The Secret Wedding

The Secret Wedding
E M P A T


__ADS_3

Hari beranjak larut, hujan deras berangsur reda menyisahkan gerimis. Tidak ada bintang ataupun bulan yang menghiasi langit.


Azzar membopong tubuh Mitha menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Gadis itu tertidur setelah cukup lama menangis. Acara tahlilan juga sudah selesai.


Dewi dan Dimas sudah kembali ke rumah. Menyisahkan Dina, ibu dan ibu mertuanya. Ketiga wanita itu masih menitikkan air mata. Meka duduk diruang tamu, sofa telah disingkirkan diganti dengan tikar.


Setelah membaringkan tubuh Mitha di kasur, Azzar juga menarik selimut untuk menutupi badan gadis iti sampai leher. Setelah itu ia berjalan menuju lemari dan mengambil selimut.


Azzar akan tidur di sofa panjang yang ada didalam kamar Mitha, tak mungkin rasanya jika ia tidur bersama Mitha dalam satu ranjang. Dan tak mungkin juga ia akan tidur dikamar tamu.


Tengah malam Mitha terbangun karena merasa haus, saat matanya terbuka ia sudah berada dikamar.


'ahh mungkin dia yang membawaku ke sini.' batin Mitha


Selesai minum, ia berjalan ke kamar mandi karena merasa ingin buang air kecil. Dilihatnya Azzar sedang tidur meringkuk disofa, terbesit rasa kasihan melihat laki laki itu tidur seperti itu, pasti esok saat bangun badannya akan terasa sakit semua. Tapi apa daya, ia tak ingin tidur satu ranjang dengannya, dengan alasan ia takut Azzar akan melakukan hal yang iya-iya nantinya.


Setelah itu ia memutuskan untuk kembali tidur.


Esok harinya Mitha bangun terlebih dahulu, hari ini ia akan pergi sekolah setelah 3 hari izin. Selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya, ia duduk dikursi rias untuk memoles sedikit make up agar tidak terlihat pucat. Ia hanya mengenakan sun screen, bedak dan lipglos.


Pukul 06.00 Azzar bangun dari tidurnya, terlihat Mitha sedang merapikan buku di meja belajar dan memasukkan beberapa buku kedalam tas. Azzar menggeliat merasakan badannya seperti remuk semua. Seletah meregangkan otot, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah semua siap, mereka turun ke bawah untuk sarapan bersama. Dina dan keluarga besar almarhum suaminya berkumpul di meja makan, tidak ada obrolan diantara mereka. Hanya terdengar dentingan sendok dan garbu.


"Saya antar." Ucap Azzar datar.


"Gausah, saya biasa naik angkot" tolak Mitha.


Tak banyak kata, Azzar menarik tangan Mitha menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil. Mitha mendengus, suaminya ini suka sekali memaksa.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju sekolah Mitha. Hening, seperti itulah keadaan dalam mobil. Azzar fokus dengan kemudinya, sedangkan Mitha sibuk dengan ponsel.


"Disini aja." Ucap Mitha saat mereka tiba di simpangan.


Ada alasan kenapa Mitha meminta untuk turun di sini, ia tak ingin teman temannya melihat kalau ia berangkat sekolah diantar om om.


Azzar menuruti omongan Mitha. Mobil pun berhenti, Mitha menengadahkan tangan membuat Azzar bingung.


Ia merogoh saku celana mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Lalu diletakkan uang itu ditangan Mitha.


Mitha bingung, kenapa Azzar memberinya uang? Padahal uangnya sendiri masih ada. Ahh tak apalah hitung hitung tambahan uang jajan. Bisa untuk membeli novel baru nantinya.


Mitha menerima uang itu dan memasukkan kedalam saku seragam. Tapi ia masih menengadahkan tangannya lagi.


"Kurang?" Tanya Azzar dengan raut bingung.


"Salim" jawab Mitha datar, berusaha meniru sikap Azzar yang sangat dingin.


"Oh"

__ADS_1


Azzar mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mitha. Ia merasa sedikit kikuk, pasalnya ia tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Mitha menerima tangan Azzar dan mencium punggung tangan suaminya.


Ia turun dari mobil dan lekas berjalan cepat menuju gerbang sekolah sebelum gerbang tersebut ditutup oleh satpam. Azzar masih menunggu Mitha masuk ke dalam sekolah kemudian barulah ia melajukan mobil meninggalkan. Area sekolah.


Dalam perjalanan menuju apartemennya, ia terus tersenyum. Meskipun mereka menikah karena terpaksa, Mitha masih bisa menghormatinya sebagai suami.


******


"Mithaaa... Akhirnya lo masuk sekolah juga. Kangen tauuu." Ucap Nadya, sahabat Mitha sejak mereka kelas 8 smp.


"Turut beduka cita ya Mit, atas meninggalnya bokap lo.." kini Irene yang bersuara.


"Thanks ya guys." Mitha memeluk kedua sahabatnya itu. Ia merasa bahagia bisa memiliki sahabat seperti mereka.


"Ehh tau ga, selama lo ga masuk sekolah. Kak Bintang nanyain lo terus."


"Masa sih?"


"Iya!"


Mereka bertiga berjalan menuju ruang kelas.


"Kayaknya kak Bintang suka sama lo deh Mit." Ucap Irene, sontak membuat kedua sahabatnya itu menoleh.


"Ngaco lo kalo ngomong. Kak Bintang itu most wanted, mana mungkin dia suka sama upil kuda." Sanggah Nadya.


"Tapi kalo gue perhatiin, sikap kak Bintang ke elo sama ke cewe lain itu beda!"


"Jangan jangan lo yang suka sama kak bima Ren?!" Sentak Nadya dan Mitha bersama.


"Tapi gue ngerasa biasa aja deh" ucap Mitha tiba tiba.


"Lo suka sama kak bintang? Akhir akhir ini kalian sering berduaan" Tanya Nadya sedikit ragu.


"Enggak! Hubungan gue sama kak Bintang itu cuma sekedar ketua Osis sama sekretaris Osis, gak lebih!" Mitha menjelaskan.


Obrolan mereka terhenti tatkala bel pertanda *** akan segera dimulai.


Bu Sri sekalu guru sejarah tengah menjelaskan pelajaran, murid muridnya diam menyimak. Begitu juga dengan Mitha, ia paling suka dengan pelajaran sejarah.


Gadis belia itu berkutat dengan bolpoin dan buku untuk mencatat sesuatu yang penting dari penjelasan Bu Sri.


Drttt


Getaran ponsel menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja.


[Guys, nanti pulang sekolah tolong jangan pulang dulu. Kita lanjutkan rapat beberapa hari yang lalu soal acara tiga bulan kedepan]


Sebuah pesan dari group Osis masuk, ia tak berniat membalas. Dimatikan lagi ponselnya dan dimasukkan kedalam tas.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu. Mitha, Nadya dan Irene sedang makan mie ayam dikantin.


"Ehh, tumben lo pake cincin?" Irene baru menyadari cincin berlian yang melingkar dijari manis Mitha.


Nadya menarik tangan Mitha untuk melihat cincin yang dipakai sahabatnya itu.


"Ohh ini, ini hadiah dari temen nyokap." Ucap Mitha berbohong.


"Cantik banget, kayaknya ini berlian asli deh." Nadya memutar mutar tangan Mitha mengamati cincin itu.


Drttt..


Ponselnya bergetar, lantas dikeluarkannya dari saku.


[Plg jm brp]


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di notifikasi. Mitha heran, pasalnya ia tak pernah memberikan nomornya kepada sembarang orang.


Ditatapnya kedua sahabat nya dengan tatapan penuh selidik. Irane dan Nadya yang merasa ditatap seperti itu merasa risih.


"Ngapain sih lo liatin kita kayak gitu?" Tanya Irene.


"Kalian ada kasih nomor hp gue ke orang lain?" Tanya Mitha masih dengan tatapan selidik.


"Engga, buat apa juga. Ga ada untunya buat kita. Bener ga Nad?" Balas Irene dengan ketus.


Tak lama pesan baru masuk.


[Azzar]


Setelah membaca pesan tersebut Mitha mengangguk anggukkan kepala. Membuat kedua sahabatnya menatap heran.


"Dari siapa?" Tanya Nadya penasaran.


"Kepo!"


[Jam 2. Kenapa?] Mitha membalas pesan dari suaminya, kemudian meyimpan nomornya dengan nama 'om Az'


[Jmpt?] Astaga, selain mulutnya yang irit bicara ternyata jarinya juga irit kata.


[Gausah nanti ada rapat osis] tolak Mitha.


Tak ada balasan setelah itu, ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.


"Lo ada gebetan ya?!" Tanya Irene.


"Main rahasia lo sama kita?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2