The Secret Wedding

The Secret Wedding
D U A


__ADS_3

"yah, lebih baik Mitha hidup miskin sama mama sama ayah juga." Mitha masih menahan emosi. Ia ingin ayahnya berubah pikiran tentang perjodohannya.


"Tapi nak, ga selamanya ayah sama mama bakal dampingin kamu. Ga selamanya ayah sama mama ada untuk kamu. Kami hanya ingin yang terbaik buat kamu nak. Setelah kejadian ini, mungkin ayah tidak akan bisa membantu biaya sekolahmu." Dhani menjelaskan dengan tutur kata yang lembut.


"Mitha bisa putus sekolah. Mitha bisa kerja, buat biaya hidup dan buat beli obat ayah."


"Sayang, kalau kamu putus sekolah bagaimana nanti dengan masa depan kamu? Katanya mau jadi wanita karir." Dina mengelus punggung putri semata wayangnya. Putrinya itu sangat keras kepala.


"Kalau Mitha dijodohkan, Mitha juga putus sekolah kan. Lebih baik Mitha hidup miskin sama ayah sama mama. Mitha gamau nerima perjodohan ini, titik!"


Rasa kesal dan kecewa kepada kedua orang tua, entah apa yang harus dilakukannya agar ayahnya bisa membatalkan perjodohan ini. Dengan air mata yang mulai berjatuhan, ia lari menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua.


Rumah ini tidak terlalu luas. Hanya rumah minimalis dengan dua lantai dan kolam renang serta mini garden yang ada dibelakang rumah.


Sementara itu, Dina menenangkan suaminya yang sedikit emosi.


"Nanti biar aku yang jelaskan. Mas tenang aja, Mitha pasti mau nerima perjodohan ini." Ucap Dina lembut.


Drrtttt


"Halo"


"..."


"Yang benar pak? Terus gimana?"


"....."


"Baiklah, kalau ada kemajuan tolong segera kabari."


Tut.


"Hah, hah, hah." Begitu telepon dimatikan, Dhani kesulitan menghirup oksigen. Degup jantungnya pun meningkat. Dhani meremas dada dikiri nya yang terasa sakit.


"Ada apa mas?" Panik, khawatir, dan penasaran. Itulah yang dirasakan Dina. Siapa yang menelfon? Apa yang mereka bahas sehingga membuat penyakit jantung Dhani kumat.


"Hah, dari-kepolisian-ma-hah"


Setelah mengatakan itu, Dhani tiba tiba tak sadarkan diri. Dina yang kepalang panik berteriak memanggil nama putrinya dengan sangat keras.


"Ayah kenapa ma?" Tanya Mitha begitu melihat sang ayah tak sadarkan diri.


"Tanya nya nanti saja, sekarang cepat telfon ambulans!" Dina masih berusaha membangunkan suaminya sementara Mitha menghubungi ambulans.


Begitu sampai dirumah sakit, Dhani langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan dokter.


******


Mitha yang tertidur dikursi sebelah brankar ayahnya menggeliat nyaman ketika dikepalanya merasakan usapan lembut. Ia mengerjapkan matanya perlahan, pukul berapa ia tertidur ketika menunggu ayahnya siuman.


Perlahan matanya terbuka, terlihat seuntai senyuman dibibir pucat sang ayah. Wajahnya tampak begitu lelah. Ia tau, dalam kepala pria paruh baya itu menyimpan begitu banyak beban pikiran.


"Ah, ayah sudah siuman." Segera ia mengambil gelas air yang ada di nakas sebelahnya dan kemudian memberikannya kepada sang ayah.


"Minum dulu yah." Mitha membatu Dhani bangun dan bersandar di kepala ranjang yang sudah diletakkan bantak untuk menyangga kepalanya.


Dhani mengangguk menerima gelas air itu dan meminumnya beberapa tegukan.


"Mama mu mana?" Begitu Dhani siuman ia tak mendapati keberadaan istri tercinta nya, hanya ada Mitha yang tertidur dikusi sebelah ranjangnya.

__ADS_1


Mitha melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 05.00.


"Mama semalam tidur dirumah, gantian sama Mitha yang jaga ayah. Sebentar lagi mama juga datang." Jelas Mitha.


"Mitha, ayah mau minta sesuatu anggap saja ini permintaan terakhir ayah. Ayah tau kalau hidup ayah tidak akan lama lagi"


"Ayah ngomong apa sih, hidup dan mati itu ada ditangan tuhan bukan ditangan dokter! Dokter bisa saja mengatakan kalau hidup ayah hanya sebentar, tapi kalau Tuhan tidak menghendaki itu tidak akan terjadi." Ujar Mitha, ia menepis rasa sesak di dada mendengar Dhani mengatakan hal seperti itu. Tidak, tidak akan ada yang bisa mengambil sosok Dani dalam hidup nya. Meskipun Tuhan mencabut nyawa ayahnya, pria itu selalu ada dalam hatinya.


"Ayah mohon, terima perjodohan ini nak. Ini semua demi kebaikan kamu, ayah dan mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Ketika selesai menikah nanti, kamu masih bisa sekolah. Kita rahasiakan pernikahan kalian. Ayah hanya ingin ada yang menggantikan peran ayah ketika nanti sudah waktunya ayah pergi." Mata Dhani berkaca.


Mitha sudah menangis sesenggukan mendengar omongan Dhani, ia sangat menyayangi ayahnya, ia juga tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Bimbang, itulah yang dirasakan Mitha saat ini. Di satu sisi ia tak mencintai laki laki yang akan dijodohkan dengannya, Ia juga masih ingin mengejar cita cita.


Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin membuat kedua orang tuanya merasa sedih dan kecewa. Tak ada harapan lagi selain dirinya karena dia adalah anak satu satunya.


Pukul 07.00


Tok tok tok...


"Assalamualaikum.."


Pintu terbuka, muncullah Dina yang membawa rantang dan bingkisan buah. Wanita itu meletakkan bawaannya diatas nakas dan kemudian mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda hormat.


"Itu mama bawakan rendang ayam kesukaan kamu, cuci muka dulu terus sarapan. Nanti gausah sekolah dulu, mama sudah minta ijin ke sekolah." Dina mengelus lembut rambut putri semata wayangnya.


"Iya ma." Mitha bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dari dalam kamar mandi samar samar ia mendengar perbincangan kedua orang tuanya.


"Nanti Dimas sekeluarga datang, tadi pagi pagi sekali dia telfon nanya keadaan kamu" Ucap Dina, kalimat itu terdengar sampai ke telinga putrinya yang ada di kamar mandi.


"Ayah sudah membujuk Mitha, semoga saja dia mau menerima perjodohan ini. Ayah takut kalau nanti tidak ada yang menjaganya." Ucap Dhani sendu.


"Mas tenang aja, tidak usah banyak pikiran. Pikirkan dulu kesehatan mas,,," ucap Dina lembut sambil menyuapi suaminya bubur.


****


"Bagaimana keadaan kamu Dhan?" Ucap Dimas. Ia dan istrinya barusaja sampai, Sedangkan Azzar, putranya sedang dalam perjalanan.


"Ya seperti yang kamu lihat, haha" balas Dhani dengan tawa diakhir kalimatnya.


Dhani sibuk berbincang dengan Dimas yang duduk dikursi, sedangkan Dina dan Dewi berbincang di sofa.


"Oh ya jeng, Mitha mana?" Tanya Dewi basa basi.


"Lagi keluar, katanya ada perlu. Paling sebentar lagi juga dateng."


Sebenarnya Mitha pergi ke taman yang ada di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Ia hanya ingin menenangkan pikiran. Ia hanya duduk diam dikuri taman.


"Apa aku terima aja ya perjodohan ini?" Ucapnya bermonolog.


Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memilih untuk menerima perjodohan ini. Kini gadis itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Namun matanya melihat seseorang yang mungkin ia kenal. Matanya memicing mencoba mengingat ingat, saat ia merasa sudah yakin barulah ia berjalan menghampiri orang itu.


"Om, maaf saya mau bicara." Ucap Mitha, ia berusaha menyamakan langkah kakinya dengan orang tersebut karena jangka kaki orang tersebut sangat lebar berbeda dengan dirinya.


"Om?" Dahi pria itu menyerngit, menatap gadis yang berjalan disebelahnya. Ia tau gadis itu. "Kamu pikir saya sudah tua?!" Ucap pria itu sewot. Berani beraninya gadis ini memanggilnya dengan sebutan om padahal usianya baru 25 tahun, ya meskipun lewat 2 hari.


"Lah? Emang tua. Saya saja 17 tahun, om berapa? Ahh sudah lupakan, saya ingin bertanya sekaligus membicarakan sesuatu sama om." Ucap Mitha tanpa nasa basi.


Ia tau orang yang saat ini menjadi lawan bicaranya adalah penghuni asli kutub utara. Dingin dan juga cuek. Jadi ia tak perlu basa basi.


"Hm" Azzar hanya menanggapi dengan dehaman.

__ADS_1


"Tapi ga disini, ikut saya" tanpa ragu atau tanpa sadar Mitha menarik tangan Azzar, Azzar terkejut selama ini tidak ada yang berani berbuat lancang kepadanya. Bahkan menyentuh tanpa izin, sekarang? Lihat gadis ini menarik tangannya seperti seorang adik yang memaksa minta dibelikan es krim.


Mereka berjalan menuju taman yang tadi disinggahi Mitha.


"Sekarang bisa lepaskan tangan saya?" Ucap Azzar dingin membuat Mitha menoleh kearah tangannya. Ahh bodoh sekali, Mitha tersenyum kaku menanggapi.


"Ehh maaf" barulan ia melepas genggaman tangannya.


"Jadi, karena alasan apa om nerima perjodohan ini? Om kan udah mapan, udah tua juga. Ehh maksudnya om bisa cari istri yang sepantaran sama om."


"Saya tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan kamu!" Astaga, kenapa laki laki ini hanya memiliki satu mimik wajah. Datar dan sangat dingin, tatapannya begitu tajam seolah ingin menguliti lawan bicaranya hidup hidup.


"Om bisa nggak batalin perjodohan ini?" Awalnya Mitha akan menerima perjodohan ini karena tidak ada pilihan lain. Tapi setelah bertemu dengan Azzar ia menaruh harapan, semoga laki laki ini bisa membatalkan perjodohannya.


"Saya tidak bisa"


"Mm.. kalau begitu saya mau menerima perjodohan ini, tapi saya punya perjanjian pra-nikah." Ucapan Mitha memberi sebuah tanda tanya besar diatas kepala Azzar.


Memangnya ada perjanjian pra-nikah?


"Apa?" Tanya Azzar penasaran.


"Satu. Saya ga akan ganggu kehidupan pribadi om, om bebas mau pacaran sama siapa saja setelah nikah nanti. Begitu juga sebaliknya, om ga boleh ikit campur urusan pribadi saya. Ya meskipun statut om nantinya adalah suami saya. Gimana?"


Azzar berpikir sejenak. Panggilan om terdengar sangat risih ditelinganya. Kesannya ia terlihat sangat tua, ya meskipun memang sudah tua.


"Hm." Lagi lagi Azzar hanya menanggapi dengan dehaman. Huft, sepertinya Mitha harus bersabar saat berbicara dengannya.


"Dua. Setelah nikah saya mau tidurnya beda ranjang beda kamar."


Azzar mengangguk pelan sambil berpikir.


"Terakhir. Saya masih mau sekolah walaupun sudah nikah nanti. Jadi saya mau pernikahan ini dirahasiakan."


"Sudah ngomongnya?"


Mitha melongo dibuatnya. Benar benar! Astaga ingin sekali merobek mulut orang ini. Kalau saja hal itu tidak membuatnya dipenjara. Sudah ia lakukan sejak tadi. Tanpa berpamitan Azzar melangkah pergi menjauh.


"Huft, sabar Mitha. Jangan marah marah nanti tekanan darah bisa naik..." Mitha mengelus dadanya perlahan dan menarik nafas dalam dalam kemudian dihembuskan.


"Arghhhhh.." namun pada akhirnya gadis belia itu masih mencak mencak.


Setibanya di depan ruang inap ayahnya, semua orang berada diluar ruangan. Dan terlihat Dina menangis dalam pelukan Dewi. Ada apa ini? Kenapa mamanya menangis? Apa yang terjadi kepada ayahnya?


Mitha berjalan cepat menghampiri mamanya.


"Tante, mama kenapa?" Mitha bertanya kepada Dewi. Belum sempat wanita paruh baya itu menjwab pertanyaan Mitha, seorang dokter keluar dari dalam ruang inap ayahnya.


"Bu, sebaiknya jangan biarkan pasien menyimpan terlalu banyak pikiran. Saya khawatir itu akan berdampak terhadap kondisinya saat ini. Ibu tenang saja, saat ini pasien sedang dalam pengaruh obat tidur. Biarkan pasien istirahat. Saya pamit." Kemudian dokter tersebut berlalu.


Lalu mereka kembali masuk kedalam ruangan. Terlihat tubuh lemas Dhani diatas ranjang. Dina langsung berlari menghampiri, digenggamnya jemari lemas itu dengan sangat lembut. Tangisnya belum reda, air matanya berjatuhan membasahi tangan suaminya.


Dengan sangat pengertian Dewi berjalan dan mengelus pundak sahabatnya dimasa SMA itu. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, membiarkan tangis sahabat nya reda dengan sendirinya.


Sedangkan Mitha berjalan perlahan, tak tega rasanya melihat keadaan sang ayah lemah seperti ini. Selama ini Dhani adalah sosok ayah yang begitu tegas. Ia tak pernah menunjukkan raut sedih dihadapannya.


Tiba tiba saja kepalanya terasa sangat pusing. Pandangannya mengabur seiring kesadaran nya menghilang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2