The Secret Wedding

The Secret Wedding
S E P U L U H


__ADS_3

Drtttt.. ponsel yang berada didalam tas milik Oma Rosa bergetar. Sang empunya segera mengambil benda tersebut. 


[Calon Mantu : maaf Oma, tadi aku ada panggilan mendadak dari bos aku. Jadi aku langsung pergi, maaf ya gak ngabarin Oma dulu, soalnya tadi mau bilang sama Oma, eh Oma udah jalan duluan.] 


Sebuah pesan dari seseorang dengan emot sedih diakhir pesan. Oma Rosa membuang nafas gusar. Gagal sidah rencananya kali ini untuk mempertemukan Azzar dengan orang tersebut. 


[Oma Rosa : Baiklah, jika urusan mu sudah selesai datanglah kerumah Dimas. Tunggu aku disana!] 


Azzar melihat Oma nya sibuk dengan ponsel lantas berdeham menyadarkan. 


"Dimakan Oma!" Ucap Azzar mengambil satu kue kering yang dihidangkan Mitha. Entah sihir apa yang diberikan Mitha, sehingga makanan apa saja yang dimasaknya selalu bisa memanjakan lidah. 


"Enak, beli dimana kue nya? Nanti Oma juga mau beli." Satu biji, dua biji, tiga biji. Oma Rosa terus memakanan kue kering buatan Mitha, ia merasakan sensasi berbeda. Lidahnya belum pernah merasakan kue se enak ini. 


"Maaf Oma, kue itu Mitha buat sendiri. Tadi Oma lihat kan dia pake celemek." Jawab Azzar. 


"Mana mungkin bocah seperti dia bisa bikin kue seenak ini. Palingan juga beli terus ngakunya bikin sendiri. Gadis jaman sekarang memang begitu, pinter bohong!" Tukas Oma Rosa dengan nada tinggi. Ia merasa tak suka ketika Azzar membela bahkan memuji Mitha. 


"Kalau Oma gak percaya, silahkan saja Oma di toko kue. Gak mungkin ada, kalau ada pun rasanya juga pasti beda." Ucap Mitha tiba tiba keluar dari dalam kamar. 


"Oma gak percaya!" 


"Silahkan saja kalau Oma gak percaya, saya tidak butuh itu." Dengan santainya Mitha duduk disamping Azzar. Azzar melihat api peperangan dari sorot mata Oma Rosa, ia tak tau harus berbuat apa sekarang. 


"Lihat! Apa begini didikan orang tuanya? Berani melawan orang tua! Tidak ada sopan santunnya! Tidak bisa menghargai orang lain!" Oma Rosa berdiri sambil menunjuk nunjuk kearah Mitha, sementara gadis itu hanya diam dengan senyum miring. 


"Jangan bawa bawa orang tua saya Oma! Mereka mengajarkan kepada saya untuk menghargai orang yang bisa menghargai kita. Buat apa kita menghargai orang lain kalau orang itu saja tidak menghargai kita" Mitha menyilangkan kakinya kemudian mengambil kue buatannya sendiri dan memakannya. 


"Beraninya kamuu!" Teriak Oma Rosa lantang dengan tangan kanan melayang diudara hendak menampar Mitha. 


Namun Azzar dengan sigap melerai keduanya. Dicekalnya tangan Oma Rosa. Oma Rosa mendelik tajam mengetahui tangannya dicekal oleh cucunya sendiri. 


"Sudahlah Oma, tolong hargai pilihan Ayah juga Azzar. Kalau memang Oma tak suka, tolong jangan cari ribut!" Azzar berucap lembut takut menyinggung perasaan Oma nya. 


"Huh!" Oma Rosa membuang nafas berat dan memalingkan wajah. 


"Yasudah, Oma pulang saja kerumah orang tua mu! Nanti datanglah makan malam bersama. Tapi jangan ajak bocah ingusan itu!" Ucap Oma Rosa sambil menunjuk Mitha. 


"Saya ga pilek Oma, gada ingus juga." Balas Mitha santai. Pening kepala Azzar melihat pertikaian dua perempuan dihadapannya ini. Yang satu suka memncing emosi dengan ucapan tengilnya dan yang satu lagi mudah terbawa suasana dan emosi. 


Oma Rosa hanya mendelik kearah Mitha, seolah mengancamnya. Mitha menanggapi dengan senyum penuh kemenangan. 

__ADS_1


Tidak, ia tidak bisa sabar seperti wanita Indosiar. Yang hanya bisa diam dan mengalah saat dihina atau disakiti. 


****


"Mitha tolong siapkan bajuku!" Azzar berteriak dari dalam kamar mandi. 


"Ya om!" Tak mau kalah, Mitha juga menjawab dengan berteriak tak kalah keras. 


Ia membuka lemari, pandangannya menyapu seluruh isi lemari. Kemudian terfokus dengan turtle neck berwarna putih dan celana jeans hitam. 


Setelah menyiapkan pakaian suaminya, ia bersiap berdandan dengan make up natural. 


Kali ini ia mengenakan dress brokat dibawah lutut dengan lengan panjang berwarna putih. Senada dengan baju Azzar. 


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Azzar keluar hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang. 


"Om kebiasaan deh! Kalau mandi bawa celana ganti kek, atau pake handuk kimono saja!" Ucap Mitha memunggungi Azzar. Ia tak ingin melihat pemandangan itu. Takut matanya ternodai. 


"Kenapa? Mau lihat semuanya?" Azzar mulai menggoda Mitha, bisa dipastikan saat ini wajah gadisnya berwarna merah seperti tomat. 


"Kumat ngeresnya! Sekali sekali cuci tuh otak biar ga ngeres!" 


"Biarin. Sama istri sendiri juga." 


Sambil menunggu Azzar yang sedang bersiap siap, Mitha memasukkan kue kering yang ia buat sore tadi kedalam toples. Kali ini ia akan membawa beberapa toples kue buatannya itu sebagai oleh oleh untuk mertuanya. 


"Ayo berangkat!" Ucap Azzar berjalan menuju pintu, tangannya sibuk mengenakan arloji berwarna hitam. 


Mitha mengikuti langkah Azzar dari belakang. Sesekali gadis itu membuang nafas berat, gugup rasanya akan bertemu keluarga besar Azzar. 


 Akhir akhir ini sikap dingin Azzar mulai mencair. Sepertinya benih benih cinta sudah tumbuh dihatinya, namun kerap kali ia tepis karena ia takut kecewa untuk kedua kalinya. 


Mitha memeluk paper bag berisi kue kering. Pandangannya kesamping jendela. Jalanan yang agak lenggang membuat Mitha bisa menikmati keindahan kota kali ini. 


Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, mobil Azzar memasuki sebuah gerbang tinggi. Gerbang itu terbuka otomatis saat mobil Azzar berhenti didepannya. 


Meskipun mobil sudah memasuki gerbang, mereka belum sampai di kediaman. Mereka masih harus melewati hutan pinus buatan. 


Setelah melewati hutan pinus, nampak sebuah rumah mewah dengan air mancur ditengah halaman depan rumah. Ya, inilah mansion milik mertuanya-orang tua Azzar. Sangat mewah bak istana kerajaan. Tiga kali ia mengunjungi Dewi dan Dimas, namun masih terpancar kekaguman mansion ini. 


Pintu utama terbuka lebar, Azzar menggandeng tangan Mitha dan berjalan memasuki mansion. Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga, tampak sangat ramai dengan suara tawa. 

__ADS_1


"Anakkuuu... Apa kabar sayang? Sehat kan? Gimana rumah tangga kalian? Apa Azzar sering membuatmu marah? Kalau iya, bilang saja biar Bunda cubit pinggangnya." Dewi berjalan menghampiri Mitha dan memeluk erat gadis itu. Dewi memperlakukan Mitha bukan seperti menantu, melainkan seperti anak sendiri. 


Mendengar ucapan Bundanya, Azzar berdecak sebal. Sebenarnya disini yang anaknya itu Azzar atau Mitha? Kenapa ia merasa dicampakkan seperti ini? 


"Engga kok Bun. Oh iya, ini Mitha bawakan oleh oleh. Mitha sendiri loh yang buat." Mitha menyerahkan paper bag yang ia bawa kepada Dewi. 


"Waah.. repot repot saja." Dewi menerima paper bag yang diberikan menantu tersayangnya. 


"Ekhem.." Oma Rosa berdeham menyadarkan acara temu kangen mertua dan menantu tersebut. 


"Ehh Oma. Ini Mitha juga bawa buat Oma." Mitha juga menyodorkan paper bag kepada Oma Rosa. 


"Ya!" Satu kata bernada sinis keluar dari bibir keriput wanita tua itu. 


"Sayang, bantuin Bunda dibelakang yuk.  Nyiapin makanan untuk makan malam nanti." 


Mitha mengangguk sebagai jawaban. Kemudian kedua wanita tersebut berjalan beriringan. 


Dewi dan Mitha sibuk menyajikan berbagai menu makanan di meja makan, ditemani seorang pembantu bernama Bi Asih. 


"Bagaimana sikap Azzar setelah menikah Mit?" Dewi memulai percakapan. 


"Yaa, seperti itu lah Bun. Kadang dia lebih terlihat seperti remaja labil. Sifatnya itu loh bisa ganti ganti kayak bunglon. Kadang cuek minta ampun, kadang tiba tiba jadi manis. Mitha gabisa nebak sikap Mas Azzar." Cerosos Mitha. 


Mendengar curhatan sang menantu, Dewi tertawa lebar. Dsri cerita Mitha, ia bisa menyimpulkan bahwa putranya itu sudah menyimpan rasa kepada sang istri. 


"Lalu bagaimana perasaan mu? Apa kamu sudah jatuh cinta dengan beruang kutub itu?" Tanya Dewi menggoda Mitha. Pipi chubby gadis itu bersemu merah. 


"Entahlah, Mitha juga gatau cinta itu rasanya seperti apa. Tapi yang pasti, Mitha akan selalu berusaha jadi istri yang baik bagi Mas Azzar. Seperti Mama juga seperti Bunda." Mitha mengulas senyum diujung kalimatnya. 


Dewi mengelus pucuk kepala sang menantu, ia merasa bangga kepada gadis itu. Setelah semua makanan terhidang, Dewi menyuruh Mitha untuk memanggil semua orang. Sementara dirinya akan memanggil suaminya yang baru saja tiba saat ini sedang bebersih didalam kamar.


"Ahaha.. itu lucu sekali. Apa Oma masih ingat saat Azzar memanjat pohon mangga milik tetangga lalu ia terjatuh dan masuk got? Itu karna yang punya pohon mangga mengancam akan melempar sandal kearah Azzar." 


Terdengar suara seorang gadis sedang bercerita tentang masa kecilnya bersama Azzar. Suaranya sangat asing ditelinga Mitha. Ia mempercepat langkahnya untuk melihat siapa gadis asing itu. 


Mata Mitha membulat sempurna, ia membekap mulutnya sendiri melihat pemandangan ini. Dimana seorang gadis dengan pakaian seksi sedang bergelayut manja dilengan suaminya. Matanya terasa panas, air menggenang di pelupuk mata indah itu. 


Namun dengan sekuat tenaga ia menahan supaya tidak tumpah. 


"Ekhem, maaf mengganggu. Makanan sudah siap." Ucap Mitha dingin, membuat semua orang yang sedang berkumpul mengalihkan pandangan kearahnya. 

__ADS_1


"M-Mitha?" 


Bersambung....


__ADS_2