
Koper mini milik Ckara menggelinding dan pada akhirnya menabrak sang empunya sehingga membuatnya jatuh tersungkur mencium lantai.
"Bocah sialan! Beraninya kau!" Clara bangkit, tangannya berkacak pinggang, matanya menatap Mitha penuh amarah.
Tak ada raut takut dari wajah Mitha. Bahkan ia tertawa terbahak melihat Clara yang jatuh mencium lantai.
"Ahaha, aduh maaf tante sengaja." Mitha memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
Clara geram karena telah dipermainkan oleh bocah tengil ini. High heels kesayangannya patah. Ia mengayunkan tangan hendak menjambak rambut Mitha, namun kalah cepat.
Mitha sadar dengan apa yang akan dilakukan Clara menarik tangan wanita itu dengan kasar dan memelintirnya sangat kuat membuat wanita itu kesakitan.
"Siapa kau yang harus aku takuti? Oh, kau hanya wanita murahan yang suka menggoda suami orang." Setelah mengucapkan kalimat tajam itu, Mitha mendorong Clara dengan kasar sehingga wanita itu tersungkur kembali.
"Sialan!" Desis Clara. "Awas kau, akan ku buat perhitungan karena berani melawanku. Kau belum tau siapa aku! Apa yang aku inginkan akan aku dapatkan, bagaimanapun caranya!" Tambahnya.
***
Hari berganti malam, hujan lebat turun mengguyur bumi. Cuaca menjadi sangat dingin. Dua jam yang lalu Azzar, Mitha, Clara, Mang Ujang dan Bi Eha telah melaksanakan makan malam bersama.
Setelah makan malam Bi Eha dan Mang Ujang pamit untuk istirahat lebih dulu.
Saat ini tinggal Azzar, Clara dan Mitha duduk diruang keluarga sambil nonton televisi. Lebih tepatnya televisi yang menonton mereka.
Mitha fokus dengan buku novel ditangannya, gadis itu rebahan dikarpet. Azzar sibuk dengan laptopnya, sedangkan Clara sibuk mengecat kuku.
'dingin dingin gini makan seblak pedes enak kali ya' ucap Mitha dalam hati. Lekas gadis itu berjalan menuju dapur meninggalkan Azzar dan Clara.
Begitu sampai didapur, ia melihat bahan bahan yang ada disana. Semua ada kecuali sayur sawi karena harus memetik dulu dikebun belakang.
Tangannya lihai meracik bumbu. Menyiapkan ini itu sekaligus menggongseng bumbu seblak. Begitu bumbunya matang, ia menuangkan secukupnya air kedalam wajan dan memasukkan beberapa bahan seperti kerupuk, baso ikan, sosis dan sayap ayam.
Aroma cabe sangat menusuk hidung, membuat Mitha ngiler ingin segera memakan seblak buatannya sendiri.
Setelah masakannya matang, Mitha segera menuangkannya kedalam mangkok. Ia kembali ke ruang keluarga dengan membawa nampan berisi satu mangkok seblak super pedas dan sebotol air mineral.
Aroma seblak yang menggugah selera menusuk Indra penciuman Clara. Kegiatannya mengecat kuku terhenti, ia menatap Mitha yang membawa nampan. Bagaimanapun juga aroma seblak buatan Mitha mampu membuat Clara ngiler.
Begitu isi dari nampan itu diletakkan diatas meja, "kok cuma satu? Punyaku mana?" Dengan tanpa dosanya Clara berucap.
Mitha tak menanggapi, ia menyendok kuah seblak yang masih mengepulkan asap.
Sruppp
Ahh
Mitha sengaja melakukan itu untuk menggoda Clara.
__ADS_1
"Heh kamu budek apa gimana?! Ditanya kok gak jawab!" Clara kembali memekik.
"Kalo mau ya masak sendiri lah!" Setelah mengucapkan itu, Mitha kembali menyendok kuah seblak, kali ini dengan baso ikan. "Nikmati benerr dingin dingin makan seblak. Ahhh" tambahnya semakin gencar menggoda.
"Az, lihat tuh istri kamu. Masa aku minta sedikit saja tidak boleh? Dasar pelit." Kali ini Clara merengek kepada Azzar, ia tau jika Azzar takkan bisa menolak permintaannya.
Mitha berdecak mendengarnya. Sedangkan Azzar membuang nafas. "Kasih saja sedikit!" Ucap Azzar singkat.
Dengan terpaksa Mitha menyodorkan mangkuk seblaknya kepada Clara. "Eits! Ambil sendok mu sendiri! Aku gak mau ya kalau nanti makananku terkontaminasi kuman yang ada di mulut mu!" Ucap Mitha tajam. Ia menarik kembali mangkuk seblaknya.
"Yasudah, sana ambilkan!"
"Enak saja! Ambil sendiri, kalau gamau yasudah, buka urusanku."
Azzar kesal karena dua perempuan itu terus saja bertengkar. Ia jadi tak fokus mengerjakan laporan.
"Mitha ambilkan sendok untuk Clara!" Ucap Azzar.
"Dih, ogah banget. Situkan punya tangan punya kaki." Balas Mitha menolak.
"Mitha! Apa sih susanya nurutin kemauan Clara?!" Kini intonasi suara Azzar berubah menjadi sebuah bentakan. Mitha sedikit terkejut mendengar Azzar membentaknya. Namun ia segera menutupi keterkejutannya.
Sekilas Clara tersenyum miring dan menatap Mitha dengan tatapan yang sulit diartikan. 'rasakan itu!' batin Clara.
Mitha tersenyum miring netap Azzar, kemudian berganti kepada Clara. "Mau seblak kan?" Dengan suara lembut dan sebuah seringai Mitha berkata "nih!"
"Mitha!"
Mitha menyiramkan seblak yang masih panas itu ketubuh Clara. Sedikit kuahnya berhasil masuk ke mulut Clara membuatnya kepedesan. Wanita itu lari tunggang langgang mencari minum.
"Pedas sekali Az!"
Mitha tak menghiraukan keduanya, ia berjalan dengan perasaan kesal yang masih melekat dihati. Ia meninggalkan dua manusia itu kedalam kamar.
Hilang sudah selera makannya, didalam kamar ia merebahkan tubuhnya dikasur. Dadanya naik turun menahan amarah.
******
"Mang, Mitha pamit jalan jalan sebentar ya. Ga jauh kok, cuma keliling kebun teh aja."
Mang Ujang yang sedang membersihkan rumput liar dikebun menoleh ke sumber suara. Kemudian ia mengangguk sebagai jawaban.
"Iya neng, jangan jauh jauh ya! Takut nyasar" pesan Mang Ujang.
"Beres Mang, oh iya, Bi Eha kemana? Kok ga keliatan?"
"Biasa kalo hari Minggu gini, bibi teh belanja ke pasar."
__ADS_1
"Ohh.. yaudah, kalau gitu Mitha pergi dulu ya Mang! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Gadis dengan kuncir kuda itu berjalan meninggalkan Villa. Sebuah kamera tergantung dilehernya, terlihat beberapa orang sedang memetik teh.
Cuaca yang cerah ditambah dengan udara sejuk khas puncak membuat suasana hati terasa tenang.
"Pagi bu!" Mitha menyapa ramah beberapa ibu ibu yang sedang memetik teh. Ibu ibu tersebut membalas sapaannya tak kalah ramah.
"Bu, boleh ijin foto sebentar ngga?" Pertanyaan Mitha diangguki oleh ibu ibu pemetik teh.
Cekrek, cekrek, cekrek.
Entah sudah berapa kali ia memotret.
"Terimakasih bu!" Mitha pergi menjauh sambil membidik pemandangan yang indah dengan kameranya.
Lensa kamera menyorot dua orang anak kecil sedang melempar batu ke sebuah pohon mangga. Mitha menghampiri kedua bocah tersebut.
"Hai! Pada ngapain?" Mitha menyapa dua anak kecil tersebut.
"Mau ambil mangga itu kak, tapi ngga ada galah buat ngambil. Aku sama aa juga gabisa manjat." Jawab seorang bocah perempuan.
"Emang ini pohon mangga punya siapa? Udah ijin sama pemiliknya?" Mitha menodong bocah bocah tersebut dengan pertanyaan.
"Ngga ada pemiliknya kak, siapa saja boleh ambil buahnya." Balas si bocah laki laki.
"Mau kakak ambilin?" Begitu mendengar pertanyaan Mitha yang satu ini, kedua bocah tersebut mengangguk serempak.
Mitha memanjat pohon mangga yang tidak terlalu tinggi itu dengan mudah. Kedua bocah tersebut menganga, tak menyangka jika Mitha yang seorang perempuan bisa memanjat pohon dengan mudah.
"Yang itu kak!"
"Itu juga!"
"Kak yang itu besar sekali, ambil yang itu juga kak!"
begitulah riuh kedua bocah tersebut, Mitha menurti saja. Tak banyak buah yang ia petik, ia hanya mengambil secukupnya.
Mitha menepuk tangannya beberapa kali untuk membersihkan kotoran begitu turun dari pohon.
"Terimakasih kak! ini buat kakak." si bocah perempuan menyerahkan dua buah mangga kepada Mitha, dengan senang hati ia menerimanya.
Saat mereka hendak pergi, sebuah suara mengejutkan mereka. Tampak dua bocah sedikit ketakutan dan bersembunyi dibelakang tubuh Mitha.
"Hei! apa yang sedang kalian kalukan?! kalian mencuri mangga manggaku ya!" seorang bapak bapak dengan perut buncit dan rambut gondrong berjalan tergesa gesa menghampiri mereka.
__ADS_1
bersambung....