The Secret Wedding

The Secret Wedding
T U J U H B E L A S


__ADS_3

Mitha menatap dua manusia yang ada dihadapannya dengan tatapan jijik, terutama kepada Clara yang saat ini menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


Beralih menatap Azzar dengan tajam, wajah pria dihadapannya merah menahan amarah, nafasnya naik turun.


"Om nampar aku demi belain ****** ini?" Ucap Mitha tersungut sungut.


"Jaga bicaramu! Kau jangan jadi gadis yang tidak tau sopan santun dan etika! Ayahmu pasti menangis disana melihat kelakuanmu!" Azzar membentak.


Senyum miring terulas dibibir Mitha, ia menatap Azzar dengan tatapan rendah.


"Tidak usah ajari aku, ajari saja wanita mu ini agar tidak terus terusan mengganggu ketenangan orang lain!" Mitha menyapu pandangannya kearah Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Cuih! Menjijikkan." Mitha meludah tepat di depan Clara membuat wanita itu reflek mundur dua langkah.


Setelahnya ia pergi meninggalkan kedua orang itu. Ia menangis sejadi jadinya didalam kamar, gadis itu meratapi nasibnya.


"lihat yah, lihat perlakuan menantu pilihanmu! Seumur umur ayah saja tidak pernah menampatku seperti itu, dia yang kau pilih dengan seenaknya menamparku dengan sangat keras. Bukan sakit dipipi yang aku rasa, melainkan sakit dihati."


Karena kelelahan akibat menangis, akhirnya Mitha jatuh tertidur dengan posisi tengkurap sambil memeluk bantal.


Waktu menunjukkan pukul 20.00, Mitha tidak ikut makan malam bersama karena ketiduran. Perlahan gadis itu menggeliat dalam tidurnya, dan mata indahnya mulai terbuka.


Merasa perutnya sangat lapar, ia pergi ke dapur untuk membuat mie instan. Untuk menghilangkan rasa bosan Mitha menyetel musik dari pinselnya dengan volume sedang. Mitha bernyanyi mengikuti alunan musik.


"Suaramu jelek!" Hardik Clara secara tiba tiba, entah apa yang sedang dilakukannya didapur.


"Kayak muka lo!" Balasan Mitha membuat Clara merdecih.


"Heh! Denger ya. Azzar itu milik gue, lo itu gak pantes jadi istrinya. Bocah kayak lo itu tau apa soal rumah tangga! Gue pastiin bakal nyingkirin lo dari kehidupan Azzar!" Ucap Clara penuh penekanan disetiap kata katanya.


"Eh tante, terserah deh, tante mau ngomong apa. Saya ga peduli, mau tante jungkir balik buat nyingkirin saya pun, saya ga peduli." Mitha melangkah menjauhi Clara sambil membawa satu mangkok mie instan kuah.


Setelah menghabiskan isi mangkok, Mitha segera mencuci bersih mangkok tersebut. Saat ia hendak keluar untuk sekedar menikmati udara malam, tampak sebuah mobil yang ia tau adalah mobil mertuanya memasuki halaman villa.


Meski kebingungan, namun Mitha menunggu orang yang ada didalam mobil keluar. Mobil berhenti, keluarlah Pak Asep.


"Loh, Pak Asep? Ngapain malam malam kesini?" Tanya Mitha.

__ADS_1


"Disuruh bapak jemput non Mitha sama mbak Clara." Jawaban Pak Asep membuat Mitha bingung, kenapa harus dijemput supir? Bagaimana dengan Azzar? Apakah ia tidak ikut pulang?


"Oh, sekarang pak?" Sebagau jawaba dari pertanyaan Mitha, Pak Asep menganggukkan kepala.


Mitha masuk kedalam Villa, sedangkan Pak Asep berbincang dengan Mang Ujang yang kebetulan baru pulang dari warung.


"Pak Asep udah dateng?" Tanya Azzar saat Mitha mengemasi barang barangnya, pria itu tengah berkutat dengan laptopnya diatas kasur.


"Hmm" semenjak kejadian sore tadi, Mitha berubah menjadi lebih dingin dan cuek kepada Azzar.


"Baguslah, kamu pulang dulu sama Clara. Aku sedamg ada urusan disini."


Mitha sama sekali tak menggubris penjelasan Azzar, tangannya sibuk mengemas barang. Setelah itu ia pergi tanpa berpamitan.


"Mang, Bi Mitha pulang dulu ya. Nanti kalo ada waktu luang Mitha main lagi kesini. Mamang sama Bibi jaga kesehatan ya. Assalamualaikum.." dengan takzim Mitha mencium punggung tangan kedua orang tersebut.


"Pak, Mitha tunggu di mobil ya."


***


"Az aku pulang dulu ya, kamu baik baik disini. Semoga aja urusannya cepet selesai jadi kita bisa jalan jalan lagi. Bye Az."


"Ya, hati hati dijalan." Balas Azzar singkat.


"He'um. Nanti aku kabari kalo udah nyampe." Sebelum pergi Clara menyempatkan untuk mengecup pipi kanan Azzar.


Azzar terpaku memdapati ciuman mendadak dari Clara, ya meskipun dulunya mereka sering melakukan hal tersebut. Namun sekarang yang dirasakan Azzar tidaklah seperti dulu, hambar. Ya, seperti itulah rasanya.


Sejenak bayangan Mitha melintas dikepala Azzar. Seperti ada rasa sesak yang nenyeruak didalam dada mengingat dengan jelas tangannya yang mengayunkan tamparan kelada Mitha.


Ya, Azzar merasa bersalah telah melakukan kekerasa kepada Mitha.


Sudah lima hari dari kepulangannya dari villa, Mitha berubah menjadi gadis yang lebih pendiam. Berbeda dari sebelumnya, yang selalu membangunkan Azzar, menyiapkan baju ganti, serta makanannya. Kini Mitha tidak lagi melakukan hal itu.


Azzar menyadari jika istri kecilnya itu tengah marah dan kecewa pada dirinya, namun untuk sekedar meminta maaf, Azzar merasa malu.


***

__ADS_1


Lusa adalah hari H perayaan ulang tahun sekolah. Oleh sebab itu seluruh anggota OSIS dibuat sibuk karenanya.


"Nanti biar gue, Sera, Mitha sama Rangga beli dekorasi. Yang lain bantu persiapan disekolah aja. Jangan lupa sie konsumsi segera catat semua biaya yang dibutuhkan terus minta uangnya ke Bendahara." Jelas Bintang, selaku ketua OSIS. Semua anggota mengangguk pertanda mengerti.


"Naik mobil gue aja. Kebetulan tadi gue bawa mobil." Tawar Rangga.


Mereka berempat berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak ada obrolan diantara mereka.


Rangga duduk kursi kemudi sedangkan Bintang disebelahnya, Mitha dan Sera duduk dikursi belakang.


"Kemana nih?" Rangga membuka obrolan saat mobil mulai keluar dari area sekolah.


"Ke Mall aja Ngga, kemaren gue udah cek ke salah satu toko dekorasi disana, dan ternyata disana semuanya lengkap." Balas Sera.


"Oke."


Sementara itu disisi lain, Clara sedang berjalan menuju ruangan Azzar. Banyak pasang mata menatap kearahnya dengan berbagai macam tatapan.


Namun ia tak menggubris, kaki yang dibalut high heels berwarna cream itu terus berjalan dengan angkuh. Tanpa mengetuk pintu dulu, Clara langsung masuk kedalam ruangan milik Azzar.


"Hai sayang, sibuk banget ya?" Ucap Clara dengan suara yang dibuat manja.


"Huft. Ra, biasakan ketuk pintu sebelum masuk!"


"Iya iya maaf"


Sebenarnya kerjaan Azzar sangatlah menumpuk, kepalanya terasa mau pecah memikirkan tumpukan berkas yang harus dikerjakannya. Ditambah dengan kedatangan Clara.


"Temenin aku belanja yuk." Ucap Clara dengan mata berbinar. Tak dihiraukannya penampilan Azzar yang acak acakan karena stress memikirkan kerjaan.


Azzar menghembuskan nafas gusar.


"Aku masih banyak kerjaan, belanja saja dengan teman mu. Nanti ku transfer uangnya." Tolak Azzar secara halus.


Mendengar jawaban Azzar raut wajah yang sebelumnya sumringah menjadi mendung seketika. "Tapi aku maunya sama kamu. Ayo lah Az, atau kamu mau aku adukan Oma Rosa?"


"Bailkah, Tapi hanya sebentar!" Azzar pasrah, ia kembali merapikan rambut, dasi dan jas yang sebelumnya sudah tidak berbentuk.

__ADS_1


"Yey! Terimakasih sayangku!"


Bersambung....


__ADS_2