Ra aku--"


"Kamu jahat Az, kamu udah gak sayang lagi sama aku? pasti garagara bocah itu kan?!" Clara tidak ingin mendengar penjelasan Azzar, ia berucap dengan sendu kemudian pergi meninggalkan Azzar dengan isak tangis.


Azzar semakin pusing dibuatnya, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menyusul Clara yang masuk kedalam Villa.


Suara isakan tangis terdengar, membuat Azzar merasa bersalah telah membuat orang yang telah melukis cerita indah dimasa lalunya.


perlahan namun pasti, ia mendekati sumber suara.


"Kamu jahat!" pikik Clara disela isakan tangisnya.


"Iya iya aku jahat. Maafkan aku ya..." Azzar kembali memohon. Ia menggenggam sebelah tangan Clara dengan erat.


"kamu gak sayang lagi kan sama aku? hiks tega kamu Az. Jauh jauh aku dari Jerman ke Indonesia cuma buat kamu, tapi kamu gini sama aku." Clara mengoceh, isakan tangisnya terdengar semakin menjadi.


Azzar tak kuasa mendengar tangisan Clara. Ia bingung apa yang harus dilakukannya agar Clara berhenti menangis.


"Aku sayang sama kamu Ra, dari dulu sampai saat ini masih nama kamu yang ada disini." Azzar menunjuk dadanya. "Jangan nangis lagi, aku gak sanggup liat kamu nangis. Bilang sama aku, aku harus apa supaya kamu gak nangis lagi."


Mendengar ucapan Azzar, Clara mengehentikan tangisnya. Ia menatap Azzar dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Beneran kamu bakal lakuin apa aja buat aku?" Clara menghapus jejak air mata dipipinya.


"Asal kamu berhenti nangis dan maafin aku, aku bakal lakuin apa aja buat kamu." Azzar meyakinkan Clara.


"Ceraikan istrimu yang rese itu. Benci banget aku sama dia, bisa bisanya rebut kamu dari aku. Kalau liat mukanya rasanya pengen aku bejek bejek aja! Huh." Bibir Clara mengerut kesal. Tangannya terlipat didada.


Azzar bingung, langkah apa yang harus ia pijak. Ia tak bisa menceraikan Mitha begitu saja tanpa alasan yang jelas. Namun jika ia tidak menuruti permintaan Clara, wanita itu akan terus ngambek padanya.

__ADS_1


Azzar menghembuskan nafas berat. "Maafkan aku Ra, aku tak bisa menceraikan dia."


"Kenapa tidak bisa?! Atau jangan jangan kamu ada rasa ya sama dia!" Clara menjerit. Ia tak terima jika Azzar sudah menaruh rasa pada gadis rese seperti Mitha.


"tidak! Aku sama sekali tidak ada rasa sama Mitha. Aku tidak bisa menceraikannya karena Ayah dan Bunda, mereka pasti menentang keras. Karena merekalah yang menjodohkanku dengan Mitha." Azzar menjelaskan pelan pelan, ia tak ingin Clara semakin tersulut emosi.


"Ini udah zaman moderen Az, bukan zam Siti Nurbaya. Norak sekali orang tuamu main jodoh jodohkan."


"Tapi kamu tenang saja, aku sama Mitha udah buat kesepakatan. Kita bisa tetap berhubungan seperti dulu, dia tidak akan menganggu." Azzar teringat akan perjanjiannya dengan Mitha dulu sebelum menikah, bahwa kedua belah pihak bebas menjalin hubungan dengan kekasih mereka masing masing tanpa ada yang menganggu atau keberatan.


"Tapi tetep aja, aku gak suka kamu deket deket sama dia!" Clara masih keberatan dengan usul Azzar, entah hal apa yang membuat Clara membenci Mitha, padahal mereka barusaja bertemu. Atau karena kekasihnya dulu telah menikah dengan gadis itu?


"Sudahlah, janga hiraukan dia. Biarkan saja dia dengan dunianya, dia tak akan mengusik jika tak diusik duluan."


Cara Azzar menenangkan Clara berhasil, kini wanita itu mengangguk lemah meski bibirnya masih mengerucut karena menahan kesal.


Azzar mengajak Clara untuk sarapan, mereka berdua menikmati makanan dengan canda tawa. Tampak sekali Azzar menikmati momen itu, mengingat kenangan mereka dulu yang hampir menikah namun gagal karena Clara mengalami kecelakaan.


****


"Maaf pak, kami tidak mencuri. mereka bilang kalau pohon mangga ini tidak ada pemiliknya, jadi siapa saja bebas mengambil buahnya." Mitha berucap sopan. Namun pria perut buncit itu tetap saja marah marah.


"Lagi lagi kalian! setelah mencuri singkong Mang Edo sekarang mencuri manggaku! apa begini orang tua kalian mengajarkan?! kecil kecil sudah jadi pencuri, besarnya mau jadi apa? kriminal?!" Pria perut buncit itu terus saja mengeluarkan kata kata kasar. Tak peduli jika lawannya anak kecil.


Mitha menatap kedua bocah itu penuh tanya, sedangkan mereka yang ditatap menunduk takut.


Mitha jongkok untuk mendengar penjelasan kedua bocah tersebut. Ia bertanya dengan suara lembut sehingga membuat kedua bocah itu bicara jujur meskipun ada rasa takut.


"Hiks, maafkan kami kak. Kami terpaksa mencuri. Kami kelaparan kak, semenjak ibu sakit tidak ada yang bekerja mencari uang. Untuk beli obat ibu saja kami tidak punya uang, hiks hiks." Si bocah perempuan menangis, sedangkan kakaknya msih menunduk takut.


"Ibu tidak pernah mengajarkan kami mencuri, kata ibu lebih baik mati kelaparan daripada makan hasil curian. Tapi kami tidak bisa nahan lapar seperti ibu kak, hiks." kakaknya turut buka suara.


Mitha mendengar penjelasan dua bocah tersebut merasa iba, kemudian ia memeluk kedua bocah tersebut.


"Heh! kembalika manggaku cepat!" pria itu berteriak, maju satu langkah hendak merebut buah mangga yang ada ditangan kedua bocah tersebut.


"biar saya beli buah mangganya!" Mitha mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menarik dua lembar uang berwarna merah kemudian menyerahkan kepada pria buncit itu.


Pria itu menerima uang dari Mitha dengan senyum sumringah. Ia mengibaskan uang itu didepan mukanya sendiri.


"Kali ini kalian beruntung karena ada yang menolong. Coba kalau tidak, huh sudah habis kalian. Lain kali kalau aku tau kalian mencuri lagi, tidak akan ku ampuni kalian!" kecam pria itu, kemudian pergi.


"Maafkan kami kak.." ucap dua bocah itu serempak dengan suara parau.


"Lain kali jangan diulangi lagi ya." Mitha kembali memeluk dua bocah tersebut agar mereka tenang dan tidak merasa takut.

__ADS_1


"Sekarang, antar kakak kerumah kalian bisa? kakak ingin melihat kondisi ibu kalian." Mitha menatap satu persatu dua bocah tersebut, kemudian mereka berdua. mengangguk.


bersambung.....


__ADS_2