The Secret Wedding

The Secret Wedding
T I G A


__ADS_3

Begitu sadar dari pingsannya. Mitha berlari menghampiri ayah dan mamanya. Tak dihiraukan rasa pusing yang masih menjamah kepala.


"Ayah, kenapa jadi begini?" Tak bisa ditahan, butiran air jatuh dari pelupuk mata. Sakit rasanya melihat orang yang sangat dicintai dalam keadaan lemah tidak berdaya.


"Sudah, ayahmu pasti baik baik saja. Perbanyak doa, minta sama Tuhan untuk kesembuhan ayahmu." Dimas berusaha menenangkan Mitha. Sementara Dewi menenangkan Dina.


"Mitha" panggil Dhani lirih nyaris tanpa suara. "Ayah mohon nak... Ayah sudah tidak tahan lagi." Tambahnya.


Mitha memejamkan mata. Ya Tuhan apa yang harus dilakukannya. Ia tak ingin kehilangan sang ayah. Kemudian ia mengangguk. Air mata itu tak henti berjatuhan.


Dhani tersenyum.


"Iya yah, Mitha mau menerima perjodohan ini. Demi ayah Mitha akan lakukan apapun. Asal ayah jangan ninggalin Mitha." Dina melihat interaksi antara ayah dan anak ini, tambah sesenggukan dibuatnya. Dewi yang pengertian mengelus dan meremas sedikit pundak Dina menyalurkan rasa tegar.


"Lakukan sekarang nak, waktu ayah tidak lama lagi." Suara Dhani semakin melemah.


Sebenarnya semua orang yang ada disana sangat terkejut. Apa tidak terlalu cepat perjodohan ini dilangsungkan sekarang? Namun akhirnya Dewi pergi bersama Mitha ke butiknya untuk mengambil sebuah gaun pernikahan.


Azzar pergi ke toko perhiasan untuk membeli mas kawin. Sedangkan Dimas pergi untuk mencari penghulu.


****


Azzar tak tahu berapa ukuran jari Mitha. Ia sibuk memilih mptif cincin yang akan dipasangkan dijari manis istrinya.


Pilihannya jatuh pada cincin dengan motif mahkota juga dengan berlian yang mengkilap. Entah Mitha akan menyukainya atau tidak, masa bodo. Ia tak terlalu memikirkan gadis itu, kalau bukan karena rasa patuh dan berbakti kepada kedua orang tua, enggan rasanya menerima perjodohan ini.


"Mba saya ambil yang ini." Ucap nya dan memberikan blackcard kepada pegawai yang melayaninya.


"Baik pak" pegawai itu menerima kartu yang disodorkan Azzar. Dan kemudian menggeseknya untuk melakukan pembayaran.


Setelah itu ia pergi ke toko pakaian, skincare, make up, tas dan sepatu untuk seserahan.


Sedangkan di lain sisi, Mitha ditemani Dewi mencari gaun yang cocok untuk pernikahan dadakan ini.


"Yang ini aja gimana tan?" Tanya Mitha seraya menteng semuah gaun cantik berwarna putih, simpel namun elegan.


"Wah, pinter banget kamu milih gaun. Itu gaun terbaru tante." Dewi memang seorang desainer ternama. Sudah ada beberapa cabang butik nya disetiap daerah.


"Panggil bunda aja, kan sebentar lagi jadi mantu." Tambah nya.


"Ehh, iya tan, eh bunda. Nanti Mitha siap siapnya di rumah sakit aja boleh? Malu kalau ke rumah sakit nya pake baju pengantin hehe"


"Iya boleh"


Setelah selesai dengan urusannya mereka kembali ke rumah sakit. Ditengah perjalanan, Mitha melihat ada yang jual bubur ayam dan melipir untuk membeli makanan itu, bubur ayam adalah makanan kesukaan ayahnya. Hampir setiap minggu pagi mereka akan sarapan bubur ayam setelah olahraga di taman kompleks.


Sesampainya dirumah sakit, Mitha menunjukkan gaun pilihan nya kepada ayah dan mamanya. Dina hanya mengangguk tersenyum sedangkan Dhani melontarkan beberapa pujian tentang cantiknya gaun yang dipilih Mitha.


Mitha masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia akan sedikit di rias oleh Dewi, Azzar dan Dimas belum terlihat batang hidungnya mungkin urusan mereka belum selesai.

__ADS_1


Selesai di rias Mitha duduk menunduk memainkan ponsel sedangkan Dhani, Dina dan Dewi asik mengobrol menceritakan masa lalu saat SMA. Tak lama kemudian pintu terbuka, muncul Azzar yang membawa beberapa paper bag yang isinya adalah seserahan.


Mitha mendongak melihat ke arah Azzar, Azzar hanya diam menatap Mitha tanpa berkedip.


'cantik' batin Azzar


"Sudah kali Az, jangan gitu latinnya. Kaya mau copot aja itu matanya." Ujar Dewi menggoda Azzar, yang digoda berusaha menutupi sedangkan Mitha tentunduk malu dengan pipi merah seperti tomat.


"Ada yang malu tuh.." Dina juga ikut menggoda kala melihat pipi anaknya yang merona. Dhani hanya tersenyum lemas.


"Sudah sudah jangan digoda terus calon pengantin baru." Sangat lucu melihat reaksi Mitha saat merasa malu, Azzar juga mulai terlihat salah tingkah.


"Assalamualaikum..." Dimas masuk juga seorang laki laki berpakaian rapi lengkap dengan kopiah hitam dibelakang nya menyusul seorang dokter dan seorang perawat.


"Penghulu nya sudah datang, dokter Hadi dan rekannya akan jadi saksi pernikahan ini." Ucap Dimas menambahkan.


Mereka semua berdiri mengelilingi brankar Dhani. Dina,Mitha, Azzar dan Dewi berdiri di sebelah kanan sedangkan Dimas, Pak Penghulu, Dokter Hadi dan perawatnya berdiri di samping kiri.


"Siap?" Tanya pak Penghulu kepada Azzar sebelum berjabat tangan. Azzar menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Azzar Aditama Bin Dimas Darmono dengan Saudari Mitha Ramadhani dengan mas kawin emas 24 karat dan seperangkat dan uang tunai sebesar lima ratus juta rupian dibayar tunai!" Ucap pak penghulu dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mitha Ramadhani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"! Balas Azzar tak kalah lantang.


Semua orang meneteskan air mata haru, Dhani tersenyum menggenggam tangan putrinya.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


Pecah tangis sudah tangis Dina ia memeluk putrinya yang kini sudah berstatus istri orang. Mitha memeluk ayahnya sambil menunduk.


Dimas menepuk pundak putranya bangga sambil mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata. Dewi memeluk anak dan suaminya.


Kemudian pak penghulu meminta Mitha untuk mencium punggung tangan Azzar, dan Azzar mencium kening istrinya.


Tangisan haru yang memenuhi ruang berubah menjadi tangisan kesedihan, berubah menjadi tangisan kehilangan.


Tit..tit...tiiiiiitttt.....


Dhani sudah menutup mata, pergi untuk selama lamanya. Ia pergi dengan senyuman bahagia diwajah karena telah melihat sang putri menikah dengan laki laki yang dipilihnya untuk menggantikan perannya menjaga Mitha.


Dina dan Mitha menangis histeris. Memeluk tubuh Dhani yang sudah dingin. Dina mengguncang dada suaminya berharap mata itu akan kembali terbuka, ia juga memukul dada kiri Dhani berharap jantung itu kembali berdetak.


Dokter segera memeriksa pergelangan tangan Dhani, kemudian beralih ke leher.


"Inalillahi wa innailaihi roji'un" ucap dokter.


"Nggak! Nggak mungkin! Mas Dhani bangun.. jangan tinggalin aku sama Mitha mas." Dina terus memukul dada suaminya.


"Sudah Din, Dhani sudah pergi dengan bahagia. Biarkan ia tenang. Ikhlaskan kepergian nya." Dewi memeluk tubuh Dina dengan erat.

__ADS_1


Mitha masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Air matanya mengalir dengan deras. Namun tubuhnya terasa kaku.


"Ayah..." Ucap Mitha lirih kemudian perlahan kesadarannya hilang. Dengan sigap Azzar menopang tubuh istrinya dan kemudian membopong dibaringkan di sofa.


Dokter melepas semua peralatan medis yang menempel di tubuh Dhani, kemudian menutup raga tanpa jiwa itu dengan selimut.


Dina masih syok atas kepergian Dhani yang begitu cepat. Ia menangis sejadi jadinya dipelukan Dewi. Dimas yang melihat kondisi Dina juga ikut menenangkan.


Sedangkan Azzar masih berusaha untuk membangun kan Mitha dari pingsannya. Setelah sadar, Mitha menangis histeris dipelukan Azzar. Azzar memeluk Mitha dengan erat, menyalurkan kekuatan.


"Ayah... Hiks kenapa ... Hiks ninggalin Mitha.." ucapnya disela tangisan.


"Sudah, ikhlaskan kepergian ayah. Jangan terlalu terpuruk dalam kesedihan. Berdoa lah semoga ayah mendapat tempat yang layak disisi-Nya." Meskipun sifat Azzar sangat dingin dan cuek, Namun ia masih memiliki rasa simpati. Azaar mengelus punggung mulus istrinya yang terekspos.


Mitha sudah sedikit tenang meskipun air mata masih mengalir deras. Ia berjalan menghampiri Dina yang terduduk dilantai sambil dipeluk Dewi.


Dimas berpamitan untuk mengurus keperluan dirumah duka. Rencananya jenazah Dhani akan dibawa pulang setelah dimandikan dan dikafani.


Mitha memeluk Dina menumpahkan tangis kesedihan dibahu mamanya, begitu pula Dina memeluk erat putrinya seolah mengatakan betapa sakit hatinya ditinggalkan orang tercinta.


Dewi ikut menangis, ia dipeluk putranya dari samping. Ia membiarkan Sahabatnya juga anaknya untuk menumpahkan rasa sedih.


Setelah merasa bundanya lebih tenang, Azzar berpamitan untuk mengurus segala administrasi.


Pukul 13.00


Jenazah Dhani dibawa pulang menuju rumah duka menggunakan ambulans, Mitha dan mamanya juga ikut dalam ambulans. Sedangkan Dwi dan Azzar menggunakan mobil pribadi.


Sesampainya dirumah, jenazah dimasukkan kedalam rumah untuk disholatkan. Terlihat beberapa tetangga menggunakan baju hitam hitam sedang mengaji. Lantas mereka melipir untuk memberi ruang.


Mitha dan Dina masih menangis. Keluarga besar Dimas dan Dina juga turut hadir. Dina menangis dipelukan sang ibu.


Setelah jenazah selesai disholatkan kemudian lekas dibawa untuk dimakamkan.


Dina tak ikut ke pemakaman, ia menangis histeris milihat Jenazah suaminya dimasukkan keranda. Kesadarannya mulai hilang.


Jenazah Dhani sudah dikebumikan, pelayat juga sudah pergi meninggalkan pemakaman. Tinggal Azzar yang masih menemani Mitha. Gadis itu menangis histeris sambil memeluk nisan sang ayah.


Langit cerah berubah mendung, setitik air jatuh membasahi bumi dan berubah menjadi hujan deras yang disertai angin dan petir.


Azzar lupa membawa payung, ia menundukkan sedikit badannya diatas kepala Mitha untuk melindungi kepala istrinya dari butiran air.


"Sudah, ayo pulang. Kasihan mama mu." Bujuk Azzar, namun sang istri masih kukuh memeluk nisan ayahnya.


Badan keduanya sudah basah kuyup. Apalagi angin yang kencang membuat hawa menjadi lebih dingin. Ia takut istrinya masuk angin jika berlama lama dibawah guyuran hujan.


Diangkatnya sedikit pundak Mitha, perlahan gadis itu menuruti perintang suaminya. Dengan langkah berat ia meninggalkan pemakaman. Azzar menggunakan jas yang dikenakan sebagai payung. Meskipun tetap membuatnya basah setidaknya menghindarkan mereka dari butiran air hujan yang cukup besar dan terasa sakit bila terkena kulit.


Satu tangan ia gunakan untuk memegang jas nya dan tangan yang lain ia gunakan untuk merangkul pundak Mitha.

__ADS_1


Mitha membiarkan laki laki itu melakukan apasaja. Toh ia sudah menjadi istri sah nya, dan juga rasa sedih karena kehilangan masih memenuhi isi hati Mitha.


Bersambung......


__ADS_2