
Begitu rapat OSIS selesai,. Mitha berjalan sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone.
Setibanya di depan gerbang, gadis itu mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online. Namun nampak sebuah mobil Lamborghini Aventador berwana hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
'itu kan mobilnya Om Azzar?' batin Mitha bertanya.
Karena takut salah sangka, ia tak menghampiri mobil tersebut.
Di dalam mobilnya, Azzar masih menunggu gadis kecilnya keluar gerbang sekolah. Sudah dua jam lamanya ia menunggu, namun tak ada tanda tanda kemunculan Mitha.
Setelah beberapa menit, keluar seorang gadis dengan tas ransel berwarna biru muda. Itu Mitha, istri kecilnya. Ia masih menunggu Mitha menghampiri nya. Namun gadis itu masih berdiri sambil menunggu, entah apa atau siapa yang ditunggu.
Azzar menyalakan mesin mobil, baru ia akan menancapkan gas terlihat sebuah motor ninja berhenti didepan gadisnya. Tampak Mitha mengobrol sebentar dengan laki laki yang mengendarai motor ninja tersebut.
Azzar tak tau apa yang mereka bicarakan, tampak Mitha menggelengkan kepala ringan. Mungkin laki laki itu menawarkan tumpangan untuk gadisnya.
Jika Mitha menerima tawaran laki laki tersebut, Azzar akan pergi. Namun tak berapa lama motor ninja tersebut bergerak meninggalkan Mitha.
Melihat itu, Azzar lekas menjalankan mobilnya mendekati Mitha, dibukanya kaca jendela samping.
"Masuk!" Titah Azzar.
Mitha melihat orang yang berada di dalam mobil, ia menyerngit heran. Pasalnya ia tak minta orang tersebut untuk menjemputnya.
"Ngapain bengong?! Cepat masuk!!" Bentak Azzar membuat Mitha tersadar dari lamunannya.
"Om azzar?" Tanya Mitha begitu tersadar. Azzar hanya menatap tajam kearahnya, membuat nyalinya menciut seketika.
Ia berjalan dan hendak membuka pintu mobil, namun tak bisa dibuka.
"Dikunci om!" Ucap Mitha sedikit berteriak.
Azzar menekan senuah tombol, dan kemudian dengan tangannya yang panjang ia membuka pintu mobil. Mitha masuk kedalam dengan berbagai pertanyaan.
"Kok om jemput saya? Kan saya tadi udah bilang gausah ******." Tanya Mitha.
Azzar diam tak menanggapi.
"Om tadi jemput saya jam berapa?" Tanya Mitha lagi.
"Jangan berisik saya lagi nyetir!" Ucap Azzar tegas. Mitha mengalihkan pandangannya ke jendela dengan bibir mengerucut.
"Gitu aja ngegas, dasar mulut cabe!" Gumam Mitha, bibirnya masih cemberut.
Azzar melirik Mitha sekejap, kemudian fokus kembali dengan kemudinya.
"Loh om ini kan bukan jalan ke rumah saya? Ini sebenernya mau kemana? Om mau nyukik saya ya?!" Mitha menghujani Azzar dengan pertanyaan.
__ADS_1
Menculik? Astaga.. apa ia lupa bahwa pria yang berada di sampingnya kini sudah sah menjadi suaminya?
Azzar menghembuskan nafas panjang. Cerewet sekali gadisnya ini. Telinga rasanya mendengung mendengar suara cemprengnya.
"Bisa ga sih kamu ga panggil saya om?" Memang sedikit risih mendengar panggilan om dari istri sendiri.
"Trus mau dipanggil apa? Bapak? Biar kesannya lebih tua, lebih sadar umur." Balas Mitha dengan enteng.
Mata Azzar membulat mendengar jawaban dari Mitha. Istri nya ini memang imut, tapi tidak dengan ucapannya.
"Panggil mas saja! Biar kelihatan lebih muda."
"Ya ya ya. Bawel!" Ucap Mitha sewot, bola matanya memutar jenuh.
Ia tidak terlalu memikirkan kemana Azzar akan membawanya saat ini. Ia hanya sibuk menikmati pemandangan kota lewat kaca jendela.
Kruyukk...
Azzar menoleh ke arah Mitha, gadus itu tersenyum canggung menatapnya.
'bikin malu aja sih' batin Mitha sambil memegangi perut.
Azzar menepikan mobilnya di depan rumah makan seafood.
"Kok berhenti?" Tanya Mitha bingung.
"Lapar." Jawab Azzar singkat.
Mitha menatap Azzar dengan mata berbinar. Kemudian beralih memilih menu makanan. Ia menunjuk beberapa menu, Azzar melongo dibuatnya.
Tidak! Bukan masalah uang, namun apakah istri kecilnya ini sanggup menghabiskan semua menu yang dipilihnya? Pasalnya, ia tak hanya memilih satu atau dua menu, melainkan lima menu sekaligus dengan dua bungkus nasi.
Azzar hanya makan sedikit karena tadi sebelum menjemput istrinya ia sudah makan siang di restoran dekat kantornya. Azzar sedikit ternganga melihat Mitha menyuap nasi terakhir.
"Ahh kenyangnya...."
Setelah makan siang selesai, mereka kembali ke mobil. Belum setengah perjalanan Mitha sudah tertidur karena kekenyangan.
******
"Ini dimana?" Tanya Mitha bergumam. Ia membuka selimut dengan muka tegang, takut terjadi hal yang tidak tidak.
'huft.. syukurlah' batin nya berucap saat melihat pakaiannya masih lengkap. Dan ia juga masih mengenakan seragam sekolah.
Terakhir yang ia ingat tadi, setelah makan siang bersama Azzar kemudian ia tertidur karena kekenyangan.
Dan setelah bangun ia sudah mendapati tempat berbeda. Begitu banyak pertanyaan dikepala Mitha. Ia berjalan menyusuri ruangan.
__ADS_1
'ah, mungkin saja ia membawaku ke apartemennya.' dulu Dimas memang pernah bercerita kalau Azzar lebih memilih untuk tinggal di apartemen, Azzar sengaja membeli sebuah apartemen dekat lokasi kantornya supaya tidak terlambat bekerja karena alasan jarak dan juga jalanan macet.
Kamar ini sangat rapi, dengan nuansa putih abu abu. Ia berjalan mendekati meja komputer, terdapat sebuah pigura foto keluarga. Tampak Dimas, Dewi, Azzar kecil dan seorang bayi dalam gendongan Dewi. Mereka tampak bahagia. Namun yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, siapa bayi dalam gendongan Dewi? Bukankah Azzar anak tunggal?
Setelah selesai menelusuri kamar, gadis itu keluar menuju sofa depan TV. Ruangan itu tampak sedikit amburadul, baju dan celana kotor berserakan dilantai juga di sofa, bungkus camilan berserakan dikarpet, dan tak sedikit camilan yang ikut berserakan.
Ckckck Mitha berdecak melihat semua ini, kemudian diambil nya beberapa pakaian kotor yang berserakan, dan memasukkannya kedalam keranjang baju kotor.
Setelah selesai membersihkan ruang tamu yang begitu kotor, perutnya langsung keroncong minta di isi makanan. Ia berjalan menuju dapur, dan membuka kulkas.
"Apa ini?" Matanya membulat saat melihat isi kulkas yang penuh dengan makanan instan. Tak ada satupun sayuran didalam kulkas dua pintu tersebut. Bahkan satu butir telur pun tak ada.
Karena perutnya sudah sangat keroncongan, terpaksa ia memasak salah satu makanan instan yang ada, masa bodo sama yang punya.
Mitha tampak menikmati makanannya sambil menonton televisi, tiba tiba getaran ponsel disebelahnya mengambil alih fokusnya. Sebuah notif WhatsApp muncul di layar.
[Om Azzar : kalau lapar makan saja makanan yang ada di kulkas, baju ganti mu sudah ada di lemari. Pakaian dalam juga ada di laci lemari bawah sendiri.]
Tumben sekali suaminya mengirim pesan dengan banyak kata. Tak ada niat untuk membalas pesan dari Azzar. Setelah makanannya habis ia segera mencuci piring dan membersihkan diri.
-Pov Mitha-
Setelah perutku terasa kenyang lekas aku mencuci piring dan membersihkan diri. Lengket sekali rasanya badanku. Saat ku liat jam di ponselku sudah hampir jam empat sore. Ahh aku sampai lupa kalau aku belum sholat ashar.
Selesai mandi aku berjalan menuju lemari yang dimaksud Om Azzar, ahh mas Azzar. Sering kali mulutku ini salah mengucap, suamiku itu memang tidak mau dipanggil om, terlihat sangat tua katanya. Lah memang dirinya sudah tua, dasar tidak sadar umur.
Mataku membulat terkejut saat membuka laci tempat pakaian dalam ku. Ku ambil salah satu bra yang ukurannya tiga kali lipat dari punyaku. Bukan itu saja yang membuatku terkejut, semua bra yang ada di laci ini ukurannya sangat lengkap. Astagaaa.. niat sekali suamiku membelinya, kenapa tidak tanya dulu ukurannya padaku.
Drttt...
Ponsel yang ku charger di atas nakas bergetar.
[Om Azzar : aku tak tahu berapa ukuran mu, jadi ku belikan semua ukuran.]
Ku tepuk jidat ku saat membaca pesan darinya. Sepertinya dia bisa mendengar suara hatiku. Ku abaikan pesannya, lantas mengambil salah satu bra yang seukuran denganku. Kemudian membuka laci atasnya untuk mengambil ****** *****.
Ohh astagaaa.. apa lagi ini. Ya tuhan pria seperti apa sebenernya yang aku nikahi. Lihat saja laci ini penuh dengan ****** ***** bermacam macam motif, ada yang kainnya sangat tipis nyaris transparan, ada juga brokat dengan jaring jaring transparan.
Malu sekali rasanya..
Drrtttt...
Ponselku bergetar lagi. Saat kulihat pesan masuk dari nomor mas Azzar.
[Om Azzar : aku juga tak tau apakah kau menyukai ****** ***** itu atau tidak. Aku hanya membeli selebihnya staf toko yang memilihnya.]
Tuh kan, pria ini sepertinya memang bisa mendengar suara hatiku. Dasar pria mesum. Alasan saja staf toko yang memilih memang dasarnya otak ngeres.
__ADS_1
Sudah lah, tak ada pilihan lain. Kupakai saja apa yang ada.
Bersambung....