
-Azzar pov-
"Aaaaaa"
Aku terkejut mendengar teriakan gadis kecilku. Saat aku menoleh, mataku terbelalak melihat pemandangan indah. Astaga, belum juga melihat semua 'adik kecilku' sudah bangun.
Huh, aku harus menahan hasrat ini entah sampai kapan. Segera ku tutupi raut wajahku yang terkejut.
"Om ngapain disini?" Teriaknya dari dalam kamar mandi. Tuhan, kenapa gadis ini sangat menggemaskan. Ingin ku telan saja rasanya.
"Ya terserah saya lah, inikan rumah saya." Entah kenapa senang sekali rasanya menggoda Mitha, wajahnya yang cemberut saat marah atau kesal sangat menggemaskan. Apalagi bibir tipisnya yang mengerucut.
Sebuah ide jahil muncul dikepalaku.
"Keluar om! Saya mau ganti baju!"
Sepertinya ia lupa membawa baju ganti ketika mandi.
"Kalau mau ganti baju, ya ganti saja."
Pasti saat ini dia sedang mengomel. Bayangan wajahnya yang cemberut semakin membuatku ingin menggodanya.
"Dasar mesumm!!!"
Aku tertawa dalam hati mendengar teriakan gadis kecilku. Sudah, sudah. Perutku sudah terasa lapar. Setelah dompet hitamku berhasil ku temukan gegas aku keluar dari apartemen untuk mencari sarapan pagi.
Stok makanan instan di kulkas sudah habis tadi malam. Hari pertama saat Mitha tinggal berdua bersamaku di apartemen ini, ia mengomel karena tidak ada bahan yang bisa di masak. Karena hanya ada makanan instan di dalam kulkas.
'jangan terlalu sering makan makanan instan! Tidak baik untuk kesehatan mu!' begitu katanya.
Pagi menjelang siang seperti ini enaknya makan bubur ayam. Kebetulan di dekat apartemen ada yang jual bubur ayam.
Ting!
Suara notifikasi ponsel membuatku urung menyuapkan sesendok bubur ayam kedalam mulut.
[Aku pergi ke supermarket sebentar, membeli kebutuhan dapur sudah banyak yang habis juga kebutuhan yang lain.]
Ternyata pesan dari gadis kecilku. Belum ada lima menit pesan tersebut ku terima. Terlihat Mitha berjalan keluar area apartemen.
Meskipun perutku masih terasa lapar karena sarapanku belum habis, aku segera mengeluarkan selembar uang seratus ribu untuk membayar makananku.
"Maaf pak, saya buru buru. Kembaliannya buat bapak saja."
"Tapi den, ini banyak sekali." Bapak penjual bubur terkejut mendengar ucapanku.
"Tak apa untuk bapak saja, terimakasih."
Melihat tubuh mungil gadisku semakin menjauh. Tak lagi ku hiraukan ucapan bapak penjual bubur.
"MITHA!"
Ku percepat langkah untuk mensejajari langkahnya, namun sayangnya ia malah turut mempercepat langkah bahkan nyaris berlari.
'kenapa dia berlari?' batin ku berkata.
Ahh jika begini aku terlihat seperti seorang penculik yang sedang mengejar targetnya.
__ADS_1
-Azzar pov end-
*****
"Kenapa kau mengambil begitu banyak sayuran? Kau mau menyaingi kambing? Hah!" Azzar bertanya dengan nada sedikit tinggi juga mata yang membulat sempurna. Pasalnya troli yang sedang didorong istrinya itu hampir penuh dengan segala macam sayuran.
"Bisa tolong ambilkan troli lagi? Kurasa troli ini tidak cukup untuk menampung semua belanjaanku." Bukannya menjawab pertanyaan Azzar, gadis itu malah mengalihkan pembicaraan.
Huh!
"Aku tak suka makan sayur! Kembalikan semua sayur yang kau ambil!"
"Tidak! Mulai saat ini, kau harus sering sering makan sayur!"
"Tidak mau!"
"Kenapa? Sayur itu sehat untukmu."
"Pahit"
Perlahan sikap dingin Azzar mulai mencair. Itupun ketika hanya berada disamping gadisnya. Ya, Mitha perlahan berhasil mencairkan kutub yang bersemayam dihati Azzar.
"Tolong ambilkan satu troli lagi. Masih banyak yang harus ku beli." Sekali lagi Mitha memohon kepada Azzar.
Huft! Azzar membuang nafas kasar, namun ia tetap menuruti permintaan gadisnya. Baru saja tangan kanannya menggenggam pegangan troli, netranya mendapati seseorang yang dikenalnya.
'ahh mukin hanya mirip' batin Azzar berkata.
Tak ingin membuat Mitha kesal karena terlalu lama menunggu, ia segera menarik troli belanja menuju tempat Mitha berada.
"Ngambil troli saja lama sekali!" Mitha menggerutu saat Azzar berjalan mendekatinya.
Mitha tak menjawab pertanyaan Azzar, namun ia berjalan menuju rak camilan. Ia mengambil beberapa jenis makanan ringan. Azzar melongo saat tangan mungil istrinya terus memasukkan berbagai jenis makanan ringan kedalam troli yang dipegangnya.
"Teman nonton Drakor, xixi" ucap Mitha saat melihat Azzar melongo.
Setelah itu mereka berjalan menuju rak rak kebutuhan rumah tangga lainnya. Ia juga membeli sabun dan shampo.
"Sudah?" Tanya Azzar memastikan.
"Emm..." Mitha tampak sedikit berpikir, mengingat ingat kebutuhan apa saja yang sudah habis.
"Sepertinya sudah."
Akhirnya mereka berdua berjalan sambil mendorong troli masing masing yang sudah menggunung menuju kasir.
Setelah mbak kasir selesai menghitung semua belanjaannya, Mitha segera mengeluarkan dompet dan mengambil kartu debit yang diberikan Azzar tiga hari lalu.
Sayang sekali, gerakannya kalah celat dengan Azzar. Azzar sudah lebih dulu menyerahkan kartu debitnya kepada kasir.
"Sudah ku bilang, itu untukmu belanja keperluanmu. Untuk keperluan dan kebutuhan rumah itu sudah jadi tanggung jawabku."
Dengan mulut menganga Mitha memandang Azzar. Beberapa hari ini pria dingin itu sudah bicara banyak dengannya.
"Awas, nanti lalat masuk tau rasa kau." Ucap Azzar meledek.
Mendengar ejekan suaminya, Mitha segera mengatupkan mulutnya.
__ADS_1
Karena awalnya mereka hanya jalan kaki, Azzar inisiatif memesan taksi online.
Mitha menunggu di mobil sambil memakan coklat. Ia melirik kaca spion, terlihat Azzar yang agak kesusahan membawa beberapa kantong belanjaan.
Meskipun kesusahan Azzar tak ingin gadisnya membawa belanjaan mereka. Ia tak ingin gadisnya kelelahan karena belanjaan mereka terlalu banyak. Ya meskipun sebenarnya Mitha ingin sekali membantu suaminya, namun Azzar selalu menentang keras.
Mobil berjalan perlahan. Mitha melirik Azzar yang duduk disampingnya, keringat membanjiri wajah tampannya. Tampak wajah Azzar yang kelelahan.
"Terimakasih pak" ucap Mitha kepada seorang security yang membantu mereka membawa beberapa kantong belanja.
"Sama sama neng, bapak pergi dulu ya."
Azzar dibantu Mitha menyeret kantong belanja karena sudah tidak kuat untuk mengangkatnya. Dengan begitu telaten, Mitha menata semua belanjaannya di dapur.
*******
Mitha tengah berkutat dengan alat alat dapur. Tangannya sangat lihai bermain pisau. Bau harum dari bumbu yang sedang ia masak diatas kompor menghentikan aktivitasnya.
Mengambil spatula dan mengaduk bumbu. Setelah dirasa sudah matang, barulah ia memasukkan brokoli, wortel, kacang kapri, bakso dan udang kedalam wajan.
"Bau apa ini? Harum sekali." Azzar yang masih bergulat dengan selimut tebal seketika terbangun begitu indra penciumannya berhasil menangkap bau masakan yang menggugah selera.
"Tenyata kau bisa masak?" Mendengar suara serak milik Azzar, Mitha menoleh kemudian melanjutkan aktivitasnya yang tertunda beberapa detik itu.
Merasa dikacangi, Azzar mendengus kesal dan berjalan menghampiri Mitha yang sibuk memindahkan beberapa menu makanan ke piring saji.
"Masak apa kau?" Sekali lagi Azzar bertanya. Namun lagi lagi ia tak mendapatkan sebuah jawaban dari mulut Mitha.
"Apa kau tuli?!" Azzar sedikit meninggikan suaranya berharap mendapat respon dari Mitha.
"Apa kau buta?!" Balas Mitha tak kalah sengit.
Sebenarnya Mitha paling tidak suka ketika sedang memasak ada yang menggangu. Dia bukan kesal mendengar pertanyaan Azzar, tapi ia kesal karena Azzar selalu membuntuti dari belakang.
"Hei, aku bertanya daritadi tapi kau tak menjawab." Azzar membela diri.
"Aku paling tidak suka diganggu ketika memasak!" Ucap Mitha cemberut. Pipi nya yang tembam menggembung lucu.
"Aku tidak menggangumu. Aku hanya bertanya tapi kau tak menjawab."
"Tapi kau selalu membututiku, dan aku merasa terganggu."
"Baiklah, aku minta maaf. Aku tak tau kalau kau merasa terganggu."
"Mandi dulu sana! Kau bau iler!"
"Kenapa sayur semua? Apa tidak ada menu lain selain sayuran?"
Bukannya menuruti perintah gadisnya, Azzar malah mengomentari masakannya.
"Tidak ada. Makan saja apa yang ada!"
"Sudah ku bilang, aku tidak suka sayuran. Gorengkan aku nugget saja."
Mitha melotot membuat nyali Azzar menciut.
Ahaha... Seekor singa jantan bisa kalah melawan seekor kucing kecil.
__ADS_1
Bersambung....