The Secret Wedding

The Secret Wedding
D U A B E L A S


__ADS_3

Keduanya tidur dengan posisi berpelukan. Kentara sekali Mitha tidur dengan sangat nyaman dan nyenyak dalam pelukan Azzar.


Pagi telah meyapa, perlahan sinar matahari menerobos masuk melalui fentilasi. Mitha mengerjap beberapa kali, ia merasa ada sesuatu yang berat menahan perutnya.


Hembusan nafas seseorang menerpa sebelah wajah Mitha, ia menoleh dan mendapati Azzar sedang tidur.


"Aaaaaaa!"


Bough!


"Aduh!"


Azzar yang sedang tidur nyenyak tiba tiba saja ditendang oleh Mitha. Tepat setelah Mitha berhasil melepaskan pelukan Azzar diperutnya.


Azzar terjatuh dari ranjang dengan posis mencium lantai. Mitha syok dengan kejadian barusan. Tanpa izin Azzar tidur satu ranjang dengannya dan memeluknya sangat erat.


Gadis itu menyibak selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, untuk memastikan ia masih mengenakan pakaian dengan lengkap. Ia menghela nafas lega, namun masih dalam keadaan terkejut ia menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Kau ini kenapa?!" Azzar menyentak tak terima karena Mitha mendendangnya dengan tanpa aba aba.


"Kenapa Om tidur disini?! Kan biasanya disitu!" Jati telunjuk Mitha menunjuk sebuah sofa bed yang ada disudut kamar.


"Kamu sendiri yang minta saya untuk menemani tidur!" Azzar menjelaskan, ia bangkit dan dengan malas kembali tiduran diranjang.


"Hah? Kapan aku-"


Tok tok tok


Perdebatan sepasang suami istri itu terhenti karena ketukan pintu. Sekilas Mitha menatap tajam kearah Azzar, kemudian berlalu dan membuka pintu.


"Ehh Bunda, ada apa ya Bun?" Mitha bertanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


'apa Bunda denger perdebatan ku dengan Om Azzar ya?' Mitha bertanya dalam hati.


"Eh ini, tadi Bunda kayak denger benda jatuh? Kalian baik baik saja kan?" Dewi memastikan, wanita paruh baya itu sedikit mengintip kedalam kamar.


"Ga papa Bun, tadi ada kecoa terus Om, ehh Mas Azzar mau nangkep itu kecoa ehh kaki nya kelilit selimut jadi nya jatoh"


"Ohh yasudah kalo gitu. Bunda mau lanjut masak lagi."


Mitha mengangguk kemudian Dewi berbalik badan dan melangkah kembali ke dapur melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


"Bunda masak apa? Mitha bantu ya?!" Begitu Dewi kembali ke dapur, Mitha masuk ke dalam kamar dan mencuci muka. Kemudian ia menyusul Dewi kedapur.


"Ga usah, biar Bunda aja sama Bi Asih." Dewi menolak secara halus.


"Emm... Bi Asih kerjain yang lain aja deh, biar Mitha yang Bantu Bunda masak."


Bi Asih menoleh ke arah Dewi, majikannya itu menanggukkan kepala tanda setuju. Lantas ia mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.


"Bunda mau masak apa?"


Setelah mendengar jawaban mertuanya menu apa saja yang akan disajikan untuk sarapan kali ini, Mitha membantu meracik bumbu dan memotong bahan bahan.

__ADS_1


Dua perempuan itu tampak menikmati acara memasak kali ini, ditemani dengan canda tawa keduanya dapur terasa sangat ramai.


Setelah semua menu matang Dewi menyuruh Mitha untuk mandi dan siap siap agar nanti tidak kesiangan untuk ke Bandung.


****


"Ini kamu yang masak?" Oma Rosa berkomentar. Begitu sesuap nasi dan lauk masuk kedalam mulutnya.


"Iya, tapi menantuku yang meracik semua bumbu nya." Dewi melirik menantunya, Mitha hanya menunduk sambil tersenyum.


"Enak ya Bu, memang menantuku ini the best. Tipe tipe menantu idaman. Jago masak!" Dimas juga iku berkomentar memuji masakan Dewi dan Mitha.


"Jadi selama ini masakanku ga enak?" Ucap Dewi pura pura merajuk.


"Tentu saja enak, tapi kali ini rasanya berbeda. Karena ada campur tangan MasterChef."


"Enak ya, jadi Azzar. Pasti tiap hari dimasakin yang enak enak sama menantuku ini."


Kedua mertuanya terus saja memuji, membuat Mitha menjadi salah tingkah.


Ia melirik Oma Rosa yang membuang muka. Telinga nya seperti terasa panas dan berdengung mendengar pujian untuk Mitha.Wanita tua itu tidak berkomentar lagi, ia hanya menikmati makanannya. Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.


Bi Asih langsung lari dari arah dapur menuju pintu utama.


"Nyonya, ada tamu. Seorang wanita" ucap Bi Asih begitu kembali.


"Siapa? Bibi sudah tanya nama dan keperluannya datang kemari?" Ujar Dewi.


"Kalo ga salah sih, Karla? Ahh bibi lupa." Bi Asih menjelaskan.


"Baik Nya." Bi Asih membungkukkan badan kemudian berlalu menyuruh tamu tersebut untuk masuk.


Clara menarik sebuah koper mini berwarna pink masuk kedalam Mension. Di susul Bi Asih di belakangnya.


"Pagi semua!" Clara menyapa semua orang yang sedang menikmati sarapan dimeja makan dengan sangat antusias.


Tak ada yang menyambut sapaan wanita itu, terkecuali Oma Rosa. Wanita tua itu sama antusiasnya menyambut sapaan tamunya itu.


"Hai, pagi sayang! Kamu udah sarapan belum? Gabung sarapan yuk!"


Ada rasa kecewa ketika melihat semua orang tampak tak peduli padanya, terlebih Azzar. Namun ia berusaha menutupi rasa itu.


****


"Hati hati ya dijalan!" Dewi melambaikan tangan kepada Mitha dan Azzar.


Rencana mereka bertiga akan ke apartemen Azzar dulu untuk mengambil beberapa helai pakaian untuk Azzar dan Mitha.


Mitha hendak membuka pintu mobil bagian depan, namun Clara lebih dulu membukanya dan langsung duduk dikursi itu.


Mitha mendengus kesal, terpaksa ia duduk di jok belakang.


'gapapa deh, bisa sambil tiduran.' ucap Mitha dalam hati.

__ADS_1


Setelah masuk dan mendaratkan bokongnya dikursi, ia menarik gagang pintu mobil dengan sangat kuat mengisyaratkan betapa kesalnya dirinya.


Brak!


Pitnu tertutup dengan sangat kencang, membuat dua orang yang duduk dikursi depan terlonjak terkejut.


Azzar melirik Mitha dari kaca spion, gadisnya itu tampak cuek bebek memasang earphone ke telinganya.


Azzar menghembuskan nafas berat, kemudian menghidupkan mesin mobil dan segera tancap gas menunggalkan kediaman orang tuanya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, barusaja kendaraan roda empat tersebut memasuki kawasan apartemen.


Begitu sampai diparkiran, Mitha segera keluar dari mobil dan menutup pintu dengan cara dibanting. Rupanya gadis itu masih kesal dengan Azzar dan Clara.


Mitha berjalan duluan meninggalkan dua manusia yang sibuk bermesraan dibelakangnya. Entah Mitha menyadarinya atau tidak, dibelakangnya Azzar menggenggam tangan Clara dan berjalan beriringan.


Begitu sampai di apartemen, Mitha segera mengambil beberapa helai pakaiannya dan Azzar serta beberapa keperluan lainnya kemudian memasukkannya kedalam koper mini.


"Jadi kamu masih nyimpen semua ini?" Clara bertanya sambil mengangkat sebuah keranjang kecil dari laci meja.


"Ya, aku masih menyimpan semua kenangan itu." Jawab Azzar dengan lembut.


Mitha barusaja keluar dari kamar dan menyeret sebuah koper, ia melirik sekilas kearah dua manusia yang sedang bernostalgia. Ia juga melirik sebuah keranjang kecil yang dipegang Clara, entah apa isinya ia tidak tahu.


Tanpa menunggu keduanya, Mitha bergegas keluar. Jika di ingat ingat, terakhir ia berbicara dengan suaminya saat dikamar pagi tadi.


Azzar tidak menyadari kepergian Mitha, begitu juga dengan Clara. Mereka berdua sibuk dengan benda yang sedang dipegang oleh Clara.


"Aku ga nyangka, ternyata dari surat pertama sampe surat terakhir yang aku kirim ke kamu masih kamu simpen." Ujar Clara, matanua berbinar bibirnya tersenyum lebar.


"Semua tentang kamu, tentang kenangan kita masih aku simpan." Jawab Azzar.


Beberapa saat kemudian ia baru menyadari tentang Mitha, lama sekali rasanya gadis itu menyiapkan pakaian.


"Mit udah belum? Lama banget sih!" Azzar kesal lantaran istri kecilnya itu lama sekali didalam kamar.


Hening, tak ada jawaban dari Mitha. Azzar berdecak kesal kemudian bangkit dan hendak menemui Mitha dikamar.


Kosong!


Tak ada siapapun di dalam kamar, begitu pula didalam kamar mandi. Hal itu membuat Azzar panik, ia mencari keberadaan istrinya diseluruh ruang dalam apartemennya.


Nihil, ia tak menemukan keberadaan Mitha.


"Mungkin udah nungguin di parkiran!" Clara berucap, ia juga ikut mencari Mitha.


Azzar berjalan dengan langkah lebar menuju parkiran. Tak bisa dipungkiri, ia merasa khawatir sekaligus kesal kepada Mitha.


Clara berusaha mengikuti langkah Azzar, namun high heels yang ia kenakan membuatnya tak bisa berjalan lebih cepat.


Azzar celingukan mencari Mitha diparkiran. Begitu sampai ditempat dimana mobilnya terparkir ia melihat sebuah koper tergeletak di lantai.


Lantas kemana perginya Mitha?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2