
Setelah selesai dengan urusan masing masing, Mitha dan Azzar duduk berhadapan di meja makan.
Sebagai seorang istri sudah sepatutnya ia untuk melayani suami. Ia mengambil piring juga nasi dan lauk untuk suaminya. Baru setelah itu ia mengambil untuk diri sendiri.
"Tidak enak." Ucap Azzar tiba tiba. Padahal sebelumnya Mitha tidak memintanya untuk mengomentari masakannya.
Mitha hanya mendengus menanggapi ucapan Azzar. Ia mewarisi bakat memasak dari sang ibu. Bukannya sombong, tapi tadi ia sudah mencicipi masakannya sebelum di hidangkan. Dan menurutnya itu sudah pas. Memang lidah Azzar saja yang minta dibersihkan.
"Bilangnya tidak enak, tapi kok nambah?" Balas Mitha mengejek. Ya, setelah mencicipi masakan istrinya sesuap mampu membuat lidahnya terbang.
"Daripada mubazir." Azzar mengelak. Sebenarnya ia malu untuk mengakui dan memuji masakan Mitha.
"Huh dasar." Mitha mencibir melihat Azzar yang makan begitu lahap. Sebelumnya ia mengatakan tidak suka dan tidak mau makan sayur. Namun saat ini terlihat ia sangat menikmati makanannya.
"Nih bekal, biar ga jajan di luar. Ingat Om, kita tidak boleh boros dan harus rajin menabung untuk masa tua nanti." Mitha menyodorkan sebuah tas kecil berisi kotak bekal.
"Aku bukan anak TK jadi tak perlu membawa bekal. Dan asal kau tau, uangku tidak akan habis tujuh turunan enam tanjakan empat tikungan sekalipun." Ucap Azzar dengan nada sombong.
Mitha hanya berdecak, malas sekali berdebat dengan manusia macam Azzar.
Azzar mengambil tas kecil yang disodorkan Mitha.
"Ini karena aku menghargai karena kamu telah memasak sedari subuh."
Sebenarnya ia tak ingin menolak bekal yang diberikan oleh Mitha. Apalagi masakannya yang mampu memanjakan lidah. Gengsi, itu yang dirasakan Azzar saat ini.
"Aku akan mengantarmu." Azzar berlalu dari hadapan Mitha untuk mengambil tas kerjanya yang masih ada di dalam kamar. Begitu juga Mitha ia juga mengambil tas ranselnya disofa depan tv.
Seperti biasa, Mitha minta berhenti di pertigaan. Ia tak ingin ada yang tau tentang pernikahannya dengan Azzar. Bila ada yang tau dan membocorkannya, tamat sudah riwayatnya. Tentu saja ia akan di keluarkan dari sekolah.
******
Bel istirahat berbunyi dua menit yang lalu, Mitha, Nadya dan Irene berjalan beriringan menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
"Eh Ta, kemaren gue ngeliat lo di supermarket deketnya City View apartments deh." Ucap Nadya.
"Emm.. salah liat kali. Gue kemaren seharian dirumah cuma rebahan sambil nonton Drakor." Terpaksa Mitha berbohong kepada sahabatnya. Karena ia tak ingin ada yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Azzar.
"Tapi beneran deh, ciri ciri cewe itu sama kayak lo Ta. Tapi yang gue heran dia sama cowo. Ganteng woii"
Yaa, begitulah Nadya. Kalau lihat cowo ganteng langsung melek itu mata.
"Ahh masa sih Nad. Ngaco lu. City View Apartments kan jauh dari sekolah. Mana mungkin Mitha tinggal deket sana. Kan dulu dia juga udah bilang kalo sekarang tinggal sama saudaranya di deket sini." Balas Irene tak percaya.
Ya, beberapa hari setelah pernikahannya dengan Azzar Mitha mengatakan kepada sahabatnya bahwa saat ini ia tinggal bersama saudaranya karena mamanya pindah ke rumah yang berada di ujung kota.
"Udah deh, gausah dipikirin. Gimana kalu nanti kita nonton? Gue yang traktir." Dengan semangat berkobar Mitha berucap. Sengaja ia mengajak sahabatnya untuk nonton bioskop agar mereka tidak terlalu memikirkan obrolan mereka tadi.
"Tumben tumbenan lo traktir kita." Irene yang memang tabiatnya tidak bisa menolak gratisan langsung semangat.
__ADS_1
"Iya nih, lagi banyak duit ya lo. Bakso traktir juga ya hehe." Nadya menambahkan.
"Kecil itu mah." Mitha menjentikkan jarinya mengisyaratkan bahwa itu bukan hal berat untuknya. Apalagi selama ini jarang jarang ia mentraktir kedua sahabatnya.
"Oke nanti ketemuan di tempat biasa ya."
Di lain tempat. Azzar tengah duduk dikursi kebesarannya sambil menikmati bekal yang disiapkan istrinya.
Entah bahan apa dicampurkan Mitha kedalam masakan tersebut sehingga membuat rasa makanannya sangat memanjakan lidah. Sebelumnya Azzar hanya makan sayur jika itu jagung dan wortel. Selain sayur tersebut pantang bagi Azzar memakannya.
Tok..tok..tok..
Suara daun pintu diketuk. Kemudian muncul seorang pria bertubuh jangkung.
"Halo pak bos. Wah lagi makan nih, tumben bawa bekal?"
Pria itu adalah Farhan, sekretaris sekaligus sahabatnya sejak SMA. Meskipun Farhan adalah sahabat karibnya, namun Azzar tetap merahasiakan tentang pernikahannya.
Tanpa menunggu perintah atau persetujuan dari Azzar, Farhan menghempaskan bokongnya di kursi depan meja Azzar. Sementara Azzar hanya melirik sekilas kemudian fokus kembali dengan makannya
"Enak banget ya Zar? Icip dong?" Melihat Azzar makan begitu lahap membuat Farhan ngiler.
"Gaboleh!" Hardik Azzar sambil merangkul kotak bekalnya.
"Eh, tumben banget lo makan sayur. Biasanya paling anti sama yang ijo ijo." Farhan mengejek diakhir kalimatnya.
Azzar tidak menanggapi celotehan Farhan. Saat ini makanan yang ada dihadapannya lebih menarik daripada bujang lapuk yang duduk didepannya sambil mengusap sudut bibir.
"Mau"
"Habis."
Setelah mengucapkan itu, lantas Azzar membereskan peralatan makannya. Kemudian melirik Farhan yang memanyunkan bibir kesal.
Drttt
Getaran ponsel Azzar diatas meja mengalihkan fokus keduanya.
[Gadis kecil : Om nanti Mitha pulangnya agak telat. Mau nonton dulu sama temen.]
"Siapa Zar?" Farhan yang kepo dengan room chat sahabatnya langsung bertanya to the point.
"Bukan urusan lo!" Ketus Azzar tanpa menoleh kearah Farhan, netranya fokus dengan ponsel yang ada digenggamnya.
[Azzar : Ya.]
Setelah mengirimkan pesan tersebut Azzar langsung memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Segera atur meeting kita jam satu nanti!" Azzar berucap tegas.
__ADS_1
"Tapi itu tadi siapa? Lo punya gebetan? Cantik mana ama yang sebelumnya? Emang lo udah move on?" Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Farhan. Azzar tau betul bahwasanya Farhan memiliki jiwa kepo yang sangat besar.
"Suatu saat lo juga bakal tau sendiri."
Geram, kesal dan penasaran. Itu yang dirasakan Farhan, entah kenapa Azzar suka sekali membuatnya mati penasaran.
Huh!
Dengan perasaan kesal, Farhan keluar dari ruangan Azzar.
Bruak!
Sebagai pelampiasan Farhan membanting pintu dengan cukup keras sehingga membuat beberapa karyawan terkejut.
Kekanak Kanakan sekali si Farhan. Bahkan tingkah lakunya ketika kesal atau ngambek hampir menyerupai perempuan.
Setelah menyelesaikan meeting, Azzar memilih untuk langsung pulang. Sebenarnya tidak benar benar langsung pulang. Ia mampir sebentar ke butik Bundanya yang tidak jauh dari kantor Azzar.
*****
"Assalamualaikum..." Azzar mengucap salam saat kakinya masuk kedalam butik.
"Wa'alaikumsalam." Jawab beberapa orang yang kebetulan sedang belanja.
"Mba Mira, Bunda ada?" Azzar bertanya kepada salah satu karyawan Bundanya sebagai pramuniaga.
"Ada mas di dalem. Lagi bikin desain baru." Ucap Mira sambil merapikan beberapa gaun.
"Terimakasih."
Sebenarnya Azzar bukanlah tipe orang yang dingin, ketus dan cuek. Ia bisa bersikap hangat hanya didepan orang orang terdekatnya saja.
"Bunda.." sapa Azzar kepada Dewi yang sibuk dengan kertas dan pensil.
"Ahh abang. Kok ga ngabarin Bunda kalo mau mampir kesini?" Dewi memeluk putra semata wayangnya dengan sangat erat, mengisyaratkan bahwa ia sangat merindukan sosok putranya.
"Sengaja bikin kejutan buat Bunda." Jawab Azzar sambil terkikik.
"Ohh iya, barusan Oma telfon Bunda. Katanya besok mau kesini, sekalian mampir ke apart kamu."
"Oma?"
Tumben sekali Oma nya datang mengunjungi, karena biasanya Dewi sekeluargalah yang selalu mengunjungi Oma.
"Iya, Oma bilang 'dia' kembali."
Dewi menunduk lesu diakhir kalimatnya. Azzar membukatkan mata terkejut. Dadanya berdegup sangat kencang, hingga jantungnya terasa akan copot.
"A-apa?" Azzar terbata.
__ADS_1
Bersambung....