
"M-Mitha?" Ucap Azzar terbata, ia melepas paksa tangan gadis disampingnya yang memeluk erat kengan kekar miliknya.
"Ihh kenapa dilepas sih? Aku masih kangen tau sama kamu! Emangnya kamu gak kangen aku?" Dengan bibir mengerucut gadis disamping Azzar kembali memeluk lengannya.
Oma Rosa tersenyum penuh kemenangan kearah Mitha, ia berpikir tak ada cinta diantara keduanya. Kini ia berusaha untuk mendekatkan kembali Azzar dengan masa lalunya.
Ada rasa sesak melihat istrinya yang tampak sedih. Namun Azzar juga tak ingin membuat gadis disampingnya ini kecewa. Dilema, entah siapa diantara keduanya yang harus dia pilih.
Di satu sisi ia mulai bergantung pada Mitha, ada rasa nyaman dan getaran aneh didalam dada saat berdekatan dengannya. Namun disisi lain, ia masih menyimpan sedikit rasa kepada gadis disampingnya itu. Ia tak ingin kehilangannya untuk yang kedua kali.
Namun pada akhirnya, Azzar tetap memilih duduk bersama Oma tercinta dan juga gadis itu.
"Kok masih pada disini? Ayo makan!" Dimas berjalan menuruni tangga, pria itu masih belum sadar dengan seorang gadis yang duduk disamping anaknya.
"Loh, kamu?!" Ketika sampai di anak tangga terakhir, barulah Dimas menyadarinya.
"Hai Om!" Sapa gadis itu sedikit canggung.
Tak ada respon dari Dimas, pria itu berjalan berlalu meninggalkan mereka semua.
Semua orang telah berkumpul dimeja makan, dan duduk dibangku masing masing. Dimas duduk dibagia ujung, Dewi disamping kirinya sedangkan Oma Rosa duduk disamping kanan menantunya.
Azzar duduk disamping Oma Rosa, dengan Mitha disampingnya. Sementara gadis yang sebenarnya tak diundang itu duduk dihadapan Azzar.
Pandangannya tak lepas dari Azzar walau sedetik, hal itu membuat Mitha merasa ingin mencongkel mata gadis itu menggunakan garbu.
"Mitha perkenalkan, dia Clara kekasih Azzar" ucap Oma Rosa memecah keheningan.
Deg!
'kekasih?' Mitha bertanya dalam hati.
Ia menatap gadis yang bernama Clara tersebut, Clara menanggapi dengan tersenyum manis.
"Oma, dia sudah bukan kekasihku!" Azzar berucap tegas.
"Ekhem.." Dimas berdeham untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Besok apa kau bisa mengecek salah satu cabang perusahaan kita yang ada di Bandung? Sudah lama sekali Ayah tidak melakukan kunjungan. Sekalian kamu cek juga kondisi Villa yang ada dipuncak, kalau ada sesuatu yang rusak atau harus diperbaiki langsung hubungi ayah!" Tambah Dimas.
"Tapi ayah-" belum genap ucapan Azzar, Dimas sudah menambahkan.
__ADS_1
"Besokkan hari Sabtu, Mitha sekolahnya juga libur. Sekalian aja refreshing, bulan depan sudah mulai ujian akhir tahun kan?" Kali ini Dimas bertanya pada menantunya.
"I-iya Yah." Ucap Mitha sedikit ragu.
"Baiklah kalau ayah memaksa. Besok pagi Azzar dan Mitha akan berangkat." Azzar menjawab lesu.
"Ajak Clara bersamamu juga, mungkin saja dia bisa membantu urusan mu dikantor." Tanpa menunggu persetujuan menantunya, Oma Rosa langsung memutuskan. Dimas tak begitu berani menegur atau menolak ucapan mertuanya.
Mitha dengan muka masamnya melirik Clara, wanita itu tengah menunduk dan tersenyum malu-malu.
'ngapain juga sih nih kutil badak diajak?!' batin Mitha..
"Iya Oma." Azzar menjawab lagi. Tampak kedua mata Clara berbinar mendengar jawaban Azzar.
Acara makan malam bersa telah usai, Mitha membantu Bi Asih membereskan meja makan. Sebenarnya Bi Asih sudah menolak namun Mitha terus memaksa dan akhirnya di ijinkan.
Dewi sebenarnya keberatan mendengar permintaan menantunya itu, namun Mitha terus membujuk agar diperbolehkan membantu.
Selesai membantu memberekan meja makan, Mitha bergabung dengan keluarga Azzar di ruang keluarga.
"Azzar dan Mitha pamit pulang dulu Bun, sudah malam takutnya besok kesiangan." Azzar berdiri hendak merain tangan Bundanya untuk dicium.
"Ohh, yang viral itu ya Bun? Mitha juga nonton sih, cuma baru sampe episode 3. Akhir akhir ini banyak tugas sekolah jadi ga sempet lanjut nonton xixi."
Begitulah perempuan, kalau menyangkut serial favoritnya langsung gercep.
Clara pamit pulang. Sebenarnya Oma Rosa juga ingin Clara menginap disini, namun Dewi menolaknya mentah mentah. Wanita tua itu langsung pergi ke kamarnya karena merasa lelah.
Sebelum itu, ia memanggil Bi Asih dan memintanya untuk membuatkan minuman hangat dan diantarkan ke kamarnya.
Tinggallah Dimas dan Azzar di ruang keluarga. Kedua pria itu sedang bermain PS.
"Az, apa istrimu juga sering nonton drama Korea seperti Bundamu?" Dimas bertanya, namun matanya fokus pada layar sedangkan jemari tangannya menari nari diatas joystick.
"Hampir setiap hari malah, Mitha lebih parah daripada Bunda Yah! Kalau tidak ku tegur, dia akan terus nonton sampai dini hari." Jawab Azzar, ia juga sama seperti ayahnya. Pandangannya tak lepas dari layar televisi.
"Jangan dibiarkan bergadang setiap hari, nanti malah jadi kebiasaan!" Dimas menasehati.
"Iya yah, Alhamdulillah Mitha adalah istri yang patuh pada suami."
__ADS_1
"Itu karena didikan kedua orangtuanya. Dina dan Dhani berhasil mendidik anaknya."
Dari sorot matanya, Dimas seperti menerawang masa lalu. Raut wajahnya langsung berubah sendu dan sedih harus kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi. Dhani sudah ia anggap seperti saudara.
"Sudah matikan saja! Kau curang kalau bermain!" Dimas merasa kesal karena kalah terus.
Azzar terkekeh melihat ayahnya sedang menahan kesal. Dengan cepat Azzar mematikan PS.
Ayahnya sudah lebih dulu ke kamar. Namun saat langkah Azzar berada di anak tangga terakhir, ia melihat Dimas sedang berada di tengah pintu kamar.
"Ayah ngapain?"
Mendengar suara putra semata wayangnya, Dimas menolehkan kepalanya dan berjalan menghampiri Azzar.
"Masuk dan lihatlah!"
Azzar masuk kedalam kamar orang tuanya. Ia berjalan menuju sebuah ranjang king size yang ditempati Bunda dan istrinya untuk menonton drama korea kesukaan mereka.
Sebuah laptop tergeletak di tengah tengah ranjang. Azzar menahan tawa saat mendapati dua perempuan yang ia sayangi tertidur dengan posisi tengkurap menghadap laptop sedangkan laptop tersebut masih menayangkan drama korea.
"Seperti ibu paus dan anaknya bukan?" Dimas juga berjalan mendekati ranjangnya. Ia terkekeh kecil melihat pemandangan tersebut, bisa dilihat seberapa besar kasih sayang istrinya kepada sang menantu.
"Tadi katanya mau nonton Drakor, sekarang drakor yang nonton mereka" Azzar dan Dimas tertawa cekikikan.
Rupanya istri kecil Azzar sudah ganti baju, kini gadis itu memakai piyama ibu mertuanya yang kebesaran. Memang, Dewi memiliki postur tubuh yang lebih berisi daripada Mitha.
Azzar membopong tubuh istrinya ke kamar miliknya, Mitha terlihat sangat imut saat tidur. Sesampainya di kamar, ia segera menidurkan tubuh Mitha dengan sangat hati hati.
Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyenyak, ia beranjak dari kasur dan akan tidur di sofa.
Belum sampai tubuhnya sempurna meninggalkan kasur, sebuah tangan berhasil memeluk salah satu lengan kekar Azzar.
"Kak Juna.. jangan tinggalin Mitha lagi, hiks" Mitha memeluk sebelah lengan Azzar dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis dalam tidurnya.
Azzar sedikit terkejut mendengar ucapan Mitha, sebenarnya ia kurang tau bagaimana kehidupan Mitha sebelumnya. Namun melihat istrinya menangis dalam tidur, itu membuat Azzar merasa iba. Pasti terjadi sesuatu dulunya sampai membuat Mitha merasa sangat sedih saat ini.
Esok ia akan mencari tau semua tentang kehidupan Mitha dahulu. Sebelum gadis itu resmi menjadi istrinya.
"saya gak akan ninggalin kamu!" ucap Azzar lembut, ia membelai lembut pucuk kepala Mitha kemudian mencium keningnya dengan sayang.
__ADS_1
bersambung....