
"MITHAAA!!" teriakan Azzar menggema diarea parkiran. Namun sang pemilik nama tak kunjung menampakkan diri.
Sudah tiga puluh menit lamanya ia berkeliling mencari Mitha, menelfon ponsel Mitha namun tak di angkat.
"Kemana sih perginya nih bocah?!" Azzar mengacak-acak rambutnya frustasi.
"MITHAAA!!!!" Azzar berteriak sekali lagi, beberapa pasang mata menatapnya. Sementara Clara tidak ikut mencari Mitha, wanita itu tidak ingin direpotkan dengan sesuatu yang bukan urusannya dan juga tak ada untungnya.
"Om kenapa sih teriak teriak?" Suara seseorang dari belakang Azzar berhasil mengejutkannya.
Dengan perasaan lega ia memeluk gadis itu. Perasaan lega dan kesal meluap begitu saja. Mitha terheran kenapa Azzar tiba tiba memeluknya seperti ini?
"Ngelayap kemana saja kamu? Dasar bocah!" Azzar menjewer telinga Mitha dan menuntunnya berjalan kembali ke mobil.
Beberapa orang yang melihat menahan senyum, seperti seorang adik yang dimarahi kakaknya karena berbuat nakal.
"Akh, aduh Om sakit!" Mitha berjalan menyamai langkahnya dengan langkah Azzar yang panjang.
Telinganya terasa panas karena jeweran Azzar yang tak kunjung dilepas.
"Ini hukuman buat kamu! Gara gara kamu kita telat berangkat!"
"Om ini namanya KDRT! aku bisa saja melaporkan kepada polisi! Aduh, ini rasanya telingaku mau putus!" Ditengah perjalanan mereka masih saja terus bertengkar.
"Bocah sepertimu tau apa soal hukum?" Azzar tersenyum mengejek.
"Tau! Ini namanya KDRT. Om bisa saja dipenjara, aku sering nonton sinetron favorit mama!" Mitha masih tak mau kalah, ia terus saja menjawab.
"Memangnya kamu mau punya suami narapidana?" Azzar kembali memancing.
"Amit amit!"
Begitu sampai di mobil, Azzar melepaskan jewerannya di telinga Mitha. Sebenarnya ia tak terlalu keras menjewer telinga istrinya itu.
"Kayaknya ayah keliru deh, masa laki laki kayak gini dibilang suami idaman? Suami suka KDRT iya!" Mitha terus mengomel sampai akhirnya ia kelelahan dan tertidur.
Azzar melirik Mitha yang tertidur dari kaca spion depan, senyum simpul terukir dibibir tipis Azzar. Clara melihat itu berdecak sebal.
Sesekali wanita itu membenarkan make up diwajahnya.
Berbeda sekali dengan Mitha yang selalu berdandan natural, Clara lebih senang berdandan dengan make up sedikit tebal.
Diperjalanan Clara dan Azzar terlibat obrolan masa lalu. Dan sesekali tertawa ketika mengingat kenangan lucu diantara mereka.
"Kamu selama ini kemana saja? Hampir dua tahun aku nyariin kamu. Mereka bilang kamu udah meninggal karena kecelakaan itu, tapi aku gak yakin, karena saat itu jenazah kamu tidak ditemukan." Azzar kembali mengingat kejadian itu.
Saat dua hari menjelang pertunangan, Clara dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal. Azzar sangat terpukul saat itu.
"Aku juga gatau awal ceritanya gimana, saat aku bangun aku udah ditempat asing."
__ADS_1
Dan mengalirlah cerita dari mulut Clara mengenai kejadian itu. Dimulai dari jalan yang ketumpahan solar dan hingga keceelakaan tunggal itu terjadi, Clara menceritakannya dengan lancar tanpa satu kejadian pun yang terlewat.
"Lalu kenapa setelah sadar ku tidak menghubungi ku? Disaat semua orang mengatakam bahwa kamu telah meninggal, aku tetap dengan keyakinanku bahwa suatu saat kita akan bertemu lagi. Dan ya, sekarang itu sudah terwujud." Azzar menimpali.
"Aku amnesia selama satu tahun. Aku kehilangan ingatanku dimasa lalu, semua tentang kenangan kita. Ponselku juga sudah rusak, aku tidak ingat nomormu. Saat ingatanku mulai kembali, saat itu juga rasanya ingin sekali bertemu denganmu dan langsung memelukmu. Namun ayah dan ibuku melarang, mereka bilang aku harus pulih total, setelah itu baru aku boleh bertemu denganmu."
Azzar menghembuskan nafas kasar. "Aku hampir gila mencari kabar dan keberadaan mu Ra, aku putus asa, aku mencoba ikhlas jika memang kamu telah tiada. Aku percaya takdir Tuhan adala yang terbaik. Sekarang kamu sudah kembali, jangan pergi lagi." Azzar memohon.
"Iya Az, aku takkan pergi lagi. Aku akan selalu ada disisimu."
"Om!" Suara serak khas bangu tidur menghentikan percakapan antara Azzar dan Clara. Azzar melirik kaca spion.
Sebenarnya Mitha sudah bangun beberapa menit yang lalu, namun ketika ia mendengar obrolan Azzar dan Clara ia memutuskan untuk pura pura tidur dan menguping pembicaraan mereka.
Mitha berdecak dalam hati mendengar cerita Clara.
"Laper!" Mitha memegang perutnya yang keroncongan.
"Mau makan apa?" Tanya Azzar dengan pandangan fokus kedepan.
"Terserah" Mitha menjawab cuek.
"Di depan ada restoran, kita mampir kesana saja. Kamu pasti laper juga kan?" Azzar menatap Clara dengan lembut. Wanita itu menjawab dengan anggukan kepala.
"Huh, dasar garangan!" Mitha meggerutu lirih, takut dua manusia didepannya itu mendengar.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang lumayan lenggang. Mitha menatap keluar jendela, kaca jendela yang setengah terbuka membuat angin meniup rambut Mitha yang tergerai. Mata gadis itu tertutup menikmati angin yang berhembus.
"Seleramu ternyata rendah ya" clara tersenyum mencemooh.
"Gapapa selera makan rendah, yang penting bukan harga diri yang rendah!" Mitha menjawab tak kalah sinis. Sudut bibirnya terangkat sebelah.
Rupanya ucapannya barusan bisa membuat mulut Clara yang penuh dengan bisa terbungkam. Gadis itu bersorak dalam hati. Mitha bukanlah tipe orang yang akan diam saja ketika direndahkan atau diinjak harga dirinya.
Ia tak segan untuk melakukan kekerasan ketika lawan bicaranya sudah melewati batas.
Azzar mendengar perbincangan tak sedap keduanya merasa heran. Ia tetap menuruti permintaan gadisnya yang ingin makan makanan padang.
"Mas, nasi rendang sama es jeruk ya." Mitha langsung menyebutkan pesanan.
"Saya samakan saja!" Kini giliran Azzar.
Namun ketika pelayan menunggu Clara menyebutkan pesanannya, wanita itu hanya diam saja.
"Aku tak selera makan di sini. Bukan levelku makan ditempat seperti ini." Ujar Clara dengan nada sombong.
Pelayan yang mendengar omongan Clara berusan langsung menatap sinis. Begitu pula dengan Mitha.
"Terus kamu ga makan?" Azzar bertanya.
__ADS_1
"Nanti sajalah, bisa drive thru."
Setelah menunggu beberapa menit pesanan mereka tiba. Clara menatap Azzar dan Mitha yang sangat menikmati makanan mereka. Ia dibuat ngiler olehnya, cacing cacing nakal di perutnya sudah minta di isi.
Ia lapar, namun gengsi. Wanita berkelas seperti dirinya tak mungkin makan makanan dirumah makan kecil seperti ini, gak level. Begitu pikirnya. Berkali kali Clara harus menelan ludah.
Ekhekk!
Mitha bersendawa sedikit keras. "Alhamdulillah, kenyang nya.." ucap gadis itu.
"Pilihanmu tidak buruk juga."
*******
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka telah sampai disebuah Villa yang lumayan besar. Dengan pemandangan hampran kebun teh yang sangat luas.
Sepasang suami istri paruh baya menyambut kedatangan mereka didepan Villa. Senyum ramah terukir dibibir keduanya.
"Ini Mang Ujang dan itu istrinya, ** Eha." Azzar memperkenalkan dua penjaga Villa itu kepada Mitha dan Clara. Meskipun Clara dan Azzar dekat sedari kecil, namun keluarga Azzar sama sekali tak pernah mengajaknya ke Villa ini.
"Assalamualaikum Mang, Bi. Saya Mitha." Mitha mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Mang Ujang dan Bi Eha.
"Wa'alaikumsalam geulis." Balas Mang Ujag dan Bi Eha serempak.
"Mang, Bi. Ini istri Azzar." azzar menunjuk Mitha.
Mang Ujang dan Bi Eha sebelumnya telah diberitahu oleh Dimas, kalau putranya itu telah menikah dengan seorang gadis. Namun tak disangka ternyata istri tuannya itu cukup muda dan perbandingan usia yang cukup jauh.
"Hai Mang, Bi. Saya Clara."
"Mang, Bi. Ini ada titipan dari Ayah sama Bunda. Oh iya, kami akan menginap disini dua hari." Azzar menyerahkan sebuah paper bag kepada Bi Eha.
Sebelum berangkat, Dimas memanv telah menghubungi penjaga Villa tersebut.
"Iya den, Terimakasih ya." Jawab Bi. eha menerima bingkisan tersebut.
Kamar mereka telah disiapkan. Azzar dan Mitha tetap satu kamar yaitu kamar utama. Sedangkan Clara di kamar sebelah kamar Azzar dan Mitha.
"Mang, Bi. Maaf saya harus segera pergi ke kantor ada beberapa urusan yang harus saya kerjakan. Titip mereka ya Mang, Bi." Azzar berpamitan dan mencium tangan kedua orang tua tersebut dengan khidmat.
Mitha pun melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan suaminya. Perlahan mobil Azzar menjauhi pekarangan Villa.
Mitha menarik kopernya kedalam Villa. Sedangkan Mang Ujang kembali bejerja dikebun belakang Villa. Bi Eha kembali kedapur untuk menyiapkan camilan.
"Hei bocah! Bawakan punyaku sekalian!" Clara menyerahkan kopernya kepada Mitha. Namun gadis itu hanya menatap datar.
Clara meninggalkan Mitha yang masih menatapnya tajam. Senyum sinis tersungging dibibirnya. Ia menarik koper Clara ke depannya. Dan..
Brakkk!!
__ADS_1
Bersambung...