
Sudah satu minggu Mitha menyandang status sebagai seorang istri. Istri seorang CEO tampan yang memiliki sifat dingin seperti kutub Utara.
Setelah kepergian sang suami, Dina memutuskan untuk pindah ke rumah kedua yang dibangunnga bersama Dhani dulu sewaktu awal menikah. Rumah itu terletak di pinggiran kota, jauh dari jalan raya dan bebas polusi.
Rumah yang selama ini ia tempati bersama mendiang suami beserta anaknya sudah ia jual untuk menutupi kebutuhannya mendatang.
Dulu sebelum Dina memutuskan untuk pindah, Mitha dan juga Azzar sering mengunjunginya untuk sekedar menghibur. Mitha tak ingin sang ibu larut dalam kesedihan.
Hari ini adalah hari Minggu, Mitha memutuskan untuk bangun lebih awal dan berolahraga di taman kota sendirian.
Tepat pukul 07.30 Mitha sampai di apartemen Azzar. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.
"Sepertinya dia belum bangun" ucap Mitha bermonolog.
Setelah gelas air yang dipegangnya tadi kosong, segera ia cuci gelas tersebut kemudian beristirahat di sofa panjang ruang tamu. Tak terasa karena kelelahan ia tertidur.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, muncullah Azzar yang hanya mengenakan boxer juga muka bantal. Ia menggaruk pantatnya yang sedikit gatal. Rambutnya yang acak-acakan khas bangun tidur tak membuatnya terlihat jelek.
Saat ia akan berjalan kedapur untuk mengambil minum. Tampak seorang perempuan yang selalu di sebutnya 'gadis kecil' tidur meringkuk di sofa ruang tamu. Ia masih mengenakan kaos juga celana pendek.
Puukkk
Belum lama Mitha terlelap, sebuah handuk sudah mendarat bebas di kepalanya. Hal itu membuat Mitha terkejut dan langsung bangun.
"Biasa aja dong om!" Ucap Mitha dengan ketus.
"Mandilah! Bau badanmu meracuni hidungku!" Suara tegas dan ketus keluar dari mulut Azzar.
Mendengar itu, Mitha mengendus tubuhnya sendiri. Lantas diambilnya handuk yang sudah dilempar Azzar
"Bilang badan ku bau, padahal dirinya sendiri dari semalam tidak mandi bau keringat, tidurnya ngiler pula, hiii" Mitha menggerutu, dan ucapannya barusan sampai di telinga Azzar.
"Ngomong apa kamu?!"
"Om ngileran!" Setelah mengucapkan itu, Mitha menjulurkan lidahnya mengejek Azzar dan langsung ngibrit ke kamar mandi. Tak lupa ia mengunci pintu, sebelum terjadi hal yang tak mengenakkan.
"Heh, kami sendiri kalo tidur ngorok! Keras pula! Dasar perempuan seperti lelaki!" Tentu saja ia tak terima dengan ejekan dari gadis kecilnya.
Mitha tak terlalu mendengarkan teriakan Azzar. Badan terasa segar kala air yang keluar dari lubang shower mengguyur.
__ADS_1
MENGAPA MASIH ADA...
SISA RASA DI DADA...
DI SAAT KAU PERGI BEGITU SAJA..?
Entah karena terlalu menghayati atau hanya sekedar menyalurkan rasa kesal, Mitha bernyayi dengan suara yang sangat menyakitkan ketika didengar.
Salah satu kebiasaan Mitha, ia selalu bernyanyi ketika mandi. Menghilangkan stress katanya.
"Suaramu jelek!" Azzar yang mendengar nyanyian istri kecilnya langsung melempar sandal ke arah pintu kamar mandi.
MAMPUKAH KU BERTAHAN
TANPA HADIRMU, SAYANG ?!
Sebagai balasan, Mitha meneruskan lirik lagu dengan suara naik satu oktaf. Azzar hanya bisa tutup telinga pura pura tidak dengar, walaupun suara itu terus saja menyakiti telinga.
Setelah setengah jam ia berada dalam kamar mandi, ia keluar hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya karena ia lupa membawa baju ganti.
"Aaaaaa!!!!" Teriakan Mitha membuat Azzar yang sedang mencari sesuatu di laci nakas terkejut.
Mitha masuk kembali ke dalam kamar mandi. Malu sekali rasanya..
Azzar sempat terkejut saat mendengar teriakan Mitha, matanya membulat melihat istrinya hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi badan. Tidak bisa dipungkiri, melihat pundak dan paha mulus milik istrinya membuat jiwa laki lakinya meronta ronta. Namun dengan segera ia menutupinya.
"Ya terserah saya lah. Inikan rumah saya!" Balas Azzar sewot.
"Keluar om! Saya mau ganti bajuu!!"
"Kalau mai ganti baju, ya ganti saja."
Hilang sudah sifat dingin Azzar, kini sifat itu sudah berganti dengan sifat tengil. Ada sensasi berbeda yang dirasakan Azzar saat menggoda istri kecilnya, apalagi saat melihat wajahnya yang cemberut.
"Dasar mesumm!!!"
Mendengar teriakan Mitha yang melebihi suara petir, dalam hatinya ia tertawa. Setelah selesai dengan urusannya ia keluar kamar.
Sedangkan dikamar mandi, Mitha menempelkan telinganya pada daun pintu untuk mendengar suara Azzar. Apakah pria mesum itu masih ada dikamar atau tidak.
Setelah ia merasa tidak ada suaminya, ia membuka pintu kamar mandi dan bergegas memakai baju. Ia hanya mengenakan dress bunga bunga berwarna peach diatas lutut.
__ADS_1
Kruyukk...
-Mitha pov-
Setelah menyelesaikan ritual di kamar mandi, perutku terasa lapar. Semoga saja di kulkas ada bahan yang bisa di masak. Bosan rasanya hampir satu minggu makan makanan instan.
Hari ini aku pengen makan ayam penyet sambal ijo.
Aku berjalan keluar kamar, namun tak melihat batang hidung mas Azzar, kemana perginya laki laki mesum itu? Astaga, baru hampir satu minggu kami tinggal bersama sudah keluar sifat aslinya. Dasar laki laki!
Sudahlah, perutku jauh lebih penting daripada laki laki mesum seperti dia.
What?!
Kulkas kosong? Ternyata persediaan makanan instan yang memenuhi kulkas dua pintu hanya bisa bertahan satu minggu kalau dikonsumsi berdua, apalagi nafsu makanku yang memang besar.
Aduh... Gimana ini? Belanja sajalah. Sebenarnya hari Minggu gini pengennya santai dirumah sambil nonton Drakor. Tapi mau bagaimana lagi, daripada perut keroncongan.
Aku memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat. Sebelum itu sudah ku kirimkan pesan kepada mas Azzar. Entah dimana dia sekarang.
Karena lokasi supermarket dekat dengan apartemen mas Azzar, aku memilih untuk jalan kaki saja.
Baru beberapa langkah ia meninggalkan area apartemen, Azzar menyusul dari belakang dengan langkah kebar. Pria itu sedikit berlari untuk menyamai langkahnya dengan Mitha.
"Mau kemana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Azzar. Padahal beberapa menit yang lalu Mitha sudah mengirimkannya pesan bahwa ia pergi ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan satu minggu kedepan.
"Ke Jonggol!" Balas Mitha kesal.
"Ditanya baik baik, jawabnya ngegas!"
Mitha tak menanggapi gumaman Azzar, ia berjalan dengan sedikit cepat. Azzar merasa Mitha berjalan lebih cepat dari biasanya, maka ia ikut mempercepat langkah.
Dalam langkahnya, Mitha menyergit. Suaminya itu sedang apa? Apa ia mengajaknya balapan? Langsung saja Mitha berlari dengan sangat kencang untung saja lokasi supermarket sudah dekat.
Azzar terheran dengan gadisnya. Mengapa ia berlari? Akhirnya ia pun turut berlari mengejar Mitha. Dan terjadilah aksi kejar kejaran di trotoar.
"Huh hah huh. Menang hah" ucap Mitha ngos-ngosan. Nafasnya memburu, dadanya naik turun. Baru tadi pagi ia berolahraga, sekarang sudah berolahraga lagi.
"Menang apa?" Azzar terlihat baik baik saja. Berlari dengan jarak beberapa ratus meter tak membuatnya penat.
"Om ngajak balapan kan? Makanya terus ngejar saya." Dengan polosnya Mitha mengucapkan hal itu membuat Azzar semakin bingung.
__ADS_1
"Lah?"
Bersambung.....