
Sepuluh menit berjalan kaki dari perkebunan teh menuju lokasi, meka telah sampai.
Sebuah gubuk tak layak huni terpampang di depan mata. Mitha menyapu pandangannya keseluruh arah.
"Ayo masuk kak, ibu ada di dalam." kedua bocah itu menarik tangan Mitha bersamaan.
Begitu masuk Mitha dikejutkan dengan pemandangan ini, ada banyak barang bekas hampir memenuhi ruangan. Gubuk ini hanya satu petak, sebuah tikar lusuh tergelar dilantai. Nampak seorang wanita paruh baya tidur meringkuk berselimutkan karung bekas.
Mitha merasa hatinya teriris melihat satu keluarga ini, atau mungkin saja diluar sana masih banyak yang seperti mereka.
"uhuk, uhuk" wanita itu terbatuk sambil memegangi dadanya.
"ibu, ini Kak Mitha. Kak Mitha ini orang baik bu, tadi dia nolongin kami yang ketahuan mencuri buah mangga." si bocah perempuan berbicara.
"astaghfirullah... jadi kalian mencuri lagi?" wanita yang dipanggil ibu oleh kedua bocah itu berucap lirih.
"Maafkan kami bu, kami lapar makanya kami mencuri. Ini buah mangga untuk ibu." bocah laki laki menyerahkan satu buah mangga yang cukup besar kepada ibunya.
"Ibu tidak mau makan hasil curian! uhuk uhuk." ibu kembali terbatuk.
"Bu, maaf. Ibu makan saja buah mangga itu, tadi saya sudah membayar kepada yag punya, jadi itu bukan hasil curian." Mitha angkat bicara, kasihan sekali wanita itu. Entah sudah berapa lama ia kelaparan.
Ibu itu menatap Mitha, tatapan sendu tersorot kepada Mitha. Mitha hanya tersenyum, hatinya merasa sakit ketika ditatap seperti itu.
Mitha membantu ibu itu untuk duduk agar bisa memakan buah mangga. Tangan ibu bergetar saat memegang buah mangga, air matanya luruh begitu saja. Ditatapnya kedua anaknya yang asyik makan buah.
"hiks, maafka Ibu ya nak, karena telah membiarkan kalian kelaparan. Maafkan ibu yang tak bisa membahagiakan kalian."
Kedua anaknya melihat sang ibu menangis langsung menghampiri ibu dan memeluknya. Mereka bertiga menangis bersama, Mitha pun turut meneteskan air mata.
"Bu, maaf kalau boleh tau nama ibu siapa?"
"Nama saya Marwah, anak saya yang perempuan namanya Rindi dan yang laki laki Rendi."
"Kata anak anak ibu, ibu sakit?"
Bu Marwah kembali menangis sesenggukan.
"sudah hampir satu minggu saya seperti ini, saya sendiri tidak tau saya sakit apa. Jangankan untuk periksa ke dokter, untuk makan saja kami sudah." Bu Marwah menjawab, lantas ia kembali meneteskan air mata.
Mitha izin mengecek suhu tubuh Bu Marwah, ia meletakkan telapak tangannya di kening Bu Marwah. Matanya membelalak sempurna, panas sekali.
"Panas sekali ini bu, ayo kita pergi ke dokter!"
Saat Mitha hendak membantu Bu Marwah berdiri, Bu Marwah menahan dirinya kemudian menangis.
"Ibu nggak ada uang nak."
__ADS_1
"Ibu tenang saja, nanti biar saya yang urus administrasinya. Yang penting ibu lekas sembuh."
Mitha dibantu oleh Rendi dan Rindi memapah tubuh Bu Marwah. Sebelumnya ia telah memesan taksi online, tak lupa ia mengabari Azzar kalau ia masih ada sedikit urusan dan kemungkinan baru pulang siang nanti.
Mobil yang membawa mereka sampai disebuah rumah sakit, seorang perawat mendatangi mereka sambil mendorong kursi roda untuk Bu Marwah.
"Pasien mengalami gejala tipes. Apa sebelumnya ibu bekerja dengan sangat keras sehingga tidak memperhatikan kesehatan ibu sendiri?" seorang dokter muda bertanya setelah memeriksa keadaan Bu Marwah.
Bu Marwah hanya mengangguk lemah, Rendi dan Rindi menunggu didepan ruangan.
"Ini resep obatnya, bisa ditebus dibagian farmasi." Dokter itu menyerahkan satu lembar kertas kecil kepada Mitha. "Dan Ibu sebaiknya istirahat total selama dua minggu. Jangan terlalu dipaksa bekerja bu, tubuh ibu butuh istirahat." tambah dokter tersebut.
"Baik dok, terimakasih."
Setelah itu Mitha bergegas menuju bagian Farmasi, sementara Bu Marwah dan anak anaknya dimintai menunggu dikursi tunggu.
Setelah selesai dengan urusannya, Mitha membawa Bu Marwah dan anak anak kembali ke taksi. Ia mengajak mereka bertiga serta sopir taksi untuk makan bersama.
"Enak ya A" ucap Rindi sambil menyuap nasi ke mulutnya, kali ini Mitha mengajak mereka makan disebuah restoran.
"Iya dek, makanan orang kaya enak enak ya." Balas Rendi tak kalah antusias. Sementara Bu Marwah sesekali madih menitikkan air mata melihat rona bahagia terpancar dari kedua anaknya.
"Maafkan Ibu nak Mitha, jadi merepotkan kamu." Bu Marwah menunduk setelah mengucapkan kalimat itu.
"Tidak bu, saya sama sekali gak merasa direpotkan. Malah saya seneng liat Rendi dan Rindi bahagia seperti ini." Mitha menggenggam tangan Bu Marwah dengan erat menyalurkan kekuatan batin.
*****
Setelah makan bersama selesai, mereka semua kembali ke mobil dan perjalanan untuk pulang, namun sebelum itu Mitha ingin mampir ke supermarket untuk beli sembako sebagai stok beberapa minggu untuk keluarga Bu Marwah.
Sebelumnya Bu Marwah sudah menceritakan pasal suaminya yang meninggalkan dirinya dan anak anak saat usia Rindi masih dua bulan. Bu Marwah mengatakan kalau suaminya pergi dan menikah lagi dengan seorang wanita yang usianya jauh diatas dirinya, hanya karena wanita itu kaya lantas ia tega meninggalkan anak istri yang masih butuh peran seorang suami serta ayah.
"Kalian mau beli apa? ambil aja apa yang kalian mau." Mitha berucap kepada dua bocah yang menggenggam tangannya. Rendi dan Rindi kompak mendongak menatap Mitha seolah minta kebenaran.
Sebagai jawaban Mitha menganggukkan kepalanya, lantas membuat kedua bocah itu lari menuju rak rak jajan dengan senyum sumringah.
Mitha menenteng keranjang dan mengambil beberapa sembako seperti beras, gula, kopi, minyak goreng, mie instan dan telur tak lupa beberapa kotak susu untuk nutrisi Rendi dan Rindi.
Setelah beberapa menit meninggalkan Mitha, kini kedua bocah tersebut kembali masing masing membawa satu bungkus makanan ringan.
"Kenapa cuma ambil satu? Ambil yang banyak."
Mitha menemani kedua bocah tersebut kembali ke rak jajan, kemudian mengambil beberapa makanan ringan. Setelah selesai mereka berjalan beriringan ke kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka.
****
Udara sejuk sore hari tidak membuat Mitha beranjak dsri tempat duduknya, ia duduk ditepi kolam renang yang ada disamping villa.
__ADS_1
Kedua kakinya masuk kedalam air, sedangkan tangannya sibuk berkutat dengan kamera melihat hasil jepretannya pagi tadi. Seulas senyum terpapar diwajah ayunya.
Setelah puas melihat hasil fotonya, ia meletakkan kamera disamping dan beralih mengambil ponsel. Kemudian ia memotret pemandangan didepannya menggunakan kamera ponsel dan menjadikannya story Instagram.
Tak berselang lama deringan notifikasi terus terdengar, banyak yang mengomentari statusnya.
[@Irene.alf : Jadi gitu ya sekarang, kalo liburan ga ngajak:/]
[@Nad_Nadya : Hiling sendiri nih yee]
[@Miranda_ : Wah, rumahku deket sm Villa itu kak. Mampir boleh ga nih?]
[@user123 : hai cantik, lagi apa nih]
Masih banyak lagi balasan statusnya dari berbagai akun, maklum lah Mitha merupakan seorang Selebgram jadi banyak komentar netizen entah itu komentar yang baik atau yang buruk.
Tak ada niatan untuk membalas balasan yang masuk, ia hanya membacanya sambil senyum senyum. Sampai suara cempreng mengagetkan dirinya dan berhasil membuat moodnya hilang seketika.
"Heh bocah! Mending lo jauh jauh deh sama Azzar. Asal lo tau ya, Azzar tuh ga cocok sama lo. Mana ada pangeran kuda putih bersanding sama upik abu!"
Entah setan mana lagi yang merasuki Clara, tiba tiba saja wanita itu datang dan langsung menyemprotkan kalimat kasar kepada Mitha.
"Lo siapa ngatur ngatur gue? Ngasih makan juga enggak. Seenaknya aja lo ngatur idup gue!" Balas Mitha tanpa menoleh kesumber suara, jengah. Ia sudah kepalang malas berdebat dengan wanita ular seperti Clara.
"Heh! Azzar itu calon suami gue!" Mudah saja Clara terpancing emosi mendengar balasan Mitha yang terkesan santai.
"Masa iya? Tapi sekarang dia udah jadi suami gue tuh?" Mitha berdiri, ia menatap sinis.
"Itu karna lo pelakor! Kecil kecil udah jadi pelakor. Cewek modelan lo itu deketin orang kaya cuma buat meres uangnya kan? Udah ketebak!" Clara tersenyum mencemooh.
"Oh ya? Terus sebutan buat cewek modelan kek situ apa? ******? Pelacur? Ngerayu suami orang sampe buat rumah tangganya berantakan."
"Jaga ya omongan lo!"
Clara geram, ia mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke pipi mulus Mitha namun berhasil dicekal.
"Jangan pernah macem macem sama gue! Gue tau semua tentang masa lalu lo. Termasuk alasan lo ninggalin Om Azzar waktu itu. Kartu as lo gue pegang semua! Jadi, kalau lo berani macem macem sama gue, gue gak akan segan hancurin hidup lo! Ah gue lupa, hidup lo kan udah hancur."
"Jadi gini didikan orang tua lo? Ngajarin anaknya jadi pelakor! Cuih! Murahan!"
"Shut up *****!"
"Mithaa!!"
Plak
Satu tamparan mendarat mulus di pipi chubby milik Mitha, terasa perih dan panas. Sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan yang diberikan Azzar cukup keras.
__ADS_1
Sakit akibat tamparan itu tidaklah seberapa dibanding dengan sakit dihatinya. Sekuat tenaga ia menahan air yang telah menggenang dipelupuk matanya agar tidak luruh begitu saja.
Bersambung....