The Secret Wedding

The Secret Wedding
S E M B I L A N


__ADS_3

"ahaha cemen banget lu Nad, nonton begituan aja udah pucet. Ahaha" Irene tertawa melihat wajah pucat Nadya. 


Ya, mereka bertiga baru saja selesai menonton film horor. Nadya memang penakut, tapi ia juga penasaran dengan film yang sedang trending itu. 


"Gue bukan takut setannya. Backsound nya aja yang ngagetin." Nadya mencari alasan. Selain kaget dengan backsound ia juga kaget melihat setan yang tiba tiba muncul. 


"Ngeles aja lo." Imbuh Mitha dengan nada mencemooh. 


Setelah keluar dari bioskop, mereka bertiga berdiri mematung. 


"Mau kemana lagi nih?" Mitha bertanya, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. 


"Makan aja yuk, laper nih." Kalau soal makanan memang Nadya juaranya. Irene dan Mitha berjalan mengikuti Nadya, entah kemana tujuan gadis itu sebenarnya. 


"Nah ini nih mood booster." Tanpa menunggu lama lagi, mereka bertiga masuk kedalam restoran korea. Memang makanan yang berbau bau korea itu mood booster, apalagi yang super pedas. 


Mereka bertiga memilah milah buku menu sambil beberapa kali menunjuk gambar makanan. 


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Mata mereka bertiga berbinar melihat jejeran makanan diatas meja. 


Bukan tak pernah makan makanan mahal. Mereka bertiga memiliki satu kesamaan, pecinta makanan pedas. 


"Ehh itu bukannya Kak Bintang ya?" Nadya menunjuk seorang cowok yang baru saja memasuki restoran dengan seorang gadis. 


"Kak Bintang!" Irene memanggil cowok itu dengan suara cukup keras sehingga membuat beberapa pengunjung menoleh kearah mereka. 


"Malu Ren!" Mitha menyenggol lengan Irene. 


Bintang merasa namanya dipanggil langsung mengedarkan pandangan guna mencari seorang yang memanggilnya. Tampak Irene dan Nadya melambaikan tangan. Gegas ia berjalan mendekati tiga gadis itu. 


Sementara gadis yang bersamanya tadi langsung menghentakkan kaki pertanda kesal, namun ia juga mengikuti langkah kaki Bintang. 


"Hai Ren, Hai Nad, Hai Mith" Bintang menyapa satu persatu dari ketiganya. "Boleh gabung gak nih?" Tambahnya. 


"Kamu apa apaan sih!" Gadis yang bersama Bintang langsung menolak secara terang terangan. Dan menunjukkan rasa tak sukanya kepada tiga sahabat yang sedang duduk menikmati pesanan mereka. 


"Lah suka suka gue dong, gue juga ga ngajak lo duduk disini kalo emang lo gamau ya bisa cari tempat duduk lain." Nada bicara Bintang terdengar sedikit judes dan sinis kepada seorang gadis yang masih berdiri di sampingnya. 


"Boleh dong kak.. ohh kalo kak Kera, ehh kak Sera gak mau ya bisa cari tempat lain." 


Sera, ketua cheerleaders disekolah. Ia memang sejak dulu mengagumi sosok Bintang. Namun sayang, rasa kagumnya sama sekali tidak mendapat respon dari Bintang. 

__ADS_1


Bahkan terang terangan Bintang menunjukkan perhatiannya kepada Mitha, Mitha saja yang tidak menyadari hal itu. 


"Masih banyak bangku yang kosong, kenapa harus disini sih!" Sera melirik sinis kearah Mitha. 


"Gue ga maksa lo ikut. Bukannya tadi yang maksa ikut gue itu lo ya?" Bintang berucap dingin kepada Sera. Jujur ia merasa risih dengan sikap Sera. 


"HUH!" dengan perasaan amat kesal, Sera berjalan meninggalkan dan memilih bangku yang dekat dengan mereka karena ia tak ingin berjauhan dengan bintang. 


"Kak Bintang nemu monyet modelan Kak Sera itu dimana sih?" Irene melirik Sera saat berucap, nampak gadis yang tengah mereka bicarakan menatap tajam kearah mereka. Terutama kearahnya, karena Sera mendengar apa yang barusaja diucapkan Irene. 


"Tadi ga sengaja ketemu di toko baju pas mau beli dress buat kado adek gue." Ujar Bintang menjelaskan. 


******


"Bu-bukannya setelah kecelakaan itu 'dia ' dinyatakan tewas?" Azzar terbata saat bertanya kepada sang Bunda. Ia sangat terkejut saat mendengar berita bahwa 'dia' orang dimasa lalunya telah kembali. 


"Kita tidak tau pasti, itu hanya persepsi. Melihat kondisi mobil yang sudah hancur meledak, tak mungkin korban bisa selamat. Namun sampai beberapa bulan penyeledikan tak ada tanda tanda jenazah korban ditemukan." Dewi menjelaskan panjang lebar. 


Ada rasa haru, bahagia, kecewa dan penasaran meliputi benak Azzar. Ia terdiam mencerna semua omongan Dewi. 


Hari berganti, Azzar sedang dalam perjalanan untuk menjemput istrinya disekolah. Pandangannya fokus kedepan, namun pikirannya entah kemana. 


Mitha tak begitu menanggapi semua omongan atau bahkan yang Oma tunjukkan kepada dirinya. 


Kali ini Azzar menunggu di depan gerbang. Dari kejauhan tampak Mitha berlari kecil kearah dimana mobilnya terparkir. 


Azzar tersenyum tipis, sangat tipis melihat tingkah istrinya yang kekanak kanakan. 


Ceklek


"Om anterin ke toko bahan kue ya, Mitha mau buat kue kering." Ucap Mitha begitu memasuki mobil. Dilepasnya tas ransel berwarna biru dari punggung nya dan melemparkannya ke jok belakang. 


Azzar geleng geleng melohat tingkah istrinya yang tengil. Mobil perlahan mulai menjauhi kawasan sekolah. Tak ada percakapan diantara mereka. Hanya suara lagu dari radio yang menemani perjalanan. Sesekali Azzar melirik kearah Mitha, tampak gadis itu sedang menikmati alunan lagu. 


Sesampainya di toko bahan kue, Mitha langsung mengambil keranjang belanja dan memasukkan beberapa bahan kue. Azzar menarik paksa keranjang yang dipegang Mitha. 


Hampir saja semua bahan tumpah karena Azzar yang tiba tiba menarik keranjang. 


"Om apaan sih, kalo tumpah semua gimana?!" Mitha menyentak karena terkejut. 


"Maaf, biar saya yang bawa." 

__ADS_1


"Lain kali bilang bilang dong!" 


****


Mitha sibuk berkutat dengan adonan kue, celemek yang menempel ditubuhnya sudah kotor dengan tepung. 


Azzar hanya melihat dari pintu dapur sambil bersedekap dada. Tangannya yang mungil sangat lihai menguleni adonan, tubuhnya seolah menari kesana kemari saat mengambil beberapa barang. 


"Mau dibantu nggak?" Setelah sekian menit Azzar bersuara. 


"Nggausah, Om duduk aja disana!" Ucap Mitha menunjuk kursi mini bar. 


Azzar menuruti omongan istri kecilnya, ia duduk manis sambil bertopang dagu melihat kesibukan sang istri. 


Aroma wangi kue yang sedang di panggag dalam oven menyeruak masuk kedalam hidung. Azzar memejamkan mata menikmati wangi kue. 


"Wangi, udah mateng belom?" Tak sabar ingin mencicipi kue buatan Mitha, Azzar berjalan kearah oven untuk mengintip kue. 


"Lima menit lagi." Balas Mitha, ia membersihkan beberapa peralatan yang kotor. 


Ting 


Suara bel berbunyi, Mitha hendak membukakan pintu namun ditahan oleh Azzar. 


"Biar aku saja, kau lanjutkan saja pekerjaan mu." Begitu kata Azzar. 


"Waah.. cucu Oma...!" Ucap seorang wanita tua dengan keriput diwajahnya, meskipun berkeriput tak mengurangi kecantikannya. Siapa lagi kalau bukan Oma Rosa, Ibu dari mertua Mitha-Dewi. 


Selesai dengan pekerjanya, Mitha melangkah menuju ruang tamu sambil membawa dua cangkir teh hangat dan kue kering yang baru saja matang. Ia masih memakai celemek.  


"Di minum Oma!" Ucap Mitha sopan. Ia hendak kembali ke dapur untuk meletakkan nampan juga celemek kotor yang ia pakai. 


"Tidak sopan kamu! Menghidangkan minuman pakai pakaian kotor seperti itu! Untung yang datang saya, coba kalau orang lain? Bisa rusak nama baik cucu saya. Masa iya, punya istri jorok seperti kamu!" Oma Rosa berucap sinis kepada Mitha. Selalu saja ada alasan untuk menjatuhkan dirinya. 


Entah itu didepan keluarga sendiri atau bahkan ditempat umum. Tak segan ia melontarkan kata kata kasar kepada Mitha. 


"Maaf Oma, lain kali tidak akan terulang. Mitha permisi dulu mau membersihkan diri." Pamit Mitha undur diri. 


"Jadi gadis seperti itu pilihan orang tua mu? Banyak minus. Masih banyak gadis yang lebih cantik dan lebih dari segalanya daripada istri mu itu! Ceraikan saja dia! Cari wanita berkelas dan tau sopan santun seperti..." Ucapan Oma Rosa terhenti seperti menyadari satu hal. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2